Home Berita

Advokasi Kita

426
BAGIKAN

Polemik di kampus ialah suatu benang kusut yang mestinya diluruskan. Adalah mereka: (beberapa) bapak-ibu kita di kampus, yang terkadang ikut andil membuat benang tersebut demikian. Entah itu sikap tak acuh terhadap keluhan mahasiswa terkait UKT. Atau juga pembagian kelas yang entah kenapa awal semester ini bermasalah, seperti ketidaksesuaian jadwal yang dipegang dosen yang bersangkutan dengan jadwal yang terpampang di depan kelas. Sehingga beberapa dosen pun “bertabrakan” jadwal pemakaian kelasnya. Kurangnya kepedulian dan kurangnya keseriusan, kalau boleh dikatakan demikian, mungkin hulu dari problema yang disebutkan di atas.

Perlakuan kurang kooperatif pun terkadang mereka “khilaf” melakukannya. Seperti enggannya mereka memaparkan transparansi beberapa persoalan mengenai keuangan yang bertalian dengan anak-anak mereka, kita, Mahasiswa. Hingga sikap kritis yang dilancarkan Mahasiswa terkadang menuai sambutan yang tak seharusnya. Juga beberapa persoalan yang telah kita rasakan –atau mungkin akan dirasakan-.

Advokasi, menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), yakni pembelaan dan penggagas. Secara terminologi advokasi ialah aksi strategis untuk menciptakan keadilan dalam kebijakan. Karena Advokasi itu membela, merubah, memajukan, dan menciptakan suatu keadilan.

Advokasi bukan Revolusi. Karena Advokasi itu bersifat strategis, sistematis, dan kontinyu. Advokasi dilakukan secara perseorangan ataupun berkelompok. Advokasi diperlukan karena adanya ketidakadilan, ada orang yang unable dalam memperjuangkan haknya,

3 hal yang diperjuangkan dalam advokasi: HAM, Pengakuan Hak, dan Keadilan.

Advokasi yang ideal harus berorientasi pada kepentingan publik, tidak menjadi monopoli kaum elit, tidak “blamming the victim”, dan sebagai sarana untuk memperjuangkan kebijakan dan keadilan sosial. Perlu diketahui juga jenis-jenis advokasi itu sendiri, yakni:

  1. Advokasi Litigasi : pendampingan, pembelaan, proses peradilan.
    2. Advokasi Non-litigasi : pendidikan dan pelatihan, penyuluhan, mediasi, konsiliasi, negosiasi, investigasi dan demonstrasi
    3. Advokasi Extra-litigasi : review kebijakan publik.

Setelah melihat pembagian di atas, advokasi kita masuk kedalam advokasi non-litigasi. Yang tidak meempuh proses peradilan dan belum sampai mereview kebijakan publik.

Sebuah spirit pembelaan yang akhirnya melahirkan banyak organisasi-organisasi pergerakan di kampus. Pun dengan sepenuhnya membawa semangat pembelaan tersebut dan terbentuklah sebuah departement atau divisi advokasi dari tingkat prodi, fakultas hingga universitas yang mengisi ruang-ruang di bawah BEMP atau Hima dalam tingkatan prodi, BEMF dalam tingkatan fakultas dan terakhir di tingkat BEM Universitas. Di tingkat Universitas, di kampus kita Advokasi BEM UNJ memiliki underbouw, kita mengenalnya TPM, Tim Pembela Mahasiswa

Napak tilas, zaman Rasulullah Muhammad s.a.w., beliau pernah menjadi mediator yang baik, dikala para kabilah bersitegang mengenai penentuan kabilah mana yang berhak meletakkan Hajar Aswad. Dengan cerdasnya beliau mengusulkan ide bahwa setiap petinggi kabilah memegang sudut-sudut sorbannya yang sebelumnya dibentangkan dan Hajar Aswad diletakkan di atasnya.

Pun dengan sahabat Utsman bin Affan yang membeli sumur seorang yahudi yang atas pembelian tersebut ummat saat itu tidak lagi dibebankan biaya, lebih-lebih biaya yang teramat tinggi seperti yang dipatok oleh seorang yahudi yang dimaksud. Beliau, Ustman bin Affan, bernegoisasi untuk akhirnya sumur tersebut berpindah tangan, dan beliau membela ummat dari kesewenang-wenangan yang bersangkutan dengan menjual air di atas harga normal. Dengan sebelumnya Ustman bin Affan membeli setengah dari sumur tersebut yang digunakan selang sehari. Sehari iya sehari tidak. Melihat pada hari sumur itu menjadi miliknya ( yahudi tadi), ia tidak mendapati orang-orang membeli air darinya lagi maka ia menjual setengahnya lagi ke Ustman bin Affan.

Dari Abu Hurairah r.a, dari Nabi s.a.w., Beliau bersabda:

“Barangsiapa melepaskan dari seorang mukmin satu kesusahan dunia, maka Allah akan melepaskan satu kesusahan di antara kesusahan di akhirat dari padanya…” (HR. Imam Muslim). Beruntunglah kamu yang mencoba membantu saudaranya baik dalam suatu bingkai organisasi: advokasi kampus, maupun yang tidak. Sebab, bukankah manusia yang baik ialah manusia yang bermanfaat bagi sesama? “Khairunnas Anfa’uhum linnas: sebaik-baik manusia adalah yang bermanfaat bagi yang lainnya.”

Selanjutnya ialah bagaimana niat baik yang telah menyala dalam dada tidak berganti redup menjadi niat yang tidak-tidak, seperti niat ingin dipuji atau yang lainnya. Terus jaga api niat tersebut untuk tetap menyala berdasarkan niat beribadah dengan cara mengadvokasi kawan-kawan yang lain.
Selamat berjuang dalam senyap kawan-kawan advokasi!

Wallahu a’lam bishowab

 

Oleh  : Asrul Pauzi Hasibuan

Komentar Kamu?

BAGIKAN
Ruang Publik Kepada Seluruh Civitas Akademika UNJ untuk menyampaikan kritik, & Saran. Yuk Kirimkan Buah Pikiranmu