Home Suara Anda Opini

Aksi Solidaritas Disability is Not a Joke

132
BAGIKAN

UNJKita.com – Anak terlahir ke dunia dengan kebutuhan untuk disayangi tanpa kekerasaan, bawaan hidup ini jangan sekalipun didustakan. Itu merupakan pernyataan dari Widodo Judarwanto, seharusnya pernyataan tersebut berlaku untuk semua anak sekalipun ia penyandang difabel atau anak bekebutuhan khusus.

Kesenjangan terhadap anak berkebutuhan khusus sangat terlihat saat ini. Mahasiswa Pendidikan Luar Biasa Universitas Negeri Jakarta menggalang aksi solidaritasnya melalui sosial media dengan cara mengkampanyekan edukasi dan pemahaman mengenai penyandang difabel.

Aksi baik ini di harapkan tidak adanya diskrimisasi, pandangan sosial yang merendahkan dan kekerasan psikologis yang terjadi. Oleh karena itu agar aksi penyadaran ini bisa terwujud dan berkesinambungan, semua elemen masyarakat harus berperan.

“Disabilitas bukanlah penyakit, maka tak pantas rasanya mengkategorikan mereka sebagai “anak cacat”. Mereka telahir dengan cara yang sama. Mereka berhak mendapatkan julukan dan nama yang baik. Anak berkebutuhan khusus bukanlah anak yang di lahirkan biasa tetapi mereka adalah anak yang luar biasa,” ucap Fida dalam kampanyenya melalui Instagram.

Sebelum menghakimi kekurangan mereka, kita perlu memahami apa saja hak – hak yang mereka miliki untuk bisa memperlakukan mereka dengan baik dan membuat mereka merasa setara. Dipaparkan oleh Kak Fadli, hak tersebut adalah :

  • hidup
  • bebas dari stigma
  • privasi
  • keadilan dan perlindungan hukum
  • pendidikan
  • pekerjaan, kewirausahaan, dan koperasi
  • kesehatan
  • politik
  • keagamaan
  • keolahragaan
  • kebudayaan dan pariwisata
  • kesejahteraan sosial
  • Aksesibilitas
  • Pelayanan Publik
  • Pelindungan dari bencana
  • habilitasi dan rehabilitasi
  • Konsesi
  • Pendataan
  • hidup secara mandiri dan dilibatkan dalam masyarakat
  • berekspresi, berkomunikasi, dan memperoleh informasi
  • berpindah tempat dan kewarganegaraan
  • bebas dari tindakan Diskriminasi, penelantaran, penyiksaan, dan eksploitasi.

Setelah mengetahui hak – hak mereka, diharapkan kita mampu menerima mereka secara utuh di lingkungan masyarakat dan memberikan kesempatan mereka seluas – luasnya dalam beraktivitas. Mereka adalah manusia seperti kita, mereka adalah sesuatu yang spesial apabila kita bisa memotivasi dan membuat mereka percaya diri percayalah mereka akan berkembang menjadi sesuatu yang hebat dan bisa menembus batas kekurangannya.

Bertarung melawan orang – orang bertubuh normal dalam keseharian itu sulit untuk mereka, tetapi apabila kita mendampingi dengan baik mereka akan membuat sebuah pencapaian dan pembuktian diri bahwa mereka bisa berprestasi dengan caranya.

Dalam hal inipun pemerintah menunjukan perhatiannya dengan membuat sistem Pendidikan Inklusif, Yaitu bentuk penyelenggaraan pendidikan yang menyatukan anak – anak berkebutuhan khusus dengan anak – anak pada umumnya untuk belajar. Di kutip dari idisabilitas sendiri, pendidikan inklusif memberikan kesempatan belajar pada anak –anak berkebutuhan khusus sehingga mereka dapat menyesuaikan diri dengan kehidupan sehari – hari.

Siswa tamatan inipun diharapkan untuk menuntaskan prgoram wajib belajar yang didalamnya termasuk anak bekebutuhan khusus akan dapat terlakasana. Pemerintahpun membuat hal ini agar pendidikan mudah di akses dekat dengan tempat tinggalnya. Di tekankan bahwa selama siswa memenuhi syarat kemampuan untuk mengikuti kurikulum nasional maka akan di arahkan pada sekolah umum formal.

Segala kendala fasilitas akan disediakan oleh pemerinntah sebagai tanggung jawab kewajiban negara dalam menjamin hak warga sebagai penyadang disabilitas.

Sejalan dengan niat baik pemerintah tehadap pendidikan penyandang difabel, Kak Citra memjelaskan mengenai padangannya tentang edukasi kesetaraan disabilitas di lingkungan masyarakat. Melalui kasus bully tehadap anak difabel selain memiliki dampak negatif, membawa juga dampak positif karena dengan fenomena tersebut membantu mengenalkan masyarakat luas bahwa terdapat penyandang disabilitas yang perlu dirangkul, dibimbing dan hakikatnya perlu ditemani oleh mereka.

Sebelum terjadi fenomena tersebut kesadaran masyarakat sendiri untuk mengenal disabilitas masih kurang, mereka belum tahu ciri – cirinya telebih belum mengenal dekat istilahnya. Mirisnya masyarakat lebih sering mengganggap mereka dengan julukan orang aneh atau orang gila. Tetapi dengan adanya lomba – lomba bagi penyadang disabilitas seperti special olimpycs dan acara acara tv yang memotivasi lewat bakat – bakat penyandang disabilitas itu mampu menjadi cara pengenalan yang baik penyandangan disabilitas dan mampu mematahkan padangan negatif bahwa mereka tidak bisa melaukan apa –apa. Dengan itu pula, masyakarat baiknya melihat agar mereka sadar, secara tidak langsung mereka menganalisis telebih dahulu perilaku mereka sebelum membuat suatu pandangan dan masyakarat dapat lebih peka dengan penyadang disabilitas.

Lalu apa yang bisa kita lakukan untuk menyukseskan kampanye tersebut? Kita bisa memulai dengan memberikan aksebilitas umum maupun khusus dengan layak pada saat di tempat publik, memberi lapangan pekerjaan yang sesuai dengan hambatan yang dimilikinya, tidak membuat stigma atau cemoohan dengan hambatan yang dimilikinya, memperlakukan mereka dengan setara, tidak membuat batasan dalam berkegiatan terlebih dalam lapangan pekerjaan, membantu mereka dalam menyelesaikan pendidikan, ikut serta mereka dalam membina dirinya, ikut berperan aktif dalam penyelarasan norma di masyarakat dan masih banyak hal lain lagi yang bisa lalukan sesuai kapasitas kita.

Mari lakukan hal – hal kecil untuk menghargai keberadaan mereka di sekitar kita dengan mulai menyapa, membantu dan bekontribusi untuk mendukung mimpi mereka. Karena mereka ada dan sama seperti kita. Mulailah dengan berbagi kebahagiaan dan menciptakan kebersamaan. Mungkin banyak dari mereka tuli, bisu, buta dan berkekurangan tetapi mereka bisa merasakan.

Komentar Kamu?