Home Suara Anda Ruang Publik

Apa yang Dilakukan Anak-anak Buruh Migran di Serawak Malaysia saat HUT RI?

491
BAGIKAN

Pikiran saya menyisir jauh memutar roda waktu satu tahun yang lalu, tapat di hari ini. Di tanah damai penuh keceriaan gelak tawa anak-anak buruh migran berdarah asli Indonesia yang ikut menyemarakkan ulang tahun negaranya. Pohon-pohon kelapa sawit pun turut merasakan kekhidmatan itu.

“Hari merdeka, nusa dan bangsa. Hari lahirnya bangsa Indonesia. Merdeka!” nyanyi mereka dengan sorak sorai saat menuju ke sekolah sambil membawa bendera merah putih kebanggaannya.

Pagi itu, saya dan beberapa relawan pengajar sudah bersiap dengan pakaian batik terbaik kami khusus untuk digunakan saat Upacara RI bersama buruh migran Indonesia dan anak-anaknya. Pagi itu cukup cerah dengan senyum antusias seluruh warga Galasah. Mulai dari bapak-bapak dan ibu-ibu yang sibuk menunggu kesiapan acara sakral itu sampai anak-anak yang cukup sulit sekali diatur untuk berbaris yang rapi.

Tempatnya memang bukan di lapangan terbuka nan luas. Tempatnya hanya di sebuah ruangan persegi yang biasa digunakan anak-anak untuk menimba ilmu. Ya, kami upacara di dalam ruang kelas. Beruntung, saya berada di dalamnya bersama anak-anak. Sedangkan, bapak-bapak dan ibu-ibu warga Galasah antusias berebutan mengintip dari balik jendela untuk menyaksikan anak-anaknya melakukan upacara RI 70. Sungguh, saat itu terbayar sudah peluh kami melatih anak-anak sebagai petugas upacara dan melatih menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia.

Satu hari sebelumnya, kami disibukkan dengan menghias ruang kelas. Tentu warna merah putihlah kebanggan kami. Ruang kelas pun disulap dengan sangat meriah. Meja dan kursi digeser ke pojok kelas, agar ada ruang yang cukup untuk anak-anak dari TK sampai Kelas 6 SD berbaris di dalamnya.

17 Agustus pun tiba. Khairil, kelas 4 SD, yang memimpin kami semua untuk melaksanakan upacara RI 70 nan khidmat pada pagi itu. Benar-benar kenikmatan yang sungguh luar biasa bagi saya saat semua orang bernyanyi “Indonesia Raya”. Hal itu semakin membuat saya semakin jatuh cinta dengan Indonesia.

Anak-anak buruh migran memang tidak terlalu mengenal Indonesianya, ya kerena mereka lahir dan tumbuh di negeri jiran, Serawak. Mereka hanya sebatas lancar menyanyikan lagu Indonesia Raya, cukup tahu beberapa lagu kebangsaan seperti lagu “Hari Merdeka (17 Agustus)”, dan mengetahui bentuk negara Indonesia dari peta yang dipajang di dinding kelas. Tapi percayalah, di dada mereka ada rasa cinta dan keingintahuan yang sangat besar terhadap Indonesianya.

“Cikgu, mengapa lambang Indonesia Burung Garuda?”

“Cikgu, seberapa tinggi monas itu?”

“Siapa presiden kita yang sekarang, Cikgu?”

“Bagaimana bentuk uang Rupiah? Aku ingin memilikinya, Cikgu!”

Masihkah kamu kurang bersyukur bisa merasakan kenikmatan upacara di lapangan nan luas tanpa harus bersempit-sempitan melakukan upacara di ruang kelas? Masihkah kamu tidak merasakan kekhidmatan menyanyikan lagu Indonesia Raya? Apakah air matamu berlinang saat lagu Indonesia Raya dinyanyikan olehmu dan orang-orang sekelilingmu?

Mari bersykur atas semua karunia kemerdekaan ini, wahai kawanku!

Air mata saya dan air mata orang-orang di sekeliling saya tidak terbendung lagi. Hati ini bergetar hebat. Mereka sungguh terlarut dengan kenikmatan menyanyikan lagu Indonesia Raya seraya memberi hormat kepada bendera merah putih di depan kami. Ah, tak usah bertanya bagaimana caranya bendera bisa kami kibarkan di dalam ruang kelas.

“Di sanalah aku berdiri jadi pandu ibuku. Indonesia kebangsaanku, bangsa dan tanah airku. Marilah kita berseru Indonesia bersatu.” Nyanyian dengan nada sesenggukan oleh peserta upacara RI 70. Seraya dengan lantunannya, banyak buruh migran Indonesia yang merasa rindu untuk tinggal kembali di kampung halaman mereka masing-masing.

Seandainya waktu bisa diputar kembali, hari ini saya ingin sekali merasakan kenikmatan upacara di sana, bersama adik-adik saya. Karena telah membuat perasaan ini membuncah betapa bersyukurnya saya bisa memaknai dengan hati yang bergetar saat upacara HUT RI berlangsung.

Keesokan harinya, anak-anak buruh migran kami beri kesempatan untuk merayakan tradisi yang biasa dilakukan di Indonesia. Yaitu, lomba 17 Agustusan. Mulai dari berlari ambil bendera sampai balap karung. Ah, yang penting semua bersuka cita atas perayaan ulang tahun Indonesianya. Dan tak hanya bersuka cita, mereka pun turut mendoakan Indonesia agar menjadi lebih baik lagi, walau menginjak tanahnya saja belum pernah. Semangat kemerdekaan itu masih ada!

Terima kasih untuk kesempatan berharganya! Kesempatan untuk bisa menyaksikan langsung betapa tulusnya hatimu kepada Indonesia. Kembalilah, dan tumbuh bersama Indonesia, ya Nak!

Komentar Kamu?

BAGIKAN
Pendidik muda yang jatuh cinta dengan dunia jurnalistik