Home Mahasiswa Belajar

Apersepsi: Kunci Agar Kelas Semakin Diminati Part II

1311
BAGIKAN

Hi, teman-teman pendidik di seluruh Indonesia! Pada kesempatan kali ini, saya ingin berbagai tulisan serial pendidikan yang InsyaAllah akan terbit setiap hari Sabtu. Semoga bermanfaat!

Salam Inspirasi Pendidikan!

Minggu lalu, kita sudah sama-sama belajar tentang apa itu apersepsi dan filosofi mendasar dari Teori Apersepsi. Pada tulisan part II kali ini, kita akan sama-sama belajar tentang tahapan-tahapan apersepsi. Ingat, strategi sebagus apapun yang sudah kita rancang untuk proses pembelajaran di kelas, tidak akan berhasil sama sekali, jika teman-teman pendidik tidak memberikan apersepsi di awal pembelajaran. Betapa pentingnya adanya seni apersepsi sebagai sesuatu hal yang wajib diberikan kepada siswa-siswi kita.

Mengondisikan Siswa Masuk ke Alpha Zone

Willian James, seorang psikolog, pernah membahas dalam tulisannya, bahwa apersepsi sebagai ide terpenting dalam psikologi pendidikan. Lebih lanjut lagi, Willian James juga memaparkan tentang apersepsi, yaitu “the act of taking a thing into the mind”, atau bahasa yang paling mudah dipahami atas pengertian itu adalah pengondisian. Pengondisian yang dimaksud adalah mengondisikan otak siswa-siswi ke dalam kondisi alfa, yaitu sebuah kondisi yang tepat untuk belajar.

Ada empat macam gelombang otak manusia. Teman-teman pendidik harus memahami benar tentang hal ini. Yang pertama adalah gelombang delta (0,5 – 3,5 Hz), yaitu kondisi seseorang yang tidur tanpa mimpi. Tentu, tidak akan mungkin jika teman-teman pendidik memberikan materi kepada siswa yang sedang nyaman tidur di kelas.

Kedua, adalah gelombang teta (3,5 – 7 Hz), yaitu kondisi tidur dan bermimpi. Jadi, kalau teman-teman pendidik sedang mengajar, belum tentu siswa-siswi juga sedang belajar atau menyimak materi yang kita berikan. Terkadang, siswa-siswi sedang masuk dalam kondisi teta, yaitu melamun, mengantuk, dan akhirnya tertidur di balik buku catatannya.

Ketiga, adalah gelombang alfa (7 – 13 Hz), yaitu kondisi relaks tapi waspada. Kondisi alfa adalah kondisi yang tepat untuk belajar. Keempat, adalah gelombang beta (13 – 25 Hz). Di kelas, kondisi beta ditandai oleh para siswa yang asyik mengobrol, tidak memberikan perhatian kepada guru, siswa yang sedang berkelahi, menunjukkan mimik sedang marah, dan sebagainya. Jika dalam kelas teman-teman pendidik kondisinya seperti ini, sebaik apapun kita mengajar, otomatis semuanya tak akan berhasil.

Tugas kita sebagai pendidik wajib mengembalikan siswa-siswi kita ke kondisi alfa. Karena sebagus apapun strategi yang kita rencanakan, percayalah siswa-siswi kita tidak akan siap menerima materi yang kita berikan, jika mereka masih berada dalam kondisi teta atau bahkan delta. Lalu, bagaimana cara mengatasinya?

Ada beberapa stimulus khusus yang dapat digunakan oleh teman-teman pendidik sebagai senjata untuk mengembalikan siswa-siswi ke kondisi alfa mereka. Stimulus khusus pada awal pembelajaran bertujuan untuk meraih perhatian dari para siswa. Stimulus khusus yang dapat diberikan, diantaranya fun story, music, ice breaking, dan brain gym. Stimulus-stimulus khusus tersebut dapat teman-teman pendidik temukan di internet, atau berdasarkan pengalaman pribadi. Ingat, stimulus khusus ini tidak usah berhubungan dengan materi yang akan diberikan.

Apabila teman-teman pendidik sudah melihat keceriaan siswa, senyumnya, bahkan tertawanya, berarti teman-teman telah berhasil mengondisikan siswa-siswi masuk ke dalam alpha zone mereka.

Warmer, Jangan Sampai Membuat Siswa Merasa Tertekan

Setelah teman-teman pendidik berhasil membawa kondisi siswa ke alpha zone mereka, maka tugas kita selanjutnya adalah wajib adanya tahap warmer. Tahap warmer ini bisa dilakukan oleh teman-teman pendidik pada pertemuan kedua, ketiga, dan seterusnya. Warmer adalah aktivitas pengulangan materi yang telah diajarkan oleh teman-teman pendidik pada pertemuan sebelumnya.

“Minggu lalu, kita sudah belajar tentang Gaya Berat. Sekarang Ibu ingin bertanya, apa perbedaan berat dan massa? Silakan, Ulfa yang menjawab!”

Pernahkan diantara teman-teman pendidik yang melakukan tahap warmer dengan memberikan pertanyaan, lalu menyebut salah satu nama siswa? Maka, siswa yang telah disebut namanya wajib menjawab pertanyaan tentang materi sebelumnya. Mungkin, jika teman-teman pendidik flash back, bagaimana perasaan siswa-siswi yang mendapatkan kewajiban menjawab pertanyaan tersebut? Syukur, bisa menjawab dengan benar. Jika menjawab dengan salah, bagaimana perasaannya?

Pada tahap warmer ini, teman-teman pendidik dapat merancangnya menjadi lebih menyenangkan. Ya, memang sedikit membutuhkan kreativitas atau mungkin modal dalam pembuatannya. Yaitu, dengan cara membuat games pertanyaan atau memberikan lembar penilaian diri. Bentuknya bisa macam-macam, seperti pertanyaan berantai, mencocokkan pertanyaan dan jawaban, dan sebagainya.

Salah satu games pertanyaan yang pernah saya terapkan adalah games “Bola Anti Gravitasi.” Saya hanya perlu menyiapkan sebuah bola plastik dan musik instrumental. Ketika games dimulai, musik dinyalakan, agar suasana kelas menyenangkan. Siswa-siswi berbaur di dalam kelas. Lemparan boa pertama, guru memberikan pertanyaan tentang materi sebelumnya ke salah satu siswa. Lalu, siswa itu menjawab. Selanjutnya siswa tersebut melempar bola ke siswa lain, setelah bola dilempar, siswa tersebut harus memberikan sebuah pertanyaan ke siswa yang berhasil menangkap bola. Kalau bolanya jatuh, pelempar bola akan mendapatkan hukuman. Hukumannya adalah diberikan pertanyaan dari guru. Games ini saya batasi selama 7 menit saja, jangan sampai terlalu lama, karena saya harus segera masuk ke materi inti.

Games “Bola Anti Gravitasi” adalah salah satu games tahap warmer yang cukup ampuh membuat siswa-siswi tidak merasa tegang. Bagaimana caranya, teman-teman pendidik harus membuat suasana yang menyenangkan ketika aktivitas pengulangan materi. Ingat, jangan sampai membuat mereka merasa tegang. Selamat berkreativitas!

Pre-Teach

Aktivitas yang harus dilakukan sebelum aktivitas inti pembelajaran disebut Pre-Teach. Contohnya adalah memberikan penjelasan awal tentang cara menggunakan peralatan di laboratorium dan penjelasan awal tentang alur diskusi. Biasanya, jika tidak dilakukan pre-teach, proses belajar akan menjadi terganggu. Namun, pre-teach tidak harus selalu ada dalam setiap kali pertemuan karena sangat bergantung pada kebutuhan yang berkaitan dengan materi dan strategi pembelajaran yang akan diberikan.

Scene Setting, Membutuhkan Kreativitas Tinggi dari Pendidik

Teman-teman pendidik, berusahalah sekuat tenaga untuk menggunakan scene setting pada saat pemberian awal materi. Ketika mengajar, jangan sekali-kali langsung masuk ke materi, tanpa adanya tahap ini.

Scene Setting adalah aktivitas yang dilakukan oleh teman-teman pendidik atau siswa untuk membangun konsep awal pembelajaran. Ada beberapa fungsi dari scene setting, diantaranya membangun konsep pembelajaran yang akan diberikan, sebagai pemberian pengalaman belajar sebelum masuk ke materi inti, sebagai pereduksi instruksi, dan sebagai pembangkit minat siswa dan rasa penasarannya.

Pola scene setting yang biasanya digunakan diantaranya, bercerita, visualisasi, simulasi, ataupun pantomim. Dan pola ini, tidak hanya dapat dilakukan oleh teman-teman pendidik saja, tapi bisa juga melibatkan siswa. Tentu, masih banyak lagi pola-pola scene setting yang dapat teman-teman pendidik rancang sesuai kreativitas yang dimiliki.

Teman-teman pendidik sebelum melakukan tahap scene setting terlebih dahulu harus mengetahui beberapa ketentuan. Pertama, teman-teman pendidik harus sudah merancang startegi pembelajaran terlebih dahulu. Kedua, tidak boleh mengahabiskan banyak waktu. Ketiga, tahap ini harus berhubungan dengan strategi pembelajaran inti yang akan dilakukan. Dan yang terpenting adalah tahap ini sangat membutuhkan kreativitas yang tinggi.

“Hak mengajar itu ada di tangan siswa, bukan di tangan guru. Apabila, siswa rela memberikan hak mengajar tersebut kepada seorang guru, guru tersebut pasti akan diterima oleh siswanya ketika proses belajar berlangsung. Hak mengajar harus direbut oleh guru. Guru harus pro-aktif untuk memperoleh hak tersebut. Caranya adalah dengan menggunakan apersepsi.” –Munif Chatib.

Sumber:

Chatib, Munif. 2011. Gurunya Manusia. Kaifa: Bandung

Komentar Kamu?

BAGIKAN
Pendidik muda yang jatuh cinta dengan dunia jurnalistik