Home Mahasiswa Belajar

Begini Jika Laki-Laki Jadi Guru

412
BAGIKAN

Pusat Data dan Statistik Kemdikbud Tahun 2015/2016 mengungkap bahwa di tahun tersebut jumlah guru berjenis kelamin perempuan lebih dominan daripada guru laki-laki dengan perbandingan sebanyak 63% profesi guru ditempati oleh perempuan.

Adakah yang salah dengan persentasi tersebut? Kalau mengingat-ngingat sewaktu duduk di bangku sekolah, faktanya memang lebih banyak guru berjenis kelamin perempuan ketimbang laki-laki. Bukankah profesi guru dihalalkan bagi siapa saja tanpa memandang gender? Artikel ini hanya sebagai refleksi sudut pandang cara guru laki-laki mendidik di sekolah.

Biasanya, hal inilah yang dilakukan laki-laki saat mengajar

1. Guru laki-laki lebih disiplin

Yap, guru laki-laki lebih disiplin terutama soal waktu dan caranya mendidik siswa. Acapkali guru laki-laki tegas pada keterlambatan siswanya, serta memberikan hukuman sesuai dengan peraturan yang berlaku tanpa pandang buluh. Sebab otak laki-laki memang dirancang sedemikian rupa untuk menggunakan logika ketimbang perasaannya. Untuk itu, jika perempuan mendidik dengan kasih sayang, maka guru pria membimbing siswanya menjadi manusia yang taat pada aturan.

2. Fleksibel

Sebab pikirannya yang fleksibel, guru pria tidak merasakan takut berlebihan apabila siswanya melakukan hal tertentu. Dengan begitu, kebebasan yang diberikan membuat siswanya leluasa mengeksplorasi apapun yang ingin mereka ketahui.

3. Cuek

Rasa cuek yang dimiliki guru pria enggak selamanya bikin siswa terabaikan. Justru sikap cuek yang dimiliki oleh guru laki-laki menunjukkan pada siswanya agar lebih mandiri. Selain itu pula, cueknya guru laki-laki mengajarkan siswa untuk pandai menyatakan pendapat, terampil bertanya jika ada materi pelajaran yang belum dimengerti.

4. Teman diskusi yang seru

Perempuan kerap dikendalikan oleh perasaannya, itu sebabnya mood guru perempuan mudah berubah. Berbeda dengan guru laki-laki yang terbiasa menggunakan otak, ketimbang hatinya. Mereka bisa menjadi teman untuk bertanya tentang segala materi pelajaran yang dibutuhkan siswa maupun mengenai cita-cita siswanya, tanpa merasa cepat tersinggung atau kesal pada pertanyaan aneh siswanya.

5. Guru laki-laki lebih objektif ketimbang subjektif

Meski begitu, guru laki-laki dapat menjadi figur ayah bagi siswanya yang mengayomi, memberi perlindungan saat siswanya merasa resah, serta mampu menularkan motivasi untuk membangkitkan semangat siswanya dengan caranya sendiri.

6. Jarang bercerita di kelas

Banyak kita temui, guru perempuan biasanya menceritakan pengalaman hidupnya atau kisah pribadinya sewaktu mengajar yang bertujuan agar siswanya berpikir positif pada kehidupan, pantang menyerah meraih masa depan. Tapi jangan heran jika guru laki-laki malah terkesan serba tertutup pada kehidupannya. Sejak lahir, laki-laki memang tidak diciptakan sebagai pencerita. Bahkan dalam sehari, menurut penelitian, laki-laki hanya bisa mengeluarkan sebanyak 7.000 kata disaat perempuan dikaruniai 20.000 kata perhari untuk berbicara.

7. Kaku dan terkesan menyeramkan

Karena karakternya yang terbiasa digambarkan sebagai manusia yang dingin, acuh terhadap siswa, serta bicara seperlunya, sering diartikan sebagai guru galak. Padahal, guru laki-laki cenderung jarang membentak siswanya.

8. Terkadang suka melontarkan humor yang bikin siswanya bingung

Faktor humoris yang ada dalam diri laki-laki porsinya memang lebih besar ketimbang perempuan. Saat melihat siswanya mulai jenuh, guru laki-laki biasanya spontan melempar humor di kelas. Sayangnya, apa yang menurutnya lucu, malah jadi membingungkan bagi siswanya.

9. Mengajarkan kesetaraan gender

Guru laki-laki menanamkan pada siswanya bahwa semua manusia bisa melakukan apapun yang diinginkan tanpa melihat gender seseorang. Pada contoh kasus permainan dan olahraga misalnya, guru pria membiarkan siswa perempuannya mencoba olahraga maupun permainan yang biasa dilakukan siswa laki-laki seperti bermain sepak bola, mengikuti latihan bola basket, atau bahkan permainan olahraga berat seperti bela diri.

 

Seiring berkembangnya zaman dan melihat kampus pendidikan seperti di Universitas Negeri Jakarta contohnya, telah dipadati laki-laki yang mulai menyiapkan diri sebagai guru, maka bagaimanapun tanggapan dan paradigma orang tentang guru laki-laki, profesi guru berhak diperankan oleh pria maupun wanita. Baik laki-laki dan perempuan, seorang guru tetaplah pengantar siswanya meraih cita-citanya menuju kebaikan masa depan.

Oleh: Dian Joshua (IKK FT UNJ Angkatan 2012)

Tulisan ini dipersembahkan untuk Pesta Literasi 2017 yang diselenggarakan oleh UNJKita.

Komentar Kamu?

BAGIKAN
Ruang Publik Kepada Seluruh Civitas Akademika UNJ untuk menyampaikan kritik, & Saran. Yuk Kirimkan Buah Pikiranmu