Home Mahasiswa Belajar

Belajar dari Dinasti Abbasiyah, The Golden Age of Science

872
BAGIKAN

Telah tercatat dalam sejarah umat manusia, sebuah periode peradaban yang dikenal dengan sebutan The Golden Age of Science. Peradaban yang ditandai dengan kemajuan dari segala bidang kehidupan manusia mulai dari transformasi kegiatan pendidikan, kebijakan politik yang mapan, berkembangnya ilmu agama, ilmu pengetahuan umum, dan teknologi. Periode peradaban tersebut terjadi pada Dinasti Abbasiyah yang merupakan dinasti terpanjang berkisar tahun 750-1258 M.

Tulisan ini bukan bermaksud sebagai dongeng menjelang tidur, yang menceritakan kehidupan para raja, rakyat yang sejahtera, atau bahkan pertunjukan sulap yang senantiasa menghibur rakyat di setiap malamnya. Akan tetapi sebagai refleksi bagaimana sebuah peradaban panjang bisa terbentuk, sehingga kita bisa memetik sedikit pelajaran darinya. Maka dari itu, secara umum tulisan ini berusaha menggambarkan sedikit tanda-tanda kemunculan dan benih-benih keruntuhan sebuah Dinasti atau Negara yang mapan.

Dinasti Abbasiyah berhasil mencapai puncak kejayaan dalam segala bidang. Satu yang yang mendasari kondisi ini adalah transformasi pendidikan. Terdapat perbedaan tujuan pendidikan zaman Nabi Muhammad dan Sahabat-sahabatnya dengan tujuan pendidikan zaman Abbasiyah (Dinasti Abbasiyah juga dikenal dengan zaman keemasan Islam).

Bila pada zaman Nabi dan Sahabat pendidikan untuk mendekatkan diri kepada Tuhan, namun zaman Abbasiyah tujuan pendidikan itu sudah kompleks karena pengaruh perkembangan ilmu pengetahuan umum. Tujuan itu disimpulkan oleh Yunus (1989: 46) sebagai berikut: 1. Tujuan keagamaan dan akhlaq, 2. Tujuan kemasyarakatan, 3. Tujuan cinta akan ilmu pengetahuan, 4. Tujuan kebendaan (memenuhi kebutuhan hidup material). Pola-pola pendidikan Dinasti Abbasiyah yang khas ini mewakil kebudayaan Timur yang cenderung Etis.

Berikut ini adalah tanda-tanda majunya zaman Abbasiyah:
1. Transformasi lembaga dan kegiatan ilmu pengetahuan. Pusat kegiatan dunia Islam sebelum Dinasti Abbasiyah berada di Masjid sebagai centre of education, kemudian berkembang dengan dikhususkan kepada lembaga kuttab (lembaga pendidikan tempat anak-anak belajar kalistung dan dasar-dasar ilmu agama), dan tingkat pedalaman yakni kemandirian pelajar untuk memperdalam ilmunya ke rumah guru, pergi ke luar daerah, atau mencari masjid lain. Pada perkembangan selanjutnya mulailah dibuka madrasah-madrasah yang dipelopori Nizhamul Muluk yang memerintah pada tahun 456-485 H.

2. Kemajuan dalam bidang agama. Pada masa Dinasti Abbasiyah, ilmu dan metode tafsir mulai berkembang, terutama dua metode penafsiran, yaitu tafsir bi al-ma’tsur dan tafsir bi al-ra’yi. Pada zaman ini mulai diklasifikasikan hadist secara sistematis dan kronologis dalam tahap Shahih, Dhaif, dan Maudhu. Dalam bidang fiqih, pada masa ini lahir tokoh legendaris empat imam mazhab: Imam Hanifah (700-767 M), Imam Malik (713-795 M), Imam Syafi’i (767-820 M), dan Imam Ahmad ibn Hambal (780-855 M).

3. Kemajuan dalam bidang ilmu pengetahuan, sains, dan teknologi. Dalam ilmu astronomi, pada zaman ini lahir astronom muslim pertama bernama Muhammad Ibnu Ibrahim yang membuat astrolabe (alat pengukur ketinggian bintang). Dalam ilmu kedokteran, lahir Ar Razi, Al Farabi, dan Ibnu Sina. Lahir bapak Ilmu Kimia Islam bernama Jabir Ibnu Hayyam (721-815 M). Ahli ilmu bumi Ibnu Khurdazabah (820-913 M). Tumbuh dan berkembang ilmu bahasa Arab nahwu, sharaf, ma’ani, bayan, badi, arudh, dan insya.

4. Dinamika kebijakan politik. Yakni pemindahan ibukota Negara dari Damaskus ke Baghdad. Menumpas pemberontakan-pemberontakan dan menghapus politik kasta, serta merangkul orang-orang Persia dalam rangka politik memperkuat diri.

Setiap peradaban memiliki masa kejayaan dan masa kehancuran, itu adalah keniscayaan dalam kedinamisan masyarakat, tanpa terkecuali dengan Dinasti Abbasiyah. Pembumihangusan terjadi ketika sekelompok bangsa Mongol dan Tartar menjarah kota Baghdad yang merupakan bagian dari Dinasti Abbasiyah, tahun 1258. Mereka menghacurkan kota dan membakar semua perpustakaan. Luasnya kerusakan secara permanen ke dunia ilmu pengetahuan dan pendidikan telah dibawa oleh penghancuran perpustakaan Islam yang utama oleh Bangsa Mongol yang dipimpin oleh Jenghis Khan.

Penyerangan Bangsa Mongol itu adalah faktor eksternal. Sebelum itu telah bermunculan benih-benih keruntuhan Dinasti Abbasiyah yang mulai menggerogoti internal pemerintahan dari segala bidang, diantaranya:

1. Bidang sosial. Banyaknya budak perempuan dan laki-laki yang masih di bawah umur sehingga memberikan kontribusi bagi degradasi perempuan dan degeneralisasi laki-laki, banyaknya gundik dan sanak saudara yang memenuhi kompleks istana kerajaan hingga memunculkan beragam kecemburuan dan intrik. Standar kehidupan mewah yang menonjolkan minuman keras, nyanyian, yang melemahkan vitalitas keluarga akhirnya menghasilkan keturunan-keturunan berwatak lemah yang terus memegang tahta dan persaingan untuk memperebutkannya.

2. Bidang ekonomi. Administrasi negara yang sudah tidak kondusif bagi penciptaan stabilitas negara, eksploitasi dan pajak berlebihan kepada rakyat. Pembebanan pajak dan pengaturan wilayah-wilayah provinsi demi keuntungan kelas penguasa telah menghancurkan bidang pertanian dan industri.

3. Bidang politik. Garis perpecahan antara Arab dan non-Arab, muslim Arab dan muslim Baru, kaum muslim dengan kaum dzimmi. Munculnya kelompok-kelompok agama yang sentrifugal.

Catatan sejarah bukan hanya lembaran kertas atau rentetan cerita belaka. “Orang yang tidak dapat mengambil pelajaran dari masa tiga ribu tahun, hidup tanpa memanfaatkan akalnya” (Goethe, 2015:23). Terlalu jauh memang menarik konteks sosial Dinasti Abbasiyah ke dalam kondisi Indonesia saat ini. Namun setidaknya pengalaman bangkit dan runtuhnya peradabahan terdahulu dapat menjadi pelajaran bagi peradaban yang akan datang. Terutama pelajaran bagi Indonesia, menuju negara yang Baldatun Thayyibatun Wa Rabbun Ghafur.

Daftar Pustaka:
Hitti, P. K. (1977). History of The Arabs: From The Earliest Times to The Present. New York: The Macmillan Press.
Thohir, A. (2004). Perkembangan Peradaban di Kawasan Dunia Islam. Jakarta: RajaGrafindo Persada.
Yunus, M. (1989). Sejarah Pendidikan Islam. Jakarta: Hidakarya Agung.

oleh: Fatoni Ihsan

Komentar Kamu?