Home Berita

Berkedok Quick Count Pilkada, Ratusan Mahasiswa UNJ Ditipu

6194
BAGIKAN

UNJKita.com – Penipuan kembali lagi menerpa mahasiswa kampus Universitas Negeri Jakarta, modusnya pun tergolong baru yaitu lewat lowongan pekerjaan. Pekerjaan yang dimaksud ialah sebagai relawan Quick Count Pilkada DKI Jakarta dimana para korban diiming-imingi uang sebesar Rp 450.000.

Menurut ALS yang menjadi salah korban “Awalnya ditawarin dari grup FT, kalo engga salah grup Forum Perempuan FT UNJ, yang nawarin namanya (menyebutkan nama kordinator wilayah). Trus saya daftar pc orangnya. Habis itu saya dapet sms dari koor wilayah jakbar, dia anak FT juga namanya (menyebutkan nama). Sama dia suruh masuk ke grup ini (menunjukan link grup WA)”

Dalam prosesnya para korban diminta uang sebesar Rp. 15.000, uang tersebut awalnya diminta sebagai uang administrasi untuk baju seragam dan name tag. Namun seiring berjalannya waktu akhirnya uang administrasi tersebut diganti dengan embel-embel uang donasi untuk korban Aceh.

“Trus di data kan, lama-lama suruh bayar Rp.15.000, awalnya alesannya buat bayar seragam dan nametag, habis itu ganti katanya seragam dan nametagnya gratis trus ganti alesannya itu buat biaya bantuan Dana Aceh. Saya mikir ini aneh banget, bukan ga mau sedekah, tapi ya masa sih lembaga sekelas (menyebutkan nama lembaga berita) masih minta bantuan Dana Aceh dari calon yang dari surveyornya. Udah gitu kayak ngotot gitu kalo ga bayar katanya bakal digantiin sama anak UI. Trus saya masuh ga mau bayar, habis itu ganti lagi alesan kalo ga mau bayar fee nya bakal beda sama yg bayar. Nah saya tetep bodo amat biarin aja. FYI, fee jadi surveyor quick count itu 450k katanya” tambah mahasiswi Fakultas Teknik angkatan 2014 tersebut.

Senada denga ALS, R yang merupakan mahasiswa FIP pun menjadi korban penipuan yang mengatasnamakan media lintas negara tersebut.

“Awalnya gw dapet emang dari anak Teknik, kebetulan gw satu grup sama dia dan gw dimintai nyebar info di kelas. Keanehan gw rasain pas pendataan penempatan wilayah, keliatan banget engga propesionalnya. Masa data untuk wilayah Jaksel diisi juga untuk daerah Jaktim, udah gitu keliatan banget gak efektif banget tata caranya. Trus tiba-tiba gw denger kita (relawan survei) disuruh patungan Rp.15.000, nah katanya kalau kita gak patungan nanti gak dapet uang komisi Rp.400.000 yang dijanjiin diawal. Awalnya buat uang kaos sama name tag lah, eh jadi uang buat donasi Aceh lah.”

Untuk pembayaran uang yang akhirnya berlabel dana infaq pun dilakukan dengan cara pembayaran langsung kepada koordinator wilayah yang juga mahasiswa UNJ.

Berikut penuturan U yang menjadi salah satu korban yang akhirnya melakukan pembayaran uang infaq tersebut “Saya bayar Rp. 15.000 langsung ke Korwil (Kordinator Wilayah), awalnya buat dana administrasi. Tapi katanya (korwil) gak usah bayar dan uang tersebut dialokasiin untuk dana Peduli Aceh” Saat ditanya terkait identitas korwil pun U menjawab tidak mengenal mereka, tapi ia dengan pasti mengetahui bahwa sang korwil adalah mahasiswa UNJ Engga kenal sih tapi mereka anak (menyebutkan prodi) UNJ” tutup mahasiswi FT angkatan 2014 ini.

Total dana yang terkumpul pun tak main-main, tercatat menurut salah satu kordinator wilayah BWN total uang terkumpul sampai Rp. 3.750.000. Jika dibagi dengan jumlah uang Rp.15.000 sebagai uang yang katanya untuk infaq tersebut, maka terhitung ada 250 mahasiswa yang tertipu dalam kejadian kali ini.

“Rp.2.000.000 total donasi dari wilayah Jakpus, Jakbar, Jaksel, dan Jakut. Untuk Jaktim dan Bekasi Rp.1.750.000 kalau engga salah” tutur BWN dalam penjelasannya pada korban. Uang tersebut langsung disetor ke rekening sang penipu, dalam penuturan BWN sang penipu bernama Medya Fidraini yang mengaku berasal dari lembaga media lintas negara.

Para korwil disini pun juga termasuk kedalam korban, karena mereka diminta menjadi kordinator mahasiswa oleh sang penipu. Dan kini para korwil yang rata-rata berasal dari Fakultas Biru sedang mencoba menempuh jalur hukum untuk membersihkan nama mereka yang kini banyak disudutkan oleh para korban.

Berikut adalah klarifikasi salah satu korwil :

”Assaalamualaikum wr.wb. Sebelumnya gue mau minta maaf sebesar besarnya ke kalian semua tentang quick count.
Saya menelusuri dan mendapat beberapa kejanggalan mengenai acara research dan quick count yang anda adakan :
1. Gue mentelfon CNN Indonesia katanya belum mengadakan acara tersebut padahal anda mengaku dari CNN Indonesia.
2. Gue langsung ke hotel Grand Moressey tetapi mereka tidak dapat menampung tamu hotel sebanyak jumlah peserta dan tidak memiliki ballroom atau aula terbuka yang luas.
3. Penanggung jawab memberikan CP yg bisa dihubungi bernama Suci tapi sudah tidak aktif sejak setahun lalu dan terlihat anak kecil di display picture WA.
4. Tidak ada nya keterbukaan mengenai dana sumbangan aceh
5. Ketidak jelasan dan profesionalisme mengenai tes, jadwal acara, fee dll dari awal hingga akhir.
6. Nama anak anak UI dan Binus yang menjadi peserta CNN research adalah daftar nama yang diterima ASTRA tahun 2011.

Intinya hampir 100% ini penipuan. Bukan kalian doang yg ketipu, tapi dari jaktim, jaksel, bekasi, bogor yg berjumlah lebih dari 300 orang kena tipu. Sekarang gue beserta koor yg lain sedang mengusahakan untuk mencari penanggung jawab ini.¬†Gue mohon maaf sebesar besarnya buat kalian semua. Gue dan koor wilayah lain pun gatau kalo akhirnya begini.”

Komentar Kamu?

BAGIKAN