Home Mahasiswa

Cerita Inspirasi Delegasi UNJ di Pertukaran Pemuda ; Asean Youth Cultural Exposure Thailand

172
BAGIKAN

Pemuda yang berprestasi sejatinya selalu melakukan hal-hal yang baru dan bermanfaat bagi semua orang, sebagai pemuda yang masih berstatus mahasiswa adalah kesempatan untuk berprestasi sebanyak mungkin untuk bekal di masa dewasa kelak, salah satunya adalah seorang mahasiswa Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan Fakultas Ilmu Sosial Universitas Negeri Jakarta bernama Riswandi, mahasiswa PPKN FIS UNJ angkatan 2015 tersebut baru saja mengikuti kegiatan pertukaran pemuda di bidang kebudayaan yaitu Asean Youth Cultural Exposure 2017 Thailand, kegiatan tersebut berlangsung sejak tanggal 15-19 Agustus 2017 di Bangkok, Thailand.

Kegiatan yang dipelopori oleh organisasi yang berdiri di Yogyakarta bernama Youth Center to Act for Nation (YOUCAN) diikuti oleh sekitar 68 mahasiswa dari seluruh Indonesia dan beberapa mahasiswa di ASEAN seperti Malaysia dan Thailand. Kegiatan tersebut merupakan kegiatan pertukaran kebudayaan dan ajang promosi pariwisata bagi daerah masing-masing delegasi. Seleksi yang dilakukan pun cukup ketat karena tidak semua orang sanggup untuk mengikuti kegiatan tersebut, orang-orang yang terpilih adalah mereka yang memiliki bakat serta kemauan untuk memajukan kebudayaan dan pariwisata daerah masing-masing.

Berawal dari tahun 2016 lalu, Ris sapaan akrab Riswandi mulai mengikuti seleksi kegiatan tersebut, namun karena terbentur dengan jadwal kuliah akhirnya niat untuk mengikuti seleksi diurungkan, hingga bulan Mei 2017 Ris menerima email dari pihak Youcan bahwa telah dibuka seleksi untuk kegiatan Asean Youth Cultural Exposure di Thailand, Ris langsung mendaftar melalui online setelah tiga hari mendapat balasan bahwa Ris dinyatakan lolos seleksi kegiatan tersebut mewakili Universitas Negeri Jakarta. Dua hari kemudian Ris langsung menyusun proposal untuk mengajukan dana karena kegiatan tersebut membutuhkan dana sebesar Rp. 7.850.000. Sebelum mengajukan dana terlebih dahulu membuat list lembaga-lembaga yang akan diajukan proposal, banyak sekali rintangan yang dialami dalam mencari bantuan dana, ditolak beberapa perusahaan dan lembaga-lembaga yang belum bersedia memberikan bantuan dana tidak membuat semangatnya pudar, dia terus berusaha mencari bantuan dana, menghubungi senior dan beberapa organisasi yang diikutinya, alhamdulillah beberapa seniornya memberikan bantuan dana dan juga dari organisasinya seperti BEM P PPKN dan Himpunan Mahasiswa Islam Komisariat Fakultas Ilmu Sosial Universitas Negeri Jakarta, selain dari dana tersebut, dia juga mendapatkan bantuan dana dari Fakultas Ilmu Sosial dan Wakil Rektor III bidang kemahasiswaan. Dana yang didapatkan cukup besar masing-masing satu juta rupiah, dia juga mendapatkan bantuan dana dari beberapa dosen dan sahabat-sahabatnya.

Riswandi, Delegasi UNJ di Pertukaran Pemuda ; Asean Youth Cultural Exposure Thailand

Setelah berjuang mencari bantuan dana tibalah saatnya berangkat ke Thailand, dia berangkat tanggal 14 Agustus 2017 karena mendapatkan tiket murah pada tanggal tersebut, belum sempat menukar uang ke mata uang Thailand terpaksa dia harus menukar di bandara sehingga nilai belinya lebih tinggi, nah tips bagi kalian yang ingin bepergian ke luar negeri tukarlah uang rupiah anda jauh-jauh hari sebelum anda berangkat dan hindari menukar uang di bandara, setelah beberapa jam di pesawat tibalah di bandara Don Mueang Thailand, di bandara tersebut dia juga banyak mendapatkan pelajaran dari komunikasi dengan petugas bandara, banyak sekali petugas di bandara yang tidak bisa berbahasa Inggris, ketika di bandara dia bertanya dimana tempat shalat orang muslim dan semua petugas yang berjaga stand product di bandara tidak mengerti, akhirnya dia bertanya ke bagian information dan baru dia mengetahui tempat shalat ada di lantai tiga.

Setelah shalat dia berjalan mengelilingi bandara dan memperhatikan interaksi setiap orang, ada banyak warga negara asing yang ada di bandara tersebut dengan budaya masing-masing saat berinteraksi, salah satu pengalaman unik di bandara adalah bertemu dengan orang muslim asli Thailand yang fasih berbahasa Indonesia yang banyak bercerita tentang islam di Thailand, di Thailand bagian timur adalah wilayah yang mayoritas islam, dan banyak sekali masjid, sementara di Thailand bagian tengah dan barat sangat sedikit masjid tetapi toleransi warga Thailand sangat tinggi, hal itu dialaminya ketika mencari tempat shalat di bandara salah satu petugas mengantarnya sampai di mushalla.

Keesokan harinya para delegasi mulai berdatangan di Thailand dan menuju hotel, hotel yang dijadikan penginapan yaitu Aunchaleena Bangkok Hotel, malam harinya kegiatan Asean Youth Cultural Exposure dibuka oleh panitia saat welcome dinner, para delegasi juga mendapatkan kaos dan guidebook serta name tag yang akan digunakan selama kegiatan berlangsung, kegiatan tersebut diikuti oleh mahasiswa dari seluruh Indonesia diantaranya dari UNJ, IPB, UI, ITB, UNTIRTA, UNHAS, UNSOED, Riau, Kalimantan, NTT, Makassar, Sumatera, Bengkulu, Surabaya, Yogyakarta, Semarang dan masih banyak lagi.

Hari kedua di Thailand, kegiatan para delegasi adalah field trip and amazing race ke beberapa tempat di Thailand seperti Lumphini Park dan MBK Center, dalam kegiatan tersebut para delegasi diberikan tugas untuk mewawancarai turis dan masyarakat asli Thailand mengenai kebudayaan Indonesia, para delegasi mencari informasi apakah mereka tahu kebudayaan Indonesia atau tidak dan bagaimana kebudayaan masyarakat Thailand, salah satu turis yang diwawancarai Ris adalah warga negara Perancis bernama Steven, dari hasil wawancara terebut ternyata turis tersebut mengetahui banyak tentang Indonesia, lanjut mewawancarai warga Thailand, sulit sekali untuk bisa berkomunikasi dengan warga Thailand karena mereka tidak bisa berbahasa Inggris, sehingga tugas untuk mencari informasi tentang Indonesia dari orang Thailand tidak dapat diselesaikan, ternyata di Thailand yang bisa berbahasa Inggris hanya mereka yang berpendidikan, bekerja di instansi pemerintahan dan mereka yang sering berinteraksi dengan orang asing seperti orang-orang yang bekerja di tempat wisata yang banyak dikunjungi orang asing.

Setelah dari Lumphini Park perjalanan dilanjutkan ke MBK Center, MBK Center adalah tempat belanja yang menjual segala macam produk dan kerajinan tangan yang bisa dibawa sebagai oleh-oleh, di tempat tersebut juga delegasi mendapat tugas untuk mewawancarai bagaimana strategi pemasaran sehingga produk yang mereka jual laris dan banyak pembeli, dari hasil wawancara di MBK Center ditemukan satu jawaban bahwa untuk bisa menarik pembeli adalah dengan memberikan senyuman serta keramahan saat melayani pembeli serta memberikan kebebasan kepada pembeli untuk memilih barang. Setelah menjalani rangkaian tugas para delegasi kembali ke hotel untuk beristirahat, namun sebelum beristirahat para delegasi melakukan gladi resik untuk performance.

Gladi resik diatur oleh salah satu dosen seni dari Universitas Chulalangkorn yaitu Miss Koong, sebagai delegasi dari Jakarta Riswandi menampilkan kebudayaan Betawi yaitu Nandak Betawi, tarian yang biasa diperagakan oleh abang none ketika pemilihan abang none yang musiknya adalah musik ondel-ondel, tarian tersebut juga memiliki cerita yaitu keceriaan para remaja yang beranjak dewasa, para delegasi serta dosen tersebut juga turut menari mengikuti irama yang ceria dari tarian tersebut.
Hari ketiga tepat tanggal 17 Agustus, para delegasi berangkat ke Kedutaan Besar RI untuk mengikuti upacara peringatan hari kemerdekaan ke-72, namun sangat disayangkan para delegasi tidak bisa mengikuti upacara dari awal karena jalanan yang sangat macet sehingga para delegasi tiba di kedubes ketika penaikan bendera merah putih, saat di kedubes pun para delegasi tidak bisa berlama-lama karena harus menuju tempat untuk performance, setelah 1 jam perjalanan tibalah di tempat untuk performance para delegasi bersiap-siap dan berganti pakaian untuk menampilkan tarian masing-masing. Riswandi menampilkan Nandak Betawi di combine dengan tari Piring, tari Ronggeng dan Jaipong.

Penampilan para delegasi diapresiasi oleh salah satu sekolah yang ada disana yang juga turut menyaksikan penampilan mereka dengan memberikan sertifikat sebagai wonderful performance, kebahagiaan dan kepuasan terlihat dari wajah para delegasi yan telah memberikan penampilan terbaik mereka dan tepuk tangan yang meriah dari penonton, tidak hanya delegasi dari Indonesia yang memberikan penampilan tetapi dari Malaysia dan Thailand juga, ada satu nyanyian yang cukup bagus yang ditampilkan serta tarian yang juga bagus sehinggat seluruh orang di ruangan tersebut diajak untuk mengikuti tarian itu, tarian yang menjadi ciri khas Thailand.

“Saya juga mendapatkan pengalaman dan pelajaran yang berharga di tempat performance tersebut, ketika selesai tampil dan sesi foto, saya ingin shalat, di tempat tampil tersebut tidak ada tempat shalat karena tak satupun dari mereka yang beragama islam, yang unik adalah salah satu guru dari tempat tersebut berlari menyiapkan ruangan untuk shalat dan ruangan itu ada di lantai tiga, ruangan tersebut adalah ruangan untuk berlatih menari dan guru tersebut menyiapkan lalu kembali ke bawah menjemput saya dan teman-teman untuk menuju ruangan tersebut. Sungguh terharu ketika melihat toleransi dan kepeduliaan orang-orang yang tidak beragama islam tapi sangat peduli kepada umat islam untuk beribadah, ini menjadi satu peringatan besar kepada diri saya dan mudah-mudahan kepada para pembaca sekalian, bahwa betapa pentingnya beribadah dan pentingnya toleransi.”

Setelah kegiatan selesai para delegasi kembali ke hotel untuk beristirahat karena besoknya harus berangkat ke UNCC untuk presentasi, para delegasi akan mempromosikan pariwisata serta kebudayaan daerah masing-masing. Antusias para delegasi untuk presentasi sangat besar sampai-sampai harus begadang untuk menampilkan yang terbaik buat besok.

“Supaya tidak terlalu tegang, saya dan delegasi yang lain berkeliling ke sekitar jalanan di dekat hotel mencari jajanan, sekaligus mempelajari cara membeli makanan yang halal serta makanan apa saja yang dijual, walaupun hujan turun pada malam itu tidak membuat kami berhenti menjajaki makanan, banyak hal-hal lucu yang kami alami, pertama tempat berjualanyang juga banjir dan tenda-tenda yang bocor, yang lebih uniknya kami sering beli dan menawar makanan layaknya di Indonesia karena para pedagang tidak mengerti bahasa Inggris, dan kami tidak mengerti bahasa Thailand sehingga cara berkomunikasinya menggunakan bahasa isyarat, bahkan kami juga sering bercanda sambil tertawa dan mereka para pedagang juga ikut tertawa karena tingkah lucu kami.”

Makanan yang dijual hampir sama dengan makanan yang ada di Indonesia hanya yang membedakan adalah rasa dan kandungan makanannya, karena daerah Thailand mayoritas beragama non islam maka banyak makanan yang haram, sehingga harus hati-hati juga memilih dan membeli makanan, kurang lebih 3 jam berkeliling menjajal makanan di Thailand. Pagi hari seluruh delegasi sarapan dan bersiap-siap berangkat ke UNCC untuk presentasi, perjalanan pada hari itu cukup lancar karena kita berangkat lebih cepat sehingga tidak terkena macet, sesampainya di UNCC dengan pemeriksaan yang sangat ketat, para delegasi memasuki ruangan dan tibalah di tempat presentasi, namun yang mengecewakan adalah para pembicara dari pihak Thailand belum memasuki ruangan, ternyata para delegasi teralu cepat sampai, setelah para pembicara tiba mulailah presentasi dan tanya jawab, lalu dilanjutkan dengan coffee Break, setelah itu para delegasi laki-laki mencari masjid untuk shalat Jum’at, ada cerita yang menarik juga dan ada juga pelajaran yang saya ambil ketika Jum’atan, di masjid tersebut disediakan minuman gratis bagi para jamaah, dan yang uniknya adalah kami kesulitan mendapatkan taksi untuk kembali ke UNCC, kami memberhentikan taksi sebanyak 12 kali karena setiap taksi yang kami hentikan tidak mengerti bahasa Inggris dan tidak mengetahui tempat tujuan kami, beberapa turis juga kesulitan bahkan di taksi yang terakhir kami sempat berebut taksi, untung kami duluan baru turis itu, yang lucunya taksi yang terakhir supirnya juga tidak mengerti bahasa Inggris dan tidak mengetahui alamat yang kami tuju, hingga akhirnya salah satu teman saya menunjukkan foto gedung UNCC baru supir taksi tersebut tahu.

Sungguh pengalaman yang unik, sambil berdialog kami juga meledek mereka menggunakan bahasa Indonesia, karena kami kesal kenapa mereka yang menjadi supir taksi tidak bisa berbahasa Inggris padahal pelanggan mereka mayoritas orang asing. Setelah kami mendapatkan taksi dan menuju gedung UNCC presentasi dilanjutkan.

Setelah presentasi selesai perjalanan dilanjutkan menuju tempat wisata, yaitu Wat Arun, tempat wisata tersebut sudah sering dikunjungi oleh orang Indonesia, sekitar 20 menit perjalanan tibalah di Wat Arun, untuk menuju Wat Arun kita harus menyebrang menggunakan kapal fery kecil karena Wat Arun berada di seberang sungai terbesar yang ada di Thailand, harga tiket masuknya hanya 4 baht atau dalam rupiah sebesar Rp. 1.600. Wat Arun adalah bangunan yang merupakan tempat tidurnya Budha, ada banyak sejarah di balik tempat tersebut, keunikan tempat wisata tersebut adalah ketika belanja, mereka yang berjualan cukup fasih berbahasa Indonesia dan transaksi pun bisa menggunakan rupiah, tempat oleh-oleh tersebut menjual kaos, gelang, kalung, tas, gantungan kunci yang harganya cukup terjangkau, setelah menelusuri ternyata mereka bisa berbahasa Indonesia karena mendengar percakapan orang Indonesia yang berlibur disana.

Setelah itu lanjut ke tempat makan malam, untuk gala dinner dilaksanakan di atas kapal yang besar, gala dinner di Chao Phraya, sungguh malam penutupan yang sangat seru karena makanan yang disajikan adalah makana khas laut, diiringi musik serta pemandangan yang indah di malam hari, pada malam itu saya juga sempat bertemu dengan orang Medan yang berlibur di Thailand, semua delegasi merasa bahagia pada malam itu, setelah gala dinner selesai, semua delegasi kembali ke hotel untuk beristirahat karena besok harinya sudah pulang ke Indonesia.

Beberapa pelajaran yang saya ambil dari perjalanan saya selama di Thailand mengikuti kegiatan Asean Youth Cultural Exposure 2017 yaitu :

  1. Pentingnya mencintai budaya daerah sendiri
    2. Pentingnya mengharumkan budaya dan pariwisata ke negara lain
    3. Pentingnya sikap toleransi antar umat beragama
    4. Pentingnya berbahasa Inggris
    5. Pendidikan menentukan kualitas diri seseorang
    6. Budaya Indonesia sangat banyak dan sangat unik
    7. Jadilah orang yang ramah ketika ingin memperkenalkan suatu produk
    8. Kenali budaya daerah sendiri, lalu pelajari dan pertahankan
    9. Orang Thailand saja menyukai kebudayaan Indonesia dan mereka mau mempelajarinya, kita sebagai orang Indonesia asli harus lebih dari mereka.

Komentar Kamu?