Home Suara Anda Opini

Dari Kesadaran, Menuju Gerakan

533
BAGIKAN

Satu hari berselang pasca beredarnya tulisan dari Pak Ubedilah Badrun yang berjudul Wajah Kampus Mulai Bopeng?“, saya tergerak untuk membuat tulisan yang bernada agak sedikit berbeda berjudulKesadaran Palsu Intekektual Kampus UNJ Tulisan tersebut merupakan respon saya atas tulisan Pak Ubed yang sebelumnya beredar luas di kalangan civitas akademika UNJ dan berhasil membuat ‘gerah’ petinggi-petinggi kampus ini.

Di tulisannya, Pak Ubed menjelaskan setidaknya kampus perlu memiliki tiga indikator agar bisa dikatakan tidak ‘bopeng’. Kriteria-kriteria tersebut adalah kultur intelektual, kultur demokrasi, dan kultur profesionalitas. Di akhir tulisannya, Pak Ubed menyimpulkan bahwa kampus ini masih lemah dalam ketiga aspek tersebut. “… Sedihnya ini terjadi di kampus yang dikenal sebagai kampus perjuangan, kampus yang memiliki akar sejarah perlawanan yang kuat terhadap ketidakadilan, berjuang menegakkan kebenaran, berpihak pada rakyat terpinggirkan, memegang teguh prinsip-prinsip ilmiah, menghormati kebebasan akademik, dan berkontribusi turut mendesain arah pendidikan nasional.”, imbuhnya di penghujung tulisan.

Jujur sekali saya ingin katakan, ketika saya menulis “Kesadaran Palsu Intelektual Kampus UNJ”, saya sedang berada dalam kondisi yang begitu gelisah. Saya gelisah dan mempertanyakan mengapa banyak orang justru diam ketika mereka diperlakukan tidak adil? Mengapa orang-orang seolah merasa baik-baik saja di situasi yang sebetulnya tidak baik? Bukankah mendiamkan kejahatan, adalah kejahatan?

Tulisan saya tersebut memang sedikit bernada pesimistik. Saya katakan di tulisan itu; “… mayoritas pihak-pihak itu (mahasiwa, dosen, karyawan, dll) sedang terjebak dalam kondisi kesadaran palsu (false consciousness).” Meskipun di akhir tulisan tersebut saya akhiri dengan harapan bahwa masih ada orang-orang yang akan bergerak, tapi tetap saja, tak mengubah unsur pesimistik dari tulisan tersebut.

Namun, setelah melihat dan mengamati situasi kampus pasca tulisan itu tersebar, rasanya agak segan untuk menuliskan hal yang sama pada tulisan ini. Ternyata, asumsi saya tidak sepenuhnya benar. Masih ada orang-orang (-atau bahkan, banyak orang) yang memiliki kesadaran penuh atas posisi mereka. Sebagian yang lain, justru secara sistemik bergerak sebagai intelektual, meskipun beresiko tinggi, bahkan dikriminalisasi.

Perlahan tapi pasti, kesadaran itu sudah mulai tumbuh. Ini terbukti dari munculnya tulisan-tulisan serupa yang bernada kritik terhadap petinggi, atau kebijakan kampus ini. Sebut saja misalnya tulisan dari Ketua BEM FIO UNJ yang juga merespon dari tulisan Pak Ubedilah, Burhanuddin, yang begitu tak terima ketika ada adik kelasnya yang diintimidasi dan diancam oleh oknum dosen ketika mereka sedang melakukan agitasi massa di kampus pada suatu aksi. Baginya, ini adalah upaya yang nyata dari proses pembungkaman gerakan mahasiswa itu sendiri.

Juga muncul tulisan-tulisan lain, semisal tulisan dari Fajar Subhi, Akbar Kurnianto, Asrul Pauzi, dan yang lainnya yang bernada serupa yaitu mengkritik petinggi kampus ini. Bahkan, diantaranya lebih lugas menyerukan semangat perlawanan terhadap institusi yang dinilai sudah jauh dari koridornya ini. Puncaknya, diskusi dan konsolidasi massa yang dilakukan oleh Red Solder FIS UNJ berhasil menyita ratusan publik UNJ untuk hadir, hingga terbentuknya aliansi baru pergerakan di kampus ini.

Dari tulisan-tulisan saya, pak Ubed, Burhan, Fajar, Asrul, hingga Akbar dan yang lainnya, menyiratkan satu hal yang pasti; bahwa kampus ini sedang berada pada titik nadir kepemimpinannya sejak berubah nama dari IKIP Jakarta. Arti penting lainnya adalah, ternyata, masih banyak orang-orang yang begitu mencintai kampus ini. Masih banyak orang-orang yang memiliki semangat bergerak dengan kesadaran penuh dalam posisi mereka sebagai masyarakat kampus.

Saya tak pernah seterus-terang ini. Tapi, jika kondisi kampus terus dibiarkan seperti ini, akan berbahaya! Berbahaya bagi kehidupan kultur intelektual. Berbahaya bagi kultur demokrasi, dan berbahaya bagi aspek profesionalitas lembaga. Sebab, seperti kata Pak Ubedillah, bukankah kampus adalah wajah peradaban? Bukankah wajah akan terlihat indah jika tidak dipenuhi oleh kotoran, -atau meminjam bahasa Pak Ubed, bopeng?

***

“Manusia adalah pembuat sejarah…”,

kata Anthony Giddens.

“Namun mereka tak bisa membuatnya sesuka hati. Mereka tak bisa membuatnya berdasarkan keadaan yang mereka pilih sendiri, melainkan berdasarkan keadaan yang langsung mereka hadapi, diterima dan ditransmisikan dari masa lalu.”

(Ritzer, 2012)

Pernyataan Giddens tersebut seolah mengisyaratkan bahwa; untuk mencapai sebuah perubahan, memiliki kesadaran tidaklah cukup. Untuk membuat sebuah perubahan, dibutuhkan upaya-upaya gerakan untuk mengubah kekecewaan itu menjadi harapan. Seperti kata Paulo Freire, kesadaran itu perlu bertransformasi menjadi kesadaran kritis-kolektif. Yaitu, kondisi psikologis masyarakat yang tersadarkan secara kolektif, yang menyadari posisi mereka secara penuh, lalu bergerak bersama-sama untuk melakukan perubahan atas kondisi yang menindas. (Freire, 1970)

Apa yang kemudian Giddens katakan, kita maknai adalah jika kita menginginkan sebuah perubahan, maka gerakan untuk membuat itu semua perlu diupayakan. Hingga lahirnya semangat perubahan yang diupayakan melalui suatu gerakan sosial. Gerakan sosial yang dimaksud adalah suatu upaya kolektif untuk mengejar suatu kepentingan bersama melalui tindakan kolektif diluar lingkup lembaga-lembaga yang mapan. (Amin, 2008)

Dalam teoritisi gerakan sosial, salah satu pendekatan yang bisa dipakai adalah dengan melihat gerakan sosial sebagai sebuah perilaku koletif (collective behavior). (Manalu, 2009) Teori ini mengacu pada faktor-faktor psikologi sosial untuk menjelaskan alasan individu terlibat dalam suatu gerakan sosial. Pandangan ini menyatakan bahwa gerakan sosial lahir atas kekecewaan, krisis moral, serta efek samping dari proses transformasi sosial yang begitu cepat.

Singkatnya, perspektif ini memandang bahwa gerakan sosial lahir atas ketidakpuasan terhadap struktur yang ada. Oleh Samuel Stouffer, (Jurdi, 2010) gerakan sosial semacam ini menekankan bahwa massa melakukan gerakan sosial karena adanya kesamaan perasaan, terampas hak-haknya, dan diperlakukan tidak adil.

Dan untuk bergerak, kata Neil Smelser (Sztompka, 2005), setidaknya ada beberapa prasyarat yang menjadi pendorong atas terjadinya sebuah gerakan sosial.

Pertama, adanya Structural Conduciviness. Yaitu adanya struktur sosial yang mendukung. Ini dicirikan dengan fakta bahwa negara ini adalah negara demokrasi yang menjunjung tinggi kebebasan menyampaikan aspirasi. Hal ini dijamin oleh konstitusi tertinggi di Republik ini, yaitu UUD 1945. Dalam pasal 28, dijelaskan dengan tegas bahwa setiap warga negara memiliki kemerdekaan berserikat dan berkumpul, mengeluarkan pikiran dengan lisan dan tulisan dan sebagainya ditetapkan dengan undang-undang. Butir-butir dari pasal 28 tersebut juga diperkuat dengan Undang-undang No. 9 Tahun 1998 tentang Kemerdekaan Menyampaikan Pendapat di Muka Umum. Jadi, tidak ada masalah dengan struktur sosial. Apalagi, kampus adalah ruang demokrasi yang memungkinkan terjadinya proses dialektis di dalamnya. Nuansa kritik-auto kritik juga seharusnya adalah hal yang biasa terjadi. Sebab, kata Pak Ubedilah, bukankah pemimpin justru besar karena kritik dan bukannya pujian?

Kedua, faktor Structural Strain, yaitu adanya ketegangan struktural seperti adanya ancaman tertentu pada pikiran yang bersebrangan, pembungkaman sistemik terhadap gerakan mahasiswa, dan indikasi terjadinya KKN pada tingkat struktural elit. Faktor yang bisa dilihat dari ketegangan struktural ini, salah satunya adalah dengan melihat sejauh mana birokrasi dapat mengelola aset/barang milik negara. Apakah pengelolaan aset tersebut sudah sesuai ketentuan undang-undang atau belum? Berapa banyak belanja kampus yang tidak sesuai dengan ketentuan? Apakah ditemukan ketidakpatuhan dan kelemahan sistem pengendalian intern terhadap aset/barang milik negara? Faktor structural strain ini, biasanya berkaitan langsung dengan aspek kepemimpinan.

Ketiga, the Spread of Generalized Belief. Tersebarnya keyakinan umum yang dianut. Ini berarti, situasi yang ada harus dibuat bermakna dengan adanya kesamaan suhu bagi orang-orang yang ingin bergerak. Sumber ketegangan, dan cara menghadapinya juga perlu diidentifikasi. Sederhananya, semua orang (-atau elit gerakan) perlu fokus kepada situasi dan kesamaan yang ada pada kelompok mereka. Lalu menyamakan itu semua dalam satu frame berpikir: perubahan!

Keempat, the Precipitating. Yaitu adanya pencetus berupa peristiwa atau situasi tertentu. Saya kira, kasus DO Ronny Setiawan, kriminalisasi dosen, indikasi KKN, sudah cukup menjadi pemicu bagi publik untuk sama-sama menyadari bahwa semua itu adalah upaya terang-terangan yang mengancam kultur universitas.

Kelima, adanya Mobilization Into Action. Yaitu mobilisasi massa untuk bertindak. Saya kira, disinilah peran penting lembaga-lembaga mahasiswa semisal BEM, Tim Aksi, Kelompok Diskusi, dan Unit Kegiatan Mahasiswa. Diskusi-diskusi yang sifatnya penyadaran perlu terus diadakan, agar proses transformasi kesadaran itu tidak hanya berkutat dalam satu kelompok saja. Tetapi menyebar menjadi gerakan besar yang melibatkan seluruh mahasiswa, dosen dan karyawan kampus. BEM, Tim Aksi, Dosen, dan yang lainnya lah yang perlu memimpin dan menjadi ujung tombak perlawanan itu sendiri. Sebab, saya percaya, tidak ada perubahan tanpa keberjamaahan. Dan tak ada jamaah tanpa kepemimpinan. Dan tidak ada kepemimpinan tanpa kesatuan gerakan.

Yang terakhir, adanya the Operation of Social Control. Yaitu pengoperasian kontrol sosial yang bisa mempengaruhi atau justru menghalangi proses bergerak itu. Saya kira, disinilah proses pentingnya. Pertama, gerakan bersama membutuhkan semangat untuk saling percaya. Kedua, gerakan bersama butuh orang-orang yang siap dipimpin, bukan hanya siap memimpin. Ketiga, gerakan bersama, butuh orang-orang yang siap mendengarkan, bukan hanya mau didengarkan. Mengapa saya bilang inilah proses pentingnya? Sebab seperti apapun gerakan itu dibangun, namun jika tidak diiringi oleh ketiga hal tersebut, dikhawatirkan gerakan yang dibuat akan prematur di tengah jalan, mudah diadu domba, dan terpecah belah. Itulah sebabnya, bergerak juga butuh kedewasaan berpikir dan bertindak. Sudah saatnya kita yang tersadarkan, menyadari hal ini.

Akhir kata, pada Rabu, 17 Mei nanti, akan menjadi ujian tersendiri bagi orang-orang yang tersadarkan. Apakah situasi yang menekan ini secara bersamaan mampu melahirkan gerakan yang progresif dan perubahan, atau justru kepalsuan-kepalsuan baru yang menguji nalar dan kesadaran kita. Sudah saatnya kita, mahasiswa, dosen, dan karyawan, bergerak dalam kesadaran bersama. Sebab diam, dan kesendirian, takkan pernah menghasilkan perubahan.

Dan ada kiranya, apa yang yang Leo Tolstoy katakan ini perlu kita renungkan;

“… semua orang berpikir tentang mengubah dunia, tapi banyak yang lupa untuk mengubah dirinya sendiri.”

Semoga, perubahan besar lahir pula dari hati-hati yang besar. Dari orang-orang yang berhasil mengubah ketidakpedulian menjadi kepedulian. Dari hati orang-orang yang tersadarkan, lalu kemudian merealisasikan kesadaran itu, menjadi gerakan perubahan. Demi UNJ. Demi almamater yang kita cintai.

Wallahu a’lam.

Ahmad Firdaus
Mahasiswa UNJ

Komentar Kamu?

BAGIKAN

Ruang Publik Kepada Seluruh Civitas Akademika UNJ untuk menyampaikan kritik, & Saran. Yuk Kirimkan Buah Pikiranmu