Home Mahasiswa Karya

Gadis Itu…

455
BAGIKAN

Tampak tergesa-gesa ku melihatnya. Ya! sosok gadis cilik itu sedang mengejar segerombolan teman-temannya yang membawa sekantong plastik besar yang di dalamnya berisi tissue untuk di jual kepada mahasiswa sekitar Univesitas Negeri Jakarta.

Tahun ini aku menjadi mahasiswa baru di kampus ini, dengan euphoria layaknya mahasiswa-mahasiswa baru kebanyakan yang bangga menenteng almamaternya. Dan hari ini adalah hari pertamaku menjalani perkuliahan di sini. Meskipun masih kuliah perdana, tapi aku merasakan kebudayaan yang sangat berbeda di daerah SMA ku dulu di Jawa Timur.

“Pak, Aula Maftuchah Yusuf dimana ya?” Tanyaku kepada salah satu satpam di fakultasku.

Maklumlah karena memang aku belum banyak tahu tempat-tempat penting disini. Dalam hati berkata meskipun kampus ini terasa sempit dan bangunan yang belum layak bahkan jauh berbeda dengan sekolahku dulu yang setiap tahunnya selalu melakukan reovasi gedung.

“Kamu dari sini jalan aja, nanti ada 2 gedung lantai 10 yang berhadapan, nama gedungnya Raden Dewi Sartika IDB II terus kamu ke lantai 2 disitu ada tulisannya aula maftuchah,” ujar bapak satpam itu. Aku mengangguk tanda memahami arah yang ditunjukkan oleh bapak itu dan tak lupa mengucapkan terimakasih.

Setelah sampai aku langsung menuju meja presensi tiap program studi. Aku mencari namaku di presensi itu dan ketemu, namaku ada di urutan abjad K. Setelah itu aku langsung ke dalam aula. Di dalam aula sudah ramai para mahasiswa yang juga mengenakan almamater kebanggaan berwarna hijau. Disitu aku duduk sesuai urutan per program studi.

“Hai, namanya siapa?” Suara itu tiba-tiba mengagetkanku yang sedang bengong menunggu acara dimulai.

“Hai juga, aku Kirana Putri, panggil aja Kirana. Kamu siapa?” tanya balik kepada perempuan yang seumuran denganku.

“Aku Nia, kamu dari mana?” tanya perempuan itu kepadaku. Langsung aku menjawab, “Aku dari Jawa Timur, kamu dari mana?” Aku memberi respon positif kepadanya.

“Aku dari Tangerang,” ujarnya. Aku tidak menyangka di dunia perkuliahan bisa menemukan teman-teman berbeda daerah dengan mudah.

Tiba-tiba MC naik ke atas panggung dan membuka acara. MC itu memperkenalkan dirinya terlebih dahulu dan membacakan agenda kegiatan kuliah umum pada hari ini.

****

Akhirnya kuliah umum di hari pertama selesai. Dan peserta kuliah umum sangat bahagia karena tandanya mereka akan segera pulang ke kost atau melakukan aktivitas lainnya. Aku sendiri masih bingung, antara kembali ke kost atau bagaimana, karena aku masih belum mengenal banyak wilayah-wilayah di Jakarta.

“Kamu kost atau pulang-pergi nia?” tanyaku.

“Aku kost di pemuda, ayo main-main kekost aku. Dari pada gabut” ujar Nia.

Mungkin karena aku tidak ada kerjaan lain selain kembali ke kost aku langsung mengiyakan ajakannya. Itung-itung sekalian mengahafal tempat di sekitar kampus. Kami langsung menuju jl. Pemuda yang ada di seberang kampus bagian belakang. Ketika aku berjalan di daerah jl. Pemuda aku merasa bahwa daerah sangat berbeda dengan kost ku. Di wilayah kost ku tepatnya berada di daerah depan kampus suasananya sangat asri, tidak sumpek dan pastinya tidak kumuh. Sangat berbeda dengan disini. Padahal jika dipikir, daerah ini tidak jauh dari kampus. Bahkan hanya berseberangan dengan kampus. Rumah-rumah yang berjejer padat antara satu dengan yang lainnya. Dan selokan yang sangat dekat antara posisi rumah dengan jalan. Sangatlah berbeda dengan daerah tempatku di Jawa Timur.

Sesampainya di kost Nia, kami langsung memasuki kamar berada di lantai 2 yang ukurannya kira-kira 3×2 m. Memang kamar itu sangat kecil dibanding dengan kamar kostku. Tetapi dari segi fasilitas kamarku jelas kalah dengan kamar ini. Kamar yang ber ac, kasur yang spring bed dan ada tv lcd disini. Sangat berbeda suasananya jika kita keluar dari bangunan ini yang sangat berdempetan bangunannya.

Kami berdua berbagi cerita sebagai teman baru, apalagi daerah kami yang berbeda dan pasti sangat banyak cerita-cerita yang dapat kami bagi satu sama lain.

****

Waktu sudah berlalu selama tiga bulan selama aku menjadi mahasiswa di Universitas Negeri Jakarta. Sekarang aku bisa merasakan apa yang dirasakan mahasiswa senior seperti bagaimana rasanya mengikuti organisasi di kampus dan masih banyak lagi.

Suatu siang aku melihat seorang gadis kecil yang tampak terlihat lusuh menjual tissue nya. Karena jarang dari mahasiswa yang membelinya. Aku mendatanginya kemudian bertanya.

“Kamu kelas berapa dek, kok ga sekolah?” Awalnya dia tampak cuek dan kesal saat aku bertanya seperti itu.

Dan akhirnya dia menjawab, “Aku kelas 2 SD, udah pulang dari sekolah langsung jualan kak” Ujar gadis itu.

Awalnya aku belum mengetahui siapa nama gadis itu. Namun setiap aku bertemu dengannya, aku selalu berusaha berbicara kepadanya. Dan akhirnya aku mengetahui nama gadis itu, Rina. Ya itulah nama gadis itu.

Aku sempat bertanya dengannya dimana dia tinggal. Dan dia menjawab bahwa dia sekarang tinggal di daerah pemuda. Semakin lama aku semakin penasaran dengan kehidupan gadis itu.

Akhirnya aku memutuskan untuk berkunjung ke rumahnya. Hal yang masih ada di dalam benakku adalah mengapa orangtuanya mengizinkan Rina untuk berjualan mengingat usianya masih sangat muda.

Aku mengetuk pintu “Tok…Tok…Tok”  tidak tampak ada orang di rumah kecil yang berdempetan dengan tetangga-tetangganya. Setelah beberapa kali aku mengetuknya. Akhirnya wanita yang kira-kira berusia 50 tahun keluar dari dalam rumah dan bertanya ada perlu apa aku kesitu. Dan ternyata itu adalah nenek dari Rina.

Aku menyampaikan tujuanku untuk menjenguk Rina di rumah dan bersilaturrahim dengan keluarganya. Ternyata ayah Rina di rumah itu sedang sakit stroke dan ibunya telah meninggal dunia ketika Rina masih berusia 5 tahun. Nenek Rina menceritakan kehidupan keluarga Rina kepadaku. Aku jadi semakin ingin mengenal Rina lebih dalam lagi.

“Assalamualaikum,” tiba-tiba terdengar salam dari luar rumah. Dan ternyata itu adalah Rina.

“Waalaikumsalam.” Kami langsung menjawab salam Rina dan langsung menyuruh Rina untuk duduk di ruang depan.

Kami berbincang-bincang dengan asiknya hingga lupa bahwa sebentar lagi magrib tiba. Lalu aku langsung pamit kepada nenek dan Rina serta memberi salam kepada ayah Rina. Dan tak lupa juga aku mengungkapkan kesediaanku untuk menjadi guru les pribadi Rina dengan gratis. Kebetulan aku mengambil konsentrasi Komunikasi, tetapi entah mengapa pendidikan menjadi sasaran pentingku dan aku sangat menyukai dunia anak-anak semenjak aku mengikuti komunitas masyarakat di daerah Jakarta Selatan. Tiba nenek Rina menangis sambil memelukku dan mengucapkan terimakasih karena sudah membantu keluarganya.

Saat aku berada di depan pintu, Rina lalu menggandeng dan memelukku sambil menangis dan berkata “Kak, ajari aku jadi sukses, aku ingin membahagiakan ayah, aku ingin membawa ayah berobat, aku ingin kuliah seperti kakak,” ujarnya. Aku tiba-tiba menghentikan langkahku dan memeluknya sambil berkata dalam hati, Ya Allah semangat anak ini sangat tinggi, izinkan aku memberi waktuku untuknya, untuk membimbingnya.

****

Sudah seminggu aku tidak melihat Rina semenjak kedatanganku kerumahnya. Aku takut terjadi apa-apa dengannya. Siang ini aku berencana untuk datang ke rumahnya sambil mengajarkan beberapa pelajaran dan membantunya mengerjakan PR nya.

“Assalamualaikum…” Tidak ada yang menjawab setelah beberapa kali aku mengetuk dan mengucapkan salam di rumahnya.

Tiba-tiba tetangga Rina berkata bahwa ayah Rina sedang dirawat di rumah sakit. Karena darah tingginya kambuh. Langsung aku bertanya dimana ayahnya di rawat.

Sesampainya aku menuju kamar 307 di lantai 3 ruang rawat bersama. Aku melihat Rina yang sedang memegangi tangan ayahnya sambil tertidur. Langsung aku duduk di sebelahnya dan membelai halus rambutnya. Tiba-tiba dia terbangun dan memelukku sambil menangis.

Nenek Rina masuk ke ruangan setelah sholat subuh, ternyata waktu sudah menunjukkan pukul 04.45 WIB. Nenek Rina membangunkan aku untuk segera shalat dan langsung bersiap-siap pulang. Tidak terasa ternyata aku sudah menginap di rumah sakit semalam.

“Rina mau ikut, Rina mau jualan tisu ke sana,” ujarnya kepadaku. Lalu aku mengiyakan permintaannya.

Sampai di kampus aku melihat flyer dari Program studi PGSD sedang mengadakan lomba baca puisi untuk anak-anak. Aku melihat syarat-syarat dan Rina bisa mengikuti lomba itu.

Aku langsung memberi tahunya tentang lomba ini, karena hadiahnya lumayan untuk tambahan uang jajan Rina.

“Dek ikut ini yuk, uangnya bisa kamu tabung nanti kalo kamu menang. Kamu baca ini puisi tentang ibu nanti kakak ajarin,” pintaku.

Awalnya Rini menolak ajakanku, namun Rini mengiyakan ajakanku karena kupaksa.

****

Lomba membaca puisi sedang berlangsung hari ini.

Latihan selama 3 minggu kurasa sudah cukup, karena meskipun Rina “kurang mengerti” dalam membaca puisi tapi dia memiliki semangat yang tinggi. Uang pendaftaran sudah kubayarkan dan dia menjadi peserta yang diadakan di Aula Latief IDB II.

“Kak aku takut ga bisa, aku ga pernah baca di depan orang-orang”. Kurasai tangan Rina yang sangat dingin sampai-sampai dia gemetar. Tapi aku tetap memberikan semangat kepadanya dan memberi iming-iming hadiah yang di terima sangat banyak. Bahkan nanti aku juga akan memberi hadiah tersendiri jika dia berhasil.

“Kita panggilkan Rina yang akan membacakan puisi berjudul “ibuku”…” Ujar MC yang sedang bertugas.

“Ibu…. Engkaulah orang yang ada dalam mimpiku, meski tidak seutuhnya…..” Dia membacakannya sampai menangis. Aku mengerti keadaan Rina yang sudah ditinggal oleh ibunya saat berusia 5 tahun. Dan aku berinisiatif membuatkan puisi agar Rina dapat dengan cepat paham.

Setelah selesai peserta membacakan puisinya masing-masing. Aku mengajak Rina untuk makan di kantin dekat gedung FIP. Dan selalu berdoa agar Rina berhasil.

Saat pengumuman pun tiba. Ternyata Rina tidak menjadi juara 1. Awalnya aku kecewa. Tetapi aku ingat jika inilah usaha keras yang sudah dilakukan Rina. Usaha yang mana setiap orang belum tentu bisa sepertinya. Bahkan akupun merasa tidak sanggup jika harus sepertinya.

Aku memeluk Rina seraya berkata “Rina jangan sedih ya, kakak ga lupa kok kasih kamu hadiah. Nanti Rina ikut lagi ya kalo ada kakak kasih tau” Diapun juga mengangguk dengan wajah sedikit kecewa.

****

Hari ini adalah hari reuni akbar di kampusku. Hari yang sangat kutunggu-tunggu karena aku akan segera bertemu teman-teman yang sudah memiliki anak-anak, sibuk dengan pekerjaannya dan masih banyak lagi. Dan aku sangat rindu masa-masa menjadi mahasiswa baru belum mengenal arti kehidupan sebenarnya. Masih suka jalan-jalan, nonton dan lain-lain. Namun setelah dipertemukan oleh sosok gadis kecil penjual tisu itu…

Ya! aku tidak bertemu dengannya setelah aku pindah keluar kota untuk bekerja. Namun aku berniat untuk menemuinya hari ini ketika reuni akbar.

Aku sangat terkejut ketika ada mahasiswa yang bernama Rani di tulisan nametag panitianya. Sejenak ku geleng-gelengkan kepala karena tidak mungkin Rani sudah berkuliah. Namun jika ku hitung-hitung sudah hampir 10 tahun kami tidak bertemu. Dan aku memberanikan diri bertanya kepada mahasiswa itu.

“Kamu namanya, Rani ya? Kamu tinggal dimana?” tanyaku

“Aku Rani kak, aku tinggal di pemuda” Jawabnya.

Langsung aku bertanya kembali “Apa kamu ingat aku? Sudah lama kita tidak bertemu Rani”

Tiba-tiba Rani tersenyum riang menatapku.

“Kakak ya? Aku kangen kakak lama sekali aku ga ketemu kakak” Lalu kami bercerita dan aku bertanya kepadanya mengapa dia berkuliah di UNJ.

“Aku ambil kuliah di UNJ karena aku bahagia, karena UNJ aku bisa seperti sekarang, karena UNJ aku bisa berani membaca puisi dan aku terus mencoba. Padahal kak, aku sudah diterima di Universitas daerah Jogja, tapi aku memilih disini. Selain sambil menjaga ayah, aku juga disini bersyukur karena mungkin jika aku di Jogja aku tidak seperti sekarang,” Ceritanya tak pernah sekalipun terbayangkan bahwa dia akan melanjutkan membaca puisi yang waktu itu hanya iseng-iseng karena mengharap hadiahnya.

“Wah kamu hebat, memang kamu sekarang sedang ada kegiatan apa Reni?” Tanyaku kepadanya.

“Alhamdulillah kak aku bulan depan berangkat ke Australia buat konferensi disana dan itu juga cuma coba-coba sama seperti waktu dulu kakak mendaftarkanku ikut lomba itu. Aku juga bersyukur karena ayah sudah sembuh meskipun umurnya sudah lanjut usia”.

Aku memeluknya dan ikut merasakan kebahagiaan yang sesungguhnya. Dari aku tak sengaja melihatnya menjual tisu di kantin, lalu aku memberanikan diri untuk datang kerumahnya. Dan selalu mengajarinya pelajaran-pelajaran yang dibutuhkan. Aku tidak menyangka dia diterima di kampus ternama dan dulu aku sempat menyesal saat salah masuk universitas. Tapi dia lebih memilih berada di kampus ini karena kecintaannya pada tempat yang membuatnya seperti sekarang. Meskipun dia tidak memiliki gedung-gedung dan nama-nama populer, namun dia memberikan prestasi untuk kampus ini. Aku bangga karena dia berhasil menjalani hari-harinya dengan semangat. Dimulai dari penjual tisu hingga menjadi mahasiswa yang memiliki segudang ilmu.

 

*THE END*

Oleh: Niamul Maftuhah (Ilmu Agama Islam UNJ Angkatan 2015)

Tulisan ini dipersembahkan untuk Pesta Literasi 2017 yang diselenggarakan oleh UNJKita.

Komentar Kamu?

BAGIKAN

Ruang Publik Kepada Seluruh Civitas Akademika UNJ untuk menyampaikan kritik, & Saran. Yuk Kirimkan Buah Pikiranmu