Home Belajar Hati-hati dengan Penyakit Disteachia

Hati-hati dengan Penyakit Disteachia

369
SHARE
Ternyata ada penyakit ganas yang khusus menyerang para guru. Para guru bisa saja terjangkit sebuah penyakit yang diberi nama Disteachia. 

Ayo berefleksi!

Thomas Armstrong, Ph.d., seorang yang ahli dalam mengaplikasikan strategi Multiple Intelligences di dalam kelas. Ia telah menerima puluhan siswa unik dengan berbagai lebel kelemahan yang ditransfer dari sekolah-sekolah normal.

Selanjutnya, Thomas Armstrong memutuskan untuk melakukan penelitian ke beberapa “Sekolah Normal”, sekolah-sekolah untuk anak normal. Setelah diteliti, ternyata bukan anak-anaknya yang bermasalah, melainkan guru-guru di sekolah tersebut yang sedang terjangkit penyakit Disteachia ini, yaitu penyakit salah mengajar. Penyakit ini mengandung tiga virus yang cukup membahayakan para guru.

setiap anak  dilahirkan disertai dengan  kecerdasan, sejatinya tidak ada anak yang tidak cerdas jika mendapatkan penanganan yang tepaT (Munif Chatib)

Wahai para guru, hati-hati dengan penyakit Disteachia!

Virus Pertama, Teacher Talking Time

Pernahkah kamu mendengar guru ngomong terus ketika sedang mengajar di kelas?

Nah, kalau pernah, itu berarti gurumu sedang terjangkit Disteachia. Mereka biasanya 80% waktunya selalu digunakan untuk bercerita, ceramah, dan menganggap ia didengarkan oleh siswa. Bagi para guru yang terjangkit virus ini, yang terpenting mereka telah memenuhi kewajiban mengajar. Padahal, banyak ruh siswanya tidak bersama guru tersebut di kelas. Karena ketika guru mengajar, belum tentu siswa juga sedang belajar. Bisa saja hanya mendengarkan, tapi pikiran berimajinasi ke hal-hal yang lain.

Virus ini semakin diperparah apabila para guru tak peduli dengan tindakan siswanya di kelas, seperti tertidur di pojokan kelas, diam-diam bermain HP, mengobrol bersama temannya. Guru biasanya tidak menegur/ tidak peduli karena terlalu fokus dengan ceramahnya di kelas. Wajar, jika para siswa menjadi bosan/ suntuk.

Sebaiknya, para guru gunakanlah metode mengajar yang bervariasi. Kurangilah penggunaan metode ceramah saja ketika mengajar di kelas. Dan yang terpenting, berusahalah melibatkan siswa untuk belajar.

Virus Kedua, Task Analysis

Kamu tahu gak sih, apa manfaat belajar Hukum Newton, Gerak Melingkar, Logaritma, Trigonometri, dan sebagainya?

Kalau kamu tidak tahu apa manfaatnya mempelajari materi pelajaran, itu berarti gurumu juga sedang terjangkit disteachia. Ada guru yang belum terbiasa menjelaskan kegunaan materi untuk aplikasi dalam kegiatan sehari-hari, padahal hal tersebut sangatlah penting.

Sebaiknya guru mampu untuk memberikan global analysis pada mata pelajaran yang diampunya. Para guru harus mampu memberikan gambaran secara utuh dari sebuah materi, sehingga siswa paham isi materi serta manfaat dan inspirasi yang bisa didapat dari belajar materi tersebut.

Virus Ketiga, Tracking

Tracking adalah pengelompokan siswa ke dalam beberapa kelas berdasarkan kemapuan kognitifnya. Output tracking adalah pembagian kelas menjadi kelas untuk anak pintar dan kelas untuk anak bodoh. Virus ini hampir menjangkiti semua sekolah, terutama sekolah favorit.

Thomas Amstrong dalam bukunya “Awakening Genius in the Classroom” telah melakukan penelitian tentang kelas khusus. Ternyata, perkembangan psikologi dan kompetensi seorang siswa pandai yang masuk dalam kelas khusus anak pandai atau kelas akselerasi mempunyai resiko kemunduran tingkat kecerdasan. Kompetisi kognitif yang terjadi setiap saat pada kelas ini menimbulkan ketegangan dan memenjarakan siswa dalam dikotomi kalah dan menang.

Jujur, sewaktu SD, penulis pernah mengalami guru yang terjangkit penyakit ini, terutama virus tracking (hanya pada kelasnya saja). Saya ingat betul, kami dibagi per baris duduk di dalam kelas. Baris pertama, siswa yang boleh duduk hanya rangking 1-10, baris kedua 11-20, baris selanjutnya diduduki ranking seterusnya. Ternyata hal tersebut kuranglah tepat. Guru tak boleh mengelompokkan siswa berdasarkan kemampuan kognitifnya, terlebih melebeli siswa kumpulan anak pintar dan kumpulan anak bodoh. Pantas saja, saya merasakan betapa tidak sehatnya atmosfer kompetisi belajar saat itu.

Sumber: Chatib, Munif. 2009. Sekolahnya Manusia. Kaifa: Bandung 

Komentar Kamu?