Home Alumni

Izatul Silmi, Alumni UNJ Belajar di Sekolah Guru Indonesia Demi Menjadi Pendidik Sejati

1037
BAGIKAN

Hi Sobat UNJKita!

Kali ini Tim UNJKita akan mengulas seorang perempuan perantau dari Bukit Tinggi yang sudah menjadi alumni UNJ. Ialah Izatul Silmi, S.Pd. Silmi, panggilan akrabnya, merupakan alumni Fakultas Teknik Jurusan Elektronika UNJ angkatan 2011. Anak keenam dari enam bersaudara ini cukup aktif di berbagai lembaga keilmiahan, seperti Kelompok Peneliti Muda UNJ dan MITI KM. Silmi juga sempat menjadi pembina komunitas Lingkar Inspirasi UNJ.

Pada kesempatan kali ini, Silmi akan bercerita seputar kegiatannya di Sekolah Guru Indonesia. Adakah diantara sobat UNJKita yang sudah mengetahui tentang Sekolah Guru Indonesia?

Yuk, disimak hasil wawancara Tim UNJKita bersama Silmi!

***

Hi Silmi! Apa aktivitasmu saat ini?

Aktivitas saya saat ini mengikuti Professional Class dari Sekolah Guru Indonesia (SGI). Sekolah Guru Indonesia merupakan sekolah non formal bagi guru-guru untuk menjawab berbagai permasalahan pendidikan di Indonesia. Sekolah Guru Indonesia merupakan salah satu program Dompet Dhuafa yang berkomitmen melahirkan Guru Transformatif yang memiliki kompetensi mengajar, mendidik, dan berjiwa kepemimpinan sosial.

Saya tergabung menjadi agent SGI Angkatan 21. Istimewanya menjadi SGI 21, saya mendapatkan beasiswa S2 Jurusan Manajemen Pendidikan Islam di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Saat ini, selain S2 dan sedang menyusun tesis, saya mendapatkan berbagai pelatihan pendidik dari SGI untuk persiapan penempatan di daerah, tahun depan. Selama pelatihan sambil berkuliah, saya dan teman-teman SGI 21 lainnya diasramakan juga.

Apa saja hal seru selama menuntut ilmu di SGI?

Awalnya saya memang gak enjoy. Tapi mengingat cita-cita saya, yaitu ingin menjadi pendidik sejati, saya ikhtiarkan diri ini untuk terus bersemangat menuntut ilmu. Selain itu, saya juga ingin belajar tentang ilmu memanajemenkan sekolah agar pendidikan Indonesia menjadi lebih baik.

Oia, saya juga mendapatkan banyak sekali pelajaran kehidupan di SGI lho. Saya teringat kata-kata dari Guru Agung (Pembina SGI) bahwa cobaan paling besar dalam hidup adalah mendewasakan diri sendiri. Dengan range umur 25–35 tahun. Setelah 35 tahun biasanya orang sudah bisa mengendalikan dirinya. Oleh karena itu, di SGI saya juga sedang belajar untuk mendewasakan diri.

Hal seru lainnya, saya dan teman-teman SGI 21 lainnya dikumpulkan di sebuah asrama dengan berbagai latar belakang yang berbeda. Saya bertemu dengan teman-teman dari berbagai daerah. Banyaknya ragam budaya dan bahasa justru mempersatu visi dan misi kami, yaitu terus belajar, belajar, dan belajar demi memberikan yang terbaik untuk pendidikan Indonesia.

Banyaknya ragam budaya dan bahasa justru mempersatu visi dan misi kami, yaitu terus belajar, belajar, dan belajar demi memberikan yang terbaik untuk pendidikan Indonesia.

Selama saya di SGI, saya dan teman-teman dididik ala militer agar tercipta jiwa guru yang benar-benar mau mengabdi. Filofosi SGI yang harus berpendidikan ala militer, karena mereka mau berjuang demi negara walaupun dalam keadaaan tidak punya harta sama sekali. Itulah perbedaan ABRI dengan abdi-abdi negara yang lain, mereka mau rela berkorban untuk negara. Maka, dipakailah konsep militer untuk guru selama menuntut ilmu di SGI.

Apa motivasi terbesar Silmi untuk mau tergabung SGI 21?

Jagi gini, program SGI yang dibeasiswakan S2 dan diasramakan hanya SGI angkatan 21. Sebelumnya hanya pelatihan-pelatihan guru selama beberapa bulan dan diasramakan, lalu penempatan ke daerah. Tentu, saya berikeinginan keras untuk mengambil kesempatan berharga tersebut.

Hadirnya SGI untuk menjawab berbagai permasalahan pendidikan di Indonesia. Karena banyak guru-guru di Indonesia yang kurang kompeten dan kurang wawasan serta minimnya jiwa yang ingin belajar. Selain itu, tidak meratanya pendidikan di Indonesia. Penyebaran guru yang tidak merata ini dalam hal sumber daya dan kapasistas keilmuannya.

sebenarnya permasalahan pendidikan itu intinya pola pikir manusianya yang belum terlalu luas, makanya kapasitas gurunya gitu-gitu aja.

Misi SGI adalah supaya ketika kami telah menyelesaikan pendidikan di SGI, kami diharapkan bisa memperbaiki pendidikan di daerah dengan kapasitas ilmu maupun pemikiran yang sudah baik karena sebenarnya permasalahan pendidikan itu intinya pola pikir manusianya yang belum terlalu luas, makanya kapasitas gurunya gitu-gitu aja. Di SGI ini menekankan pola pikir pendidik harus bisa berkembang, walaupun dengan dana yang sedikit.

Jadi, menurut saya konsep SGI sebenarnya lebih ke pola pikir. SGI menginginkan agar kita bisa membuat suatu perkembangan dengan mengembangkan manusia. Makanya dikasih berbagai pelatihan dan pengalaman. Supaya kita tahu inti dari kehidupan itu bukan hanya duit, tapi pengorbanan dan keikhlasan. Itulah yang harus dimiliki jiwa guru.

Oleh karena itu, melalui SGI, saya termotivasi untuk menjadi pendidik sejati yang memiliki jiwa untuk mengabdi dengan perngorbanan dan keikhlasan demi memperbaiki pendidikan Indonesia.

Apa keunikan SGI dibandingkan program pengabdian guru lainnya?

SGI mengajarkan saya bahwa guru itu bukan profesi untuk mencari banyak duit, tapi guru itu adalah profesi untuk mengabdikan diri serta beramal sebanyak-banyaknya. Karena ketika guru hanya mengajar wilayah kognitif aja, maka akhlak siswa tidak berubah. Tapi ketika guru mengajar dengan hati yang ikhlas dan dengan pengabdian, banyak hal hal yang di luar ekspetasi.

SGI mengajarkan saya bahwa guru itu bukan profesi untuk mencari banyak duit, tapi guru itu adalah profesi untuk mengabdikan diri serta beramal sebanyak-banyaknya.

Keunikan SGI dibandingkan program pengabdian guru lainnya adalah ‘jiwa guru’nya lebih ‘dapet’. SGI memang hanya didanai oleh Dompet Dhuafa, sehingga kerelawanannya jauh lebih terasa. Selain itu, menurut saya SGI lebih dicintai oleh masyarakat. Anggapan masyarakat kepada kita sepertinya tulus sekali.

Adakah project pendidikan yang sedang kamu jalani, Silmi?

Nah, kebetulan saya dan beberapa teman saya, Riki Wirahmawan dari Alumni UIN Bandung, Firda Amelia dari Alumni UIN Jakarta, Nardis dari Alumni Univ Haluuleo, alhamdulilah berkesempatan untuk membuat project pendidikan untuk para pemuda, yaitu IYEF (Indonesian Youth Education Forum) Camp 2017. Ada 68 peserta dari berbagai daerah di Indonesia yang ikut berpartisipasi dalam rangkaian acara IYEF Camp 2017 lho!

IYEF Camp 2017 merupakan forum pemuda di bawah naungan Sekolah Guru Indonesia yang memiliki komitmen bersama untuk memperbaiki pendidikan Indonesia dengan membentuk karakter pemuda transformatif.

SGI meminta kami melakukan program pengabdian kepada masyarakat. Tapi, kami gak ingin membuat sekadar program pengabdian seperti pelatihan-pelatihan saja. Kami juga ingin membangun generasi-generasi Indonesia dari awal banget.

IYEF Camp 2017 bertujuan untuk membangun atau membentuk generasi pendidik Indonesia. Kami ingin agar pemuda-pemuda Indonesia masih bisa tetap berjaya, berkarakter, berakhlak, berbagi, serta bermanfaat bagi orang lain. Kami berharap dapat berperan menumbuhkan tunas-tunas bangsa yang mampu memberantas sekecil kemungkaran dan bisa berbuat baik sebanyak-banyaknya.

Follow up dari IYEF Camp 2017 adalah para peserta atau yang kami sebut agent IYEF diminta membuat gerakan-gerakan kependidikan untuk berkontribusi yang lebih berdampak dan bermanfaat di daerah masing-masing.

Apa pesan Silmi untuk sobat UNJKita agar termotivasi untuk menjadi pendidik sejati seperti cita-cita Silmi yang sedang diikhtiarkan ini?

Balik lagi ke tujuan hidup, money oritented atau kebahagian oriented. Kebahagian oriented bisa kita raih dengan cara memberikan banyak kebaikan kepada orang lain. Mau bahagia, tapi sedikit uang, atau mau sedikit bahagia, tapi banyak uang. Kalau mau bahagia, tapi banyak uang, kita harus banyak berusaha dan mau memberi kepada orang lain.

Menjadi seorang guru adalah tentang wujud pengabdian kita kepada orang lain dan masyarakat, dan tentunya kepada Allah.

Nah, kehidupan menjadi guru adalah profesi yang sangat tepat agar meraih banyak kebahagiaan. Menjadi seorang guru adalah tentang wujud pengabdian kita kepada orang lain dan masyarakat, dan tentunya kepada Allah. Ending dari hidup kita, apakah kita meninggal dalam keadaan terabadikan, atau sebaliknya. Ketika menjadi guru yang bukan money oriented kita akan mendapatkan makna hidup sebenarnya, tapi dalam bentuk pengabdian kita kepada Allah. Oleh karena itu, yuk jadi guru agar kebahagian hidup selalu dapat dirasakan sepanjang hayat kita. Semangat mendidik!

***

Itulah hasil wawancara Tim UNJKita bersama Izatul Silmi yang sedang berikhtiar meraih cita-citanya menjadi pendidik sejati bersama Sekolah Guru Indonesia. Yuk, sobat UNJKita, kita doakan Silmi agar berhasil membawa banyak sekali dampak positif untuk pendidikan Indonesia!

Komentar Kamu?