Home Suara Anda Opini

Kampus Kehidupan: Kisah Kakek Penyapu di Kampus UNJ

455
BAGIKAN

Pagi itu langit terasa cerah dengan cahaya mentari yang menerangi segenap aktivitas kehidupan mahasiswa. Mentari serasa tersenyum menyambut hari ini. Rerumputan seakan bergoyang oleh hembusan angin yang mulai mengenainya. Lalu lalang mahasiswa mengisyaratkan bahwa roda kehidupan kampus mulai bergeliat. Hutan-hutan beton kampus yang kian menjulang seakan menimbulkan kesan mewah. Daun-daun yang berguguran hingga jatuh di tepian jalan di tengah hiruk pikuk kehidupan universitas.

Ketika kaki ini berjalan menyusuri kampus dengan semangat pagi yang merasuk dalam sanubari, entah apa yang ada di benaku saat itu. Dari sekian banyak lalu lalang manusia di kampus ini seketika aku terperangah oleh sosok seseorang laki-laki tua renta dengan memegang sapu ijuk dan menggunakan topi serta sandalnya, lalu ia berjalan dengan tertatih tatih.

Dia sejatinya tak begitu mengerti tentang apa yang terjadi dengan kampusnya. Mulai dari masalah birokrat, tensi mahasiswa atas pembungkaman suara, hingga seorang dosen yang dapat surat panggilan polisi atas dugaan pencemaran nama baik di media elektronik. Yang dia tahu bagaimana menjalani hidup dengan baik dan memberikan pengabdiannya untuk kampus tercinta, Universitas Negeri Jakarta.

Ketika itu hari Rabu, 17 Mei 2017, seseorang bapak tua renta yang begitu tergopoh-gopoh ketika melakukan pekerjaannya sehari-hari membuat saya bertanya-tanya siapa dan apa yang ia lakukan di kampus ini. Pekerjaan yang ia emban sungguh berat bagi seseorang yang telah berusia senja. Namun dia berani untuk bekerja dengan keras walaupun fisik yang tidak memungkinkan dengan usia yang mulai menua, namun ia tetap semangat untuk mencari sesuap nasi.

Pria itu bernama Bapak Sadri. Ia telah mengabdikan dirinya untuk UNJ selama 16 tahun yang telah meninggalkan kenangan begitu mendalam dalam mengarungi bahtera kehidupan kampus. Walaupun hanya bekerja sebagai office boy, jasa yang ia berikan untuk keberlangsungan kampus tidak perlu dipertanyakan lagi. Keterbatasan fisik bukan hambatan untuk mengabdi sebagai tukang sapu. Pekerjaan yang menurut sebagain orang hanya kelas bawah, namun apa yang Pak Sadri berikan dalam rangka menjaga kebersihan kampus sungguh bernilai dan patut di apresiasi.

Pria kelahiran 1947 ini, sejatinya hanya hidup sebatang kara. Di usianya yang menginjak kepala tujuh, seharusnya sudah memiliki anak ataupun cucu, namun hal itu tidak dialami orang seperti Pak Sadri. Ia hanya tinggal bersama adik perempuannya yang telah berkeluarga di daerah Rawamangun. Walaupun ia sudah tua, namun jiwa muda dan kebujangannya pun begitu berkobar bagi yang mengenalnya.

Dengan menggunakan sapu ijuk dan pakain dinasnya, ia menyusuri setiap tempat yang sudah menjadi wilayahnya untuk dibersihkan. Ia tidak kelihatan mengeluh walaupun fisik rentanya mulai menggerus tubuh tuanya. Satu hal yang membuat ia semangat bekerja karena yang ia lakukan sejatinya untuk menyambung keberlangsungan hidupnya.

Kemirisan pun melanda hati ketika kerja kerasnya hanya diupah Rp1.500.000 per bulan. Kebutuhan hidup yang kian tinggi, upah tersebut terasa tidak cukup. Jakarta sebagai pusat kota dengan segala pernak pernik kehidupan terasa memberatkan kalau upah tidak sebanding dengan kontribusi berupa kebersihan yang ia lakukan selama ini. Walaupun ia hidup bersama dengan adiknya dengan upah yang jauh di bawah UMR, sejatinya ini menyisakan tanda tanya. Sejalan dengan upah yang tidak layak, ia hanya diberikan uang untuk makan Rp100.000 per minggu. Mungkin bagi sebagian kalangan mahasiswa uang tersebut ada yang digunakan untuk bersenang-senang dan adapula digunakan untuk memenuhi kebutuhan hidupnya.

Kerja yang ia lakukan sehari-hari mulai dari pukul 06.00 WIB hingga pukul 17.00 WIB dengan istirahat pada pukul 11.00 WIB. Ketika istirahat, Pak Sadri pun pulang guna mengisi asupan gizi berupa nasi dan lauk pauk seadanya. Di awal tulisan, sudah disinggung sebelumnya apa yang ia lakukan dengan keterbatasan fisik, gaji yang jauh dari harapan, kebutuhan hidup yang semakin mencekik, dan jam operasional kerja semua ini meninggalkan pilu untuk yang merasa hidupnya tidak bersyukur.

Kehidupan yang penuh persaingan bukan berarti kita tidak harus jujur, sejatinya kejujuran menjadi kunci dalam mengarungi dan menyelami kehidupan ini.

Kehidupan yang penuh persaingan bukan berarti kita tidak harus jujur, sejatinya kejujuran menjadi kunci dalam mengarungi dan menyelami kehidupan ini. Pak Sadri pun berpesan demikian karena kejujuran adalah sikap yang harus dimilki mahasiswa.

Mahasiswa sebagai tonggak estafet peradaban dituntut peranannya dalam memberikan kontribusinya untuk memajukan bangsa dan negara. Mahasiswa adalah agent of change, begitulah dengungan yang selalu terlontar dalam kehidupan kampus ini. Peranan dan pengabdian mahasiswa harus terbukti nyata .

Walaupun hidup yang penuh kesulitan beliau tak lupa untuk berdoa. Terlebih ia mendoakan kepada kawan-kawan mahasiswa agar pintar-pintar sekolahnya. Begitulah ucapan yang anggun dan terbatah-batah dari seorang kakek ini. Doa adalah senjata ampuh ketika kenyakinan menjadi titik utama. Sejatinya Tuhan telah menakdirkan seseorang untuk memiliki hati yang terang agar dapat memberi pencerahan bagi sekelilingnya. Kekaguman ini tidak bisa ditutupi manakala apa yang telah dilakukan pak sadri untuk kampus ini.

“Jangan pelit!”, begitulah untaian kata yang mengandung sebuah makna terlontar dari mulutnya.

Hidup yang penuh individualitis menandakan bahwa manusia harus berlaku dermawan terhadap sesama. Kekikiran adalah sifat yang harus ditinggalkan guna mencapai kesejahteraan bersama.

Pak Sadri adalah contoh bagaimana menjalani hidup ini harus terus mensyukuri nikmat yang telah dianugrahkan bagi segenap lapisan masyarakat. Apa yang dilakukan Pak Sadri patut diteladani guna mengambil pembelajaran hidup. Kegigihan, kejujuran, dan dermawan adalah kunci untuk membuka gerbang kehidupan yang lebih baik. Hidup ini bukan untuk meratapi nasib, namun bagaimana usaha dan kerja keras diiringi dengan doa menjadikan kita harus berlaku optimis menyongsong masa depan. Marilah kita merenungkan dan mengambil pelajaran atas kegigihan Pak Sadri.

Oleh: Aji Setiawan (Ilmu Agama Islam FIS UNJ Angkatan 2015)

Tulisan ini dipersembahkan untuk Pesta Literasi 2017 yang diselenggarakan oleh UNJKita.

Komentar Kamu?

BAGIKAN

Ruang Publik Kepada Seluruh Civitas Akademika UNJ untuk menyampaikan kritik, & Saran. Yuk Kirimkan Buah Pikiranmu