Home Suara Anda Opini

Kampusku, Diobral?

1126
BAGIKAN

Tak sedikit individu yang mengamini bahwa kampus adalah miniatur sebuah negara. Ya, pasalnya kampus saat ini sudah memasuki era modern, sehingga kegiatan pembelajaran tidak hanya berlangsung sebatas ilmu yang diampu saja, melainkan lebih kompleks dibandingkan hal tersebut. Hal ini diperkuat ketika adanya permasalahan negara yang hampir sama dengan permasalahan yang ada dikampus.

Melirik UU No 12 tahun 2012 tentang pendidikan tinggi dapat diketahui bahwa pendidikan tinggi mempunyai fungsi yang terbilang cukup berat. Dalam Pasal 4 poin a saja pendidikan tinggi berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa.
Fungsi berat itupun diamanahkan kepada Universitas Negeri Jakarta, yang sudah tersohor namanya, terutama dalam pencetakkan tenaga kependidikan.

Seperti yang kita ketahui, saat ini UNJ masih berstatus PTN Badan Layanan Umum (PTN BLU), kendati demikian UNJ sedang berbenah diri agar statusnya sama dengan beberapa kampus tetangga, ya PTN Badan Hukum. Impian yang mulia tersebut ditargetkan akan terwujud pada tahun 2020.

Peningkatan kualitas dari berbagai lini dilakukan agar terwujudnya impian mulia tersebut. Hal inilah yang mungkin menjadikan UNJ mencontoh beberapa kampus tetangga yang sudah berstatus PTN BH, tak terkecuali dengan memberikan izin penggunaan sarana dan prasarana kampus untuk pengambilan gambar salah satu sinetron yang dibintangi oleh aktor internasional. Mungkin agar dianggap UNJ ke PTNBH-PTNBH-an.

Agak lucu memang, kampus yang tersohor dengan kualitas lulusan tenaga kependidikannya yang tentu sangat kental dengan nuansa intelektual harus ‘rela’ digunakan lahannya untuk pengambilan gambar sinetron remaja kekinian yang belum tentu ceritanya mencerminkan keseharian peserta didik yang baik dan benar. Seolah motto ‘Building Future Leaders’ yang terpampang gagah bersama logo UNJ ‘luntur’ atas ke-rela-an pimpinan UNJ dalam memberikan izin pengambilan gambar dikampus pendidikan ini.

Hal ini diperparah dengan penutupan logo UNJ serta tulisan UNIVERSITAS NEGERI JAKARTA yang terpampang gagah di Plaza UNJ dengan logo dan tulisan Sekolah Menengah Atas ala sinetron remaja kekinian. Ya, ini membuat nama UNJ yang tersohor itu seolah semakin ‘murah’. Padahal, daya saing untuk dapat kuliah di universitas rakyat ini terbilang cukup sulit.

Pada laman sbmptn.ac.id terdapat data daya tampung SBMPTN 2016 dan peminat tahun 2015 yang menunjukkan fakta bahwa jika dibandingkan daya tampung dan peminat, tidak satupun prodi mempunyai peluang masuk lebih dari 10%, bahkan ada beberapa prodi yang mempunyai peluang masuk dibawah 1%. Hal ini merupakan sebuah fakta yang teramat jelas bahwa seharusnya kampus ini tidak se- ‘murah’ itu, bukan?

Sayangnya, secara tak langsung hal ini juga semakin membuat kampus ini ‘kental’ dengan isu komersialisasi, ya perlahan tapi pasti. Karena setiap pihak luar ketika menggunakan sarana dan prasarana dalam kampus, hampir dapat dipastikan harus menggelontorkan dana sewa. Lantas, sampai kapan kampusku seperti ini?

Beberapa rilis yang sudah dilayangkan memang menjelaskan bahwa pihak rektorat tidak tahu menahu perihal urusan sewa menyewa.

Apa benar? Bukankah ketika ada kerjasama akan ada perjanjian dan timbal balik yang diberikan. Lalu keuntungan apa yang didapat UNJ?

Tidak mungkin untuk syuting sinetron hanya dikenakan biaya keamanan dan kebersihan, karena faktanya kita mahasiswa saja harus menggelontorkan ratusan ribu untuk menyewa 1 ruang aula yang katanya untuk uang kebersihan, apalagi harga akan membengkak ketika peminjaman dilakukan dihari libur.
Itukah kampusku?

Disadari atau tidak, pemberian izin pengambilan gambar untuk sinetron remaja kekinian tersebut jelas telah menciderai kampus pendidikan ini, bahkan hal itu tak sesuai dengan amanat statuta UNJ pasal 61 ayat 5 yang berbunyi; “Pemanfaatan sarana dan prasarana UNJ dalam rangka kerjasama diutamakan untuk menunjang kelancaran pelaksanaan Tri Darma Perguruan Tinggi”

Ketika harga diri kampusmu sudah dicabik, apakah engkau akan tetap diam, kawan?

Oleh: M. Afif Makarim
-Mahasiswa Biasa, Yang Teramat Cinta Terhadap Kampusnya-

Komentar Kamu?