Home Mahasiswa Belajar

Kepemimpinan Dalam Kacamata Islam

67
BAGIKAN

KEPEMIMPINAN DALAM KACAMATA ISLAM. Pemimpin, serta pembahasan tentang pemimpin adalah salah satu hal penting yang harus dipelajari oleh setiap manusia. Karena mau tidak mau dan suka tidak suka, ketika kita baru dilahirkan pun kita sudah memiliki sedikitnya satu pemimpin, yaitu ayah kita.

Kemudian memang hakikat seorang manusia dilahirkan ke dunia salah satunya adalah untuk menjadi khalifah (pemimpin) di Bumi. Pernyataan ini sesuai dengan firman Allah swt. dalam surat Al Baqarah ayat 30 :

وَإِذْ قَالَ رَبُّكَ لِلْمَلَائِكَةِ إِنِّي جَاعِلٌ فِي الْأَرْضِ خَلِيفَةً ۖ قَالُوا أَتَجْعَلُ فِيهَا مَنْ يُفْسِدُ فِيهَا وَيَسْفِكُ الدِّمَاءَ وَنَحْنُ نُسَبِّحُ بِحَمْدِكَ وَنُقَدِّسُ لَكَ ۖ قَالَ إِنِّي أَعْلَمُ مَا لَا تَعْلَمُونَ
“Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para Malaikat: “Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi”. Mereka berkata: “Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?” Tuhan berfirman: “Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui”.”

Ditegaskan kembali, memang sudah ditakdirkan untuk menjadi pemimpin, pemimpin bagi dirinya sendiri (seperti mengendalikan nafsu dan menggerakkan diri untuk beribadah) dan/ atau pun pemimpin bagi orang lain karena telah dianugerahi jiwa dan sifat kepemimpinan yang lebih oleh Allah swt. Kepemimpinan juga aspek yang penting dalam diri seseorang. Orang yang sama sekali tidak memiliki rasa kepemimpinan, maka hidupnya akan selalu mengikuti hawa nafsunya, dan menzhalimi dirinya maupun orang lain.

Seorang pemimpin adalah inspirator perubahan dan visioner, yaitu memiliki visi yang jelas tentang arah yang akan dituju dalam organisasinya. Seorang pemimpin memiliki kerinduan untuk membangun dan mengembangkan bawahannya, sehingga ia mampu membina para pemimpin generasi selanjutnya. Pemimpin harus menjadi teladan bagi bawahannya dan senantiasa memerhatikan kebutuhan mereka demi kesejahteraan dan keadilan. Kepedulian seorang pemimpin merupakan impian dan harapan orang –oranng yang dipimpinnya. Hal ini dapat terwujud jika pemimpin tersebut memiliki jiwa kepemimpinan.

Kepemimpinan atau leadership adalah kemampuan seseorang untuk memengaruhi orang lain agar bekerja sama sesuai dengan rencana demi tercapainya tujuan yang telah ditetapkan. Dengan demikian, kepemimpinan memegang peranan penting dalam manajemen, bahkan kepemimpinan adalah inti dari manajemen.(1)

Kepemimpinan dalam Islam mengalami perkembangan pesat, terbukti dengan berbagai kajian mengenai politik Islam, bahkan menjadi salah satu bidang ilmu yang dikaji secara khusus sebagai bagian dari kajian fiqh, yang disebut dengan fiqh siyasah atau politik Islam.(2) Secara garis besar, fiqh politik Islam mempelajari tentang bagaimana seharusnya seorang pemimpin, serta bagaimana seseorang bisa dikatakan memiliki jiwa kepemimpinan. Maka, kita akan membahas tentang prinsip-prinsip kepemimpinan dalam politik, yang kemudian sedikitnya kita kiaskan sebagai bentuk umum.

Suyuti Pilunga (1995 : 5-8) menyebutkan dasar dari Al Qur’an, yang dijadikan prinsip-prinsip umum perbuatan dan pelaksanaan kebijakan seorang pemimpin, di antaranya sebagai berikut.(2)

1. Kedaulatan Tertinggi di Tangan Allah swt.
Sesuai dengan perintah Allah pada QS. An Nisaa : 59, Allah berfirman:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُولِي الْأَمْرِ مِنْكُمْ ۖ فَإِنْ تَنَازَعْتُمْ فِي شَيْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى اللَّهِ وَالرَّسُولِ إِنْ كُنْتُمْ تُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ ۚ ذَٰلِكَ خَيْرٌ وَأَحْسَنُ تَأْوِيلًا
“Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Quran) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya.” (QS. An Nisaa : 59).
Ayat tersebut menunjukkan bahwa taat pada Allah dan Rasul adalah hal yang pertama, kemudian pula dapat kita lihat pada pidato pertama Abu Bakar setelah menjadi khalifah:
“……….. Patuhlah kalian kepadaku selama aku mematuhi Allah dan Rasul-Nya. Jika aku durhaka kepada Allah dan Rasul-Nya maka tidak ada kewajiban bagi kalian untuk mematuhiku. Kini marilah kita menunaikan Shalat, semoga Allah Subhanahu Wata’ala melimpahkan Rahmat-Nya kepada kita semua.”

2. Prinsip Keadilan
Diterangkan dalam QS An Nisaa ayat 58 :
۞ إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُكُمْ أَنْ تُؤَدُّوا الْأَمَانَاتِ إِلَىٰ أَهْلِهَا وَإِذَا حَكَمْتُمْ بَيْنَ النَّاسِ أَنْ تَحْكُمُوا بِالْعَدْلِ ۚ إِنَّ اللَّهَ نِعِمَّا يَعِظُكُمْ بِهِ ۗ إِنَّ اللَّهَ كَانَ سَمِيعًا بَصِيرًا
“Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya, dan (menyuruh kamu) apabila menetapkan hukum di antara manusia supaya kamu menetapkan dengan adil. Sesungguhnya Allah memberi pengajaran yang sebaik-baiknya kepadamu. Sesungguhnya Allah adalah Maha Mendengar lagi Maha Melihat.” (QS An Nisaa : 58)

3. Prinsip Persamaan (Musawah)
Semua memiliki hak yang sama untuk berpendapat, baik itu atasan ataupun bawahan. Karena pada hakikatnya sesama muslim adalah bersaudara, tidak berhak bagi siapapun untuk menjatuhkan atau tidak menghormati yang lain. Hal ini sesuai dengan firman Allah dalam QS Al Hujurat ayat 49 :
إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ إِخْوَةٌ فَأَصْلِحُوا بَيْنَ أَخَوَيْكُمْ ۚ وَاتَّقُوا اللَّهَ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ
“Orang-orang beriman itu sesungguhnya bersaudara. Sebab itu damaikanlah (perbaikilah hubungan) antara kedua saudaramu itu dan takutlah terhadap Allah, supaya kamu mendapat rahmat.” (QS Al Hujurat : 10)

4. Prinsip Musyawarah
Musyawarah dilakukan karena setiap manusia memiliki kepentingan, pendapat, kemampuan intelektual, dan tujuan yang berbeda. Sesuai dengan firman Allah dalam QS Asy Syu’ara ayat 38 :
وَالَّذِينَ اسْتَجَابُوا لِرَبِّهِمْ وَأَقَامُوا الصَّلَاةَ وَأَمْرُهُمْ شُورَىٰ بَيْنَهُمْ وَمِمَّا رَزَقْنَاهُمْ يُنْفِقُونَ
“Dan (bagi) orang-orang yang menerima (mematuhi) seruan Tuhannya dan mendirikan shalat, sedang urusan mereka (diputuskan) dengan musyawarat antara mereka; dan mereka menafkahkan sebagian dari rezeki yang Kami berikan kepada mereka.”

Dari uraian di atas, sudah jelas bahwa latar belakang munculnya pemimpin dan kepemimpinan adalah sunnatullah, karena prinsip-prinsipnya pun sudah tertera jelas di Al Qur’an. Sudah selayaknya seorang pemimpin muslim mengambil arti dari kepemimpinan berdasarkan Al Qur’an dan Sunnah. Begitu pun dengan orang-orang yang memiliki hak untuk memilih, mereka harus memilih pemimpin ideal yang sudah tercantum dalam sumber pada hukum Islam.

Pemimpin tidak boleh menyeleweng, dan yang memilih harus teliti betul siapa yang dipilihnya. Karena setiap diri kita akan dimintai pertanggung jawabannya sebagai pemimpin di akhirat nanti.

Dari Ibnu Umar ra. ia berkata: Saya mendengar Rasulullah saw. bersabda: “Kalian adalah pemimpin, dan akan dimintai pertanggung jawaban. Penguasa adalah pemimpin, dan akan dimintai pertanggung jawaban atas kepemimpinannya. Suami adalah pemimpin keluarga, dan akan dimintai pertanggung jawaban atas kepemmpinannya. Istri adalah pemimpin di rumah suaminya, dan akan dimintai pertanggung jawaban atas kepemimpinannya. Pelayan adalah pemimpin dalam mengelola harta tuannya, dan akan dimintai pertanggung jawaban tentang kepemimpinannya. Oleh karena itu, kalian sebagai pemimpin akan dimintai pertanggung jawaban atas kepemimpinannya.” (HR Bukhari dan Muslim)

Di sini muncullah pentingnya mengadakan dan mengikuti latihan-latihan yang bersifat membangun dan mengenalkan jiwa kepemimpinan. Jangan sampai generasi ini adalah yang tersebut dalam salah satu hadits Rasulullah saw. :
“Sepeninggalanku nanti akan muncul pemimpin-pemimpin baru yang kata-katanya tak boleh dibantah. Mereka meloncat ke sana-ke mari dalam api kekuasaan bagaikan monyet.”
Na’uudzubillahi min dzalik.

Oleh: Alyaa Dinda Aisyah

Daftar Pustaka :
(1)Drs. Beni Ahmad Saebani dan M.Si., Ii Sumantri, M.Ag., Kepemimpinan, Hlm. 6.
(2)Beni Ahmad Saebani dan M.Si., Ii Sumantri, M.Ag., Kepemimpinan, Hlm.43.Beni Ahmad Saebani dan M.Si., Ii Sumantri, M.Ag., Kepemimpinan, Pustaka Setia, 2014.
ww.tafsirq.com/

Komentar Kamu?

BAGIKAN
Ruang Publik Kepada Seluruh Civitas Akademika UNJ untuk menyampaikan kritik, & Saran. Yuk Kirimkan Buah Pikiranmu