Home Mahasiswa Belajar

Ketika Jadi Mahasiswa itu….

879
BAGIKAN

“Maka apabila kamu telah selesai (dari sesuatu urusan), kerjakanlah dengan sungguh-sungguh (urusan yang lain).” (QS. 94:7)

Detik-detik berakhirnya Ujian Nasional adalah saat-saat yang paling membahagiakan menurutku. Mengapa? Karena setelahnya makanan akan terasa semakin nikmat dan beban di pundak rasanya semakin ringan. Betul apa betul? Hehehe

Padahal tantangan di depan justru semakin mendekat, apalagi dengan datangnya kesempatan mengikuti SNMPTN. Siapa yang tak mau melanjutkan sekolah? Adalah aku yang selama 2 tahun duduk di bangku SMA bersikeras ingin melanjutkan sekolah di bidang kependidikan seketika mengubah haluan dengan memilih jurusan yang jauh dari bidang pendidikan. Namun ternyata Allah berkehendak lain, Ia berikan aku kesempatan untuk kembali kepada tujuan awalku. Ya, aku tidak diterima melalui jalur SNMPTN. Saatnya aku mengucapkan selamat tinggal kepada Bandung, Farmasi, dan Teknologi Pangan.

Dan inilah aku yang sekarang, berdiri di tanah Jakarta bersama dengan keinginanku menjadi seorang guru. “UNJ Satu!”, pekikan semangat saat MPA itu masih terngiang di otakku. Seketika aku berpikir, tak mungkin aku berada d isini jika ini bukanlah yang terbaik untukku. Karena terkadang Allah jadikan hati ini berbelok karena Ia ingin kita sadar akan pentingnya untuk kembali.

“Aku meminta sesuatu kepada Allah. Jika Allah mengabulkannya untukku maka aku gembira SEKALI saja. Namun, jika Allah tidak memberikannya kepadaku maka aku gembira SEPULUH kali lipat. Sebab, yang pertama itu pilihanku. Sedangkan yang kedua itu pilihan Allah SWT.” (Ali bin Abi Thalib)

Menjadi mahasiswa pastilah mimpi bagi semua orang, tak terkecuali diri ini. Namun, kenyataan membuatku menyadari bahwa menjadi mahasiswa tidaklah mudah apalagi menjadi mahasiswa MIPA terlebih lagi, Jurusan Kimia. Jika kalian menyangka kuliah itu santai seperti di pantai, tas bisa diisi dengan hanya satu atau dua buku kecil. Percayalah Nak, itu hanya ada di dunia sinetron aja. Karena dunia perkuliahan memberikan sensasi lain dalam hidup. Jadi, jangan kaget dengan beberapa hal yang kamu awali di masa-masa awal kuliahmu.

1. Dosen hadir di saat pertemuan pertama

Hari pertama masuk kuliah itu pasti selalu akan menimbulkan pertanyaan dalam diri kita. “Dosennya ada ga ya?”, “Gapapa kali ya ga masuk?”, “Palingan belum belajar”

Tapi buanglah pikiran-pikiran itu, hadirlah dengan sepenuh jiwa karena di saat itulah kalian akan mengenal lebih jauh dosen yang akan bersamamu selama satu semester ke depan. Pada hari pertama masuk, selain perkenalan, biasanya dosen akan memberitahu peraturan-peraturan yang harus kalian patuhi selama perkuliahan beliau (tiap dosen beda aturan biasanya). Pokoknya di hari pertama itu akan menjadi hari penentuan bagaimana cara kamu menyeimbangkan cara dosen mengajar dengan caramu belajar.

2. Pertemuan pertama sudah belajar

Meskipun ada saja dosen yang belum memberikan materi saat pertemuan pertama namun sebagian besar dosen pasti akan memberikan minimal pembukaan sebelum memulai materi. Itu berarti harus ada persiapan dari diri kamu. Kalau aku nih ya kan dari Pendidikan Kimia, awal jadi maba ketemunya sama kimia dasar dulu kok. Jadi yaa semacam belajar di SMA gitu, tapi yaa pasti lebih diperdalam lagi materinya.

3. Tugas begitu cepat berdatangan

Untuk kamu yang punya kebiasaaan menjadi deadliners tugas, cobalah untuk membiasakan diri segera untuk menyelesaikan tugas yang pertama datang. Maksudnya adalah jangan menunda tugas karena kecepatan kamu dalam mengerjakan tugas dengan kecepatan datangnya tugas yang lain itu seringnya sih ga sama wkwkwk. Jadi, hati-hati yaa sama tugas dari dosen killer yang waktu pengerjaannya itu sebentar. Se-Ma-Ngat begadang hehehe.

4. Berangkat dan pulang tidak ditemani matahari

Hal ini lebih tepatnya berlaku bagi mahasiswa yang tidak ngekos alias rumahnya masih di sekitar Jakarta. Terkhusus untuk anak organisasi yang tak jarang sore bahkan malam harinya dijadikan waktu untuk rapat.

Nah berbicara mengenai organisasi, semasa sekolah aku termasuk ke dalam orang yang pasif dalam hal organisasi meskipun tetap mencoba menyibukkan diri dengan mengikuti dua ekskul saat itu. Saat memasuki dunia perkuliahan, dimana saat MPA begitu banyak organisasi yang dikenalkan, telah membuatku mulai berkaca pada diri sendiri. Aku tak boleh jadi diriku yang lama, aku harus keluar dari zona nyamanku, pikirku. Akhirnya kuputuskan untuk membuka diri dengan organisasi yang ada.

Aku pun mendaftar dan Alhamdulillah diterima di Departemen Kerohanian Islam di BEM Jurusan kemudian mendaftar pula di LDF. Mungkin, inilah awal perubahanku untuk menjadi orang yang lebih baik. Dan kampus inilah menjadi tempatku belajar serta menjadi ladang akan kebaikan yang bisa diukir disini. Kalau berbicara tentang organisasi pasti ga jauh deh sama kata CAPEK. Tapi setelah capeknya itu loh, maniiis banget rasanya. Ya, inilah aku mencoba membuka diri akan hal baru ketika titel “siswa” ditambah kata “maha” kalau kata kakak-kakak organisatoris “ditunggu kontribusimu!”.

Berangkat pagi buta, tugas banyak, sampai rumah boro-boro mau santai, kalau ga nugas lagi pasti udah tepar duluan karena saking capeknya. Tapi aku yakin inilah nikmatnya menuntut ilmu. Menuntut ilmu adalah kebaikan. Di setiap prosesnya ada nilai pahala yang Allah janjikan. Dan tentu aku besyukur dengan rutinitas harian yang secara tak langsung membuatku meminimalisir keburukan yang mungkin bisa kita perbuat.

Oleh: Nikmah Hasibuan (Fakultas MIPA)

Tulisan ini merupakan salah satu tulisan bulanan dengan tema “First Step Mahasiswa Baru UNJ” yang dipersembahkan oleh KOMBUN (Komunitas Blogger UNJ). Ingin bergabung dengan kami? Silakan daftarkan dirimu di:http://goo.gl/forms/hXtu6HKl4N

Komentar Kamu?

BAGIKAN
Komunitas Blogger UNJ yang bergerak di bidang penerangan dari pemuda oleh pemuda dan untuk membuat dunia lebih indah. Komunitas ini mengusung tagline "Blogger Bermanfaat dan Menginspirasi"