Home Mahasiswa Hiburan

KMGP The Movie, Mahakarya Dosen UNJ yang Menggugah Dunia

935
BAGIKAN

Siapa yang tidak tahu novel Ketika Mas Gagah Pergi? Novel karya Helvi Tiana Rosa yang sudah terbit sejak kurang lebih sejak 20 tahun lalu ini masih eksis hingga saat ini. Pada 1997 salah satu karya terbaik Helvy ini juga diterbitkan dalam sebuah novel yang terjual sebanyak 10.000 eksemplar bahkan sebelum bukunya selesai dicetak. Bahkan pada 2015 ini, novel Ketika Mas Gagah Pergi sudah dicetak ulang hingga 39 kali dengan hitungan satu kali cetak ulang sebanyak 1 juta eksemplar. Wih.. keren ya!

Tahun ini, akhirnya novel yang sudah dinanti lama oleh pembacanya untuk di film-kan akhirnya tayang juga di layar lebar dengan judul “Ketika Mas Gagah Pergi The movie” (KMGP The Movie).

Film ini mengisahkan tentang proses hijrah seoarang Mas Gagah (Hamas Syahid), sosok “abang” yang sangat luar biasa di mata adiknya, Gita (Aquino Umar). Bagi Gita, Mas Gagah bagai malaikat dalam hidupnya, ia selalu menjadi pelindung gita. Dimatanya, Mas gagah itu keren, selalu ingin berbagi dengannya. Mas Gagah selalu menjadi idola dimatanya. Keren, gaul, cerdas, ganteng, mandiri, dan sangat modern. Namun Gita merasa Mas Gagah nya berubah, sepulang dari penelitiannya di Ternate. Ia tak menemukan sosok Mas Gagah yang dulu ia idolakan, ia melihat mas Gagahnya ini berubah drastis, menjadi sangat fanatik dengan islam. Mas Gagah nya berubah menjadi kolot, gak gaul, gak asik.

Konflik keluarga mulai terjadi antara Mas Gagah dan Gita. Gita yang tidak menerima perubahan mas nya itu, selalu kesal dan marah dengan mas Gagah. Sedangkan mas Gagah, malaikat kecilnya itu , justru ingin menunjukkan ke Gita bahwa jalan hijrah yang sudah ditempuhnya ini benar, islam itu indah, dan tidak seburuk yang Gita bayangkan. “Jika kita tidak setuju dengan suatu kebaikan yang belum kita pahami, cobalah untuk bisa menghargainya” begini ujar mas gagah dalam menghadapi “dik manis” nya. Gagah tak pernah menyerah, ia terus berusaha dekat dengan Gita dan juga Mama, untuk mengajak dua orang yang ia cintai itu untuk lebih mengenal keindahan Islam. “Islam itu indah. Islam itu cinta,” adalah hal yang selalu disampaikan Gagah pada Gita.

Ditengah masa-masa pertengkarannya dengan mas nya, Gita selalu bertemu dengan Yudi (masaji), sosok pemuda yang berdakwah dari bus ke bus. Menyampaikan ceramah tanpa meminta imbalan, bagaimanapun renspon yang ia terima dari penumpang bus, ia tetap melakikan “dakwah on the street” nya itu dengan penuh semangat dan sabar. Gita jengkel, ia menganggap bahwa Yudi merupakan musuh nya, sama seperti mas Gagah nya yang kolot itu. Hampir setiap hari Gita bertemu dengan Yudi di dalam bus, bahkan ia mengira bahwa Yudi merupakan orang suruhan masnya yang selalu mengikutinya. Sampai suatu ketika, Yudi memergoki pencopet yang mengambil handphone milik Gita, dan menyelamatkan gita dari ancaman pencopet tersebut. Perlahan hati Gita pun mulai tergugah dan bingung.

Kebingungan Gita pun bertambah-tambah karena sahabatnya Tika, kemudian memakai jilbab dan menasehatinya, persis seperti Mas Gagah. Tika memutuskan berjilbab karena salut dengan keteladanan kakak sepupunya; Nadia yang justru mengenakan jilbab saat kuliah di Amerika Serikat.

Film berdurasi 95 menit ini disutradarai oleh Firmansyah. Sementara naskah cerita ditulis oleh Fredy Aryanto. “Selain karena potensi Mas Firmansyah, ini juga sesuai amanah almarhum Mas Mamang (Chaerul Umam) yang sedianya menjadi sutradara KMGP, namun beliau wafat 2013 lalu,” kata Helvy. Film yang diproduksi oleh PT Indobroadcast & Aksi Cepat Tanggap (ACT) ini mengambil latar di Jakarta dan Maluku Utara.

Film ini disajikan sangat cantik dengan teknik sinematografi yang matang. Pemilihan bagian pembuka film sangat apik dan epik, menyajikan dua keindahan, keindahan Ternate dan keindahan ‘Gagah”. Setting Ternate dapat diangkat begitu indah meskipun (masih) sekilas. Pun dengan kawasan perumahan kumuh di utara Jakarta, praktis disulap menjadi terlihat indah dengan tehnik sinematografi nya. Penataan suara dan pemilihan soundtrack sangat pas dan mampu mengaduk-ngaduk emosi penonton. Dan tentunya yang menjadi juara adalah musik dari lagu “Rabbana” Indah Nevertari yang mengemas film ini menjadi film yang berkelas. Teknik pengambilan gambar dalam film ini tentu tidak perlu diragukan, karena hampir tidak ada celah untuk dikomentari. Sayangnya, di awal, alur cerita terasa sangat lambat, dan ada beberapa perpindahan scene yang kurang smooth, sehingga terasa sepotong-sepotong. Bagi penonton yang belum membaca buku nya mungkin akan dibuat sedikit bingung dengan alur ceritanya.

Secara keseluruhan film ini cocok untuk semua umur, terutama bagi para remaja. KMGP menarik, mengajarkan nilai-nilai kemanusiaan dan kekeluargaan dengan ‘renyah’ sambil kita tertawa-tawa dan terharu, sesuatu yang jarang diangkat dalam film-film kita.

Setidaknya berikut alasan mengapa film ini sangat recommended, terlebih jika kamu anak UNJ.

Mahakarya Dosen UNJ

Siapa yang tidak mengenal Bunda Helvi Tiana Rossa? Sastrawan terkenal ini merupakan Dosen Jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia Universitas Negeri Jakarta. Disamping mengajar di jurusan JBSI, Ibu 2 anak ini juga membimbing komunitas Bengkel Sastra UNJ. Bunda Helvy merupakan sosok sastrawan yang sangat berintegritas dan sangat teguh dengan idealisme nya.

Jawaban untuk Islamophobia

Film KMG ini kontekstual di tengah kecurigaan atau sikap islamophobia dunia terhadap keberadaan para aktivis gerakan Islam, sebagaimana Gita yang sempat mengira abang yang ia sayangi itu berubah mungkin karena mengikuti aliran sesat atau menjadi korban radikalisme.

Pada akhirnya, KMGP merupakan film yang menggugah kesadaran kita tentang arti sebuah perubahan dan bagaimana kita harus saling menghargai perbedaan. Seperti kata Tika: “Berbeda itu kece.” Atau seperti yang disampaikan Mas Gagah: “Jika kita tidak menyetujui suatu kebaikan yang mungkin belum bisa kita pahami, kita bisa coba untuk menghargainya.”

Visualisasi Pemuda Idaman

Sosok Mas Gagah dalam film ini sangat menggambarkan pemuda idaman. Pemuda yang “Gagah” , cerdas,beriman, berintegritas, dan peduli sesama. Dalam Film ini, mas gagah digambarkan sebagai sosok pemuda yang tampan, cerdas, penyayang, lembut hatinya, berani dan peduli sesama. Bersama 3 preman insyaf yang ditemuinya, ia mendirikan “Rumah Cinta” , rumah baca dan kreasi untuk anak-anak dhuafa, di utara Jakarta. Juga memberdayakan masyarakat sekitar. Mas Gagah, menampilkan sisi kemanusiaan seorang anak muda nan energik, segar dan inspiratif. Anak muda yang mampu menggerakkan orang-orang di sekitarnya untuk mengutamakan kebaikan. Ia sangat humanis

Syarat Akan Nilai kemanusiaan

Mas Gagah, menampilkan sisi kemanusiaan seorang anak muda nan energik, segar dan inspiratif. Anak muda yang mampu menggerakkan orang-orang di sekitarnya untuk mengutamakan kebaikan. Ia sangat humanis.

Dalam Film ini juga terdapat adegan Yudi dan teman-temannya bermain teater tentang Palestina. Film ini sangat mendukung nilai-nilai kemanusiaan dengan membangkitkan kepedulian akan saudara-saudara di Palestina melalui dialog-dialog dalam teater. Selain itu, sebagian keuntungan bersih film disumbangkan untuk pendidikan anak-anak di Indonesia bagian timur dan Gaza Palestina, yakni masing-masing Rp1 miliar.

Film Produksi Sendiri dan Patungan Pembaca

Novel KMGP harus menunggu 12 tahun sebelum akhirnya siap tayang di bioskop pada 21 Januari lalu. Saya bisa katakan bahwa keinginan mewujudkan film KMGP ini bukanlah keinginan bunda Helvy saja, namun ini merupakan keinginan bersama para pembacanya, yang sangat mendambakan film berkualitas dan menginginkan sosok mas Gagah terviasualisasi melalui film.

Karnanya, bunda Helvy sangat menjaga betul nilai-nilai serta ruh yang terkandung dalam novell nya itu. tak masalah baginya harus berkeliling 120 kota se Indonesia untuk mengumpulkan patungan para pembacanya, dari pada harus menyerah pada tawaran 11 Rumah Produksi yang tidak sejalan dengan idealisme kaka dari penulis Asma Nadia ini.

Bunda Helvy mengusulkan pada beberapa rumah produksi saat itu agar pemeran utama dalam film dapat menjadi teladan bagi penontonnya. Ia menekankan karakter tokoh yang ada di novel dan film juga sama dengan karakter pemeran utama pada kesehariannya. Helvy tidak ingin film yang menampilkan empat bintang baru ini, keluar dari nilai-nilai positif yang disampaikan dalam novel.

Jadi, masih ada yang belum nonton? Tunggu apalagi.. sebelum habis, segeralah menonton film berkualitas karya Dosen kitai ni! Yang sudah menonton tentu penasaran bukan dengan sekuel ke 2 nya? Jangan sampai kelewatan ya.

“Ini film kita.Kita yang modalin, kita yang buat, dunia yang nonton!” (Helvi Tiana Rossa)

Komentar Kamu?

BAGIKAN
Aktivis Perempuan, Pegiat Dunia Anak, Pecinta Fotografi dan Jurnalistik.