Home Suara Anda Opini

Liburannya Para ‘Pembela’ Mahasiswa

719
BAGIKAN

Liburan. Satu kata yang sangat ditunggu oleh banyak orang. Tak terkecuali mahasiswa. Rutinitas yang padat dengan tugas-tugas menetap, pastinya menguras kekuatan fisik dan psikis mahasiswa. Nah, liburanlah yang menjadi vitaminnya. Liburan, tak berarti berleha-leha dan tak produktif, bukan?

Banyak hal baik yang dapat kita lakukan untuk mengisi waktu berlibur. Bila ingin sekadar bersantai diri, tentu tak masalah. Yang menjadi masalah adalah ketika bersantai atau berleha-leha secara berlebihan. Bukankah yang berlebihan itu tidak baik? Untuk itu bersantailah seperlunya. Lepas itu, lakukannya hal-hal positif untuk mengisi waktu berlibur.

Terlebih dengan liburan semester genap ini. Waktu tiga bulan yang diberikan, bukanlah waktu yang sebentar. Dalam waktu yang cukup lama itu, kita bisa mengisinya dengan sesekali bersantai, menjernihkan pikiran dengan jalan-jalan, bercengkrama bersama keluarga dan berbagai hal menyenangkan lainnya. Well, anggaplah kegiatan bersenang ini sebagai hadiah atas perjuangan yang telah kita lakukan selama semester ini. Selagi menunggu nilai, ada baiknya diisi dengan hal yang menyenangkan. Agar nantinya tidak akan terlalu sesak melihat hasil perjuangan selama satu semester itu.

Selain bersenang-senang, sebagian mahasiswa mungkin melihat peluang dalam liburan ini. Biasanya memanfaatkan waktu libur tiga bulan untuk bekerja. Lumayan hasilnya bisa ditabung untung bayar kost-an atau bayar uang kuliah nantinya.

Ah, iya ketika liburan ini ada segelintir mahasiswa yang mulai sibuk lho! Tahu, siapa? Mereka adalah orang-orang yang menaungkan diri dalam lingkaran advokasi atau kesejahteraan mahasiswa atau apapun itu namanya. Tau kah kamu, bagaimana liburannya para aktivis ‘pembela’ mahasiswa, itu? Bersenang-senang dan sekadar bersantai mungkin memang mereka lakukan. Namun, selain itu ada hal menarik yang ternyata terjadi selama masa liburan mereka.

Liburan tapi terasa tak berlibur. Mungkin sedikit menggambarkannya. Di sela liburan panjang ini, para ‘pembela’ mahasiswa itu ternyata tak sepenuhnya meninggalkan kampus.

Dalam liburan panjang tiga bulan ini, terselip masa-masa penerimaan mahasiswa baru. Seperti yang kita tahu, di kampus kita ini ada tiga jalur masuk pada tiga waktu yang berbeda. Setiap jalur penerimaan ini ternyata tak luput dari pengamatan mereka yang berada dalam lingkaran advokasi.
Dengan telaten mereka mendata calon mahasiswa baru yang telah dinyatakan diterima itu. Juga menjelaskan beberapa sistem yang perlu diketahui mereka seperti tentang siakad, pembayaran hingga perkuliahan. Belum lagi ketika calon mahasiswa baru mulai masuk masa pembayaran. Berbagai keluhan mereka terima dengan senang hati. Tak lupa solusi terbaik pun akan selalu mereka tawarkan.

Tahun ini penetapan Uang Kuliah Tunggal (UKT) memang agak berbeda dari sebelumnya. UKT kini ditetapkan berdasarkan data yang diinput oleh masing-masing calon mahasiswa baru. System yang baru ini nyatanya menimbulkan bebeberapa kekeliruan dalam penentuan UKT. Entah salah dalam penginputan data, atau memang sistemnya yang kurang baik. Hal ini tentunya menjadi perhatian besar anak-anak advokasi. Waktu liburannya dengan berat hati ia relakan untuk kembali ke kampus mengurusi beberapa keluhan yang menghantui calon adik-adik barunya. Tak ada rasa kecewa dengan liburannya yang mungkin berkurang. Namun kepuasan yang malah mereka rasakan melihat berbagai keluhan itu dapat teratasi.

Nah, yang paling menyenangkan adalah ketika memasuki masa pembayaran. Ini dia saat-saat dimana anak-anak advokasi menjadi seseorang yang sangat perhatian. Bagaimana tidak? Mereka setiap harinya selalu mengingatkan terkait masa pembayaran UKT, baik melalui jarkoman whatsapp, sosial media, ataupun percakapan langsung. Setiap bertemu di jalan saja pasti bertanya. “Sudah bayaran belum?”. Kan, kan, perhatiannya tak pernah pudar.

Well, tak hanya sampai di situ saja. Menjelang penutupan masa pembayaran, biasanya mereka akan semakin meningkatkan intensitas perhatiannya, lho. Bukan lagi mengingatkan jangan lupa bayaran, tapi mulai bertanya ada kesulitan atau tidak. Nah, bayaran orang saja diurusin apa lagi kamu! Rasanya, kalau mau mencari calon pendamping anak-anak advokasi ini recommended banget deh! Masalah orang saja mereka urusi dengan baik apalagi masalah rumah tangga kamu nanti.

Dan, ketika masa pembayaran telah berakhir. Tidak serta merta tugas mereka ikut berakhir. Justru, ini puncaknya. Dari yang sudah-sudah, setiap semesternya pasti ada saja mahasiswa yang belum mampu menyelesaikan pembayarannya ketika masa pembayaran telah berakhir. Perpanjangan waktu. Ya, itulah yang akan mereka usahakan. Bermain mengunjungi birokrat kampus rasanya mungkin sudah seperti mengunjungi teman sendiri, karena terlalu seringnya. Meminta perpanjangan waktu dengan berbagai alasan yang rasional dan berdasarkan data juga fakta tentunya. Jangan kira mereka hanya bergerak semaunya, mereka telah mempersiapkan segalanya dengan matang. Sehingga memudahkan mereka dalan menjalankan tugasnya.

Belum lagi dengan mahasiswa yang belum bisa menyelesaikan pembayaran. Advokasi tak tinggal diam. Mereka justru berusaha untuk membantu menyelesaikannya. Jauh sebelum memasuki masa pembayaran para ‘pembela’ mahasiswa ini telah mengumpulkan persediaan dana yang nantinya akan dipakai untuk membantu mereka yang kesulitan dalam pembayaran.

Dana Pendidikan atau yang lebih akrab kita sebut Nadi, salah satunya. Nadi yang dibayarkan mahasisswa setiap semesternya memang digunakan untuk ini. Pun dengan advokasi tingkat fakultas dan prodi. Mereka juga sudah menyiapkan tabungan untuk ini.

Biaya Kuliah

Bukankah dalam hadits pun dijelaskan, bahwa siapapun yang memudahkan urusan saudaranya maka akan dimudahkan urusannya.

“ … Barang siapa yang memudahkan urusan orang lain, maka Allah akan memudahkannya di dunia dan akhirat….” (HR. Muslim)

Nampaknya, para ‘pembela’ mahasiswa ini telah berusaha untuk benar-benar melaksanakan isi hadist tersebut. Berusaha untuk memudahkan urusan orang lain, InsyaAllah. Meski tanpa mengharapkan imbalan, namun Allah tetap akan memberinya, bukan? Kepedulian dan kerja keras membuat mereka terlihat mulia. Membantu sesama tanpa ingin dipuji. Ya, itulah dia sebagian kecil kegiatan liburan para ‘pembela mahasiswa’. Pekerjaan yang mulia, bukan? InsyaAllah.

Oleh: Nita Anggraeni (FIP)

Komentar Kamu?