Home Mahasiswa Belajar

Lulusan SMK Mampu Lulus Pendidikan Bahasa Arab 3,5 Tahun

1534
BAGIKAN

UNJKita.com – Banting setir dalam menjalani perkuliahan berbeda dengan latar belakang pendidikan sebelumnya. Apakah bermasalah? Apakah tidak akan berprestasi? Farah Fauzanna, Siti Suhaerah, dan Wika Agustiani ketiga mahasiswa Pendidikan Bahasa Arab (PBA) UNJ yang mampu lulus 7 semester dengan indeks prestasi kumulatif diatas 3,50 bahkan salah satunya 3,82 dengan peringkat terbaik kedua. Yuk cari tahu siapakah mereka lulusan SMK yang kuliah di PBA yang lulus pada semester 7?

1. Farah Fauzanna
Bahasa arab adalah jurusan yang saya ambil diperkuliahan ini. Kenapa saya bisa ngambil bahasa arab? Sedangkan waktu SMK saja saya lulusan teknik komputer dan jaringan. Banyak sekali orang yang bertanya seperti itu kepada saya, sampai saya luluspun masih banyak yang bertanya. Jawabannya simpel, itu keinginan kedua orangtua saya. Orangtua saya sangat menginginkan salah seorang anaknya menguasai bahasa arab dan ilmu agama islam yang lebih dalam lagi, dan yang terlihat punya potensi hanya saya, dari 5 anaknya itu. Kenapa bisa potensinya bisa terlihat sama kedua orangtua saya? Karena waktu saya MI dan MTs nilai bahasa arab saya selalu bagus, dari situlah mereka melihatnya.

Yah padahal itu sudah beberapa tahun silam lamanya. Dan pada saat saya kuliah saya selalu berpikir “tidak mau jadi guru” karna rata-rata keluarga besar saya itu profesinya guru, saya sudah tau kehidupan dari seorang guru seperti apa. Tapi pada saat semester 7 saya kuliah, saya praktek mengajar di sekolah, rasanya ternyata senang dan seru. Kenapa? Karena banyak murid yang sayang dan peduli sama saya. Yah walaupun dibalik itu semua ada rasa lelahnya, tapi saya cukup menikmatinya. Hingga saya lulus ini, saya mencari pekerjaan untuk menjadi seorang guru, dan ayah saya selalu menanamkan pikiran “jadi guru itu profesi yang mulia, karna ilmu kita jadi bermanfaat, dan ilmu yang bermanfaat itu bisa menolong kita kelak di akhirat ketika kita sedang dihisab”. Dan saya tidak mau menghilangkan ilmu bahasa arab yang sudah saya dapat diperkuliahan ini dengan cuma-cuma, karna belajarnya saja sudah mati-matian, susah payah, jatuh bangun. Yah, segala macam rasa sudah dilewati, jadi saya ingin berbagi ilmu saya ini, walaupun tidak seberapa tapi insya Allah bermanfaat.

Skripsi itu adalah hal tersulit dalam hidup saya yang pernah saya alami, mungkin bukan bagi saya saja tapi bagi sebagian banyak orang yang mendengar namanya saja sudah merasa tertekan dan stres. Ketika saya sedang menulis skripsi, ada 2 hal yang mengganggu pikiran saya. Yang pertama karna kondisi ayah saya yang baru saja mengalami kecelakaan parah sampai tempurung kepalanya perlu dibuka dan disimpan didalam perut, yang kedua saya harus menetap dikosan untuk bisa konsentrasi dalam menulis skripsi. Tapi saya lebih memilih mengurus orangtua daripada menulis skripsi, karna saat itu yang ada dipikiran saya hanyalah “selagi orangtua hidup, rawatlah dan sayangilah” saya tidak mau menyesal dikemudian harinya cuma karna keegoisan saya untuk menulis skripsi. Tapi saya pun mencuri-curi waktu untuk dimanfaatkan sebaik mungkin, di waktu luang ketika ayah saya tidur, saya sempatkan untuk menulis skripsi tetapi ketika ayah saya terbangun, saya lanjut mengurusinya. Hari demi hari saya lewati seperti itu sampai kondisi ayah saya sudah bisa saya tinggal, bukan karna tidak peduli tapi karna saya harus menyelesaikan tulisan” untuk menjadi lembaran” hingga menjadi skripsi yang sempurna. Berat rasanya untuk meninggalkannya, yah walaupun setiap seminggu sekali saya pasti akan pulang tapi saya tidak bisa berpisah darinya. Sewaktu dikosan ketika sedang mengerjakan skripsi, setiap harinya saya sempatkan untuk menelepon orang dirumah untuk segera tau kabarnya dan perkembangannya.

Alhamdulillah semakin hari ayah saya semakin membaik, berkat doa anak-anaknya dan istrinya. Senang rasanya, tapi itu tidak membuat saya berhenti mengurusinya. Dan alhamdulillah kabar tulisan skripsi saya semakin hari semakin ada kemajuan. Dan ketika memory ayah saya kembali, beliau sudah bisa mengingat” segala macamnya secara perlahan. Saya pun selalu meminta doa restu dari kedua orangtua, kedua kaka dan kedua adik saya, sehingga Allah memudahkan segalanya. Mungkin ini adalah salah satu penyebab skripsi saya dilancarkan oleh Allah swt, karna saya lebih mementingkan orangtua untuk mendapat ridhoNya. Karna saya tau tanpa ridho orangtua, Allah tidak akan ridho.

2. Siti Suhaerah
Dunia kampus itu seperti hutan belantara. Lengkap dengan pepohonan yang tinggi menjulang, rerumputan liar, juga binatang-binatang buas. Indah dan sangat menantang. Akan menjadi masalah besar jika kita berada disana dan tidak tahu apakah jalan yang kita ambil jalan yang benar atau justru jalan yang salah.

Sebagian orang mampu melewati segala rintangan tanpa harus berhadapan dengan binatang-binatang buas di dalamnya dan sampai di puncak. Ada yang berhasil keluar hutan dengan selamat tanpa mendapatkan apa yang ia tujukan. Bahkan sebagian lainnya memilih mundur karena sulit dan susahnya medan yang terjal. Yang manakah kamu?

Sama halnya dengan perkuliahan. Baik mereka yang mengambil jurusan tertentu karena menyukai jurusan tersebut, mereka yang mengambil jurusan yang relevan dengan pekerjaan yang akan mereka jalani di kemudian hari, maupun mereka yang memutuskan untuk mempelajari hal-hal baru yang sebelumnya tidak diketahui sama sekali, akan menghadapi hal-hal yang tidaklah sama. Tingkat kesulitan yang dirasakan pasti berbeda, belum lagi kalau rasa minder tak juga kunjung pergi.
Dalam hal ini, Program studi Bahasa Arab (PBA) bukanlah sesuatu yang mudah, meskipun –sebagai muslim- bahasa ini sangat familiar dalam kehidupan sehari-hari; digunakan untuk shalat, do’a, dzikir, juga saat membaca al-Qur’an, apalagi bagi mereka yang sebelumnya menempuh pendidikan umum di SMA (Sekolah Menengah Atas) maupun SMK (Sekolah Menengah Kejuruan) yang boleh jadi tidak menyentuh bahasa Arab sama sekali.
Menempuh pendidikan di Program PBA bagi mereka adalah dunia yang benar-benar baru. Latar belakang pendidikan SMA dan SMK sangatlah berbeda dengan jalur kuliah di PBA. Sebelumnya berkutat dengan angka-angka, komputer dan jaringan, maka kini harus berkutat dengan huruf-huruf bacaan saat beribadah. Kesulitan itu sangat tampak saat salah satu dari merka harus remedial mata kuliah Imla’ (dikte tulisan Arab). Akan tetapi hal tersebut tidak membuat patah semangat dalam belajar atau menyesal telah memilih PBA sebagai pilihan untuk kuliah. Buktinya, Pada akhir semester ia berhasil memperoleh IPA cumlaude 3,68.
Di luar kesibukan kegiatan akademik, mahasiswa tersebut tetap eksis dalam opmawa mulai tingkat prodi hingga fakultas. Kami biasa memanggilnya Rarah yang memiliki nama lengkap Siti Suhaerah.Gadis mungil kelahiran 19 Desember 1994 ini berlatar belakang SMK dengan penjurusan akuntansi. Meski dengan latar belekang SMK, gadis mungil ini berhasil LULUS 3,5 tahun, bahkan mendapat predikat terbaik kedua di tingkat prodi. Luar biasa!
Minder? jelas ada. Saat ditanya bagaimana ia berhasil melaluinya dan menyelesaikannya dengan baik, ia menjawab : “Ngalir aja sih.. kalau temanmu duduk, kau harus berdiri. Jika temanmu berdiri, kau harus berjalan. Dan jika temanmu berjalan, kau harus berlari”

Bagaimanapun kondisi kita hari ini, menyerah bukanlahlah jawaban. Seperti ungkapan popular Imam Syafi’i rahimahullah : “Bila kau tak tahan lelahnya belajar, maka kau harus tahan menanggung perihnya kebodohan.”

3. Wika Agustiani
Sebenarnya, bahasa arab merupakan jurusan pilihan kedua saya (setelah bahasa inggris) saat saya mendaftar SNMPTN tahun 2013 lalu. Mungkin saya termasuk salah satu mahasiswa yang –pada awalnya- merasa salah jurusan, mengingat saya berasal dari SMK jurusan akuntansi dan saya sama sekali tidak memiliki basic bahasa Arab, bahkan Bapak saya menawarkan saya untuk langsung mendaftar di kampus lain via jalur mandiri karena beliau khawatir saya tidak dapat survive di jurusan bahasa arab. Tapi dengan mengetahui respon Bapak saya soal jurusan tersebut, saya merasa ada ‘sesuatu’ yang sepertinya pantas untuk diperjuangkan. Kebetulan Ibu saya memiliki Taman Pendidikan Al-Qur’an di rumah, jadi saya pikir mungkin suatu saat saya bisa bantu mengelola TPA Ibu saya dengan menambahkan mata pelajaran bahasa arab. Dan memang saya memiliki ketertarikan lebih di bidang kebahasaan. Akhirnya saya bulatkan tekad untuk tetap berada di jalur yang sudah Allah siapkan untuk saya.

Kehidupan perkuliahan saya tidak selalu mulus. Zaman MPA jurusan, misalnya. Saya sama sekali tidak mengerti apa yang diucapkan kakak2 panitia, teman2, dosen2. Saat yang lain tertawa karena lelucon2 berbahasa arab yang dilontarkan dosen2 atau kakak2 panitia, saya selalu bingung, kemudian nanya ke teman sebelah saya, “tadi ngomong apa deh?”. Tahun pertama kuliah merupakan tahun terberat saya. Saya benar-benar merasa “saya salah ambil jalan!”. Hampir tiap malam saya menangis di kamar kosan. Beberapa kali mengadu ke orang tua, merengek minta pindah atau bahkan berhenti kuliah. Tapi ibu saya selalu bilang bahwa Allah tau kita mampu berada di jalan manapun yang Dia pilihkan untuk kita. Saya juga menyukai sebuah quotes yang berhasil membantu menguatkan perjuangan saya selama kuliah,
“You will never end up where you thought you were going, but you will always end up where you were meant to be”
Berbekal semangat yang terus diberikan orang tua dan orang2 terdekat, akhirnya saya paksakan diri saya untuk tetap ‘merangkak’ hingga akhirnya berlari mengejar ketertinggalan saya dari kemampuan teman2 yang lain.
Tahun berikutnya, saya sudah bisa lebih menikmati kehidupan saya di jurusan bahasa Arab. Tentunya juga dengan dukungan dan bantuan teman2 seperjuangan saya. Pada titik itu saya berpikir bahwa Arabic isn’t that bad. Saya pasti bisa mengikuti teman2 saya yang jauh lebih tinggi ilmunya dibanding saya. Dan akhirnya saya bertemu mata kuliah Nahwu yang lumayan bikin otak ngebul. Saya merasa lebih tertantang untuk belajar di jurusan bahasa Arab. MK Nahwu merupakan MK favorit saya (walaupun Nahwu III memang paling” luar biasa” hehe).
Saya pun mulai bergabung dengan opmawa jurusan. 2 tahun saya berkontribusi dalam BEM Jurusan Bahasa dan Sastra Arab, meskipun memang masih banyak sekali kekurangan dari diri saya. Dan pada tahun terakhir saya, saya juga bergabung dengan BEM Universitas Negeri Jakarta sebagai Staff Div. Kominfo. Menjadi bagian opmawa kampus merupakan suatu pembelajaran dan pengalaman luar biasa yang saya dapatkan selama menjalani kehidupan kuliah. Dari sana saya belajar untuk bisa menghargai diri sendiri dan orang lain. Bertemu dan mengenal orang-orang hebat merupakan suatu kebahagiaan tersendiri bagi saya. Walaupun memang terkadang berat menjalani 2 tugas sekaligus; belajar dan berorganisasi, dan memaksa saya untuk lebih fokus ke studi saya dan sejenak meninggalkan kehidupan organisasi saya. Hal ini sudah menjadi semacam kontrak saya dengan orang tua saya ketika saya meminta izin untuk bergabung di opmawa. Pengalaman yang berkesan untuk saya selama berorganisasi adalah saat saya ikut aksi, turun ke jalan, 2 kali. Bahkan salah satunya saya lakukan ketika saya sedang berkutat dengan skripsi saya. Ternyata setelah lulus, bau aspal jalanan lebih saya rindukan daripada enaknya sambal woku2 kantin G hehehe

Setelah melewati lika-liku kehidupan kuliah yang luar biasa tersebut, saya pun memberanikan diri untuk mendaftar skripsi di semester 7. Pada awalnya saya tidak terlalu yakin saya dapat menyelesaikan skripsi saya, tapi saat saya menjalani PKM di salah satu SMK di Jakarta, saya ditawari untuk –membantu- mengajar di SD Islam Al-Azhar BSD. Namun karena saya masih harus membagi waktu saya untuk kuliah, skripsian dan PKM, jadi saat itu saya tidak bisa menerima tawaran tsb. Saya tidak ingin mengecewakan pihak manapun karena kelalaian saya nantinya. Tawaran tersebut mendorong saya untuk benar-benar bisa menyelesaikan skripsi saya pada semester 7 dan lulus 3,5 tahun. Dengan begitu saya bisa melamar untuk mengajar di sana pada tahun ajaran baru 2017/2018, insyaallah. Skripsi saya merupakan penelitian etnografi Mobile Learning yaitu tentang pembelajaran Bahasa Arab via whatsapp di salah satu program milik suatu yayasan di Depok. Selama penelitian, saya mengikuti program tersebut, baik sebagai peserta dan sebagai pengajar. Dan hal itu saya lakukan sebelum mendapatkan intruksi dari dosen pembimbing saya. Hal itu pulalah yang memungkinkan saya untuk dapat menyelesaikan skripsi lebih cepat dan lulus 3,5 tahun.

Koorprodi PBA, Dr. Nuruddin, M.A mengatakan bahwa pada semester ganjil tahun lalu hanya mampu meluluskan 6 mahasiswa pada semester 7, maka tahun ini ada peningkatan menjadi 10 mahasiswa dan 3 di antaranya adalah lulusan SMK. Hal ini menunjukkan bahwa tidak hanya lulusan pesantren atau Madrasah Aliyah yang mampu lulus 7 semster tetapi juga lulusan SMU/SMK. Kesuksesan ini adalah peran dari penasihat akademik yang berperan menentukan mata kuliah apa yang akan diambil selain paket yang telah disediakan dan arahan lainnya. Adalah Dr. Shafrudin Tajudin, MA seorang dosen yang merupakan juga Penasihat akademik kelas B angkatan 2013 yang 7 dari 10 mahasiswa yang lulus 7 semester. Juga peran pembimbing skripsi yang tak henti-henti menyediakan waktu untuk memberikan masukan, membimbing, mengoreksi, dan memotivasi mahasiswa dalam menyelesaikan skrpsi. Dan yang tak kalah penting adalah peran kepemimpinan koorpordi yang memberikan peluang selesai 7 semester. Pengaturan paket setiap semester perkuliahan selalu disediakan mata kuliah non Prerekuisit sehingga adik kelas yang memiliki IP 3 bisa mengambil mk tersebut sebagai tambahan di luar paket yang ditawarkan.

 

Sebagai penutup di prodi PBA ada hidden curriculum yang ditanamkan. Untuk menjadi guru tidak harus menunggu hingga memperoleh gelar S.Pd apalagi sertifikat. Lihat kiri kanan Anda yang masih buta akan bahasa Arab (termasuk lulusan SMU/SMK) dan hubungan mutualisme ini yang menjadikan mahasiswa Arab bersinergi antara alumni SMK/SMU dengan lulusan Aliyah atau pun pesantren. Sehingga tidak ada perbedaan hasil belajar antara mahasiswa yang sudah ataupun baru pertama kali belajar bahasa Arab.

 

Oleh : Raden Ahmad Barnabas

Komentar Kamu?

BAGIKAN
Ruang Publik Kepada Seluruh Civitas Akademika UNJ untuk menyampaikan kritik, & Saran. Yuk Kirimkan Buah Pikiranmu