Home Berita

Mahasiswa dan Aksi Damai 4 November

1076
BAGIKAN

Jakarta (UNJkita.com) – Aksi damai 4 November 2016 memberikan makna tersendiri bagi segenap rakyat Indonesia. Ratusan ribu rakyat di seluruh pelosok Indonesia serentak memenuhi jalanan kota-kota besar seperti Surabaya, Medan, Malang, Solo, Makasar. Takbir menggema lantang menggantikan suara klakson mobil yang biasanya terdengar bising. Lautan manusia berpakaian putih menjadi bukti kokohnya persatuan rakyat Indonesia yang tergabung dalam Gerakan Nasional Pengawal Fatwa Majelis Ulama Indonesia (GNPF MUI).

Semua elemen turut serta menuntut dituntaskannya kasus penistaan agama yang dilakukan oleh Gubernur DKI Jakarta, Basuki Tjahya Purnama atau yang dikenal Ahok. Majelis Ulama Indonesia (MUI) sebelumnya telah mengeluarkan fatwa bahwa Gubernur Ahok telah memasukan ranah politik ke dalam ranah agama dan melakukan penistaan terhadap Al- Quran. Fatwa tersebut kemudian didukung oleh berbagai organisasi islam terbesar di Indonesia seperti Muhammadiyah dan Nahdatul Ulama.

Kota Jakarta menjadi saksi begitu besarnya antusias rakyat dalam mendukung fatwa MUI tersebut. Berbagai tokoh turun ke jalan, mulai dari pejabat tinggi seperti pimpinan DPR, para ulama kharismatik seperti Aa Gym, Ustad Yusf Mansyur, Ustad Arifin, Ustad Bachtiar Nasir, Habib Rizik. Bahkan Gubernur Nusa Tenggara Barat TGH M Zainul Majdi turut serta dalam aksi. Hal tersebut menjadi bukti bahwa aksi damai 4 November bukanlah aksi berkedok politik melainkan aksi menuntut diselesaikannya kasus penistaan agama.

aksi-4-november

Salah satu elemen yang turut menyukseskan jalannya aksi damai adalah mahasiswa. Bagus Tito Wibisono selaku Ketua BEM UNJ sekaligus Ketua BEM Seluruh Indonesia dengan semangatnya mengajak seluruh mahasiswa untuk turut meramaikan aksi damai tersebut.

“Kami mengecam tindakan Basuki Tjahaja Purnama yang mengebiri ke-bhineka-an dan semangat nasionalisme karena telah menistakan Agama Islam sebagai salah satu agama yang diakui konstitusi. Kami menuntut kepada presiden dan aparat penegak hukum untuk bersikap tegas dalam mengadili sesuai konstitusi negara”, tegas Bagus sebagaimana termuat dalam pernyataan sikapnya yang tersebar luas di berbagai media.

Mahasiswa tumpah ruah turut menyukseskan aksi damai tersebut tanpa menggunakan alamamater dan atribut kampus. Hal tersebut sesuai dengan intruksi Dirjen Belmawa Kemenristek Dikti Nomor 350/B/SE/2016 yang melarang mahasiswa menggunakan atribut universitas dalam aksi damai.

Selain itu mahasiswa juga mengadakan gerakan penghimpunan dana. Penghimpunan dilakukan dengan cara menyebarkan pesan singkat melalui aplikasi What Apps yang berisi nomor rekening. Dana yang terkumpul mencapai 9 juta hanya dalam waktu 1 jam yakni dimulai pukul 23.00 WIB hingga 24.00 WIB.

Dana tersebut disumbangkan langsung malam itu juga kepada pengurus aksi di Masjid Istiqlal mengingat banyaknya masyarakat yang menginap setelah seharian melakukan aksi damai. Sumbangan diberikan dalam bentuk konsumsi dan uang tunai yang diserahkan langsung oleh Muhamad Zidni Rizki Ardani selaku perwakilan mahasiswa UNJ kepada petugas masjid.

Aksi berlangsung tertib dan lancar. Bahkan jalanan tampak bersih karena ada tim khusus yang bertugas membersihkan sampah. Sempat terjadi kekisruhan pasca aksi damai yang diakibatkan oleh oknum provokator. Setelah diselidiki ternyata provokator tersebut bukan bagian dari GNPF MUI. Hal tersebut menunjukan adanaya oknum yang sengaja ingin memperburuk citra aksi damai dengan mengacaukan aksi damai 4 November.

Komentar Kamu?

BAGIKAN
Pencari cahaya langit dan mahkota persahabatan/ Bahagia di atas kebahagiaan orang lain/ Pend. Biologi UNJ.