Home Suara Anda Opini

Mahasiswa dan Dunia Literasi

1249
BAGIKAN

“Berliterasilah seindah mungkin, hingga kau dapati kenikmatan ilmu tiada akhir.”

Kampus merupakan dunia baru bagi siswa-siswa yang lulus dari bangku Sekolah Menengah Atas (SMA) dan setingkatnya. Tentunya status yang mereka dapatkan juga berbeda, yakni sebagai ‘maha’siswa. Menjadi seorang mahasiswa pastinya harus memiliki perubahan dalam pola pikir, sikap, tanggung jawab, dan kedewasaan. Semua itu perlu dikembangkan secara optimal guna mewujudkan Tri Dharma Perguruan Tinggi. Kedewasaan dalam bersikap dan berpikir pun dibutuhkan untuk menghadapi ragam tugas dan tantangan yang lebih berat.

Mahasiswa yang digadang-gadang sebagai agent of change dan kaum intelektual dipercaya oleh masyarakat untuk melakukan perubahan tatanan kehidupan ke arah yang lebih baik. Mereka yang disebut “mahasiswa” memerlukan banyak modal dan persiapan matang untuk menjadi insan yang berkredibilitas tinggi. Hal demikian dapat dicapai dengan membudayakan literasi dalam setiap napas kehidupannya.

Dunia Literasi

Pohon dapat tumbuh subur jika diberi pupuk yang cukup sebagai asupan nutrisi terbaik. Pemberian pupuk yang cukup dan rutin mampu menjaga kekuatan pohon hingga ke akarnya. Kekokohan akar pohon dapat mencegah tumbangnya pohon yang diterpa angin. Begitu pula yang terjadi hubungan antara mahasiswa dan dunia literasi. Literasi menjadi suplemen utama bagi mahasiswa untuk mengembangkan daya nalar, pola pikir, dan kekritisannya. Literasi yang terus dibudayakan mampu membuat produktivitas mahasiswa meningkat. Selain itu, budaya literasi yang telah mendarah daging dapat dijadikan pijakan kuat hingga terhindar dari seleksi kehidupan yang semakin edan.

Kata literasi masih terdengar asing bagi sebagian kalangan mahasiswa. Padahal tanpa disadari literasi telah lekat dalam kegiatan akademik selama bersekolah. Mulai dari membaca buku, berdiskusi tentang pelajaran atau tugas dengan teman, serta membuat tulisan. Semua itu adalah bagian pokok dari literasi. Sayangnya, konsep ideal dari budaya literasi belum direalisasikan secara optimal oleh para elit intelektual (baca: mahasiswa).

Potret Literasi Kampus

Salah seorang tokoh, Milan Kundera, berkata, “Jika ingin menghancurkan sebuah bangsa dan peradaban, hancurkan buku-bukunya; maka pastilah bangsa itu akan musnah”.

Buku

Baca juga: Apa Kabar Minat Baca Bangsaku?

Berdasarkan perkataan Milan, terlihat jelas bahwa buku memegang peranan penting dalam memajukan suatu bangsa. Melalui buku, masyarakat terlebih mahasiswa mampu menerobos batas-batas kehidupan dunia. Sejalan dengan itu, Siregar menyatakan bahwa sebagai bagian dari masyarakat akademis, mahasiswa mempunyai kewajiban membaca.

Lingkungan pendidikan tinggi merupakan tempat yang strategis untuk mengembangkan kebiasaan membaca. Pada kenyatannya, harapan tersebut belum bisa terwujud sebab minat baca dikalangan mahasiswa masih rendah. Realita demikian didukung oleh data yang didapat oleh Progress in International Reading Literacy Study (PIRLS) pada tahun 2013. Data tersebut menunjukkan tingkat membaca masyarakat Indonesia berada pada posisi 41 dari 45 negara dari negara-negara bagian (www.srie.org).

Ruang-ruang perpustakaan kampus yang sering kali sepi juga menjadi bukti bahwa mahasiswa belum menjadikan buku sebagai bagian penting dalam hidupnya. Sekalipun ramai dikunjungi, kegiatan yang dilakukan tak jauh dari bermain sosial media, ngadem, atau sekedar ngobrol biasa. Koleksi buku maupun jurnal yang minim dan tidak up to date bisa jadi faktor utama yang membuat mahasiswa enggan datang ke perpustakaan.

Padahal dalam Undang-undang No. 43 Tahun 2007 tentang Pepustakaan pasal 1, disebutkan bahwa perpustakaan sebagai institusi pengelola koleksi karya tulis, karya cetak, dan/atau karya rekam secara profesional dengan sistem yang baku guna memenuhi kebutuhan pendidikan, penelitian, pelestarian, informasi, dan rekreasi para pemustaka. Sejalan dengan hal tersebut, berdasarkan Keputusan Mendikbud Republik Indonesia No. 0696/U/1991 bab II Pasal 11 menetapkan persyaratan minimal koleksi PPT untuk program Diploma dan S1 adalah (1) memiliki satu judul pustaka untuk setiap Mata Kuliah Dasar Keahlian (MKDK), (2) memiliki dua judul pustaka untuk tiap Mata Kuliah Keahlian (MKK), (3) melanggan sekurang-kurangnya satu judul jurnal ilmiah untuk setiap program studi (prodi), (4) jumlah pustaka sekurang-kurangnya 10% dari jumlah mahasiswa dengan memperhatikan komposisi subyek pustaka.

Selain koleksi buku, gedung atau ruangan perpustakaan juga memiliki standar tersendiri. Berdasarkan SNI, perpustakaan harus menyediakan ruang sekurang-kurangnya 0,5 meter persegi untuk setiap mahasiswa, dengan penggunaan untuk areal koleksi seluas 45% yang terdiri dari ruang koleksi buku, ruang multimedia, ruang koleksi majalah ilmiah. Sedangkan ruang pengguna seluas 30% yang terdiri dari ruang baca dengan meja baca, meja baca berpenyekat, ruang baca khusus, ruang diskusi, lemari katalog atau komputer, meja sirkulasi, tempat penitipan tas dan toilet. Ruang staf perpustakaan seluas 25% terdiri dari ruang pengolahan, ruang penjilidan, ruang pertemuan, ruang penyimpanan buku yang baru diterima, dapur dan toilet. Mengacu pada ketentuan tersebut, maka sudah idealkah perpustakaan kita?

Lain halnya dengan kegiatan berdiskusi. Di setiap sisi kampus kerap ditemukan dua orang atau segerombolan muda-mudi yang bercengkrama. Topik yang dibicarakan sangat beragam, ada yang bahasannya ringan pun sebaliknya. Umumnya perbincangan tersebut mulai dari cerita ngalor ngidul, penemuan inovasi baru, permasalahan di organisasi, kebijakan kampus yang berat sebelah, hingga pembahasan solusi untuk negeri yang selalu dilanda problema. Hal itu sering kali dilakukan oleh mahasiswa di universitas mana pun, termasuk Universitas Negeri Jakarta (UNJ). Sampai saat ini, tradisi diskusi di UNJ cukup hidup terbukti dengan adanya kegiatan kajian, diskusi publik, seminar, maupun talkshow yang diselenggarakan oleh organisasi atau komunitas kampus. Meskipun belum semua mahasiswa peduli dan mau untuk berpartisipasi dalam kegiatan tersebut. Kebanyakan dari mereka masih sibuk dengan dirinya sendiri.

Kehidupan kampus tidak hanya terbatas pada kegiatan diskusi namun juga diwarnai oleh kegiatan menulis. Membuat makalah, presentasi, jurnal, esai, resume, penelitian, dan sejenisnya adalah santapan rutin mahasiswa tiap harinya. Mereka juga akan diberikan tugas akhir (baca: skripsi) sebagai syarat mendapatkan gelar sarjana. Dalam pengerjaannya membutuhkan analisis yang lebih mendalam, cara berpikir yang lebih logis dan ilmiah, serta keterampilan menulis yang baik dalam menyajikan hasil pemikiran. Tingkat kesulitannya tentu lebih tinggi dibanding tugas yang diberikan di jenjang sebelumnya.

Salah satu kelemahan sistem akademik kampus terletak pada pemberian tugas makalah oleh dosen kepada para mahasiswanya. Seringkali dosen memberikan tugas tanpa disertai follow up yang baik. Misalnya saja, ketika mahasiswa secara berkelompok diberikan tugas membuat makalah tentang suatu topik. Kemudian pertemuan berikutnya diminta untuk presentasi, tanya jawab, dan makalah dikumpulkan. Selesai. Mahasiswa tidak pernah tau makalah yang dibuatnya sudah memenuhi standar keilmiahan atau belum. Ketidaktahuan ini akan terus berlanjut hingga kegundahan menyelimuti mahasiswa di tingkat akhir dalam penyusunan skripsi.

Tidak semua mahasiswa mampu bergulat dengan salah satu kegiatan literasi ini. Perlu adanya pembiasaan secara kontinyu agar bisa menguasainya. Bagi mereka yang menyenanginya, semaksimal mungkin dapat menyelesaikan tugas tersebut sampai titik sempurna. Bahkan mencari tahu kebenaran dalam membuat makalah. Sebaliknya, bagi mereka yang enggan bersusah-payah hanya mengandalkan copy-paste sebagai formalitas memenuhi tugas.

Sebuah Refleksi untuk Beraksi

Perencanaan adalah hal penting untuk mengatur strategi pencapaian cita-cita. Ketika seseorang gagal menyusun perencanaan, sama artinya ia merencanakan sebuah kegagalan. Hukum tersebut juga berlaku bagi para mahasiswa sebagai kunci perubahan bangsa. Mereka harus cerdas dalam membuat rencana-rencana masa depan. Kecerdasan itu dapat berkembang apabila literasi telah terintegrasi dalam setiap detik waktu hidup mereka. Sementara jika kultur literasi masih “jalan di tempat”, maka mimpi menjadi agent of change hanya sekedar utopis belaka. Harapan akan adanya perubahan dan terjaganya peradaban bangsa mustahil dapat terwujud.

Dosen sebagai salah satu rekan diskusi mahasiswa perlu memiliki kesamaan visi dalam memberikan penugasan. Visi untuk membiasakan mahasiswa menganalisis suatu masalah, mengaitkannya dengan teori, mengacu pada referensi dalam maupun luar negeri, sampai pada penyusunan penulisan yang ilmiah. Kebiasan demikian dengan sendirinya akan menjadi budaya di kalangan mahasiswa.

Aneka potret kehidupan literasi kampus baiknya dijadikan sebagai bahan refleksi untuk memotivasi diri. Kesadaran akan pentingnya literasi perlu dibangun mulai saat ini untuk mewujudkan ragam mimpi. Perubahan persepsi ini menjadi titik awal untuk menjelajahi ilmu setiap waktu. Pada akhirnya, mahasiswa mampu mendapatkan kebebasan serta kekuatan berpikir demi sebuah kebenaran yang hakiki.

Oleh: Annisa Indriyani, S.Pd. (FIP 2012)

Komentar Kamu?

BAGIKAN
Ruang Publik Kepada Seluruh Civitas Akademika UNJ untuk menyampaikan kritik, & Saran. Yuk Kirimkan Buah Pikiranmu