Home Suara Anda Opini

Makna Berprestasi: Mind Set Rendah Hati

884
BAGIKAN

“Prestasi adalah ketika hatimu bergetar melihat hasilnya” Fasha Rouf (Relawan VTIC Cycle 4)

“Buat apa diucapkan kata ‘Selamat’ untuk orang yang mengharapkannya?”

Adakah manusia yang tidak ingin berprestasi? Sudah Pasti jawabannya adalah “TIDAK ADA”. Saya, kamu, kita pasti ingin menjadi manusia dengan segudang “prestasi”. Tak dapat dipungkiri bahwa mencapai “prestasi” dalam hidup kita merupakan kebanggaan yang tak mampu dijelaskan dengan kata-kata. Setuju?

Namun, pernahkah kita berpikir apakah makna berprestasi sesungguhnya? Peribahasa klasik menyatakan tentang Ilmu Padi “Semakin berisi semakin merunduk” sepertinya sangat layak dijadikan pedoman agar kita menemukan konsep rendah hati dalam berprestasi. Ya, mind set rendah hati! Lalu, masih ingat dengan konsep “ada langit di atas langit”?

Ada langit di atas langit, berarti di dunia ini tak ada satupun yang sempurna, setiap yang terbaik akan ada yang lebih baik lagi. Konsep tersebut bukan milik seorang, konsep tersebut harus diterapkan oleh semua orang. Sejatinya, konsep tersebutlah yang membuat kita terus membelalakkan mata, ada apa sebenarnya di hati kita, yang begitu dengki dengan prestasi ini, prestasi yang tidak seberapa!

Cepat Puas, Ingin dipuji, perbanyak istigfar.

Dulu.. saya berpikir bahwa berprestasi adalah tentang pencapaian yang saya lakukan. Dulu.. saya berpikir bahwa berprestasi adalah cara mencari “Prestige” dan mengumumkan kepada khalayak umum untuk mengakui bahwa saya memiliki prestasi. Kamu juga begitu gak? Semoga tidak.

Seiring berjalannya waktu dan seringnya membaca kisah-kisah insan berprestasi yang “Down to Earth” membuat saya merasa malu! Kisah hidup mereka membuat saya sadar bahwa paradigma yang saya tanam selama ini tentang berprestasi “SALAH BESAR”. Saya terlalu cepat puas.

Prestasi saya ternyata masih “premature” dibandingkan orang lain yang ternyata sudah berkeliling Indonesia bahkan dunia dengan segudang prestasi, baik kancah nasional maupun internasional tak pelak membuatnya selalu mem-blow up prestasinya di sosial media. Mereka terus berbagi ilmu yang mereka miliki dan tak pernah lelah menginspirasi dengan cara rendah hati walaupun berbeda-beda gayanya. Yap, MENULARKANNYA!

Membaca kisah insan berprestasi lainnya, membuat saya menemukan makna berprestasi sesungguhnya. Prestasi bukan selamanya tentang pencapaian kita melainkan tentang sebuah kebermanfaatan dan kepedulian diri kita atas prestasi yang melekat pada jiwa.

Berprestasi bukan membuat kita terlena, namun seharusnya menumbuhkan semangat kompetitif dan tak pernah puas karena sungguh masih banyak bintang yang bertaburan dengan sinar terangnya di luar sana. Perbanyak istigfar, dengan pujian itu! lalu renungkan dan belajarlah untuk menjadi lebih baik.

Bersyukur? Jelas harus bersyukur setiap “prestasi” sekecil apapun, bersyukur setiap tetes keringat kita yang telah berbuah manis! Tapi, bukan berarti membuat kita gelap mata lalu memamerkannya untuk orang lain setiap prestasi kita yang tidak seberapa ini. Katanya niatnya untuk memotivasi? Ya Sekali- dua kali orang akan respect, tapi jika berlebihan hal tersebut hanya semakin membuat orang lain berpikir, seharusnya dia bisa lebih! Bisa lebih! Semoga pikiran tersebut, kamu menganggapnya sebuah doa, sebuah triger, sebuah tamparan untuk diri kita yang terkadang lalai dan haus pujian.

Cukup ucapkan, “Semoga Tuhan memberkahi prestasimu!” Berkah. Ya, berkah dengan catatan prestasi tersebut berhasil membuat orang lain tergerak hatinya untuk bisa sama seperti dia, bahkan lebih. Menularkan jiwa kompetitif, menularkan inspirasi, menularkan mind set rendah hati! Sungguh, maksud saya bukan menggurui atau bukan bahkan menyakiti. Hanya mencoba membuat kita terutama saya memahami konsep ada langit di atas langit.

Semoga Saya, Kamu dan Kita semua selalu menjadi sosok pembelajar yang mampu meraih “prestasi” namun tetap belajar untuk rendah hati.

“Tapi, langit yang gak ada lapisan di atasnya lagi itulah langit hati. Kendaraan menuju ke sana adalah rendah hati, dan kasih sayang pada seluruh manusia. Jadi, kita tidak akan melihat kita menjadi langit ke berapa, siapa yang paling atas. Tapi, kita mencintai seluruh lapisan manusia, dan kita yakin di lapisan keberapapun keberadaan kita, kita dapat memberi manfaat.” (Fasha Rouf)

Palupi Mutiasih (FIP) dan Sitti Ghaliyah (FMIPA)

Sebuah tulisan hasil diskusi dari dua manusia yang masih harus banyak memperbaiki diri.

Komentar Kamu?

BAGIKAN
Ruang Publik Kepada Seluruh Civitas Akademika UNJ untuk menyampaikan kritik, & Saran. Yuk Kirimkan Buah Pikiranmu