Home Suara Anda Opini

Masa Berkenalan

537
BAGIKAN

Saat ini adalah saat dimana bibit baru tumbuh dan siap untuk berkembang. Bibit yang nantinya akan mempunyai akar, batang, daun, bunga, dan juga siap panen. Bibit ini membutuhkan pupuk, sinar matahari dan juga air agar bisa tumbuh. Faktor lingkungan pun juga sangat mempengaruhi, akan sia-sia jika tanaman yang seharus ditanam pada daerah tropis, malah ditanam di daerah dingin-bersalju.

Sama seperti halnya Negeri Kampus. Hadirnya mahasiswa baru di kampus akan membawa Era Baru. Mereka sama seperti bibit yang siap untuk tumbuh. Hadirnya mereka akan membawa nuansa berbeda yang lebih berwarna dan lebih hidup. Keingintahuan yang mereka pendam selama beberapa tahun belakangan ini di sekolah, pertanyaan-pertanyaan seputar dunia kampus yang bervariasi, serta semangat mereka untuk mengenal dunia kampus sudah di buat sangat panas sampai mendidih oleh mereka. Lantas, apa peranan kita? Sebagai kakak baru bagi mereka.

Tulisan ini berangkat dari percakapan dengan seorang sahabat saya sambil menunggu hujan reda. Mencoba menganalisis dari serentenan informasi yang didapat dari empiris (pengalaman), rasionalis (nalar) juga intuisi (perasaan) kami.

Peran ‘kakak’ untuk menyambut ‘adik baru’-nya sudah di realisasikan pada “Masa Berkenalan”. Masa ini adalah momentum bagi setiap organisasi dalam/luar kampus dan non-organisasi untuk saling memperebutkan hati ‘adik barunya’ disamping tujuan yang tertera dalam lembar proposal (tujuan normatif). Tidak hanya mahasiswa, namun pemangku kebijakan pun turut andil dalam “Masa Berkenalan” ini. Akhirnya, perbedaan persepsi pun tak terelakan lagi. Sudah sewajarnya hal ini terjadi. Ini yang membuat keseruan pada “Masa Berkenalan” di tahun ini.

Sama seperti keseruan ketika ‘sebuah kepentingan kekuasaan’ hadir di dalam “Masa Berkenalan” ini. Tidak hanya dalam kancah Universitas, di dalam Fakultas pun juga. Keinginan berbagai ‘golongan’ untuk menjadikan mahasiswa baru masuk ke dalam ‘jalurnya’ sudah disiapkan. Segala strategi pun dibuat dengan sangat bersih, sampai-sampai seperti tidak terjadi apa-apa. Dengan memegang teguh pendirian yang mengatasnamakan “yang paling benar” , menjadi motif untuk bergerak bebas demi mendapatkan hati ‘adik’ tingkatnya.

Ada pula yang bermain dibalik layar, bersikap seperti sesosok pahlawan sosial tanpa diketahui orang namun begitu sarat dengan idealis kepentingan golongan juga ikut meramaikan momentum ini. Maka dari itu, banyak diantara mereka yang menjadi ‘petugas’ dan memiliki ‘peranan penting’ di kampus agar dapat mengambil hati ‘adik baru’nya.

Memang itu bukan hal yang patut disalahkan atau dibenarkan. Tapi bagi saya, itu adalah hal yang patut dipertanyakan. Mempertanyakan kejelasan dari arah ‘tujuan’ mereka. Kalian ingin mahasiswa baru ini sama ‘warna’ atau ‘berwarna’ ? Kalian ingin mahasiswa baru ini ‘menyatu’ atau ‘bersatu’ ?

Sangat disayangkan jika bibit ini ditanam dalam tempat yang seharusnya itu bukan habitat atau lingkungan tempatnya ‘tumbuh’. Sangat-sangat disesali kalau yang harusnya bibit ini tumbuh sesuai kekampuan pertumbuhannya tapi malah kita ‘paksakan untuk tumbuh’.
Mungkin mereka tidak akan menyadarinya, karena mereka (pada saat ini) hanya sebuah bibit yang membutuhkan nutrisi yang berasal dari pupuk,sinar matahari dan air. Bukan hanya pupuk, air atau matahari saja.

Yang seharusnya kampus menjadi wadah mereka bereksplorasi, me-lirik yang baik maupun yang buruk, mencari macam informasi ter-update dari dalam dan luar kelas. Tapi malah kita arahkan kepada jalur kereta yang walaupun bercabang, namun tetap dalam satu jalur. Dan akhirnya kita petakkan mereka sesuai ‘domisili’. Bagaimana mereka dapat memberikan nuansa berbeda yang lebih berwarna dan lebih hidup? jika nuansa yang kita (kakak tingkatnya) berikan sama seperti tahun-tahun kemarin.
Mengikuti budaya? , kita lihat kawan. Apakah budaya kita sehat? Apakah budaya kita (benar-benar) “budaya” ? Atau hanya kumpulan manusia dari berbagai golongan yang mempunyai kekuasaan lebih, akhirnya menanamkan budaya kepada manusia lain yang kalah suara?

Saya tidak bisa berkata banyak, karena: saya tidak memiliki peran untuk mengajak ‘adik’ tingkat saya bergaul lepas-bebas tanpa ada tekanan di “kiri-kanan” ; saya tidak mempunyai peran untuk memberikan stimulus kepada mereka supaya mereka dapat berkembang seperti bibit baru yang butuh asupan ; dan saya tidak memiliki peran untuk menjanjikan lingkungan yang tidak di “kotak-kotak”an.

Saya tidak memiliki peran seperti itu. Karena yang memiliki ‘peranan’ itu hanya berfokus pada kepentingan golongan darimana ia berasal. Inilah yang amat disayangkan. Seharusnya, kalian melihat juga dari berbagai sudut padang kalau, mahasiswa baru bukan anak ayam yang digiring masuk dalam kandang, tapi mereka adalah bibit tanaman yang akan berbuah.

“Ikuti kata hati mu kawan, lakukan yang terbaik, jangan mengikuti apa kata hati organisasi atau instansi, karena organisasi/instansi itu tak akan bisa hidup dan berjalan kalau tak ada kalian yang hidup.”

“Yang menghidupkan kampus adalah kalian, mahasiswa dari berbagai macam ras,budaya, agama, dsb. Bukan dari golongan yang berada disudut ‘kiri’ maupun ‘kanan’. “

“Kita bukan sawah yang dipetak-petakan, tapi kita samudera yang luas dan bergoyang seiring angin yang membawa, membentuk ombak, dan favoritnya burung camar mencari makan.”

“Kemudian bibit baru takkan bisa hidup kalau tidak di berikan pupuk, air dan sinar matahari. Jangan halangi jika mereka (bibit) itu ingin tumbuh sesuai kemauannya, bukan kemauanmu. Karena kamu cuman bisa memberikan air dan pupuk secukupnya saja, jangan berlebih.
Kita hanya bisa mengingatkan mana yang baik dan yang buruk, tidak berhak memaksa ataupun dipaksakan.”

Salam,

“Mahasiswa Semester 5”

Oleh: Alvyn Naufal Mahmaris

Komentar Kamu?