Home Suara Anda Ruang Publik

Meniti Mimpi Anak Buruh Migran Indonesia di Sekolah Non Formal Sarawak, Malaysia

697
BAGIKAN

“Salah satu hal yang bisa dilakukan seorang Guru adalah mengirim pulang seorang murid di siang hari dalam keadaan menyukai diri mereka sedikit lebih dari pada ketika ia datang di pagi hari”. (Ernest Melby)

Pendidikan merupakan hal yang sangat penting bagi setiap orang, karena dengan pendidikanlah kita akan terbentuk suatu kepribadian yang nantinya akan menjadi kebiasaan (habbits) dalam kehidupan sehari-hari.

Memperoleh pendidikan merupakan hak setiap warga negara yang telah diatur dalam Pasal 31 Undang Undang Dasar 1945, karena pendidikan memiliki peranan yang sangat penting bagi kelangsungan hidup dan masa depan seseorang. Tanpa pendidikan, seseorang akan tumbuh menjadi pribadi yang tidak berkualitas, dia akan tumbuh menjadi seseorang yang tidak mengenal aturan, seenaknya sendiri, malas dan cenderung memiliki mental yang lemah, tidak memiliki daya juang positif yang akhirnya akan membuat arah hidupnya tidak jelas, tidak terkendali, dan dapat terjerumus kedalam hal-hal yang bersifat negatif. Baiklah, disini saya akan menceritakan sedikit tentang bagaimana kondisi pendidikan yang ada disekolah non-formal Indonesia CLC Pinang Miri, Sarawak, Malaysia.

Ada sekitar 20.000 anak buruh migran Indonesia yang ada di Miri, Sarawak, Malaysia, hanya ada sekitar 800 anak yang mampu mengenyam pendidikan, dan itupun masih di sekolah non formal. Di negara orang, mereka mencari nafkah untuk bertahan hidup, dan lebih parahnya lagi diumur mereka yang seharusnya digunakan untuk menimba ilmu pendidikan dipergunakan untuk bekerja membantu orang tua mereka. Hal Itu menandakan bahwa ketika mereka di negeri orang, siapa yang akan peduli dengan mereka? Pemerintahkah yang akan dituntut untuk melindungi mereka? orang tua mereka? atau siapa? Mereka sangat membutuhkan bantuan paling tidak ada sedikit yang bisa membangkitkan semangat mereka, membantu mereka mengenal bangsa dan negaranya.

Melihat kondisi seperti itu, pastinya kita sebagai bangsa Indonesia yang peduli akan pendidikan merasa tergerak hatinya untuk ikut berkontribusi dengan nyata memperbaiki kondisi pendidikan tersebut. Saya adalah relawan yang tergabung dalam kegiatan Vonteerism Teaching Indonesian Children (VTIC) Cycle 5 yang dilaksanakan sejak tanggal 1-22 Agustus 2016, kegiatan ini merupakan program VTIC Foundation yang merupakan sebuah yayasan yang bergerak di bidang pendidikan, sosial, dan kemanusiaan dengan fokus utama pada anak-anak buruh migran indonesia di Sarawak, Malaysia.

Dalam kegiatan ini, saya beserta 33 orang peserta relawan lainnya berangkat menuju Miri, Sarawak, Malaysia untuk mengikuti kegiatan tersebut. Sebelum berangkat menuju Miri kami terlebih dahulu berkunjung ke Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) untuk kerajaan Malaysia di Kuala Lumpur untuk mendapatkan pengarahan dari Prof. Ari Purbayanto selaku staf atase pendidikan Republik Indonesia.

Setelah selesai berkunjung dari KBRI, kemudian esok harinya kami terbang kembali menuju Bandara Miri, letak penerjunan kami adalah di Miri, Sarawak Malaysia Timur. Akses untuk menuju tempat penerjunan lumayan cukup jauh, yaitu sekitar 2 jam dari Bandara Miri.

Setelah menempuh perjalanan yang lumayan cukup jauh, tibalah kami beserta rombongan di salah satu sekolah yang sudah ditunggu oleh para guru masing-masing tiap sekolah, yaitu sekolah CLC Galasah yang ada di perusahaan kelapa sawit Sarawak Oil Parms Berhard. Di sana kami disambut baik oleh masyarakat, guru maupun murid-murid untuk melakukan acara pembukaan. Acara pembukaan ini dibuka langsung oleh Bapak Johar Gultom selaku Konsulat Jendral Republik Indonesia untuk wilayah Kuching, Malaysia. Tidak jauh berbeda dengan penyambutan hangat ketika di KBRI, KJRI pun menyambut kami dengan sangat mengapresiasi yang sangat tinggi.

Penerjunan Ke Masing-Masing Sekolah di Daerah Perkebunan Kelapa Sawit

Setelah acara pembukaan oleh Ketua KJRI Kuching sudah selesai dilaksanakan, kemudian para peserta Volunterism Teaching Indonesian Chldren Cycle 5 disebar ke masing-masing sekolah yang sebelumnya sudah dibagi untuk penempatannya ketika di Jakarta. Saya di tempatkan di sekolah Community Learning Centre (CLC) Pinang Divison bersama rekan saya, Robiatul Adawiyah mahasiswi dari Universitas Gadjah Mada. Sekolah ini merupakan milik perusahaan kelapa sawit Sarawak Oil Parms Berhard (SOPB).

Saya tinggal di rumah seorang cikgu (sebutan guru untuk di malaysia) di sekolah CLC pinang tersebut, yaitu Cikgu Rahmawati. Cikgu Rahmawati adalah seorang guru yang mengajar di sekolah non formal Indonesia CLC Pinang Division Miri, Sarawak, Malaysia. Di CLC Pinang ini hanya ada Cikgu Rahma sebagai tenaga penagajarnya. Saya tinggal bersama Cikgu Rahma di sebuah rumah panggung yang fasilitasnya kurang memadai, listrik dibatasi, dan akses internetpun terbatas.

Kegiatan Belajar Mengajar

Di hari ketiga ketika saya berangkat dari Jakarta, saya mulai mengajar di sekolah tersebut bersama rekan saya, Hilda. Di hari pertama mengajar diantar oleh Cikgu Rahma ke sekolah yang jaraknya sekitar 50 meter dari rumah. Seketika saya terkejut masuk ke dalam ruang belajar yang di dalamnya sudah ditunggu oleh anak-anak di sana. Betapa bahagianya hati ini ketika hari pertama sudah disambut dengan antusias.

Dibuka dengan sesi perkenalan diri saya maupun dari murid-nurid dan dialog yang ramah tamah dengan anak-anak. Kemudian, bercerita tentang VTIC Foundation dan alasannya kenapa saya bisa kesini. Kebanyakan anak-anak disana orangtuanya berasal dari suku Bugis, Makassar, Sulawesi. Mereka ikut bersama orangtuanya yang pergi ke Malaysia yang menjadi Tenaga Kerja Indonesia (TKI) di daerah perkebunan kelapa sawit.

Sekolah Pinang hanya memiliki satu ruangan untuk belajar, satu ruangan tersebut digunakan untuk mengajar tiga jenjang pendidikan dari mulai Taman Kanak-Kanak, Sekolah Dasar hingga Sekolah Menengah Pertama. Bahan bangunan yang digunakan adalah dari kayu atau yang sering kita sebut adalah rumah panggung.

Saya merasa sangat perihatin ketika mengetahui bahwa selama mereka belajar digabung dalam satu ruangan dalam materi yang berbeda. Ini yang menjadi kendala saya ketika mengajar anak-anak disana. Meskipun keadaannya seperti itu tidak menjadi sebuah halangan bagi saya untuk tetap bersemangat memberikan sedikit ilmu dan pengalaman yang saya miliki kepada anak-anak disana. Materi yang saya sampaikan adalah materi umum yang sering ada di sekolah-sekolah formal Indonesia, seperti Bahasa Indonesia, Pendidikan Kewarganegaran, Matematika, Pendidikan Agama Islam, Ilmu Pengetahuan Alam, Ilmu Pengetahuan Sosial , dan lain-lain.

Dalam proses penyampaian materi, saya menggunakan metode pembelajaran yang menyenangkan bagi anak-anak, karena kadar kemampuan anak-anak disana berbeda dengan anak-anak Indonesia seperti biasanaya. Pun halnya dengan kurikulum yang berbeda dan tenaga pendidikan disana sangatlah terbatas sehingga saya memaksimalkan sesuai dengan kebutuhan yang ada.

Yang lebih saya tekankan pengajaran disana adalah materi tentang semangat nasionalisme ke Indonesiaan dan tentang keagamaan, karena mayoritas anak-anak disana tidak tahu banyak tentang Indonesia, bahkan Presiden Indonesia pun mereka tidak tahu. Saya memberikan materi tentang Pendidikan Kewarganegaraan dari mulai peta Indonesia, dasar negara Indonesia, pPesiden Indonesia, lagu-lagu daerah, dan lain-lain.

Sebagian besar anak-anak disana lahir di Malaysia dan belum pernah pulang ke Indonesia, namun ada juga yang lahir di Indonesia, ketika umur dua tahun mereka diajak oleh orangtuanya pergi ke Malaysia. Jadi wajar saja kalo mereka tidak mengetahui tentang Indonesia. Tetapi bagaimanapun juga mereka adalah anak-anak bangsa, dan wajib mendapatkan hak pendidikan sebagaimana yang telah diatur dalam UUD 1945 pasal 31 yang sudah saya jelaskan diatas.

Materi selanjutnya yang lebih saya tekankan adalah tentang keagamaan, karena menurut saya ini sangat penting menyangkut tentang ruhani. Mereka harus tahu bahwa di kehidupan dunia ini hanyalah sementara dan akan ada kehidupan yang lebih kekal, yaitu di akhirat. Saya mengajarkan sholat wajib, praktik sholat dhuha, dan sebagai seorang anak harus selalu menghormati kedua orangtuanya. Tidak kalah penting juga materi umum lainnya yang saya berikan seperti Bahasa Indonesia, Matematika, Ilmu pengetahuan Alam, dan Ilmu Pengetahuan Sosial saya sampaikan selama kegiatan belajar.

Kegiatan lain di luar jam sekolah selain belajar, yaitu setiap sore saya mengajak anak-anak untuk pergi ke padang (lapangan) untuk bermain Sepak Bola, Voli, atau bermain kucing-kucingan. Sebelum berangkat ke padang, terlebih dahulu saya mengajak anak-anak untuk melaksanakan sholat ashar berjamaah, lalu selesai bermain di padang sebelum adzan magrib. Jadi, ketika berangkat sudah melaksanakan sholat dan pulang sebelum adzan magrib.

Kegiatan malam ketika disana adalah melaksanakan sholat magrib berjamaah, setelah itu dilanjut dengan kegiatan mengaji, setelah mengaji selesai kita semuanya siap-siap untuk melaksanakan sholat isya berjamaah. Kemudian seteah selesai semuanya barulah mereka pulang ke rumah masing-masing untuk beristirahat dan bersiap-siap kembali melaksanakan sekolah untuk esok harinya. Itulah kegiatan sehari-hari yang saya laksanakan ketika disana.

Upacara Peringatan HUT Republik Indonesia ke 71 di Tanah Malaysia

Kegiatan VTIC Foundation dilaksanakan di bulan Agustus, sejak tanggal 1-22 Agustus 2016. Tidak terasa hari demi hari saya lewati bersama anak-anak di kelas maupun di luar kelas. VTIC Foundation memang mengambil momentum yang sangat bagus, yaitu bertepatan dengan bulan Hari Ulang Tahun Republik Indonesia.

Seminggu sebelum tanggal 17 Agustus, saya bersama rekan saya Hilda sudah mempersiapkan terlebih dahulu untuk melaksanakan Upacara Peringatan HUT Republik Indonesia yang ke 71. Setiap hari senin, saya melatih anak-anak untuk melaksanakan upacara pengibaran bendera merah putih sekaligus berlatih untuk pelaksanaan upacara 17an nanti. Saya menjadi pelatih sekaligus pembina upacara dalam pelaksanaan upacara tersebut.

Upacara berlangsung dengan khidmat, meskipun dalam pelaksanaanya sangat singkat, namun anak-anak tetap bersemangat ketika sedang upacara. Ketika pengibaran bendera sangsaka merah putih, hati ini merasa bergetar ditambah dengan lagu Indonesia Raya yang dikumandangkan oleh anak-anak membuat semangat nasionalisme tumbuh kembali.

Meskipun bukan di negara sendiri, tetap kita harus menjunjung tinggi negara sendiri. Dalam pidato singkat, saya jelaskan bahwa kita semua adalah warga negara Indonesia, negara kita bukan Malaysia tetapi Indonesia, kita semua adalah putera puteri bangsa, kita semua adalah anak anak bangsa yang sedang berjuang di negeri orang untuk mengenyam sebuah pendidikan, dan kita mempunyai hak untuk mendapatkan pendidikan yang layak. Dan juga saya tekankan bahwa kita harus kembali ke negara asal kita, yaitu Indonesia.
Kita tidak tahu bahwa masih banyak anak-anak di luar sana yang masih sangat membutuhkan pendidikan yang layak, dan kita sebagai mahasiswa seharusnya ikut berkontribusi nyata untuk mencerdaskan kehidupan bangsa melalui pendidikan. Merdeka!

Komentar Kamu?