Home Komunitas Menjadi Cikgu di Perbatasan Indonesia

Menjadi Cikgu di Perbatasan Indonesia

153

“Wajah pendidikan Indonesia yang berbatasan langsung Serawak masih sangat jauh dari kata layak. Ketika di kota besar sudah banyak terdapat buku pelajaran tetapi disana hanya ada satu pegangan buku. Ruang kelaspun hanya memiliki satu bahkan dari TK sampai kelas 6 SD harus bergantian dengan sistem kelas yang disekat- sekat. Oleh karena itu, VTIC hadir untuk berkontribusi dalam pembangunan pendidikan,” tutur Indah saat menjelaskan kondisi pendidikan Indonesia di Serawak.

VTIC (Volenterism Teaching Indonesian Children) adalah sebuah yayasan yang bergerak dibidang pendidikan, sosial dan kemanusiaan yang berfokus pada peningkatan sumber daya manusia khususnya anak-anak buruh migran di Serawak, Malaysia. Mereka percaya dengan adanya bentuk kepedulian akan pendidikan anak-anak buruh migran Indonesia atau TKI bisa memberikan kehidupan yang lebih baik.

WNI yang sudah dewasa sampai lanjut usia kurang lebihnya sudah paham mengenai budaya dan letak geografis. Hanya saja anak-anak yang notabener lahir disana tidak mengetahui mengenai Indonesia. Atas dasar tersebut VTIC mulai tanamkan benih-benih Indonesia dengan membawa peta dan menceritakan negara Indonesia dan seisinya. Setiap tahun diselenggarakan karnaval budaya dan pawai obor, yang berisi lomba tari tradisional, pengenalan baju adat, dan cerdas cermat pengetahuan umum kebangsaan.

Tujuan dibentuknya VTIC adalah membantu mencerdaskan anak bangsa dan pemberatasan buta aksara pada anak-anak buruh migran. Mengenalkan Indonesia kepada anak-anak yang berada di luar Indonesia karena sebagian besar belum pernah menginjakan kaki ke Indonesia.

VTIC juga memiliki peran menjalin kerja sama yang baik antara mahasiswa, guru, pekerja TKI, dan pihak-pihak perusahaan kelapa sawit, Konsultat Jendral Republik Indonesia (KJRI) Kunching Serawak, dan Kedutaan Besar Indonesia untuk Kerajaan Malaysia untuk terus meningkatkan kuliatas hidup masyarakat Indonesia yang tinggal Malaysia.

Secara intensif, VTIC sendiri memiliki lima program utama yaitu :

VTIC Cycle

VTIC Cycle yaitu program utama yang bertujuan mengajar sukarela anak-anak buruh migran di Serawak kurang lebih satu bulan. Biasanya dilaksanakan bulan Agustus. Untuk perektutan sendiri pihak VTIC sudah membukanya sejak awal Oktober yang bisa diikuti oleh mahsiswa aktif D3/D4/S1 PTN atau PTS.

VTIC Goes To

Program ini adalah program mengajar dan juga pemberian aspirasi untuk sekolah yang berada di daerah terpencil dan penghasil tenaga kerja Indonesia (TKI) terbanyak. Program ini diadakan oleh alumni relawan VTIC yang sudah menjadi pengajar di VTIC Cycle. Program ini meliputi kegiatan memberikan inspirasi bagi anak-anak sekolah dasar, menengah meupun atas untuk tetap optimis dan semangat dalam mengenyam dunia pendidikan

VTIC For School

VTIC For School merupakan program memfasilitasi siswa CLC (Community Learning Centre) untuk melanjutkan sekolah di Indonesia. Dalam kegiatan ini, VTIC bekerja sama dengan instansi sekolah dan pesantren di Indonesia sebagai tempat lanjutan sekolah bagi anak-anak buruh migran. Hal ini dilakukan dikarenakan peraturan perusahaan yang tidak memperbolehkan anak- anak buruh migran sekolah diatas umur 12 tahun. Oleh karena itu upayanya adalah membawa mereka pulang ke Indonesia untuk pendidikan yang lebih baik.

VTIC Merchandise

VTIC Merchandise merupakan sarana pengumpulan dana kegiatan VTIC yang bertujuan untuk menunjang kegiatan baik VTIC Cycle, VTIC For School dan VTIC Goes to. Barang-barang yang ditawarkan oleh VTIC Merchandise antara lain Jaket, Mug, Buku, dan lain-lain.

VTIC Training

VTIC Training merupakan program yang dilakukan oleh pekerja profesional (misal psikolog, dokter umum, dokter gigi dsb) yang akan diberangkatkan bersamaan dengan VTIC Cycle. Ketika VTIC Cycle kami merekrut tenaga pengajar. Nah, untuk training kami merekrut tenaga profesional seperti yang telah disebutkan. Tujuan mereka adalah memberikan sosoalisasi ataupun pengobatan gratis bagi orang tua dan anak disana secara sukarela

“Sebetulnya pemerintah sendiri tidak tinggal diam pendidikan di Indonesia tertinggal. Karena banyak menggagas program peningkatan kesejahteraan guru, sarana prasarana dan membebaskan biaya pendidikan di beberapa daerah. Pemerintah sudah mengupayakan berbagai cara seperti SM3T dan berbagai kuliah kerja nyata setiap kampus ke wilayah tertinggal,” lanjut Indah selaku Humas VTIC.

Baca juga: Indah Luthfikasari Sang Pejuang Advokasi Mahasiswa UNJ

Sebagai anak muda harus membantu pemerintah dalam merealisasikan tujuan pengembangan berkelanjutan karena pemuda yang mempunyai power lebih dan jauh lebih produktif dibandingkan usia lainnya. Begitupun dengan yang VTIC lakukan.

Komentar Kamu?