Home Mahasiswa

Menjadi Kupu – Kupu Adalah Pilihan, Namun Produktif Adalah Keharusan!

659
BAGIKAN

Tak kurang dari beberapa hari lagi, UNJ akan memasuki babak baru dalam lembar kegiatan akademiknya. Hari yang mungkin ditunggu – tunggu oleh sebagian orang, namun tak sedikit pula yang masih ingin untuk mengulur datangnya hari tersebut. Yaitu hari pertama perkuliahan semester 106.

Euforia pun pastinya berdatangan dalam rangka menyambut semester genap yang sebentar lagi akan kita jumpai. Mulai dari rasa kangen antar sesama teman sekelas yang sudah dipisahkan oleh lamanya waktu liburan atau bahkan rasa kangen untuk hanya sekedar nongkrong pada tempat favorit dikampus. Tak sampai disitu saja, nampaknya euforia pun datang dari para kaum organisatoris kampus.

Sudah selayaknya bahwa tongkat estafet kepemimpinan dipergilirkan dari generasi ke genarasi. Tak terlepas, tongkat kepemimpinan dalam mengelola organisasi. Ya, itupun yang sekarang ini atau bahkan sejak awal tahun 2017 sedang dirasakan oleh para organisatoris kampus.

Momentum awal perkuliahan nampaknya menjadi momentum yang paling ditunggu – tunggu bagi mereka yang mencari kader – kader yang akan membersamai mereka dalam berjuang pada organisasi masing – masing. Tak pelik, inipun menjadi bahan perbincangan hangat, khususnya bagi para mahasiswa baru yang haus akan penjelajahan intelektualnya.

Tentunya para mahasiswa akan saling bertanya satu sama lainnya, “eh lu daftar ini ga? Eh lu udah nyiapin berkas belom? Eh nanti wawancara ditanyain apa aja ya?”. Tentunya pertanyaan – pertanyaan itupun tidak hanya dirasakan oleh para mahasiswa baru, para mahasiswa yang sudah lebih dulu merasakan penjelajahan intelektual dikampus pun juga merasakannya, tak terlepas penulis.

Yaaa… memang inilah yang menjadi keresahan bagi sebagian mahasiswa, tidak terlepas penulis. Namun ternyata, maraknya oprec sana – sini nampaknya menimbulkan “eksklusifitas” tersendiri bagi mereka yang berambisi untuk mewujudkan keinginnya bergabung organisasi. Sehingga hal itupun membuat sebagian orang enggan untuk mengikuti jalan yang serupa.

Tak jarang, mereka yang memilih untuk tidak mengikuti jalan yang serupa dengan rekannya tersebut (re: organisatoris) dicap sebagai mahasiswa “kupu – kupu” dan dipandang sebelah mata. Lantas apakah mereka salah? apakah tidak menjadi mahasiswa organisatoris salah? Apakah menjadi mahasiswa kupu – kupu itu salah?

Pada konteks permasalahan ini, penulis mencoba untuk mengingatkan pembaca bahwasanya kita harus senantiasa menanamkan sikap husnudzon dalam diri kita. Bukan berarti ketika kita memiliki teman yang hanya “hidup” diruang perkuliahan saja itu berarti mereka “mati” diluar ruang perkuliahan. Bisa saja, nyatanya mereka akan lebih “hidup” diluar sana namun kehidupannya tidak nampak oleh kita. Itulah analogi yang coba dipaparkan oleh penulis.

Pada dasarnya tidak semua mahasiswa kupu – kupu itu tidak memiliki agenda lain selain kuliah. Bisa saja mereka nyatanya menjadi seorang entrepreneur diluar sana atau bahkan menjadi aktivis di lingkungan rumahnya atau bahkan mereka adalah pemburu pundi – pundi rezeki untuk menopang finansial perkuliahannya. That’s the point. “Menjadi kupu – kupu adalah pilihan, namun produktif merupakan keharusan!”.

Pada dasarnya, semangat produktivitaslah yang harus ditanamkan kepada seluruh mahasiswa. Bahwasanya kehidupan tidak seindah pun tidak hanya serumit dalam ruang perkuliahan saja. Nyatanya kehidupan jauh lebih kompleks dari sekedar membuat karya tulis atau bahkan presentasi semata.

Jika ingin menjadi organisatoris, jadilah organisatoris yang tidak apatis! Jika ingin menjadi aktivis, jadilah aktivis yang humanis ! Jika ingin menjadi akademisi, jadilah akademisi yang berprestasi ! Jadilah apapun semaumu selama itu bermanfaat. Namun tidak menjadi apa – apa bukanlah suatu jawaban apalagi impian.

Setiap impian merupakan pilihan. Setiap pilihan mengandung resikonya tersendiri. Menjadi organisatoris memiliki resiko akademis yang cukup dilematis karena kepadatan waktunya. Tidak menjadi organisatoris/aktivis (re: kupu – kupu) pun memliki resikonya tersendiri, diantaranya keberadaannya tidak dirasakan. Namun itu semua tidaklah salah.

Menjadi mahasiswa kupu – kupu dan menggelorakan kiprahmu diluar sana itu semua pilihanmu. Namun, alangkah lebih baik sebelum kita berenang dilautan lepas dengan ombak yang ganas, bukankah lebih baik kita berenang dikolam dengan air yang lebih tenang terlebih dahulu?

 

Oleh : Akbar Kurnianto

Komentar Kamu?