Home Suara Anda Opini

Musim Semi di Universitas Negeri Jakarta

335
BAGIKAN

Sebuah surat cinta yang sederhana untuk kawan-kawan UNJ

Sepuluh, bulan lima. Sebuah konsolidasi besar kembali hadir di UNJ. Ratusan wajah baru yang tak pernah kulihat sebelumnya datang berbondong-bondong, hingga berdesak-desakan mengisi lantai-lantai kosong di Arena Prestasi Fakultas Ilmu Sosial. Mereka yang datang mayoritas adalah angkatan-angkatan muda; mulai dari 2014, 2015 sampai angkatan 2016.

Untuk angkatan baru 2016, kuucapkan selamat datang di kampus impianmu. Tempat yang akan menemanimu berpetualang menimba ilmu, bergulat dengan ide-ide, dan memberitahumu sebuah pengertian kalau tugas seorang terpelajar bukan hanya untuk mengejar IPK dan jadi Sarjana. Melainkan ikut berperan dalam memecahkan permasalahan bangsa, juga jadi bagian untuk menciptakan perubahan.

Bertemu dengan wajah-wajah baru seperti kalian membuatku mengembalikan sehelai potret yang sudah lama lusuh dan masih tersimpan di dalam ingatan. Maka izinkan aku bercerita tentang sesuatu, masa dimana aku pernah menjadi sepertimu. Memasuki gerbang pendidikan tinggi dengan wajah lugu dan polos, menggenggam sejuta harapan, hingga keyakinan kalau hidup akan berubah setelah kita masuk dan studi di dalam kampus ini.

Tahun 2012 masa dimana aku diterima kuliah di Jurusan Sejarah FIS UNJ. Sajadah Masjid alumni jadi saksi bagaimana sujud syukurku menempel di atasnya, karena hasil pengumuman menyebutkan Andika Ramadhan lolos di kampus UNJ. Namun, impian kuliah di UNJ hampir saja kandas ketika aku mengetahui nominal biaya UKT yang harus kubayarkan cukup besar, dan kuyakin besarannya tak akan bisa dilunasi oleh anak-anak yang berlatar ekonomi tak mampu.

Kalimat ala motivator tentang kau lahir miskin bukan salahmu terbantahkan ketika dibenturkan dengan fenomena ini. Kau itu miskin, salahmu lahir dalam keluarga miskin, kau tak akan bisa kuliah di tempat yang layak, karena kalau mau layak harus kuat bayar. Disinilah aku mulai melihat pendidikan hampir mirip seperti jalan tol; siapa yang membayar, maka ia yang diberikan jalan.

Kala itu kampus belum seperti sekarang, belum seramai sekarang. Isu-isu elitis di tataran nasional jauh lebih diminati, ketimbang mahasiswa di kampus ini mengajukan sebuah pertanyaan ke Rektor mereka; jika tujuan Uang Kuliah Tunggal ialah untuk keadilan, lantas kenapa masih ada anak-anak miskin yang terhambat kuliah karena tak bisa bayaran?

Cita-cita kita pada akhirnya hanyalah setinggi tanah, ketika yang melangit adalah biaya kuliahnya. Pada saat-saat genting seperti ini kau harus ingat mendiang dari Paulo Freire, tanggungan pendidikan yang mahal hanya akan melahirkan kaum-kaum terpelajar yang mau membantu dan menolong sesama jika dibayar mahal pula.

Maka tak perlu heran kenapa masih banyak orang-orang miskin yang mati karena tak mampu berobat, anak-anak desa yang semakin bodoh karena sekolahnya kekurangan guru, hingga kilang minyak dan tambang yang tak pernah bisa kita kelola secara mandiri. Negeri ini jeblos dalam lubang kemunduran bukan karena kekurangan sarjana.

Pendidikan kita harus terjangkau! Bahkan mungkin gratis, pendidikan yang rusak harus segera diperbaiki, agar sarjana-sarjana kedokteran siap membantu sesama tanpa perlu memikirkan balik modal, sarjana pendidikan rela mengajar di desa-desa demi mencerdaskan anak-anak bangsa, dan juga lulusan-lulusan teknik-tambang tak hanya bercita-cita bisa kerja di Freeport dan Chevron, tapi punya cita-cita agar segera menasionalisasinya!

Tahun 2012, di UNJ benar-benar tak ada keramaian – ketika ribuan mahasiswa Universitas Jenderal Soedirman di Purwokerto melempari gedung Rektorat mereka dengan bom Molotov karena mahasiswa disana menganggap Rektor mereka sudah kehilangan nurani dan berkhianat kepada mahasiswa karena telah menerapkan UKT yang jelas-jelas malah menutup kesempatan banyak orang susah untuk kuliah.

Itulah yang membuat gerakan di UNJ tak pernah besar dan selama beberapa waktu berjalan di tempat. Karena kita amatlah ego, menganggap mahasiswa adalah mesiah bagi masyarakat tanpa sadar kalau mahasiswa UNJ telah mengalami kekalahan besar di kampus nya sendiri.

Pernahkah diajak memilih Rektor sendiri? Pernahkah dilibatkan dalam pengambilan keputusan? Kita tak pernah sadar kalau kita tak tahu apa-apa. Level pengambilan keputusan amatlah jauh dan rahasia.

Pemilihan Rektor yang tak pernah melibatkan mahasiswa adalah bukti bahwa kekuasaan masih menganggap kalau mahasiswa hanyalah anak-anak, sadarkah kawan kalau kita tak berdaulat atas kampus sendiri? Efek tak dilibatkannya mahasiswa dalam pemilihan Rektor adalah kebijakan-kebijakan Rektor bukanlah cerminan keresahan mahasiswa, karena ia tak pernah merasa dipilih oleh mahasiswa. Itulah barangkali yang menyebabkan Rektor ambil jalan pintas ketika kekurangan anggaran; yaitu dengan cara menaikan biaya kuliah mahasiswa.

Gerakan Mahasiswa di UNJ mulai-mulai bangkit dari tidur panjangnya di tahun 2015, berbekal pengetahuan tentang kasus perkosaan dan besaran biaya kuliah yang mahal, konsolidasi-konsolidasi besar dibuat. Rapat-rapat mahasiswa di kampus digelar. Puncak dari tuntutan-tuntutan mahasiswa ialah di Drop Out nya Ketua BEM UNJ di awal tahun 2016, sebagai respon penguasa kampus terhadap gerakan mahasiswa UNJ.

Kawan-kawan yang tercium sebagai pelopor gerakan dipanggil satu persatu oleh petinggi kampus, dipaksa meminta maaf kepada Rektor jika tak mau dipolisikan. Ada yang memilih minta maaf, tak sedikit pula yang menolak. Mereka yang menolak minta maaf memilih menjadi martir, karena tak pernah merasa melakukan kesalahan.

Satu persatu kawan-kawan UNJ dipanggil ke polisi karena dilaporkan oleh kampusnya sendiri. Suasana UNJ yang terik ketika itu mendadak mendung, ia menjadi kelabu. Seraya langit ikut bertanya; masih pantaskah UNJ mengejar-mengejar status World Class University jika kebebasan berpendapat saja sangat dibatasi?

Sebuah puisi dari Wawan, aktivis mahasiswa yang mati tertembak di Tragedi Semanggi kupersembahkan untukmu, kawan;

“Jangan takut, Ibu!
Jangan mau digertak,
Jangan mau diancam,
Karena ketakutan meningkatkan penjajahan.
Jangan sampai sungai waktu menghanyutkan ingatan-ingatan yang meranggas.”

(Aku bermimpi tentang Reformasi dan Demokrasi – Wawan, Puisi 1998)

Di kampus UNJ, menyalakan kebenaran bisa mematikan kehidupan. Baru saja beredar surat pemanggilan Dosen di UNJ, pak Ubaedillah Badrun karena kritiknya terhadap kampus lewat tulisan berjudul “Wajah Kampus Mulai Bopeng?” Laporan terhadap dosen ini ialah rangkaian dari laporan belasan dosen UNJ yang sudah lebih dulu dipolisikan oleh pihak kampus. Mereka dilaporkan bukan karena korupsi atau bertindak cabul, tetapi karena mengkritik kampus yang membuat telinga kekuasaan memerah.

Melihat permasalahan ini, hanya kata-kata Edward Said yang membuatku mengerti; intelektual adalah sosok pengasingan dan marjinal, sebagai amatir, dan sebagai pengarang sebuah bahasa yang mencoba membicarakan kebenaran kepada kekuasaan. Intelektual sejati berisiko dibakar di tiang, dikeluarkan dari komunitas, atau disalibkan. Sayyid Quthb mati di tiang gantung, Che Guevara dan Hasan Al Banna mati ditembak, Jose Rizal dieksekusi oleh rezim kolonial Filiphina, Munir diracun di udara, Wiji Thukul dihilangkan tanpa jejak.

Nyatanya memang seperti itu, di masa pergerakan nasional, Soekarno, Agus Salim, Sutan Sjahrir hingga Tan Malaka pernah merasakan diasingkan, dipenjara dan dijauhkan dari keluarga mereka, dari lingkungan mereka.

Penjara, kelaparan, ancaman pembunuhan hingga pukulan pernah dirasakan oleh mereka yang sepanjang hidupnya diabdikan untuk memerdekakan orang lain. Mereka menolak menjadi pragmatis, tidak mau bekerja untuk pemerintahan Belanda, berapapun gajinya. Masa muda mereka digunakan untuk menolong bangsa-nya yang dihina sebagai “monyet” dan “kerbau” oleh Belanda.

Menyaksikan petani-petani kurus dan buruh-buruh tambang yang di tembak oleh penjajah membuat Soekarno Muda ketika itu bertekad untuk mengeluarkan bangsanya dari kekejaman kolonialisme.

Maka datanglah ke pojok-pojok kantin, parkiran belakang, tongkrongan spiral dan sudut-sudut Musolah. Masuklah ke dalam warkop-warkop dan caffe. Kabarkan kawan-kawan yang sedang mentoring di Masjid maupun yang sedang diskusi di bawah pohon-pohon rindang. Bahwa jarak kemenangan itu hanya berkisar antara kening dan sajadah. Hasta La Victoria Siempre, Haya Alal Falah..

Di tahun 1977’78 militer pernah memasuki kampus IKIP Jakarta (UNJ), mereka memburu aktivis mahasiswa dan mengawasi tindak-tanduk mahasiswa agar tak melakukan demonstrasi di jalan. Maka kusimpulkan kampus ini sudah terbiasa dengan ancaman. Justru gerakan di UNJ akan terus membesar seiring dengan makin kerasnya sikap penguasa terhadap mahasiswa.

Kampus ini seperti hidup dalam sebuah prosa dari seorang kawan di Yogyakarta;

“Kau boleh saja menghancurkan taman bunga, tapi kau tak akan bisa menghalangi datangnya musim semi..”

Aktivis-aktivis di UNJ tak akan pernah bisa dihilangkan dengan mudah. Satu hilang, seribu terbilang. Musim semi segera datang dan akan menumbuhkan bunga-bunga baru yang aromanya tercium harum sampai ke luar.

Angkatan dan generasi selanjutnyalah yang akan meneruskan perjuangan angkatan-angkatan sebelumnya. Dan kami tak akan pernah bisa dikalahkan dengan mudah. Selamat datang Musim Semi Universitas Negeri Jakarta. Jadilah bunga-bunga yang bersemi..

Andika Ramadhan Febriansah
Mahasiswa UNJ

Komentar Kamu?

BAGIKAN
Ruang Publik Kepada Seluruh Civitas Akademika UNJ untuk menyampaikan kritik, & Saran. Yuk Kirimkan Buah Pikiranmu