Home Agenda

Nasib Anak Buruh Migran Kini Tanggung Jawab Siapa?

928
BAGIKAN

Dalam rangka memperingati Hari Buruh Migran Internasional pada 18 Desember 2015 silam. CIDES Campus (UNJ dan UIN Jakarta) bekerjasama dengan Migrant Institue menyelenggarakan diskusi publik dengan tema “Potret Hak Anak Buruh Migrant yang Ditinggalkan” yang berlangsung pada 23 Desember 2015 di Auditorium Maftuchah Yusuf, Universitas Negeri Jakarta. Pada kesempatan kali ini turut hadir Perwakilan Rektor Bidang Kemahasiswaan UNJ –Bapak Syamsi Setiadi, M.Pd, Directur Eksekutif Migrant Institute – Bapak Adi Candra Utama, Directur Eksekutif CIDES – Bapak Drs. Muh Rudi Wahyono, Dipl.Env, MMA, Perwakilan Komisi Perlindungan Anak – Ibu Maria Ulfah, Psikolog dan Pemerhati Anak – Ibu Perwitasari, Peneliti dan Analis Kebijakan Migrant Institute – Bapak Bara Brelian Atmaja, segenap perwakilan dari volunteer Migrant Institute, dan mahasiswa Universitas Negeri Jakarta.

Diskusi kali ini dilakukan untuk mempertemukan berbagai elemen yang berkaitan dengan pemenuhan hak-hak anak buruh migran, dengan tujuan mendapatkan solusi terbaik yang dapat dilakukan bersama-sama dalam menangani kurangnya pemenuhan hak-hak anak tersebut. Pada saat ini ada begitu banyak dampak yang dirasakan oleh anak-anak yang ditinggalkan oleh orang tua buruh migran, namun hal tersebut belum menjadi perhatian pemerintah sepenuhnya. Untuk itu dibutuhkan kekuatan-kekuatan dari masyarakat dan lembaga-lembaga swadaya masyarakat untuk bersama-sama mendorong pemerintah melakukan perlindungan hak-hak anak buruh migran. ”Negara tidak hadir dalam menolong anak-anak buruh migran. Lantas TKI kita mau bersandar kemana.” demikian yang disampaikan oleh Adi Candra Utama (Direktur Eksekutif Migrant Institute).

IMG-20151223-WA0008

Perilaku anak buruh migran mengalami perbedaan dengan anak-anak lain yang notabene mempunyai orang tua yang lengkap di rumah. Perilaku tersebuat nampak dalam hal emosional, yaitu perilaku yang terlalu agresif dan anak yang begitu pendiam. Hal ini karena ketidakhadiran orangtua anak yang bekerja di luar negeri sehingga mengakibatkan komunikasi antara anak dan orang tua terkendala. Sementara itu, pihak sekolah anak buruh migrant tersebut, belum melakukan tindakan represif untuk menangani hal tersebut. Pendidikan formal saat ini belum memiliki pendekatan khusus untuk menyikapi fenomena anak yang ditinggalkan oleh orangtuanya di luar negeri.

Menurut data, ada sekitar 4 juta buruh migran Indonesia yang tersebar di beberapa negara penempatan. Sekitar 3 juta dari mereka adalah perempuan dan memiliki rata-rata 2 orang anak. Jadi, ada sekitar 6 juta anak Indonesia yang hidupnya tanpa kasih sayang dari seorang ibu. Kalau pun dirawat ayah, kakek, atau neneknya, secara psikologis, akan berbeda jika dirawat oleh seorang ibu kelak ketika mereka telah dewasa.

“Peran mahasiswa dalam advokasi keluarga Buruh Migran harus berbasis pada riset akademik, dengan cara melakukan riset lapangan secara mendalam (in-depth research) di beberapa kantong seperti Brebes, Ponorogo, dan Indramayu,” ulas Ketua Umum CIDES Campus Ridwan Budiman. Ridwan menilai CIDES Campus saat ini tersebar di 7 kampus unggulan yang siap untuk membantu tugas pemerintah maupun Lembaga Civil Society dalam rangka mengangkat harkat dan martabat kaum dhuafa (lemah) tersebut. “Tujuh kampus unggulan tersebut adalah UNJ, UGM, UIN Jakarta, STIE Tazkia Bogor, STT PLN, Universitas Padjadaran, dan Universitas Indonesia (UI),” papar periset CIDES bidang Kebijakan Publik dan Advokasi Kebijakan ini.

Ridwan berharap dengan adanya kerjasama dengan pemerintah, para mahasiswa tidak hanya puas bergelut di dunia kampus saja. Melainkan, juga bisa secara riil melihat potret permasalahan struktural yang sering dijadikan sapi perah devisa, tanpa mengindahkan hak-hak keluarga yang ditinggalkan.

Acara berlangsung dengan khidmat dan antusiasme dari para mahasiswa begitu tinggi. Artinya, masih ada begitu banyak tonggak bangsa yaitu mahasiswa yang peduli terhadap nasib sesama bangsanya. Diharapkan akan ada langkah-langkah nyata dari berbagai pihak baik dari pemerintah, masyarakat, dan mahasiswa agar dapat memenuhi hak-hak dari anak buruh migran ini.

Ayu Wulandari Apriyanti – CIDES UNJ

Komentar Kamu?