Home Mahasiswa Karya

NEC Jakarta: 2313

256
BAGIKAN

Genre: Sci-Fi

Indonesia di abad 24 telah menjadi bangsa digital. Keberhasilan Indonesia memanfaatkan golden age nya di tahun 2045 membawa Indonesia bangkit dalam berbagai bidang, mulai dari prekonomian hingga kecanggihan teknologi.

Berbagai keberhasilan terus diraih di tahun-tahun berikutya. Hal tersebut menjadikan Indonesia menjadi bangsa yang unggul.

Berbagai prestasi yang diraih tentu merupakan hasil kerja keras dan pengorbanan para putra bangsa. Namun, jika dalam pencapaiannya ada sebuah tragedi yang justru disembunyikan, akankah semua berjalan dengan lancar? Atau, justru sebuah karma yang datang menuntut keadilan?

***

Menjadi perguruan tinggi dengan beragam disiplin ilmu menjadikan Universitas Negeri Jakarta (UNJ) masuk dalam Top 10 Universitas paling diburu calon mahasiswa se Asia. Berbagai jurusan bergengsi seperti pendidikan, kedokteran, hingga rekayasa teknologi merupakan program unggulan yang paling diminati.

Demi memajukan berbagai macam disiplin ilmu dan juga teknologi, para profesor di berbagai Universitas berusaha untuk menciptakan berbagai penemuan yang berguna. Profesor Angkara Javiar, seorang profesor dari Universitas Negeri Jakarta menemukan sebuah teknologi yang sangat mencuri perhatian. Tak hanya membanggakan nama UNJ di kancah Nasional, tetapi juga Internasional.

Network Education Connect (NEC) adalah hasil temuan Profesor Angkara yang paling mutakhir.

NEC merupakan teknologi terbaru dalam sistem pengintegrasian ilmu di era milenial. NEC adalah sistem terpusat segala bentuk penemuan baru di Indonesia yang berbasis di Jakarta, tepatnya di sektor 3 kampus G Universitas Negeri Jakarta.

Tahun 2313, adalah tahun ke 20 berlakunya sistem NEC.

NEC menjadi penghubung UNJ dengan seluruh lembaga keilmuan di Nusantara, dari Sabang hingga Merauke. Dengan NEC, setiap penemuan baru akan langsung disambungkan ke sistem, penemuan tersebut akan segera diuji, dan jika lulus tahap pengujian maka akan langsung disebar luaskan. Hal tersebut yang menyebabkan ilmu pengetahuan menjadi sangat up-to-date di Indonesia.

Kelebihan lain-nya dari NEC adalah mampu mengolah sebuah ide dan memberikan solusi berupa cara terbaik untuk pengimplementasiannya. NEC akan memberikan rangkaian informasi yang berisi perangkat yang dibutuhkan, cara, lama waktu, hingga bentuk prototype nya untuk beberapa ide yang terkait dengan teknologi peralatan tepat guna.

Dapat dikatan jika,

NEC merupakan sebuah mesin yang mampu mewujudkan berbagai macam keinginan manusia.

Kecanggihan NEC merupakan sebuah ide brilian, bahkan membuat beberapa negara tetangga iri. Sebenarnya, banyak negara yang berusaha untuk meniru sistem NEC. Namun, sangat sulit untuk menciptakan yang sama canggihnya dengan NEC, karena ada satu bagian khusus dan paling penting dari sistem NEC, yaitu cregorium.

Cregorium adalah sebuah sumber daya untuk mengaktifkan otak NEC. Energi yang dihasilkan 1 gram cregorium setara dengan 1000 mega ton uranium. Benda ini ditemukan oleh AutoAstro-Wesanggeni (pesawat ruang angkasa tanpa awak milik Indonesia) saat melakukan ekspedisi rutin pada jarak 1 tc (tahun cahaya) dari orbit bumi.

Cregorium yang ditemukan seukuran dengan bola golf dan diduga berasal dari planet yang hancur karena dampak ledakan bintang Betelgeus. Sulitnya mendapatkan cregorium, mebuat Indonesia menjadi satu-satunya negara yang memiliki unsur kimia tersebut.

Uranium yang semakin terbatas dan tidak adanya sumber daya pengganti cregorium yang lainya, menjadi alasan tak ada satupun negara yang mampu menciptakan NEC yang ke dua. Dan, karena itu pula, cregorium menjadi berkah sekaligus ancaman bagi Indonesia.

Tahun ini, UNJ membuka kesempatan bagi mahasiswa se Indonesia untuk bisa magang di Lab. NEC melalui seleksi yang dinamakan Sherlock Game.

Setiap pendaftar akan diuji melalui serangkaian test kemampuan fisik dan juga otak. Tak tanggung-tanggung, test fisik yang mereka jalani bahkan setingkat militer Nazi. 15 mahasiswa terbaik yang lolos seleksi akan magang di Lab. NEC selama tiga bulan. 15 kandidat yang lolos akan dibagi menjadi 4 gelombang, dimana setiap gelombang terdiri dari 3-4 mahasiwa.

3 kandidat terbaik gelombang pertama untuk periode September-November adalah:

  1. Sakih Prawira, biasa dipanggil Sakih. Seorang mahasiswa semester 5 jurusan IT.
  2. Abian Vahendra, biasa dipanggil Vean. Seorang mahasiswa semester 3 jurusan Rekayasa Teknologi.
  3. Devana Baluni, biasa dipanggil Baluni. Seorang mahasiswa semester 7 jurusan Komunikasi.

Dan secara kebetulan, ketiganya merupakan mahasiswa Universitas Negeri Jakarta.

Selama menjalani program magang, ketiganya akan tinggal di asrama dan seluruh keperluan serta akomodasi ditanggung oleh UNJ.

Hari pertama magang pun tiba. Sakih, Vean, dan Baluni kini menunggu di ruang pengawas. Setelah menunggu selama 10 menit, seorang wanita cantik berkulit eksotis serta mengenakan jas lab masuk ke dalam ruangan. Ia adalah Gista Asweta, kepala Departemen Pengembangan yang akan menjadi supervisor mereka selama magang.

“Oke, sekarang kita mulai magangnya, ya. Ayo Sakih, Vean, dan Baluni, kita ke Departemen Pengembangan di lantai 12.”

Ketiganya pun mengikuti Gista menyusuri NEC.

Lab. NEC memang sangatlah luas. Ukurannya hampir 3 kali stadion sepak bola. Sebagian dari wilayah NEC merupakan area reaktor nuklir cregorium.

Antara satu ruangan dengan ruangan yang lain di NEC dibatasi dengan sebuah dinding kaca. Akan tetapi, kaca tersebut bukan sekedar kaca biasa, karena tampilan kaca tersebut bisa diubah menjadi blur, gelap, ataupun dipenuhi dengan gambar.

Para peserta magang, selain mendapat ID cable (gelang hologram data diri serta alat komunikasi) juga mendapat sebuah robot yang disebut STEVE.

STEVE merupakan robot berwarna putih berwajah lucu yang memiliki dua kaki dan dua tangan, tetapi hanya seukuran satu setengah jengkal tangan manusia.

STEVE merupakan asisten digital bagi para pekerja di NEC. Robot-robot tersebut menyimpan banyak data dan informasi sesuai dengan kebutuhan penggunanya. Mereka juga dapat melakukan pekerjaan seperti asisten pada umumnya, seperti mengirim berkas, mengatur jadwal, membantu menyusun laporan, ataupun sekedar mengambil kopi.

Departemen Pengembangan adalah bagian yang melakukan penelitian. Beberapa ide yang telah mendapatkan cara pengimplementasiannya dari NEC, direalisasikan melalui departemen tersebut.

Saat memasuki area Departemen Pengembangan, terlihat banyak peneliti yang sedang melakukan penelitian atas ciptaannya. Mereka memasuki ruangan yang mengeluarkan cahaya berwarna biru. Sebelum masuk, mereka mengenakan kaca mata khusus berbentuk persegi dan berwarna biru dongker terlebih dulu.

“Selama kalian di sini, kalian akan membantu kami untuk menjalankan penelitian ini, menciptakan cregorium tipe baru yang akan lebih canggih tentunya. Kami menyebutnya VG 101.” Gista mengucapkannya dengan cukup keras. Mendengar kata-kata tersebut, seketika Sakih, Vean, dan Baluni nampak terkejut.

“Penelitian ini sudah berjalan selama 20 tahun. Berdasarkan perhitungan yang dilakukan oleh NEC, seharusnya penelitian ini akan segera tuntas di tahun ini. Namun, ada beberapa kendala yang kami hadapi, karena itu VG 101 baru rampung 80%. Kami membutuhkan bantuan dari berbagai pihak, termasuk kalian.” Gista berbicara sambil berjalan mengitari mesin pelindung VG 101, dan kembali menghadap ke tiga juniornya.

“Memangnya ada apa dengan cadangan cregorium kita? Mengapa harus membuat yang baru?” tanya Vean, ia memang sangat penasaran dengan hal tersebut.

“Cadangan cregorium yang kita miliki semakin menipis. Bahkan, sebelum memasuki abad ke 25, cregorium yang tersisa akan habis.”

“Dengan konversinya terhadap uranium yang begitu dahsyat? Bagaimana bisa NEC membutuhkan energi yang sangat besar seperti itu?” Kali ini Baluni yang berbicara.

Gista menarik napas cukup dalam, sebelum akhirnya menjelaskan. “Ketika mengolah sebuah ide, NEC akan menjelajah dimensi ruang dan waktu yang sangat banyak dan luas. Ia akan mengumpulkan segala informasi dari ratusan bahkan jutaan tahun yang lalu, tidak hanya masa lalu tetapi juga masa depan. Segala informasi relevan yang didapat akan dirangkum menjadi satu kesimpulan. Coba kau pikirkan, menjelajah dunia ruang dan waktu ke ribuan tahun berbeda, merekam setiap informasi dari penjelajahan waktu tersebut, memproses jutaan data yang didapat menjadi sebuah kesimpulan solusi terbaik dan semuanya dilakukan dalam waktu singkat. Mustahil hal itu terjadi tanpa energi penyokong yang sangat besar. Karena itulah, agar NEC bisa terus aktif, kita membutuhkan energi baru yang lebih mutakhir.”

“Apa yang harus kami lakukan?” tanya Sakih to-the-point

“Pertanyaan bagus. Untuk menciptakan VG 101, ada beberapa material bahan yang hanya bisa didapatkan di luar tata surya kita. NEC akan membawa kalian ke sana dengan sistem teleportasinya. Lalu, kalian yang akan mengambil materil langka tersebut.”

“Mengapa harus kami?” Sakih kembali menanggapi, tampak sedikit berpikir.

“Karena kalian telah melewati Sherlock Game. Kemampuan fisik dan otak kalian telah teruji. Saat menjelajah ruang dan waktu, lompatan dimensi yang terjadi menyebabkan kalian terkena kejutan listrik hampir 10 kali dari yang biasanya diterima oleh tubuh kalian. Tanpa fisik yang baik, mungkin kalian akan langsung mati. Selain itu, kondisi ‘disana’ tak bisa diprediksi. Kami butuh talent terbaik seperti kalian bertiga agar kesempatan misi ini dapat selesai sesuai harapan.”

“Apa imbalan yang akan kami dapatkan?” tanya Vean yang tampak makin antusias.

“Lencana Prawara.”

Satu reaksi serempak yang ditunjukan Sakih, Vean, dan Baluni.

Menahan Napas.

Campuran dari ekspresi senang, terkejut, dan tak percaya.

Lencana Prawara adalah lencana khusus yang diberikan oleh Presiden kepada putera bangsa yang telah berjasa sangat penting bagi negara Indonesia. Selama bertahun-tahun, baru 83 orang yang mendapat lencana tersebut. Nilai prestisius sebuah Lencana Prawara bahkan bisa menjamin karir dan kehidupan pemiliknya.

Okay, Let’s do it.” Sakih merespon pertama.

I’m in.” Vean turut serta merespon.

Me too.” Tanggapan positif juga diberikan oleh Baluni.

“Bagus. Kalau begitu, kita langsung bersiap dari sekarang.” Gista menyunggingkan senyuman di wajahnya.

Ketiganya melakukan persiapan selama 30 hari dengan menjalani serangkaian simulasi khusus. Mereka diajarkan cara menggunakan berbagai peralatan dan juga senjata, menerbangkan pesawat tempur-ulang alik, latihan fisik dengan mendaki tebing terjal, menghadapi cuaca ekstrim, dan juga bergelut dengan binatang buas.

Hari keberangkatan merekapun akhirnya tiba. Masing-masing mengenakan baju khusus. Mereka akan dibawa teleportasi ke Planet Octanoid beserta pesawat ulang alik AstroGalungung 7 (AG-7) sebagai kendaraan untuk menjelajah selama di sana.

Sakih memegang komando sebagai pilot. Setelah memverifikasi data diri masing-masing ke sistem NEC dan mengaktifkan warp, ketiganya langsung dibawa teleportasi ke tempat tujuan. Saat berada di dalam warp, semuanya terasa ringan, tetapi juga terasa beberapa sengatan listrik yang tak beraturan. Hanya warna putih yang nampak di sekeliling mereka. Begitu sampai di penghujung warp, hentakan yang keras mendorong AG-7 dan ketiganya keluar dari warp dan kemudian mendarat dengan ‘kasar’ di sebuah tebing curam berwarna merah.

Welcome to Octanoid.

AG-7 tampaknya kurang seimbang. Hempasan angin yang muncul tiba-tiba, mengakibatkan AG-7 jatuh ke jurang bersama 3 awak kapalnya. Untungnya, mereka masih selamat karena pesawat AG-7 tersangkut di sulur-sulur pohon yang terbentang diantara tebing jurang.

Karena gesekan yang cukup keras pada tebing, AG-7 mengalami kerusakan di beberapa bagian dan tidak bisa terbang. Walaupun setidaknya, warp masih dapat berfungsi dan mereka masih bisa pulang.

Material yang harus mereka temukan adalah OLZ-60, yaitu sebuah unsur yang sangat padat dan berwarna hijau.

“Apa kalian baik-baik saja?” tanya Gista melalui sambungan ID cable mereka.

“Ya, tapi sensor AG-7 rusak dan kita tak bisa mendeteksi dimana OLZ-60 berada. Mau tidak mau, kita harus menelusuri seluruh planet ini.” Sakih bersuara.

“Padahal kita tidak pernah tahu apa saja yang ada di luar sana.” Keluh Baluni.

“Tidak, kita tidak perlu menelusuri seluruh tempat.” Vean merespon sambil mengeluarkan sebuah box dari dekat kursinya. Yang membuat lebih heran adalah sesuatu yang ada di dalamnya. Itu STEVE!

“Kau… bagaimana bisa, Vean?” tanya Baluni heran. Pasalnya, STEVE asisten seperti milik mereka sudah diprogram hanya bisa aktif di wilayah UNJ. Kecuali STEVE patroli yang membantu pihak keamanan NEC.

“Jangan-jangan kau me-reprogram-nya. Benar, kan?” tanggapan cepat meluncur dari Sakih

“Tepat sekali. Programnya bernama Seventh Level. Sekarang Harvi bisa melakukan 7 kegiatan dalam waktu bersamaan. Kalau hanya mencari sensor sebuah benda, itu akan mudah.”

Sakih dan Baluni berkerut heran, “Harvi?”

“STEVE milikku, namanya Harvi.” jawaban dari Vean ditanggapi dengan O yang cukup panjang.

“Bagus Vean, Harvi-mu itu akan sangat membantu, walaupun itu melanggar peraturan. Baiklah, kalian harus berhati-hati agar tetap selamat. Kami akan terus memantau kalian dari sini. Segera hubungi kami jika terjadi sesuatu.” Gista berseru mengingatkan.

Sakih, Vean, Baluni dan Harvi keluar dari AG-7. Mau tak mau, mereka harus bergelantung pada sulur-sulur pohon yang terbentang sejauh 25 meter. Mereka tidak boleh jatuh. Berada 50 meter diatas dasar jurang, kemungkinan besar mereka akan mati jika terhempas ke dasar. Sekalipun tidak langsung tewas, masih ada sekumpulan hewan ‘asing’ yang tampaknya suka memakan daging dan mereka sedang kelaparan. Hal itu terlihat dari tindakan mereka yang sedang memakan secara kanibal spesies yang sejenis.

Setelah bergelantung di sulur, mereka masih harus menelusuri jalan ke Utara sejauh 2 km, menuju lokasi OLZ-60 yang ditunjukan pada sensor Harvi. Octanoid memiliki tanah berwarna merah dan kuning, cuacanya pun terasa kering. Setelah berjalan selama 1 jam, akhirnya mereka menemukan yang dicari. Bongkahan seperti kristal berwarna hijau berada di tengah pijaran kawah berlahar yang cukup luas. Di tengah kawah tersebut ada batu coklat yang tetap kokoh, diatas batu terebut lah OLZ-60 berada.

“Oh tidak, bagaimana kita ke sana?” Sakih kembali bersuara.

“Apa menurutmu, Harvi bisa mengambilnya, Vean?” tanya Baluni penuh harap.

“Kurasa bisa.” jawab Vean yakin.

Vean mengotak-atik Harvi sebelum akhirnya Harvi bertransformasi menjadi sebuah drone berpengait. Perlahan-lahan, Harvi melintas di atas pijaran lahar, dan berhasil menarik OLZ-60 ke atas. Harvi pun mendarat mulus di dekat ketiganya.

Eureka!

Siiing

Tiba-tiba, sebuah warp muncul dan menyelimuti keempatnya.

Mereka pun panik.

“Senior, ada apa ini?” Sakih bertanya kepada Gista melalui sambungan ID cable di tangannya. Namun, tak ada respon yang muncul, ID cable pun semakin buram.

Siiing

Mereka pun menghilang seketika dari tanah Octanoid.

Putih

Satu kata yang mampu mendeskripsikan tempat di mana mereka berada sekarang. Tempat ini bagai tak berujung. Kemanapun kau berlari, lagi-lagi kembali ke tempat awal kau berpijak. Waktu juga berhenti berjalan.

“Halo,”

Suara aneh muncul tiba-tiba bersama sesosok siluet transparan. Seorang kakek tua mengenakan jas lab.

“Maaf telah membuat kalian bingung. Aku adalah Prof. Angkara Javiar, pencipta NEC. Saat ini kalian berada di dimensi khusus milik NEC. Aku datang dari masa lalu.”

Sakih, Vean dan Baluni mengenali wajah tersebut, walau mereka tak pernah bertemu secara langsung dan hanya melihat wajah Prof. Angkara melalui foto dan layar hologram gadget.

“Benar! Anda memang Prof. Angkara Javiar yang melegenda itu. Aku mengenali kacamata dan senyuman itu. Kau adalah idolaku, Prof. Tapi, apa tujuan anda membawa kami ke sini?” tanya Vean.

“Aku ingin mengungkapkan tentang tragedi 25 tahun yang lalu. Dan juga tujuan terselubung pembuatan VG 101.”

“Tragedi apa? Dan, apa maksud dari tujuan terselubung itu?” Baluni turut menanggapi.

“Saat NEC masih dalam tahap penelitian, pernah terjadi ledakan yang menewaskan 16 peneliti. Namun, karena takut jika pendanaan NEC dihentikan, aku dan petinggi NEC lainnya menutupi kasus tersebut. Tujuh tahun yang lalu aku berniat untuk mengungkapkannya, tetapi petinggi di NEC menolak. Mereka justru menahanku dan menuduhku sebagai ilmuwan gila.”

“Lalu?” Sakih semakin penasaran.

“Masa depan adalah kelemahan NEC. Ketika ia menyimpulkan sebuah solusi, masa depan selalu menjadi bagian yang abu-abu. Beberapa prediksinya sempat meleset karena masa depan yang berubah. Para petinggi NEC pun menciptakan VG 101 tidak sekedar agar prediksinya semakin tepat. Namun, mereka juga berniat agar NEC bisa mengendalikan segala yang terjadi sesuai dengan prediksi awal. Setiap perubahan akan dianggap sebagai penyelewengan.”

Ruang putih dimensi tersebut pun berubah, menampilkan potret-potret dan rekaman pristiwa yang akan terjadi di masa depan.

Krisis kepercayaan masyarakat semakin meningkat. Pemberontakan terjadi di berbagai daerah. Masyarakat berdemo agar pemerintah menghentikan NEC.

UNJ sering menjadi sasaran setiap aksi demo yang dilakukan masyarakat. Namun, para pendemo banyak yang hilang tanpa jejak karena ulah NEC.

Otoritas yang diberikan kepada NEC menjadi sangat tinggi. NEC sebagai sebuah mesin dapat menentukan hal yang boleh terjadi ataupun tidak. Karena hal tersebut, NEC justru tak lagi dapat dikontrol, ia justru menjadi pengendali utama dalam kehidupan masyarakat.

UNJ yang tadinya kampus, berubah menjadi sarang penciptaan robot-robot keamanan digital. NEC menciptakan mesin tersebut untuk memperlancar aksinya dalam menegakkan prinsip ‘semua harus sesuai dengan prediksi awal, perubahan adalah penyelewengan’.

“Jadi, NEC akan diprogram untuk mengeneralisasi sebuah keadaan agar stagnan. Seakan-akan dunia ini tak memiliki pemikiran sendiri, dan menganggap jika kami tak punya keinginan untuk berubah. Setiap tindakan perubahan akan dimusnahkan. Begitu kah, prof?” taggapan muncul dari Sakih.

“Ya, kau benar” jawab Profesor Angkara.

“Itu bukan masa depan, itu bencana!” Vean histeris.

“Karena itulah, aku ingin meminta tolong agar kalian tidak memberikan OLZ-60 kepada mereka. Ungkap kembali tragedi 25 tahun yang lalu agar pemerintah segera menanganinya. Jangan sampai NEC disalahgunakan. Jangan biarkan UNJ, Universitas yang kita banggakan menciptakan monster hanya karena kepentingan golongan yang tak bertanggungjawab.”

“Baiklah, kami akan lakukan yang terbaik. Terimakasih karena anda masih mempedulikan kami. Kami tidak akan membiarkan UNJ menjadi monster, dan kami tidak akan biarkan bencana melanda bangsa kita.”

Siluet Prof Angkara pun memudar dan akhirnya hilang.

Siing…

Warp kembali menyelimuti keempatnya, membawa mereka kembali ke planet Octanoid.

Mereka kembali ke tempat ditemukannya OLZ-60.

Keempatnya pun segera menuju pesawat AstroGalunggung. Gista mencoba menghubungi para juniornya itu. Namun, Sakih, Vean, dan Baluni telah menonaktifkan ID cable mereka.

Mereka merubah tujuan teleportasi mereka, bukan lagi Lab. NEC seperti di awal, melainkan Istana Kepresidenan. Mereka harus segera melaporkan semuanya langsung kepada Andaru Rusli, Presiden Indonesia saat itu.

Pardox kembali terjadi. Kali ini disebabkan karena pihak NEC mencoba merubah haluan kami, yang mengakibatkan AstroGalunggung justru berteleportasi ke sky way kawasan Harmoni dan menabrak salah satu Mall.

Mobil yang kebetulan melintas pun seketika melakukan rem mendadak karena hampir bertabrakan.

Sakih, Vean, Baluni serta Harvi terus berlari, menuruni mall sambil membwa pistol laser jenis Revolt-11 (laser 4 lapis). Tatapan takut dan heran dilayangkan oleh banyak pengunjung ke arah mereka.

Selang beberapa detik, Capsule Car Patrol milik NEC telah datang dan memburu keempatnya.

Saat tiba di luar gedung mall, mereka segera meminjam (tanpa izin) mobil salah satu pengunjung dan terbang ke arah Istana.

Pihak NEC menembaki mereka. Begitupun sebaliknya.

Tembakan dari NEC tepat mengenai salah satu mesin pendorong mobil. Mobil yang dinaiki Sakih berserta yang lainnya pun menjadi tak seimbang. Mereka pun akhirnya mengambil ancang-ancang, bersiap untuk melompat ke atap gedung PT. Woka (perusahaan plat merah) yang ada di bawah mereka.

Untungnya mobil yang mereka tumpangi jatuh dan menimpa salah satu museum yang sedang tutup karena pemugaran.

Keempatnya berlari ke dalam gedung sambil menembakan laser ke arah Capsule Car Patrol.

Mereka menuruni tangga darurat dan mencari lift. Saat hampir meraih lift terdekat, Capsule Car Patrol sengaja menabrak dinding gedung yang terbuat dari kaca dan masuk ke dalam. Serpihan hasil tabrakan terpental ke segala arah dan mengenai Sakih serta teman-temannya.

Capsule Car Patrol datang bersama Gista. Mereka melepas beberapa STEVE patroli (STEVE berwarna merah) untuk menangkap Sakih, Vean dan Baluni.

Gista menembak Harvi hingga kaki kananya putus. Harvi pun terjatuh. Gista menghampiri Harvi, ia memencet tombol untuk membuka bagian dada Harvi, saat akan mengambil OLZ-60,

“Berhenti.” seru seseorang dengan suara berat dan gagah, membuat Gista menahan tanganya dan berbalik ke arah suara.

Itu Presiden!

“Apa yang kalian lakukan?” tanya Presiden Andaru Rusli.

Beliau datang bersama dengan ajudannya. Ia ternyata sedang mengadakan pertemuan dengan para petinggi PT. Woka yang notabene merupakan perusahaan milik negara untuk membicarakan tentang proyek pembangunan MRT bawah laut di kawasan Indonesia Timur. Mendengar kegaduhan yang terjadi, Presiden beserta para petinggi PT. Woka pun keluar dari dalam ruangan. Awalnya mereka hendak melakukan evakuasi, tetapi melihat Capsule Car Patrol milik NEC, Presiden menjadi ingin mengamatinya sebentar. Mengingat anak Presiden Andaru Rusli juga ada yang bekerja di NEC.

“Dia berniat mencuri benda itu dari kami, Pak Presiden!” Baluni berseru sambil menunjuk Gista. Gista hampir saja meraih OLZ-60, tetapi Harvi lebih dulu menutup dadanya kembali.

“Tidak. Bukan aku yang mencurinya, tapi mereka yang mencurinya dari NEC, Presiden Rusli. Mereka berniat menyeludupkannya. Percayalah padaku.” Gista membela diri.

“Tidak, kami tidak berniat apapun terhadap benda hijau itu. Kami hanya ingin menyerahkannya pada anda dan melaporkan hal penting, Pak.” Vean menepis tuduhan Gista.

“Tragedi 25 tahun yang lalu dan Project VG 101.” Ucap Sakih dengan tenang

“Kami punya bukti penting tetang dua hal tersebut. Izinkan kami menunjukannya pada anda.” Sakih memohon dengan nada tenang dan tatapan penuh keyakinan.

Presiden Andaru Rusli tampak berpikir sejenak. “Biarkan dia bicara.” Perintah sang Presiden. STEVE yang menjaga Sakih pun mengendurkan penjagaannya.

Sakih memutar rekaman bukti tragedi 25 tahun yang lalu dan juga rekaman potret masa depan yang telah ditunjukan oleh Profesor Angkara.

“Itu pasti telah dimanipulasi. Jangan percaya kepada mereka, Presiden Rusli.” Gista kembali berteriak. Ia melangkah mendekati Presiden, tetapi para ajudan Presiden menghalanginya.

“Anda dapat memeriksa sendiri keasliannya bersama tim telematika anda, Pak Presiden.” Sakih memberikan rekamannya ke arah salah satu ajudan Presiden. Presiden pun menerimanya dan membawanya agar rekaman tersebut segera diverifikasi keasliannya. OLZ-60 beserta Harvi juga dibawa oleh Presiden untuk diamankan.

Sakih, Vean, dan Baluni diamankan sementara oleh kepolisian kota karena telah menyebabkan beberapa kerusakan. Mereka hanya ditahan satu hari, karena keesokan harinya salah satu ajudan Presiden datang untuk membebaskan mereka. Untungnya, tidak ada koban jiwa. Walaupun ada sekitar 30 orang yang mengalami luka-luka.

Dua jam setelah pengujian, hasil rekaman telah terverifikasi. Tragedi 25 tahun yang lalu pun diungkap ke publik. Presiden mewakili negara meminta maaf kepada keluarga korban dan menyematkan gelar pahlawan bagi para peneliti yang tewas dalam tragedi tersebut.

Untuk sementara waktu, NEC akan dikarantina sampai verifikasi kegiatan operasinya dinyatakan aman. OLZ-60 juga ikut serta dikarantina untuk sementara. Walaupun NEC tidak berjalan seperti biasanya, tetapi perkuliahan di UNJ maupun lembaga pendidikan yang lain dapat berjalan seperti biasa tanpa kendala yang berarti.

Harvi juga telah diperbaiki oleh Vean. Ia juga semakin aktif dan gesit karena Vean telah menambahkan roda pada kakinya.

Sebagai apresiasi atas jasa Sakih, Vean, dan Baluni, mereka mendapatkan lencana Prawara dan menggenapkan jumlah pemilik Lencana Prawara menjadi 86 orang.

END

Oleh: Sarah Maryadi (Manajemen UNJ Angkatan 2013)

Tulisan ini dipersembahkan untuk Pesta Literasi 2017 yang diselenggarakan oleh UNJKita.

Komentar Kamu?

BAGIKAN

Ruang Publik Kepada Seluruh Civitas Akademika UNJ untuk menyampaikan kritik, & Saran. Yuk Kirimkan Buah Pikiranmu