Home Agenda

Notula Rubrik UNJKita Edisi Pengabdian Daerah: “Alumni UNJ Pulang Kampung untuk Mengabdi”

373
BAGIKAN

Salam inspirasi sobat UNJKita.com!

Pasca wisuda beberapa hari lalu, Tim UNJKita.com kembali menyapa sobat semua dalam Diskusi Online Ruang Terbuka (Rubrik) edisi Pengabdian Daerah. Lahirnya edisi ini diharapkan dapat menjadi masukan bagi para fresh graduate yang berasal dari daerah untuk kembali ke kampung halaman. Tak lain, tujuannya untuk menyejahterakan masyarakat di daerah asal dengan bekal ilmu yang diperoleh selama menimba ilmu di ibu kota.

Rubrik spesial ini dilaksanakan pada hari Minggu, 19 Maret 2017. Diskusi dilaksanakan selama dua jam dari pukul 20.00-22.00 WIB. Tim UNJKita.com menghadirkan Mardy Joeang sebagai narasumber yang telah memberikan pengabdian tulus di daerah asalnya, Banten. Ia ditemani oleh moderator Syahiidah Muthmainnah, sehingga diskusi berjalan sesuai rencana.

Bagi sobat yang tertinggal Rubrik sedari awal atau yang belum sempat bergabung dalam Rubrik, berikut ini adalah notula yang sudah disiapkan oleh kami.

Penasaran bagaimana sharing pengalaman yang dirasakan Kak Mardy? Kuy, scroll down!

Ialah Mardy Joeang, alumni FIS UNJ yang juga merupakan seorang penggiat pendidikan daerah Banten “Lentera Surosowan”. Mardy juga merupakan pemenang pemuda pelopor bidang pendidikan tingkat Provinsi Banten.

Mardy berasal dari pinggiran Provinsi Banten. Daerah rumahnya persis dekat pantai paling ujung dihimpit daerah industri. Tepatnya di Bojonegara, Kabupaten Serang, Banten. Saat ini Mardy sedang menjalani rutinitas sebagai pendidik muda pada salah satu SMA Negeri di Cilegon.

SESI MATERI

Gak banyak ya Kak, alumni yang mau dan mampu balik lagi ke daerahnya untuk memajukan daerahnya. Kakak salah satu orang yang Tuhan mampukan untuk itu. Apa latar belakang serta tujuan Kak Mardy yang memutuskan untuk mengabdi di daerah asal?

Tentang ini sebenarnya ada beberapa faktor. Salah satunya permintaan ibu saya selepas lulus ingin anaknya tetap pulang pergi ke rumah dengan pekerjaannya. Permintaan itu pun awalnya saya tolak, karena banyak tawaran kerja di Jakarta. Bahkan saya memutuskan cut proccess recruitmen pada salah satu PT Penerbitan di Jakarta. Alasan kedua, yaitu tentang masa lalu saya. Semasa SMA saya adalah aktivis OSIS dan Paskibra. Mengikuti kegiatan tersebut membuat saya akhirnya jarang pulang ke rumah dan kebanyakan di sekolah.⁠⁠⁠⁠ Efek dari itu adalah saya kurang dekat dengan teman-teman di kampung. Gak pernah dilibatkan dalam kegiatan masyarakat. Bahkan sampai saya dibilang kuper oleh bapak saya. Karena di sekolah begitu terkenal, namun di kampung cuma numpang tidur. Nasib berbuah manis. Selepas SMA, saya terdepak di Jakarta untuk kuliah.

Yah, bertambahlah saya tak kenal dengan masyarakat. Hanya tetangga dan saudara saja. Karena jarang pulang ke Serang. Dua tahun setengah saya menjalani aktivitas kaku. Kalau pulang ke Serang dari Jakarta hanya jago di rumah. Nah, disisi lain perubahan pola masyarakat hanya begitu-begitu saja. Tak ada yang istimewa. Tahun ketiga kuliah, akhirnya saya banting stir untuk bisa membagi waktu buat jadwal pulang kampung berkualitas. Agar bisa membaur dengan masyarakat. Padahal waktu itu saya di kampus sedang diamanahi sebagai Ketua Paguyuban Mahasiswa Banten UNJ, Ketua Forum Bidkmisi UNJ, dan Kelompok Penalaran LKM UNJ.

Akhirnya saya mulai gabung di kampung, ikutlah RISMA atau Remaja Islam Masjid. Disitu awal mula masyarakat saya bisa untuk nge-MC. Manajemen acara, social mapping, dan lain-lain. Tahun ke empat, saya bermimpi punya basecamp taman baca di kampung, buat pembinaan anak-anak disana. Alhamdulillah tahun 2016 terlaksana dengan sangat sederhana. Dan akhirnya sampai sekarang, masyarakat kalau ada acara buat nge-MC acara engga ngambil yang tua lagi. Yang muda bisa diberdayakan. Rasanya aneh saja, ketika saya yang sedang memperbaiki hubungan saya di masyarakat. Selepas lulus, saya kabur merantau lagi. Ternyata hidup bermasyarakat pun jauh lebih penting dari sekadar rupiah di kota.

MasyaAllah. Kereen. Jadi ini juga ya kak yang melatarbelakangi Kak Mardy untuk akhirnya memutuskan membangun daerah daripada kerja di Jakarta. Boleh dijelaskan gak Ka tentang Lentera Surosowan?

Nah, Lentera Surosowan sendiri lahir dari keinginan membangun daerah dari sektor pendidikan. Agar mengabdi di daerah tidak hanya saat menjadi mahasiswa bahkan bisa setelah jadi menjadi alumni. Dari semester 1, memang saya punya hutang untuk memberi solusi kepada Banten. Akhirnya saya banyak menulis artikel tentang Banten, karya ilmiah, PKM, sampai skripsi saya membahas tentang Banten.

Lentera Surosowan adalah wujud mimpi sosial saya dan teman saya di bidang pendidikan. Lentera Surosowan dirintis di kostan bareng temen sekamar dan sekasur waktu itu. Namanya, Moan (mantan Ketua KPM UNJ). Kebetulan beliau dari Cilegon.

Visi dari Lentera Surosowan adalah sebagai sumber belajar dan akselerasi pendidikan desa. Hingga tahun 2015, kami berhasil mengajak kawan-kawan dari Banten yang punya arah mimpi sama untuk pendidikan daerah. Terbentuklah tim untuk memperkuat yang sampai sekarang alhamdulillah masih utuh bahu membahu buat ke daerah.

Hingga detik ini, Lentera Surosowan masih aktif bergerak. Sebagai bagian misi pendidikan yang lahir dari kampus pendidikan untuk menerobos kualitas pendidikan. Jangan sampai pendidikan dipegang sama orang-orang yang bukan ranahnya dan paham pendidikan. Misal, IPB alumninya banyak menelurkan tokoh-tokoh pertanian atau agropreneur. Maka kami yang lahir dari rahim kampus pendidikan harus menonjolkan bidang pendidikannya.

LS bergerak secara independen, tanpa ada arahan dari pihak tertentu. Dan pendanaan masih dikelola swadaya dan tidak bergantung pada donatur. Dua tahun bergerak, salah satunya telah membimbing 15 orang dari keluarga kurang mampu untuk kuliah. Dan taun lalu diterima di PTN sebanyak 6 orang dengan beasiswa. Sudah lebih dari 100 orang mahasiswa luar Banten diajak bebarengan ke Banten untuk melihat realitas pendidikan di Banten, namanya Bebenah Pendidikan.

Wow! Ini keren!! MaasyaaAllah. Selama 2 tahun berjalan, adakah masa-masa tersulit dalam membangun LS ini?

Masa tersulit, karena kita bukan kumpulan orang-orang berduit, jadi agak susah membangun framing yang bagus di media. Bahkan kita di Banten bukan siapa-siapa. Agak susah punya donatur loyal selain kita sendiri. Bahkan kami saat ini belum mampu mengajak kawan-kawan dari UNJ yang notabennya orang Banten. Tidak sedikit sih yang mandang “buat apaan sih”.

Tahun 2015 akhir, saya dan tim menerobos kawan-kawan di Banten. Saya dipertemukan dengan kawan-kawan yang bergerak dengan hal serupa. Walau beda bidang. Banyak sharing, yang akhirnya Dispora Banten memilih saya sebagai Pemuda Pelopor atas rintisan pada bidang pendidikan. Sempat pula tim Kemenpora datang ke Taman Baca kita. Surprise-nya adalah kawan-kawan pensiunan dari perpusnas RI datang membawa beberapa kardus buku tanpa kita minta permohonan yang berbelit hanya selang sehari pengajuan. Besoknya rombongan dari Jakarta datang ke serang. Yah, kami sampai saat ini tak punya apa-apa. Hanya apapun yang saat ini bisa dilakukan, yah lakukan. Tahun ini kami bermimpi mempunyai badan usaha agar tak ketergantungan sama donatur. Dan bisa untuk mencicil bangun lembaga pendidikan humanis di Banten.

Bagaimana kesan Kak Mardy bisa mengabdi di daerah asal?

Saya merasa banyak bersyukur ketika nikmat yang sedikit ini bisa kami bagi ke orang lain. Dan itu berubah menjadi nikmat yang begitu melimpah. Walau kerja di Banten berpenghasilan cukup, dan ditambah berkegiatan komunitas pendidikan. Alhamdulillah, rezekinya cukup.

Bahkan perasaan seneng ketika melihat sekitar kita ada perubahan walau tidak banyak. Dulu, anak-anak di kampung sepi, kalau ada momen-momen seperti acara tahun baru Islam, hari pendidikan, nah sekarang mulai ramai diisi kegiatan anak dan diskusi. Ketika orang yang kita bimbing dulu, akhirnya ikut gabung juga di kegiatan sosial kami.

Karena membahagiakan orang sekitar dan membuat perubahan di masyarakat jauh lebih berharga ketimbang penghasilan yang lebih besar ya, Kak. Terakhir nih Ka dari saya, adakah pesan yang bisa disampaikan kepada peserta Rubrik (Mahasiswa UNJ) terkait pengabdian di daerah asal?

Kita boleh pergi jauh-jauh untuk menempa diri, kemana saja. Bahkan untuk kerja. Asalkan kita tak lupa daerah. Andai saja, orang-orang potensial berkumpul di daerah, tentulah kekuatan akan muncul dari daerah. Tapi yakin, kita tidak akan sendirian bergerak. Akan selalu ada yang menemani. Saya pun kalau ada masanya akan kembali merantau untuk sekadar melanjutkan studi lagi atau mengumpulkan strategi untuk membuat kekuatan yang lebih baik di daerah.

Moto yang selalu saya pegang yakni, “Suatu hari nanti kita tidak lagi sendiri dalam memperjuangkan desa. Ada aku di sektor ini, ada kamu di sektor itu, ada mereka di sektor yang lain”. Hidup di desa itu kita bisa hidup terhindar dari kebisingan lalu lintas, lihat sawah adem, ke laut deket. Atmosfer atau kualitas udara di desa jauh lebih baik, InsyaAllah.

“Suatu hari nanti kita tidak lagi sendiri dalam memperjuangkan desa. Ada aku di sektor ini, ada kamu di sektor itu, ada mereka di sektor yang lain”

SESI DISKUSI

Pertanyaan pertama:

Saya sebenernya ingin juga mengabdi di kampung halaman, namun langkah awal yang harus saya lakukan itu seperti apa? Jika saya ingin bergerak sendiri terlebih dahulu dari tingkat desa, dikarenakan angkatan saya kebanyakan merantau. Kemudian, Lentera Surosowan itu bergerak dalam pendidikannya di bagian apanya? Misal seperti rumah belajar atau semacam taman baca. Goal yang ingin dicapai dari LS itu sendiri apa ya? Oleh: Dina Islami, Sejarah UNJ

Jawaban

Bergerak mah kudu sendiri dulu, gak masalah. Lakukan dari yang paling mudah. Setelah itu, dekati kawan-kawan yang kiranya bisa kita ajak kolaborasi bersama. Misal, saya dulu hanya mengajak temen satu kamar saya. Dan akhirnya memberanikan diri mengajak kawan-kawan lainnya. Waktu itu hanya delapan orang. Dan sekarang formasi tim sudah bertambah. Orang lain pun sudah mulai tidak asing dengan gerakannya. Di desa, gandeng kawan-kawan perkumpulan anak SMA. Dulu pun saya telat, pas saya gabung yang gede seumuran saya sedikit. Bahkan kebanyakan SMA. Nah, di Saung Baca atau taman baca pun yang berdayakan anak anak SMA. Saya hanya mendampingi dan mengarahkan, tapi awalnya ikut turun tangan.

Untuk pertanyaan berikutnya, Lentera Surosowan kita singkat LS. Goal besarnya adalah ingin mempunyai sekolahan di Banten. Hasil rintisan anak-anak anak bidang pendidikan. Beberapa waktu ke depan kitalah yang akan mengambil guru-guru berkualitas dari kampus. Dan menjadi sekolah berkeadilan agar anak dari keluarga kurang mampu tetap punya akses sekolah.

Saat ini kita masih bertahap dan masih loading sebelum akhirnya take off membangun sebuah lembaga pendidikan. Seperti yang saya bilang di awal, saya dan tim realistis. Kami tidak punya dana untuk bangun itu. Nah, sekarang demi mencapai itu ya dilakukan sebisa dulu. Visi menjadi pusat sumber belajar insan desa sebagai pendorong percepatan pembangunan desa. Programnya sih ada tiga, yaitu:

1. Program Akselerasi

Pada program ini terdapat pemberdayaan masyarakat, pemuda dan anak. Ini kita tampung ke saung baca. Namanya, Saung Baca Insan desa. Bisa di cek di FB nya yah. Saung baca ini kita dirikan sebagai kepanjang tanganan LS.

2. By Event

Ada dua program, seperti Bebenah Pendidikan Banten. Kita adakan event 4 hari 3 malam didesa. Kebanyakan volunteer dari luar Banten. Kedua, yaitu Program Pendampingan dan Pengembangan Bibit Unggul Desa (P2BUD). Program ini untuk mengajak anak-anak desa buat kuliah. Kita bimbing dua bulan untuk persiapan SBMPTN dan beasiswa.

3. Sociopreneurship

Nah, ketiga ini bagian dari fundrising agar dana dana kegiatan sosial kita upayakan dari sini. Nah profitnya kita kerahkan untuk kegiatan. Saat ini ada jualan kaos. Kalau nanti ingin lihat bisa cek IG Lentera Surosowan yah. Dan beberapa badan usaha yang lagi dirintis.

Tanggapan dari penanya: Masyaa Allah, sudah puas dengan jawaban Kak Mardy. Kalau boleh tanya satu lagi terkait pembagian waktu kakak, antara kerja, pengabdian dan keluarga, bagaimana Kak? Terimakasih.

Tanggapan dari pemateri: Pembagian waktunya alhamdulillah kadang ada yang dikorbanin. Salah satunya keluarga. Tapi pelan-pelan, keluarga paham. Kalau tidak pulang berarti menginap di Saung Baca atau ada kegiatan di luar. Alhamdulillah saung baca deket rumah bisa jalan kaki. Kegiatan di Saung Baca setiap malem aktivitasnya. Siang itu bebas. Mau baca silakan, dikunjunginya bebas aja. Jadi, jam 7 ke sekolah sampai jam 4. Pulang, istirahat. Selepas Isya ke Saung Baca. Ketemu anak-anak. Atau ngisi materi. Bahkan rapat. Tapi bisa seminggu full kadang cuma tiga malem aja. Kadang, pagi baru pulang dari taman baca karena tidur di sana. Dan, tim kebanyakan di Jakarta. Kalau ada kumpul di Jakarta ya, diusahakan saya ke Jakarta kalo lagi free. Kenapa malam, karena kalau siang, anak-anak sekolah dan saya nguli di sekolah atau tempat lain.

Pertanyaan kedua:

Makna kata Lentera Surosowan itu apa sih kak? Oleh: Annisa Indriyani, PGSD FIP UNJ

Jawaban: Lentera itu artinya cahaya. Nah, Surosowan diambil dari sebuah panembahan dan sekarang ada benteng megah di Banten. Dengan menggabungkan kedua kata itu, kita bermaksud ingin menerangi Banten dengan pendidikan.

Pertanyaan ketiga:

Saya ada niatan untuk membangun pendidikan di daerah dan berencana memulainya dari Banten tepatnya di daerah Pandeglang. Namun, ada kendala karena saya bukan orang asli sana. Sehingga, setiap perkembangan di sana tidak terpantau dengan baik dan balik lagi ke daerah tersebut masih sangat jarang bahkan masih sesempatnya saya. Jadi, ketika saya kembali kesana beberapa kali sudah cukup banyak yang berubah dan untuk hal ini saya masih bergerak sendiri. Kesimpulannya saya mau minta tips ataupun saran kak untuk permasalahan tersebut? Oleh: Yuly Hermaeni

Jawaban: Sederhana sih. Untuk pertanyaan kamu, bisa gabung ke kita ya teh untuk awalan. Rencananya juga kita akan bangun Saung Baca Insan Desa di Pandeglang sebagai daerah eduwisata. Ini lagi digarap sama tim. Karena untuk awalan merintis ya harus sering-sering di tengok jangan banyak ditinggalin. Setelah settle, nah baru deh bisa dipantau jarak jauh. Kalau lagi di Pandeglang bisa nanti meet up bareng tim kita. Atau kalau di Jakarta bisa ketemu Wahyu, Ppkn 2013, Nadi Sejarah 2015, Hera Geografi 2015 untuk sharing-sharing. Beliau dari Pandeglang. Barangkali programnya sama, kan bisa dikolaborasikan.

Pertanyaan keempat:

Adakah strategis khusus untuk membangun pendidikan banten supaya bisa naik menjadi min 1 tingkat dari yang sekarang? Lalu, Apa tanggapan kakak-kakak semua melihat kondisi pendidikan di Banten? Yang sangat kontras sekali perbedaannya. Contohnya antara kota Tangerang dan kab Tangerang? Di kabupaten Tangerang masih banyak anak yang masih berpikir dua kali untuk kuliah atau mengingkat status pendidikan, dikarenakan banyak faktor. Tapi beda di kota Tangerang, di kota semangat kuliahnya selalu ada. Kita berhadapan dengan masyarakat, adakah motivasi khusus untuk masyarakat? Dan jika sedang berhadapan dengan adik-adik di lingkungan, memakai sistem apa? Apakah diskusi atau penyuluhan? Oleh: Byka

Jawaban: Membangun satu level lebih baik dari sebelumnya bukan perkara mudah. Karena setiap sisinya didukung tidak hanya satu sektor. Misal, dari pemerintah pun ikut membenahi. Nah, kita yang bukan dari tatanan pemerintah enggak bisa lansung cling urusan beres. Paling tidak, kita bisa menjadi bagian dari pencerdasan masyarakat tentang pentingnya pendidikan. Emosional di kota sama desa jelas beda. Dan itu kita tidak bisa samakan pendekatannya. Mindset-nya tetap mengajak dan menghadirkan.

Kita hadir di masyarakat bukan menjadi seperti pahlawan, lalu menganggap masyarakat lebih rendah dibanding kita. Tapi, jadilah mediator yang berjalan sama rendah atau sama tinggi. Kebiasaan kita ke desa ber-mindset pendidikan mereka lebih buruk. Kita tak boleh menjual tren keburukan di desa agar kita masuk dianggap pahlawan. Sejauh ini saya pun masih mencari formula yang tepat. Kita sedang ikhtiar ke arah sana.

Datanglah ke masyarakat sebagai mitra. Dan adik-adik sebagai partner. Kita sama-sama saling mendukung. Kalau ke masyarakat ya dengan cara event rame-rame. Masyarakat akan datang. Kalau ke adik-adik langkah awal dengan kegiatan bersama yang melibatkan mereka.

Pertanyaan kelima:

Untuk LS ini kan cakupannya se-Banten, sedangkan yang saya tahu, di Banten juga ada organisasi/paguyuban yang tujuannya mungkin tidak jauh beda dengan mengajar atau membangun pendidikan di pelosok desa, ada yang namanya ISBANBAN (Istana Belajar Anak Banten), nah apakah untuk kedua organisasi/paguyuban ini saling bekerjasama atau bagaimana? Lalu, Di Banten tentunya banyak organisasi/paguyuban yg memang ranahnya ke arah pendidikan, mungkin Kak Mardy tahu terkait PAGUMA? Nah ktika suatu organisasi ingin ikut bkerjasama dan bergabung dalam berbenah pendidikan di Banten bagaimana ka? Minimal LS ini juga saya harap selaku ketua PAGUMA yg sekarang, bisa menyebar luar ke daerah Lebak. Oleh: Adhi Firmansyah, Teknik Mesin UNJ, IKMB

Jawaban: LS hadir tidak lagi untuk bersaing dengan Isbanban atau organisasi lainnya. Kita sedang gotong royong membenahi apa yang kami bisa gerakan dari dalam diri. LS orientasinya tidak mengajar di pelosok. Kita sentuh dari jarak terdekat. Kalau yang terdekat belum mendapatkan akses pendidikan, ya kita upayakan dari yang bisa kita akses. Kita bangun kutub pertumbuhannya dahulu. Karena kalau dekat akan bisa kita pantau secara rutin.

Kenapa akhirnya kita membangun LS, kenapa tidak dengan paguyuban mahasiswa misalnya.  Dulu pun berpikir itu, tapi ternyata memakai lebel mahasiswa membawa sekat. Karena kalau bukan mahasiswa, mereka akan enggan bergabung. Dan setelah lulus, status mahasiswa berubah. Kita pun membuka diri dengan siapapun. Pernah LS bekerjasama dengan Laz Harfa Banten, Bukamata.org, FTBM Serang, Youth Banten, penggiat sastra Banten, Rumah Baca al Hadi, Kampung Sarjana, FBM UNJ, IKMB pun sudah, dan lain-lain. Kami lahir dari IKMB, dan sampai hari ini kader-kader IKMB yang mau bergerak leluasa di Banten kita wadahi secara luas.

Tanggapan penanya: Wah mantep ka, siaplah siap! Makasih ka atas jawabannya. Dan mungkin Kak Mardy juga tahu Kak Ari yang founder PAGUMA, prodi Teknik Elektronika 2011 kalau ga salah.

Jawaban: Sejauh ini kami pernah duduk bareng sama Isbanban, termasuk ke Panzi, tapi setelah membaur, ranah kita berbeda. LS fokus ke akselerasi pendidikan daerah dan sumber belajar bagi masyarakat.

PENUTUP  

Kita sama sama belajar memberi kebermanfaatan untuk masyarakat. Yang membuat cukup itu bukan harta. Yang membuat cukup itu bukan juga benda. Yang membuat cukup itu Allah.  

Semangat! Ditunggu kontribusi dan kebermanfaatan lainnya di daerah masing-masing. Untuk silaturahim boleh add atau invite facebook atau instagram yah.

Lentera Surosowan

FB: Lentera Surosowan

IG: @lentera.surosowan

Telah menjadi tugas pemuda untuk menawarkan masa depan dalam solusi nyatanya. Menghidupkan sendi-sendi semangat perubahan rakyat untuk kehidupan yang lebih baik. Sederhananya, kembali, kenali, dan berbagi untuk perubahan yang lebih berarti.

(Tetap) nantikan Rubrik edisi berikutnya dengan tema dan narasumber yang lebih spektakuler! Salam rindu dari masyarakat untukmu, sobat UNJKita!

Komentar Kamu?

BAGIKAN
Pendidik anak usia sekolah dasar yang terhipnotis dengan dunia tulis-menulis dan public speaking~