Home Suara Anda Opini

Pendidikan, Sudikah Kau Dipermainkan (Lagi)?

675
BAGIKAN

Bagai pelangi yang berlapis-lapis, pendidikan pun seperti itu. Tidak cukup sekali saja dilakukan, melainkan perlu adanya perbaikan secara terus menerus untuk membentuk generasi yang lebih gemilang dari masa ke masa. Namun, dalam hal ini bukan seperti menulis dengan pensil di buku tulis yang apabila tidak sesuai kehendak maka dapat segera dihapus kemudian diganti dengan tulisan baru. Ini tentang bagaimana cara mendidik terbaik, keefektifan membagikan ilmu, menciptakan insan yang berkarakter kuat dan baik, memahami ilmu dengan makna yang betul, dan hal lainnya yang bisa menggambarkan kesempurnaan wajah pendidikan.

Seringkali kita melihat di televisi baik sinetron, kartun, atau film bagaimana gambaran seorang guru ketika masuk ke dalam kelas? Masuk kelas dengan wajah stay cool, duduk di tempatnya, siswa memberi salam beramai-ramai, kemudian guru menjawab, mengecek kehadiran siswa, kemudian langsung memulai pelajaran dengan menjenuhkan. Terlebih lagi, tempat duduk siswa selalu berdua-berdua dengan jajaran rapi ke belakang dan memang selalu seperti itu. Lalu di mana cerminan suasana kelas yang menyenangkan dari hal tersebut?

Beberapa tahun terakhir, istilah student centered sedang booming di dunia nyata maupun dunia maya. Student centered adalah suatu pendekatan yang dilakukan untuk mencapai pembelajaran yang berpusat pada aktivitas siswa. Guru bukan lagi satu-satunya sumber ilmu yang saklek melainkan guru juga bisa belajar dari siswa (secara tidak langsung). Guru pun dituntut untuk membuat siswa aktif dalam memahami konsep materi atau poin penting lainnya sehingga diharapkan siswa dapat belajar dari pengalamannya. Menarik bukan? Karena memang sebelum hal ini dijadikan sorotan, nyatanya guru masih sangat banyak yang “tidak mau ambil pusing” tentang bagaimana kondisi siswa setelah ia ajar. Hal yang terpenting yaitu materi sudah disampaikan sesuai silabus (bahkan RPP pun seringkali hanya dijadikan formalitas). Terkait siswa memahami atau tidak bukan lagi urusannya. Memang mungkin tak sekejam itu, tapi begitulah fakta yang hampir sebagian besar terlihat di lapangan. Miris bukan? Padahal pemerintah sudah menggelontorkan dana besar untuk melakukan perbaikan ini dan itu di segala sisi bidang pendidikan.

Keseriusan pemerintah pun dituangkan dalam pergantian kurikulum lama dengan kurikulum yang lebih spesifik menggambarkan student centered. Kurikulum 2013 namanya. Kurikulum yang menggunakan pendekatan scientific dalam pelaksanaannya. Namun, ketika melihat di lapangan seringkali guru tidak menjalankan kurikulum tersebut dengat baik. Siswa belajar seperti sebelumnya (teacher centered). Siswa juga belum terlalu memahami perihal kurikulum yang diadakan untuk lebih memberikan hak-hak mereka selama KBM (Kegiatan Belajar Mengajar).

Terlebih lagi jika ditinjau lebih dalam, perbedaan antara kurikulum 2013 dengan KTSP 2006 memang tidak ada perbedaan yang signifikan dalam hal proses belajar. Kurikulum yang baru tersebut hanya lebih memerinci kurikulum yang lama. Artinya sebenarnya pemerintah tidak perlu “repot-repot” mengganti kurikulum untuk menerapkan pembelajaran berbasis student centered, melainkan akan lebih baik jika memfokuskan pada pencerdasan terhadap para guru terkait kurikulum yang sebelumnya sedang diterapkan. Guru hanya perlu memaksimalkan proses pembelajaran yang ia lakukan di dalam kelas dengan penuh kesadaran dan berpegang teguh pada visi yang sama yaitu mencerdaskan kehidupan bangsa (dengan cara memknai setiap proses pembelajaran dalam kelas).

Alhasil, dapat kita saksikan bahwa kurikulum 2013 yang telah dicetuskan dan diterapkan dengan “terburu-buru” ini pun tidak berjalan dengan gemilang. Sekolah-sekolah yang telah dijadikan sample untuk menerapkan kurikulum ini pun diminta untuk kembali ke kurikulum sebelumnya. Hanya sebagian kecil yang memutuskan untuk tetap menerapkannya. Bisa jadi memang “sudah terlanjur basah” menurut pihak sekolah. Baiklah, ini menjadi pelajaran yang sangat berarti untuk para akademisi dalam memutuskan kebijakan selanjutnya. Semoga generasi Indonesia dapat menjadi contoh yang baik bagi negara lainnya, minimal bagi lingkungan sekitarnya.

Bagai memanjat tebing di pegunungan, kita harus memilih batu atau pegangan yang kuat jika ingin terus melangkah sampai puncak. Apabila kita memungkiri hal tersebut, bersiaplah untuk mengalami hal yang tidak diinginkan. Itu pula yang terjadi dengan pendidikan.

Komentar Kamu?