Home Berita

[PRESS RELEASE] “APA KABAR WAHAI KAMPUSKU?”

363
BAGIKAN

“Orang yang tidak berjuang, maka dia tidak hidup.” -Unknown.

Jakarta, (10/05) – Tim Aksi Fakultas Ilmu Sosial Universitas Negeri Jakarta (Red Soldier) mengadakan diskusi terbuka mengenai keresahan yang dirasakan oleh masyarakat UNJ. Kegiatan ini berlangsung di Arena Prestasi FIS pukul 16.15 Waktu Indonesia Berjuang.

Pemantik dari diskusi terbuka dengan tema, “Apa Kabar Wahai Kampusku?” ialah Achmad Muad S. selaku Kadept. Dagri BEM UNJ 2017/2018 dan Latifah selaku Pemimpin Umum Didaktika UNJ 2017/2018. Diskusi ini dihadiri oleh beberapa dosen serta mahasiswa UNJ.

Achmad Muad S. selaku pemantik pertama memaparkan perihal isu kampus yang begitu meresahkan masyarakat UNJ. Seperti isu sarana dan prasarana yang tidak mengedepankan keterbukaan dan transparansi dana. Ketika pembangunan wisma lebih diutamakan, daripada perbaikan bobroknya fasilitas kampus yang tidak sesuai dengan nominal UKT.

Kemudian, Latifah selaku pemantik kedua memaparkan perihal isu kampus yang melaksanakan pembangunan secara tumpang tindih. Semisal, parkiran spiral yang dikabarkan akan direnovasi sesegera mungkin, karena jika dibiarkan terus menerus akan menuai polemik dengan KPK. Lantas, jika renovasi dilaksakan ketika perkuliahan aktif, apakah tempat parkir yang ada memadai untuk seluruh kendaraan masyarakat UNJ?

Hari ini, UNJ sedang dalam fase yang tidak baik-baik saja. Jaket almamater kita terlalu mahal untuk hal ini. Sebab, ketika mahasiswa dilindungi oleh Undang-Undang untuk berpendapat, mengapa justru kampus kita tercinta ini begitu membungkam suara kita?

Kultur yang dibungkam secara sepihak hari ini ialah kultur profesionalisme, intelektual, dan demokrasi. Profesionalisme penggunaan dana begitu dipertanyakan oleh seluruh masyarakat UNJ ketika sesuatu yang dibangun tidak sesuai dengan apa yang diwacanakan. Kedua, intelektual seolah sengaja dibuat mati suri dengan minimnya pembinaan dan dukungan dari segi pendanaan. Yang terakhir, ialah pembungkaman kultur demokrasi. Tercatat, 16 dosen yang harus berurusan dengan kepolisian hanya karena menyuarakan aspirasi. Pun dengan mahasiswa yang diancam keberadaannya karena menuliskan kritik yang membuat ‘rezim panik’.

Dari hasil diskusi terbuka hari ini, telah disepakati untuk membuat aliansi pergerakan. Aliansi ini dikoordinatori oleh Burhanuddin, dengan Sekretaris M. Hafizh dan Bendahara Atika. Kemudian juga ada koordinator fakultas, yaitu Hadi (FMIPA), Eki (FBS), Sere (FIS), Danu (FT), Fiko (FE), Ihsan (FIP), dan Putra (FIO).

Selain koordinator per fakultas, juga dibentuk beberapa koor khusus, yaitu :
👉 Koordinator data dan pengarsipan : Latifah dan Muad
👉 Koordinator MedPro : Galih dan Fauzi
👉 Koordinator utama diskusi : Fajar Subhi dan Erfan

Tentu besar harapan terhadap kontribusi kita untuk bersatu memperbaiki atmosfer kampus kita yang semakin menipis. Maka, perlu bagi kita untuk kembali diskusi, konsolidasi, dan terus merapatkan barisan.

“Kau lempar aku dalam gelap, hingga hidupku menjadi gelap. Kau siksa aku sangat keras, hingga aku makin mengeras. Kau paksa aku terus menunduk, tapi ku putuskan tambah tegak. Darah sudah ku teteskan dari bibirku. Luka sudah kau bilurkan ke sekujur tubuhku. Cahaya sudah kau rampas dari biji mataku. Derita sudah naik seleher. Kau, –menindas sampai diluar batas.”-Derita Sudah Naik Seleher (Wiji Thukul, 17 November 1996)

Maka, hanya ada satu kata: LAWAN!

Koordinator Aliansi : Burhanuddin

#HidupMahasiswa
#HidupDosen
#HidupMasyarakatUNJ
#CumaDiUNJ

©Red Soldier FIS UNJ

Komentar Kamu?