Home Mahasiswa Karya

Rawamangun Kampus Perjuangan

303
BAGIKAN

Tribute to FMI dan seluruh Mahasiswa UNJ yang masih percaya dengan perubahan

Rawamangun, 1978 – “Bung! Kudengar tentara sudah mengepung kampus Salemba. Militer-militer itu mendobrak pagar, mengitari lorong-lorong kampus, mereka menodong rekan-rekan kita dengan senjata, dan menangkap mahasiswa-mahasiswa yang masih ada di UI pada jam-jam 7 malam tadi. Kita harus siaga bung!”

Teriak seorang mahasiswa kepada kawan-kawannya yang kelihatannya sedang sibuk memenuhi poster-poster kosong dengan tulisan dan warna.

“Aku sudah mendengar itu” temannya menanggapi.

“Kau tak perlu takut, ayo bantu tempel poster ini. Penuhi dinding-dingin kampus dengan poster dan spanduk yang sudah kita coret sebelum fajar benar-benar tiba. Tunjukan kalau basis perjuangan di Rawamangun masih ada.”

Beberapa mahasiswa itu bertahan di kampus IKIP Jakarta Rawamangun untuk berjaga-jaga di sekitar sekretariat Dewan Mahasiswa – yang belum lama ini dibubarkan oleh petinggi militer dengan tuduhan kalau Dewan Mahasiswa bertindak subversi dan ganggu keamanan. Mereka juga berada dalam bayang-bayang pemenjaraan, karena pada masa itu, berani mengkritik penguasa artinya harus siap merasakan masuk dalam penjara rezim Orde Baru.

Raut muka mahasiswa-mahasiswa pada tengah malam itu benar-benar terlihat gugup. Bukan hanya was-was akan kedatangan tentara, dalam kesunyian di antara pepohonan yang daunnya rindang, salah seorang dari mereka bertanya,

“Bung, bagaimana seandainya tentara benar-benar datang dan menangkapi kita?”

Rekan-rekannya yang mendengar hanya diam dan menunduk.

Anak-anak muda yang biasanya bernyali dan sangat keras menentang rezim kini terlihat murung dan jatuh dalam kegelisahan yang sama. Membayangkan wajah orangtua mereka di rumah yang sudah mulai ringkih, sedang bertani, jadi kuli cuci, atau yang panas-panasan nyopir angkot agar anaknya bisa lanjut kuliah dan jadi sarjana.

Ingatan-ingatan itu mengantarkan salah satu di antara mereka kembali ke kurun waktu yang cukup lama, betapa harunya, betapa tak terpikirkannya, ingatan yang membawa anak muda itu melakukan perjalanan waktu ke masa-masa akhir sekolahnya, melihat Ibu dan Bapak yang sudah mulai keriput, mengantar kepergiannya ke kota..

“Nak, Ibu titip kepercayaan padamu. Sing apik kuliahe le di Jakarta. Nanti kalau kau sudah sarjana, kau jangan malu jika ibu dan bapak menjemputmu pakai becak di acara wisuda..” Ucap Ibu.

Ia membalas ingatan akan pesan ibunya dalam hati, “Pak, Bu. Aku sudah berusaha membahagiakan kalian dengan menepati janji kalau aku akan kuliah dengan benar. Namun menjadi orang benar di negara ini justru membuatku menjadi celaka.”

Seketika, ingatan akan pesan ibu itu pecah di tengah jalan karena teriakan seseorang dari kejauhan.

“Tentara! Ada tentara bung!”

seorang mahasiswa datang dengan berlari-lari dari arah gerbang kampus Rawamangun, nafasnya terpogoh-pogoh. Ia memberitahu rekan-rekannya kalau Panser-panser dan Tank-tank militer sudah mengepung areal kampus Rawamangun.

Melihat mimik muka kawan-kawannya yang mulai gugup dan panik, ketua Dewan Mahasiswa IKIP Jakarta berusaha menenangkan mereka dengan merangkul satupersatu bahu mereka..

“Jangan takut kawan, tak ada kata jera dalam perjuangan. Kampus kita ini menjadi ujung tanduk perjuangan kebenaran, perjuangan rakyat miskin dan perjuangan orang-orang yang menderita. Maka kukatakan jauh lebih terhormat hari ini kita ditangkap dan menjadi narapidana di sebuah republik yang presidennya adalah seorang Tiran dan pencuri.”

Angin Rawamangun berhembus begitu kencang, menembus kulit dan menusuk tulang anak-anak muda yang berhadapan dengan Tank-tank dan Panser-panser militer.

Mahasiswa-mahasiswa itu coba berdamai dengan kegelisahan, ketika tentara mulai menendang pagar dan mendobrak pintu-pintu kampus, mencopot paksa poster-poster dan spanduk protes. Disusul dengan pemburuan dan penangkapan besar-besaran mahasiswa di seluruh area kampus Rawamangun.

Di tengah proses perburuan dan penangkapan mahasiswa di Rawamangun, muncul dua orangtua dari balik selimut kegelapan. Yang satu adalah Rektor IKIP Jakarta, Winarno Surakhmad, yang satunya lagi bernama Mahar Mardjono, Rektor UI.

Kedatangan mereka ibarat sebuah lilin yang memecah kegelapan. Terlihat tangan-tangan paruh baya itu dibentangkan selebar-lebarnya untuk menghalangi tentara yang ingin mengangkapi mahasiswa-mahasiswa mereka dari kampus Rawamangun.

Mahasiswa-mahasiswa itu patut berbahagia! Karena mereka hidup pada zaman dimana Rektor-rektor, dekan-dekan dan dosen-dosen di kampus rela berkorban untuk mahasiswa dan siap pasang badan untuk melindungi mahasiswanya dari berbagai ancaman.

Namun, sekuat apapun Rektor-rektor itu menghalangi, tetap saja sepatu lars tentara dan kepalangan tangan militer jauh lebih kuat. Mahasiswa-mahasiswa di Rawamagun pun ditangkap dan digiring ke rumah tahanan.

Pengadilan bagi para mahasiswa yang dituduh pemberontak segera digelar. Di dalam pengadilan, salah seorang perwakilan mahasiswa membacakan pledoi pembelaannya.

“Kami tidak akan melakukan apa yang biasanya dilakukan oleh banyak tahanan, yaitu meminta kebebasan sebagai terdakwa. Hukum lah kami, adalah suatu kehormatan bagi kami disini jika harus dipenjara di sebuah negeri yang pemimpinnya adalah seorang kriminal dan pencuri.”

Ia membuka kembali lembaran pledoi berikutnya, lalu melanjutkan.

“Kalaupun bedil-bedil senapan itu menembus tubuh kami, kalian hanya membunuh anak-anak manusia. Karena ide-ide dan keberanian kami akan tetap hidup. Keberanian itu akan tumbuh dalam jiwa-jiwa generasi berikutnya..

Seperti bunga-bunga di pekarangan Rawamangun yang meski hancur karena dilindas oleh Tank-tank dan Panser militer, ia pasti akan tumbuh dan berkemaran kembali di atas tanah yang sama..

Kalian tak akan pernah bisa menghalangi datangnya musim semi. Ingatlah, kalian tak akan pernah bisa menghalangi datangnya musim semi”

Musim semi di Rawamangun benar-benar datang..

Dua puluh tahun setelahnya, pada tahun 1998, jalan-jalan Rawamangun menjadi salah satu pusat gerakan mahasiswa bersama mahasiswa seluruh Indonesia yang berperan dalam meruntuhkan rezim Orde Baru.

19 tahun setelah Reformasi, di Rawamangun lahir Forum Militan dan Independen, aliansi mahasiswa, dosen dan warga UNJ yang terbentuk atas dasar keresahan terhadap masalah Komersialisasi Pendidikan dan Demokratisasi Kampus.

8 Juni 2017

Andika Ramadhan F.
Mahasiswa UNJ

Note: Tulisan ini terinspirasi dari peristiwa sejarah di Rawamangun dan Salemba tahun 1977-1978 yang memang benar-benar terjadi, dengan narasi tulisan yang dibumbui dengan kreasi penulis.

©Forum Militan Independen UNJ

Komentar Kamu?

BAGIKAN