Home Suara Anda Opini

Refleksi Moral Anak Bangsa

50
BAGIKAN
JAKARTA, 11/1 - PENERAPAN KURIKULUM 2013. Sejumlah siswa berpose saat berkumpul di lapangan di SD Angkasa 1 Halim Perdanakusumah Jakarta, Jumat (11/1). Untuk tahap awal, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan memutuskan untuk menerapkan kurikulum baru 2013 tingkat sekolah dasar hanya pada 30 persen dari 148 ribu SD yang ada di seluruh Indonesia untuk kelas I dan IV mulai tahun ajaran baru Juli mendatang. FOTO ANTARA/Widodo S. Jusuf/Koz/pd/13.

Untuk sekian kalinya, perayaan mengenai Hari Anak Nasional terus diseruakan. Lantas bagaimanakah kabar anak Indonesia sebenarnya saat ini?

Saat ini bangsa kita sedang mengalami dekadensi moral bagi anak, dimana kian harinya pergaulan anak-anak Indonesia membuat segelintir orang mengelengkan kepala tidak habis piker bagaimana bisa moral anak bangsa kita bisa sebobrok ini?.

Pengunaan media pun kian marak bahkan berkali-kali video viral pun sering kita jumpai akhir pekan lalu, adanya kasus bullying terhadap anak sekolah dasar di wilayah thamrin city, yang dimana perlakuan bullying tersebut membuat anak tersebut kehilangan Kartu Jakarta Pintar dikarenakan di cabut oleh pemerintah.

Adapula kasus mengenai anak putus sekolah, apa kabarnya kartu sakti yang dicanangkan pemerintah untuk masyarakatnya sedangkan sampai saat ini anak putus sekolah kian meningkat, bahkan menjelang tahun ajaran baru 2017 beberapa waktu lalu di Bekasi banyak anak sekolah tidak di terima di Sekolah Negeri. Padahal tertera jelas dalam Undang-Undang Negara Republik Indonesia bahwa “pendidikan ialah hak segala bangsa” namun mengapa sampai saat ini anak Indonesia susah mendapatkan pendidikan di negaranya sendiri.

Selanjutnya ada kasus mengenai tawuran, alangkah lucunya anak kecil sekarang masih mengunakan baju seragam merah putih tetapi sudah berani melayangkan pedang ke teman sebayanya, dari pendidikan dasar hingga atas kasus tawuran menjadi momok tersendiri bagi bidang pendidikan, tawuran tersebut sudah seperti tradisi.

Sekarang lebih berbahaya, bagaimana tidak negara ini sudah darurat akan narkoba. Baru-baru pekan lalu Badan Narkotika Nasional mengabarkan sudah berkembangnya Narkoba yang bernama Flakka yang sebelumnya berkembang di Eropa dan Amerika kini hadir di Indonesia yang dijual pun sekitaran 70ribu, narkoba tersebut langsung menyerang syaraf otak serta efek yang ditimbulkan orang yang mengunakan akan seperti zombie bagaikan memiliki kekuatan super, dapat kita lihat efeknya di berbagai sosial media. Dapatkah kita membiarkan ini terjadi sedangkan moral anak bangsa kian menurun?

Tawuran, bullying, putus sekolah lalu narkoba, sepertinya kejahatan seksual tidak kalah banyak terjadi di kalangan anak sekarang, ingatkah kalian dengan kasus yuyun yang digilir oleh anak dibawah umur pula, ingatkah dengan kasus pemerkosaan terhadap anak murid yang dilakukan oleh seorang guru? Hal-hal tersebut kian marak terjadi, kasus pelecehan seksual mencapai 2.399 (72%), kasus pencabulan 601 kasus (18%), data tersebut berdasarkan data Komnas Perempuan dan Anak tahun 2016.

Kasus yang di alami anak-anak penerus bangsa kian memperburuk generasi saat ini, akankah kita diam saja? Atau bergerak untuk menyelamatkan penerus bangsa ini? Hari Anak Nasional beberapa pekan lalu seharusnya dapat kita jadikan sebagai refleksi diri bahwa bangsa ini perlu diselamatkan. Jika generasi saat ini tidak mampu mempersiapkan generasi yang akan datang dengan baik maka hanya mimpi buat generasi emas Indonesia.

Perjalanan kita semua memang masih panjang, masih ada waktu untuk memperbaiki jangan sampai kita menutup mata dan telinga akan kondisi bangsa saat ini. Mari kita bahu membahu dalam menyelamatkan anak bangsa, mulai lah dengan diri sendiri, orang sekitar lalu sebarkan kebermanfaatan dimana pun kita berada.

 

Oleh : Helmina Mutia

Komentar Kamu?

BAGIKAN
Ruang Publik Kepada Seluruh Civitas Akademika UNJ untuk menyampaikan kritik, & Saran. Yuk Kirimkan Buah Pikiranmu