Home Mahasiswa Hiburan

Resensi Film Pendidikan “The Ron Clark Story”

1964
BAGIKAN

Hi teman-teman pendidik unjkita.com! Tulisan serial pendidikan kali ini, penulis akan berbagi resensi tentang sebuah film bertemakan pendidikan. Tulisan ini berdasarkan kegaitan penulis bersama guru-guru lainnya dalam rangka membedah film pendidikan.

Film yang rilis pada tanggal 13 Januari 2006 ini bercerita tentang pengalaman nyata seorang guru dengan metode mengajar yang berbeda untuk peserta didik “pilihan” di sebuah sekolah dasar, New York. Tokoh utama dalam film ini adalah Ron Clark yang diperankan oleh Matthew Perry, seorang guru yang sangat inovatif, kreatif, cerdas, pantang menyerah, penyayang, dan bersemangat.

Sinopsis

Ron Clark adalah seorang guru yang sangat menginspirasi peserta didiknya. Ron Clark atau Mr. Clark semula menjadi guru selama empat tahun di Snowden Elementary school di Aurora, North California pada tahun 1994. Ia membuat sekolah dasar tersebut menjadi sekolah yang mendapatkan nilai kelulusan memuaskan. Singkat cerita, akhirnya ia memutuskan untuk pindah ke New York.

Sesampainya Mr. Clark di New York, ia segera mencari sekolah SD untuk dapat mengajar di sana. Dalam usahanya menjadi guru SD di New York, ia sempat ditolak, namun akhirnya dia menemukan sekolah, yaitu “Inner Harlem Elementary School”. Ia diterima di sekolah Harlem tepat ketika ada seorang guru yang keluar dari sekolah tersebut. Guru yang keluar dari SD Harlem tidak mampu mengatasi peserta didik di sekolah tersebut.

Setelah resmi diterima di SD Harlem, Mr. Clark diajak Mr. Turner, kepala sekolah SD Harleem, untuk berkeliling sekolah dan ditunjukkan kelas yang akan Mr. Clark ajar. Sebelum ia mengajar kelasnya, terlebih dahulu dia mengunjungi rumah dan orang tua masing-masing peserta didikya. Saat mengunjungi mereka satu persatu, Mr. Clark menemukan berbagai kondisi dan latar belakang yang sangat berbeda.

Ketika Mr. Clark masuk ke kelas untuk pertama kalinya, dia melihat kondisi peserta didiknya yang begitu heterogen. Mereka begitu acuh dan sama sekali tidak menghargai keberadaan guru di dalam kelas. Mr. Clark mencoba untuk menyesuaikan dengan kondisi peserta didiknya. Selanjutnya, Mr. Clark menerapkan beberapa aturan dalam kelasnya dan peraturan yang pertama kali harus diterapkan adalah “menjadikan kelas tersebut sebagai keluarga”. Mr. Clark sangat menekankan keberadaan mereka sebagai sebuah keluarga yang harus saling membantu, menghargai dan menyayangi satu dengan lainnya. Tentu peraturan tersebut tidak mudah untuk dijalankan. Namun, Mr. Clark tidak pernah bosan untuk berusaha dan menerapkan peraturan istimewa tersebut.

Banyak sekali kebiasaan peserta didik yang sangat tidak baik, mulai dari kebiasaan mereka yang tidak menghargai kawan maupun gurunya, berkelahi, dan kenakalan-kenakalan lainnya. Suatu ketika, Mr. Clark terpancing emosinya di depan kelas karena ulah salah satu peserta didiknya. Ia membalikkan meja kelas milik Shemika, dan semenjak itu ia merasa sangat menyesal dan putus asa. Karena banyak sekali tekanan, pergolakkan emosi, dan sulitnya menghadapi kondisi peserta didik, Mr. Clark merasa putus asa dan berniat untuk berhenti mengajar di SD Harleem.

Maurice, seorang wanita yang dikaguminya, memberinya semangat agar tetap berjuang dan membuktikan bahwa dirinya mampu menaklukkan kondisi para peserta didiknya yang begitu “berbeda”. Berkat dorongannya itu, akhirnya Mr. Clark mengurungkan niatnya untuk menyerah dan kembali mengajar di kelas keesokan harinya.

Selain itu, Mr. Turner, kepala sekolah SD Harleem merasa kurang menyukai dengan gaya pembelajaran yang dilakukan oleh Mr. Clark, bahkan Mr. Turner sempat menekan kepadanya dengan mengatakan “My school, my rule, my way!”. Mr. Turner menuntut agar seluruh peserta didiknya bisa lulus ujian akhir, ia tidak mementingkan metode-metode pengajaran yang dilakukan Mr. Clark di kelas.

Mr. Clark selalu menggunakan metode-metode pengajaran yang lain daripada yang lain. Dia menggunakan metode yang disukai dan dapat membuat peserta didiknya merasa nyaman dan senang selama proses pembelajaran berlangsung. Seperti berjalan-jalan, menggunakan radio tape, bergaya kocak, bahkan ia tak sungkan untuk duduk di atas meja dimana biasanya hal itu adalah hal yang tidak sopan, apalagi jika dilakukan oleh seorang guru. Mr. Clark mencoba mendalami satu persatu para peserta didiknya yang memiliki masalah, kemudian dia berusaha menanganinya.

Mr. Clark ternyata mampu melihat potensi-potensi kecerdasan dan bakat yang dimiliki oleh para peserta didiknya. Bahkan suatu ketika, ia sudah mulai mampu membuat pesera didiknya mulai untuk mencintainya. Dia meluangkan banyak waktunya untuk memberikan pelajaran tambahan bagi para peserta didiknya secara privat. Bahkan sampai-sampai dia tidak menghiraukan kondisi kesehatannya. Ketika beberapa minggu menjelang Ujian nasional dilakukan, berbagai macam usaha dan kerja keras telah dilakukan Mr. Clark, pikirannya semakin mendapatkan tekanan hebat dan tenaganya terforsir, hingga membuat badannya dalam kondisi yang tidak baik. Ketika ia harusnya dirawat di rumah sakit, dia masih saja nekat mengajar. Hingga akhirnya, ia jatuh pingsan ketika mengajar di depan kelas.

Walaupun dalam kondisi sakit dan terbaring lemah di Rumah Sakit, Mr. Clark tetap mengajar dengan menggunakan rekaman video. Ia tetap amanah untuk menjalankan kewajiban mengajarnya. Rekaman video yang dibuatnya, dinyalakan di kelas, sehingga peserta didiknya masih bisa untuk belajar di kelas. Seminggu sebelum Ujian Nasional, Mr. Clark sudah kembali pulih dan masuk kembali ke kelasnya. Dia hanya sekadar mengulang dan memberikan penguatan-penguatan pada peserta didiknya. Kelas Mr. Clark kini menjadi sebuah kelas yang sangat berbeda dengan kondisi awal, rasa kekeluargaan yang terbangun kini menjadi semakin sangat erat.

Mr. Clark merasa cemas dan tegang memikirkan peserta didiknya yang sedang melaksanakan Ujian Nasional. Namun, ketika ujian telah berakhir, nampak ekspresi lega dari raut wajahnya. Selanjutnya, Mr. Clark mengajak seluruh peserta didiknya ke DE PHANTOM of de Opera, sebagai hadiah dan sekaligus penyegaran setelah mengerjakan Ujian Nasional. Saat para peserta didik mendapatkan tiketnya, terlihat mereka begitu senang dan sangat bersemangat.

Ketika hasil telah diperoleh, pada hari itu Mr. Clark mengundang orang tua peserta didik untuk menyaksikan pengumuman nilai dari putra-putrinya. Di tengah-tengah acara itu, Mr. Turner tiba-tiba masuk dan memberikan surat pengumuman. Isi dari surat tersebut adalah memberitahukan bahwa niai dari salah satu peserta didiknya merupakan nilai tertingggi dalam Ujian nasional, bahkan nilai rata-rata kelas itu yang terbaik dan mengalahkan nilai rata-rata kelas unggulan. Kelas pun sontak menjadi riuh dengan kebahagiaan dan kegembiraan. Atas semua hal yang telah didapatkan oleh para peserta didik, mereka memberikan penghargaan kepada Mr. Clark sebagai guru terbaik.

Dalam kesempatan tersebut, Shemica sebagai perwakilan dari teman-temannya mengatakan, “Mr. Clark, terimakasih untuk selalu berada disisi kamu, bahkan ketika kami tidak sedang menginginkannya, kau tiada henti untuk memberikan kami inspirasi.”

Ialah sosok guru yang tidak pernah berhenti untuk memberikan berbagai hal-hal terbaik bagi peserta didiknya. Ia menjadikan profesi guru bukan hanya sekadar profesi, tapi sebagai sebuah panggilan hati.

Analisis

Saat Mr. Clark mengajar di SD Harleem, New York, ia mendapatkan beberapa kendala dalam pendekatan pembelajaran, yaitu:

  1. Peserta didik yang nakal dan sulit diatur. Hal ini terlihat saat pertama kali mengajar, ia tidak dihargai sama sekali dengan disoraki oleh para peserta didik, tidak mau belajar, dan tidak mau mengikuti peraturan yang dibuat Mr. Clark.
  2. Keadaan lingkungan sekitar yang tidak mendukung. Lingkungan yang keras dapat mempengaruhi sifat seseorang seperti perjudian, pencurian, dan kekerasan yang dapat mengurangi kepedulian terhadap pendidikan.
  3. Kurangnya kepedulian orang tua terhadap pendidikan anaknya. Orang tua yang sibuk dengan pekerjaannya sendiri sehingga anak disibukkan dengan membantu pekerjaan rumah dan kurangnya waktu anak untuk belajar.
  4. Peserta didik tidak nyaman untuk belajar di ruang kelas. Hal ini terlihat pada beberapa guru sebelum Mr. Clark yang mengajar mereka tidak sanggup karena kenakalan dan kericuhan yang mereka buat agar tidak ada yang mau mengajar mereka.
  5. Kepala sekolah yang tidak mempedulikan metode mengajar Mr. Clark. Ia hanya menuntut hasil kelulusan yang harus diperoleh para peserta didik di SD Harleem.

Teknik Pembelajaran yang digunakan oleh Mr. Clark di kelas, yaitu:

  1. Adanya rules saat awal pembelajaran yang harus disepakati antara guru dengan peserta didik.
  2. Pendekatan individual kepada setiap peserta didik.
  3. Menggabungkan materi pelajaran dengan musik, permainan kartu, audio visual, dan sebagainya.
  4. Mengajak peserta didik untuk aktif berperan.
  5. Terus memberi motivasi pada peserta didik.

Dari beberapa teknik yang digunakan Mr. Clark yang terpenting adalah membuat seorang peserta didik merasa nyaman, asyik, dan tidak menjenuhkan dalam belajar.

Ron Clark (center) gets emotional as he holds students during the Ron Clark Academy’s first graduation ceremony at Ferst Center for the Arts at Georgia Tech.

Hikmah

Hikmah yang bisa diambil untuk seorang guru dari film ini, yaitu:

  1. Guru harus mengenal dan memahami karakteristik serta kebutuhan setiap peserta didiknya.
  2. Guru harus bisa memotivasi peserta didiknya untuk selalu haus belajar.
  3. Jadilah Guru yang menyukai tantangan dalam mengajar jangan mudah menyerah dan putus asa. Beranilah untuk keluar dari zona nyaman.
  4. Guru harus bisa melakukan pendekatan secara individual dengan peserta didik. Guru mampu mengambil hati peserta didik agar mereka bisa nyaman belajar dengan gurunya.
  5. Guru harus bisa bekerja sama dengan kepala sekolah dan orangtua dalam merancang suatu program pembelajaran bagi peserta didiknya.
  6. Guru harus bisa memanfaatkan setiap kondisi sebagai media belajar bagi peserta didik, sehingga dimana saja peserta didik bisa belajar dengan nyaman dan maksimal
  7. Guru harus kreatif, solutif, dan inovatif. Dan yang paling terpenting guru harus mau untuk selalu meningkatkan kualitas diri.
  8. Guru harus mau membiasakan diri untuk mengungkapkan kepada peserta didik bahwa inspirasi bisa datang dari siapa saja, termasuk dari peserta didik juga.
  9. Guru mampu menciptakan situasi pembelajaran yang menyenangkan dan harus selalu menghargai kemampuan sekecil apapun yang dimiliki peserta didiknya.
  10. Guru ikhlas mengorbankan banyak tenaga, pikiran, dan waktunya untuk membuat peserta didik memiliki keinginan belajar serta mau untuk terus menjadi lebih baik. Karena proses tidak akan pernah mengkhianati hasil.

Itulah resensi dari film pendidikan “The Ron Clark Story”. Semoga teman-teman pendidik bisa terinspirasi dari sosok guru Ron Clark yang selalu berusaha untuk memberikan yang terbaik bagi peserta didiknya. Salam menginspirasi!

Komentar Kamu?