Home Mahasiswa Karya

Sehimpun Sajak yang Coba Memeluk dan Mengabadikan UNJ

434
BAGIKAN

Tentang Nama dan Harap yang Lekat dalam Jiwa

untuk: UNJ

Bukan sekadar nama

Ada hidup yang coba Kau rangkul

Ada harap yang terus Kau hela

Juga

Perihal lain yang kita sebut sebagai  perjuangan

 

Almamater

Atau sebut saja kulit

dari tubuh Kau yang berasal dari kami

Hijau

Serupa daun pada pukul 09.00 pagi

Menatap mimpi di bawah

sengat matahari

 

Kami ada dan berharap menjadi Kau

Kau ada karena ada  mimpi yang kami gantungkan

Atau mimpi Kau

Tentang Pertiwi tanpa air mata

Atau Bangsa yang tidak mengenal kebodohan

Atau kaki-kaki Negara yang terus hidup sebagai perjalanan

tanpa akhir

 

Kau bukan sekadar nama

Tubuh Kau beribu kota pada negara

Jiwa Kau muasal ingin dari keragaman suku kami

Kau jadikan kami satu

Tanpa perbedaan atau sesuatu yang membatasi

 

Kukenakan nama Kau ke mana-mana

Di jalanan, ruang baca, sekolah, jendela perpustakaan,

kantor gubernur, halaman gedung perwakilan rakyat,

atau di hadapan sesuatu yang kami anggap tidak memiliki

keadilan

 

Kukenakan Kau dalam jiwa kami

dan Kau

menjadi besar sekali lagi

 

IKRAR

Kami mahasiswa-mahasiswi negeri mimpi

Mengaku

Menunjukkan arah dengan pandangan

tanpa tipu muslihat

Menyentuhkan harap dengan suara

tanpa ketidakpastian

 

Kami mahasiswa-mahasiswi negeri mimpi

Menjunjung

bahasa yang tidak mengenal kebohongan,

pemikiran yang tidak berisi kehancuran

 

Kami mahasiswa-mahasiswi negeri angan

Menerima

keputusan dalam bentuk pengawasan

penunaian hak dalam bentuk yang sesuai

pelaksanaan kewajiban dalam sikap perjuangan

 

Kami mahasiswa-mahasiswi negeri harapan

Beralmamater satu

almamater berwarna kejujuran

 

Awahita

Dari Rawamangun atau dari tubuh Kau yang lain

Dari pandangan mata atau dari mimpi-angan untuk Indonesia

Dari sekolah dan segala ruang yang berisi pendidikan

Dari masa lalu yang berisi harap atau dari harap yang berisi keinginan

Dari tubuh yang berisi tubuh kami dan kami yang bertubuh

pada mimpi negeri tanpa kebodohan

 

Kami seperti kami atau kamu yang lain

Lentera yang menjaga

Pertiwi tidak mengenal gelap

 

Perayaan 

Dua atau sepuluh

Tiga atau lima belas

Lima puluh tiga

Atau angka sebelum dan sesudahnya.

 

Setiap angka atau waktu

memiliki cara untuk merayakan

tubuh dan menandai hari kebesaran.

 

Segala masa tentang Kau,

di dadaku,

adalah perayaan bagi harapan dan mimpi

angan yang kusemogakan

dalam segala tindak

dan perjuangan.

 

Seusai Perayaan

Matikan lilin

Bereskan kursi

Rapatkan  baris

Luruskan niat

Kobarkan semangat

Kepalkan hati

Teguhkan diri

 

Samakan suara

Kurangi cela

dan

perjuangan kita mulai

sekali lagi

Oleh: Nugraha Sinaga (Pendidikan Bahasa UNJ Angkatan 2016)

Tulisan ini dipersembahkan untuk Pesta Literasi 2017 yang diselenggarakan oleh UNJKita

Komentar Kamu?

BAGIKAN
Ruang Publik Kepada Seluruh Civitas Akademika UNJ untuk menyampaikan kritik, & Saran. Yuk Kirimkan Buah Pikiranmu