Home Mahasiswa Belajar

Serial 2 ; Di Balik Pohon Besar UNJ

893
BAGIKAN
Serial 2.0 Soe Hok Gie, Lembaga Ekstra Kampus, dan Keadaan Mahasiswa Kampus Rawamangun

Setelah sebelumnya kita membahas tentang lingkungan kampus, di balik pohon besar UNJ (Baca serial 1 di : Dibalik Pohon Besar UNJ). Masih dari rentan waktu yang sama, kita bergeser dari kondisi lingkungan kampus menuju kondisi lingkungan kemahasiswaan kampus Rawamangun. Sebelum itu, pernah kah pembaca sekalian mendengar selentingan-selentingan:

“BEM/HIMA/HMJ/KEMA harus bebas dari kepentingan-kepentingan parpol. Makanya kalau bisa pemegang jabatan strategis jangan dari organisasi underbow parpol.”

Kadang penulis pribadi sering mempertanyakan asal muasal selentingan ini, karena penulis pribadi tidak hanya menemukan kata-kata ini di kampus penulis sendiri. Tentu ada nilai-nilai historis dalam selentingan dan penulis akhirnya temukan pada catatan-catatan pemikiran Soe Hok Gie. Berikut penulis ceritakan kembali kisah 50 tahun lalu pada pembaca sentosa :

Saat itu (medio 1960-an awal), Senat Mahasiswa (BEM/HIMA/HMJ/Kema) kampus UI Rawamangun (sekarang UNJ) dikuasai oleh elemen-elemen ekstra kampus yang bersifat universiter. Jika sebelum G30S meletus ada dua lembaga yang menguasai, CGMI dan GMNI. Hal ini (penguasaan posisi Ketua Senat Mahasiswa oleh lembaga ekstra kampus) sangat merugikan mahasiswa saat itu.

“Mereka ini merupakan kepanjangan tangan PKI di kampus dan sering bersikap memaksakan kehendak dan cara berfikir.” Tulis Luki Sutrisno Bekti, seorang wartawan senior dalam buku “Soe Hok Gie, Sekali Lagi”.

Bahkan dalam diakhir tulisan Gie yang berjudul “Siapa Saya?” Gie secara gamblang memaparkan kondisi beberapa oknum pejabat mahasiswa.

“Kadang saya bertanya pada kenalan-kenalan saya, “Siapa kamu?” Seorang tokoh menjawab: “Saya adalah abtek partai saya. Kebenaran (bagi saya) ditentukan oleh DPP Partai.”

Hal tersebut menimbulkan perlawanan dari mahasiswa – mahasiswa yang tidak berafiliasi pada lembaga ekstra kampus (Independen). Hal tersebut dimulai ketika pemilihan ketua senat mahasiswa FS-UI tahun 1964, Herman O. Lantang dengan bantuan sang mind master Soe Hok Gie secara mengejutkan dapat meruntuhkan dominasi organisasi ekstra dalam pemilihan Ketua Senat Sakultas Sastra UI (SM-FSUI). Kemenangan tersebut diraih dengan jumlah suara dengan kemenangan mutlak.

Ide pencalonan Herman sendiri datang dari gagasan Hok Gie. Herman dan Gie, sahabat karib perjuangan aksi mahasiswa sejatinya dipertemukan oleh kesamaan hobi mereka naik gunung. “Pokoknya waktu gua ketua senat itu, hok-gie otaknya. Pidato gw waktu jadi ketua senat aja hok-gie yang bikin. Juga waktu nyusun organisasi SM-FSUI, Hok-gie yang ngatur semua.” Kata herman lantang ketika bercerita tentang teman dekatnya tersebut.

Dan tercatat, kepengurusan herman berlangsung selama selama 3 periode dari 1964-1966. Hal tersebut dipengaruhi oleh kondisi negara yang kala itu terjadi kekacauan, otomatis mahasiswa kala itu tidak menjalani kuliah dan hanya berdemonstrasi tiap hari menuntut turunnya Soekarno kala itu.

Bahkan pada tahun 1965 SM-FSUI terancam dibubarkan akibat sikapnya yang tegas membangun gerakan melawan rezim Orde Lama saat itu. Pada pertengahan tahun 60-an, adalah hal wajar bahwa pihak-pihak yang memiliki pandangan kontra dengan Soekarno dikemudian hari dicap sebagai kontrarevolusi. Dan dari sekian banyak pihak, mahasiswa pro Manifestasi Kebudayaan (Manikebu) menjadi sasaran tembak seiring adanya resolusi GMNI-GERMINDO-PERHIMI dan CGMI yang menuntut senat dibersihkan dari mahasiswa golongan ini dengan cap kontrarevolusi yang saat itu digaung-gaungkan sng proklamator kita.

Dalam tulisan yang berjudul “Mimpi-Mimpi Terakhir Seorang Mahasiswa Tua” Gie bercerita bagaimana konfrontasinya menolak intervensi organ-organ ektra kampus berafiliasikan rezim dalam upaya perombakan struktur SM-FSUI.

“Dalam ‘konfrontasi’ itu saya jelaskan bahwa dalam senat tidak ada perwakilan HMI. Yang ada hanya si A atau si B, dan kami memilihnya bukan sebagai wakil-wakil ormas, tetapi sebagai individu-individu yang cakap. Dalam konfrontasi itu saya menang, karena tak ada seorang pun anggota HMI atau Manikebu yang dikeluarkan.”

Hal tersebut berangkat dari pemikiran Gie bahwa wakil-wakil mahasiswa harus lah dipilih dengan menegakkan prinsip yang sehat dalam dunia mahasiswa. Prinsip yang dimaksud ialah seoorang wakil mahasiswa dipilih berdasarkan kejujurannya, kemampuannya,dan kapasitasnya. Bukan berdasarkan afiliasinya, agamanya, sukunya, keturunannya ataupun ormasnya.

Pasca 1966, pasca dilarang dan dibubarkannya PKI. Terjadi perubahan dalam perpolitikan kampus Rawamangun, dari CGMI dan GMNI yang pro PKI kini berganti dengan organisasi ekstra yang berorientasi dengan agama yaitu HMI (Underbow Masyumi), PMII (Underbow NU), GMKI, dan PMKRI. Pada pemilihan berikutnya pada tahun 196-1967 terpilihlah Paulus Mitang dari PMKRI. “Organisasi intra kemahasiswaan senat ini diisi mereka-mereka yang berasal dari organisasi ekstra kemahasiswaan dengan latar belakang keagamaan. Bahkan saat itu tidak ada yang mengurusi kegiatan mahasiswa, karena anggota SM-FSUI hanya asyik rapat” tutur Luki.

Dan barang pasti hal tersebut menghasilkan kekecewaan pada setiap mahasiswa-mahasiswa FS-UI. Akhirnya pada pemilihan selanjutnya, dengan bantuan kelompok independen mahasiswa yang terafiliasi dalam MAPALA (mahasiswa pecinta alam) Pradja Paramita (saat ini bernama MAPALA UI), Soe hok gie maju dan memenangkan pemilihan Ketua SM-FSUI.

“Sejak itu, suasana di fakultas kembali meriah. Berbagai kegiatan intra berjalan dengan baik. Ada olahraga renang dan bola basket, ada klub buku, film, dan musik. Teater populer pimpinan Teguh Karya dan teater kecil Arifin C. Noor pernah pentas di FS-UI W. S. Rendra juga pernah hadir sebagai pembicara.” Kata luki. Hal tersebut tak karena pergaulan luas dari soe hok gie. Selain itu, dengan link pertemanan Gie yang luas. SM-FSUI bekerja sama dengan beberapa kedutaan asing seperti Prancis dan Ceko untuk kegiatan pergelaran Bedah Film asing yang kala itu tidak beredar di Indonesia.

Salah satu film yang sangat disukai kala itu adalah film action tembak-tembakan khas cowboy “Shane”. Menurut Gie, sosok mahasiswa yang ideal adalah seperti tokoh utama difilm. Datang ketika kota sedang dijajah bandit. Kemudian dengan cara yang memngagumkan mengalahkan dan mengusir bandit dari kota. Dan ketika kondisi kota telah pulih, maka sang tokoh utama akan pergi tanpa meminta pamrih pada penduduk kota. Diakhir cerita, tokoh utama tersebut pergi meninggalkan kota.

Yang dimaksud dari analogi tersebut ialah seorang mahasiswa harus siap turun ke jalan mendirikan parlemen jalanan untuk menjadi penggaris dari guratan pensil pemerintah. Hingga pada prosesnya, guratan pemerintah ini bisa berbentuk lurus kedepan. Dan jika pemerintah sudah tak bisa diluruskan, sudah waktunya mengganti individu-individu pemerintah. Dan saat hasil kerja sudah baik, mahasiswa serta merta menyudahi parlemen jalanannya dan kembali ke bangku perkuliahan menunaikan amanah akademisnya.

Setelah itu, bersama FKG-UI (kini UNJ) dan F-Psikologi UI menjadi poros kuat kampus rawamangun dalam membuat gerakan penolakan lembaga ekstra kampus. Bahkan saat DMUI (lembaga Eksekutif tingkat Univ) yang menjadi induk organisasi senat mahasiswa di Fakultas-fakultas melakukan reshuffle dengan komposisi orang-orang HMI. SM-FSUI menjadi motor utama dalam menggalang kekuatan di kampus rawamangun untuk menolak resuffle yang bahkan tidak diakui Rektor UI kala itu.

Hok-Gie dengan penuh kesadaran mencoba membangun watak mahasiswa bukan dengan cara memprovokasi atau mengkader secara kasat mata, tetapi lebih dengan mengajak secara halus untuk berpartisipasi membesarkan bangsa lewat pengalaman kehidupan mahasiswa di fakultas. Dalam manuver kegiatan mahasiswa yang digagas Hok Gie diluar kampus pun tak kalah mentereng, mahasiswa sering didentikan dengan oposisi pemerintah kini. Namun saat itu Gie membuktikan bahwa mahasiswa ialah oposisi kedzaliman, saat itu Gie mempunyai gagasan nuntuk bermitra dengan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta pimpinan Ali Sadikin dalam upaya penertipan bandaya kemayoran jakarta.

Saat itu bandara kemayoran yang merupakan wajah dari Jakarta karena peran vitalnya sebagai pintu masuk dunia internasional ke Indonesia dipenuhi oleh calo-calo taksi ilegal. Tentu hal ini akan memperburuk citra indonesia di mata dunia, apalagi tidak seperti yang sekarang dimana taksi-taksi modern memekai sistem argo. Dulu uang pembayaran taksi diatur oleh calo dan mereka pun menerapkan tarif seenak mereka.

“Ketika muncul persoalan siapa yang harus dan bisa mengatur kesemerawutan taksi di bandara ini, timbulah ide menggunakan tenaga mahasiswa. Soe Hok Gie bersama teman karibnya Rudy Hutapea yang kebetulan juga kakak kandung Chris Hutapea, salah satu orang kepercayaan Gubernur Ali Sadikin, mengusulkan saya dan beberapa teman lain dari berbagai fakultas di Universitas Indonesia untuk mengatasi hal itu” kata Luki.

Ia menambahkan, dengan program tersebut selain membantu carut marut di bandara kemayoran. Dengan adanya kegiatan tersebut, dapat membantu keuangan mahasiswa UI saat itu karena saat itu kebanyakan mahasiswa UI berasal dari golongan menengah ke bawah. Selain itu bagi sopir-sopir taksi, hal ini sudah barang pasti menguntungkan mereka karena uang hasil kerja mereka langsung diterima mereka tanpa potongan-potongan calo seperti sebelumnya.

Lewat berbagai gagasannya, Hok Gie telah membuktikan bahwa seorang mahasiswa harus lah menjadi seorang yang bisa menjadi agen-agen perubahan ke arah yang positif dalam lingkungan kampus maupun dalam lingkungan masyarakat umum. Ini menjadi refleksi pergerakan mahasiswa masa kini yang sudah mulai ditinggalkan oleh mahasiswa-mahasiswa umum. Sesuai dengan gagasan Hok Gie yang berpendapat bahwa dalam membangun watak mahasiswa haruslah dengan cara halus lewat pengalaman hidup mahasiswa di dunia kampus. Bukan dengan cara provokasi atau ajang kaderisasi-kaderisasi kasat mata seperti yang kini marak terjadi dipenghujung tahun di kampus tercinta kita, Universitas Negeri Jakarta.

Note : Tulisan ini merupakan bagian kedua dari triologi tulisan “Di Balik Pohon Besar UNJ (Soe Hok Gie, Organisasi Ekstra Kampus, dan Pergerakan Mahasiswa)”, dari ketiga tulisan tersebut penulis menggunakan seting tahun 1967-1968 sebagai acuan yang menurut penulis ada baiknya untuk diulas dan diambil pelajarannya bagi kita semua.

Komentar Kamu?