Home Berita

Wartawan Legendaris Dibalik Hari Pers Nasional

609
BAGIKAN

UNJKita.com – Bila belum lama ini pada tanggal 5 Februari 2017 kita memperingati Hari Peristiwa Kapal Tujuh dan Hari Lahir Himpunan Mahasiswa Islam (HMI), serta pada tanggal 6 Februari 2017 lalu kita baru saja memperingati lahirnya salah satu maestro pujangga Indonesia, yaitu Bapak Pramoedya Ananta Toer. Beliau lahir di Blora, Jawa Tengah dan meninggal dunia di Jakarta pada tanggal 30 April 2006, saat beliau berumur 81 tahun. Beliau juga bertempat tinggal di tempat yang nantinya berada di dekat lokasi kampus Universitas Negeri Jakarta. Beliau tinggal di Jalan Multikarya II No 26, Utan Kayu, Jakarta Timur.

Bapak yang akrab disapa dengan panggilan Pram, secara luas dianggap sebagai salah satu pengarang yang produktif dalam sejarah sastra Indonesia. Pramoedya telah menghasilkan lebih dari 50 karya dan diterjemahkan ke dalam lebih dari 41 bahasa asing, serta menjadi salah satu Jurnalis dan Wartawan legendaris yang dimiliki Indonesia.

Pada hari ini, 9 Februari 2017, kita juga memeriahkan sebuah saksi dari dua lembar sejarah yang tidak boleh dilupakan oleh bangsanya sendiri. Selain memperingati Hari Kavaleri TNI kita juga memperingati Hari Pers Nasional.

Membahas tentang pers, selain Bapak Pramoedya Ananta Toer, siapa saja tokoh yang menurut UNJKita layak disebut juga wartawan legendaris Indonesia?

Karena dalam dunia jurnalistik tidak dapat terlepas dari peran seorang wartawan, dan karena segala informasi yang diperoleh wartawan dapat diangkat menjadi sebuah berita yang mempunyai daya tarik dan mempunyai nilai penting bagi masyarakat. Seorang wartawan itu terkenal karena karya jurnalistiknya.

Mochtar Lubis

Mochtar Lubis adalah salah satu contoh tokoh wartawan yang terkenal di Indonesia, beliau lahir pada tanggal 7 Maret 1922 di Padang, Sumatera Barat. Mochtar Lubis adalah seorang jurnalis ternama di Indonesia yang telah mendirikan Kantor Berita Antara, Majalah Sastra Horizon dan menjadi pemimpin Surat Kabar Harian Indonesia Raya (yang telah dilarang terbit).

Pada tahun 1980 Mochtar Lubis menulis buku yang berjudul “Catatan Subjektif”. Buku tersebut berisi tentang pengalamannya selama berada di dalam penjara kurang lebih 9 tahun lamanya pada masa pemerintahan Presiden Soekarno. Selain eksis di Indonesia, Mochtar Lubis juga pernah menjadi President Press Foundation of Asia, anggota Dewan Pimpinan International Association for Cultural Freedom (organisasi CIA), dan anggota World Futures Studies Federation.

Achmad Zaenal M.

Achmad Zaenal M menyebut dirinya sebagai wartawan dua zaman, yakni aktif dari masa orba hingga masa reformasi. Beliau adalah pemimpin LKBN Antara di Semarang. Ia adalah alumni Fisipol UGM Yogyakarta tahun 1983. Ia sempat menempuh pendidikan di Monash University of Melbourne, Australia tahun 2001 dan Sekolah Jurnalistik Antara jurusan Social Science tahun 1993. Ia juga sempat mempunyai pengalaman kerja di salah satu perusahaan tinggi, Panasonic di Korea. Selama bekerja di sana, ia juga menempuh pendidikan di jurusan ekonomi bisnis.

Menurutnya, menjadi seorang wartawan itu gampang-gampang susah. Ia mengaku menjadi wartawan penuh dengan tantangan. Hal ini terjadi saat ia mendapat tugas untuk meliput peristiwa Gunung Merapi meletus di Sleman, Yogyakarta tahun 1994. Ia dihadang oleh para polisi ketika hendak memasuki lokasi terlarang. Menjadi wartawan memang tidak mudah. Ia bahkan pernah mengalami kejadian memalukan. Ia pernah ditolak mentah-mentah oleh Menkopolkam Susilo Sudharman saat melakukan wawancara dalam acara Muktamar Partai Perasatuan Pembangunan (PPP) tahun 1995. Namun, hal itu terjadi karena Antara saat itu belum memiliki badan hukum sehingga belum diakui. Baginya, wartawan yang professional itu adalah wartawan yang mau melaksanakan tugasnya dengan baik tanpa melakukan penyimpangan.

Petrus Kanisius Ojong atau Auw Jong Peng Koen

Lahir di Bukittinggi, 25 Juli 1920, dengan nama Auw Jong Peng Koen. Salah satu pendiri Harian Kompas ini pada semasa hidupnya, mempelajari mengenai jurnalistik pada tahun 1946, ketika dia bergabung dengan Star Weekly, sebuah mahalan untuk komunitas Tionghoa-Indonesia. Dia memulai kariernya sebagai kontributor dan akhirnya menjadi redaktur pelaksana hingga Star Weekly dibubarkan pemerintah karena ulasan luar negeri yang ditulis Ojong dinilai mengkritik kebijakan pemerintah. Antara tahun 1946-1951, Ojong merupakan anggota redaksi surat kabar harian Keng Po dan mingguan Star Weekly.

Pada tahun 1963, Ojong bersama dengan Jakob Oetama mendirikan majalah Intisari, cikal bakal dari harian Kompas. Pada tahun 1965, mereka mendirikan harian Kompas yang menjadi harian nasional Indonesia hingga saat ini.

Pada tahun 1970 hingga akhir hidupnya, PK Ojong merupakan pimpinan umum dari PT Gramedia yang bergerak di bidang penerbitan. PK Ojong wafat pada 31 Mei 1980. Untuk mengenang jasanya, patung Ojong didirikan di halaman Bentara Budaya Jakarta, suatu lembaga nirlaba yang bertujuan untuk pelestarian dan pengembangan seni budaya Indonesia.

Cuplikan perjalanan hidup Petrus Kanisius Ojong, yang dibesut Helen Ishwara dalam buku PK Ojong: Hidup Sederhana, Berpikir Mulia, terasa bak tuntunan bagi wartawan dalam membangun media cetak dengan baik dan benar. Pengalamannya, berlatar belakang intrik politik Orde Lama dan Orde Baru, begitu rinci.

Jakob Oetama Dr (HC)

Jakob Oetama lahir di Borobudur, Magelang, 27 September 1931. Om JO adalah putra seorang pensiunan guru di Sleman, Yogyakarta. Setelah lulus SMA (Seminari) di Yogyakarta, ia pernah mengajar di SMP Mardiyuwana (Cipanas, Jawa Barat) dan SMP Van Lith Jakarta. Om JO pernah studi di Perguruan Tinggi Publisistik Jakarta dan Fakultas Sosial Politik UGM Yogyakarta. Bersama P.K. Ojong, ia mengelola majalah Intisari pada tahun 1963, yang mungkin diilhami majalah Reader’s Digest dari Amerika. Tahun 1965, bersama Ojong, Jacob mendirikan harian Kompas, dan dikelolanya hingga kini. Om JO juga merupakan Pendiri dan Anggota Dewan Kantor Berita Nasional Indonesia.

Djamaluddin Adinegoro/ Adi Negoro gelar Datuak Maradjo Sutan

Djamaluddin Adinegoro/ Adi Negoro gelar Datuak Maradjo Sutan lahir di Talawi, Sawahlunto, Sumatera Barat, 14 Agustus 1904 dan meninggal di Jakarta, 8 Januari 1967 pada umur 62 tahun.

Beliau adalah pelopor sastrawan dan wartawan kawakan Indonesia. Ia berpendidikan STOVIA (1918-1925) dan pernah memperdalam pengetahuan mengenai jurnalistik, geografi, kartografi, dan geopolitik di Jerman dan Belanda (1926-1930).
Nama aslinya sebenarnya bukan Adinegoro, melainkan Djamaluddin gelar Datuk Maradjo Sutan. Ia adalah adik sastrawan dan pejuang Muhammad Yamin. Mereka saudara satu bapak, tetapi lain ibu. Ayah Adinegoro bernama Usman gelar Baginda Chatib dan ibunya bernama Sadarijah, sedangkan nama ibu Muhammad Yamin adalah Rohimah. Ia memiliki seorang istri bernama Alidas yang berasal dari Sulit Air, X Koto Di atas, Solok, Sumatera Barat.

Pada tahun 1950, atas ajakan koleganya Mattheus van Randwijk, Adinegoro membuat atlas pertama berbahasa Indonesia. Atlas tersebut dibuat dari Amsterdam, Belanda bersama Adam Bachtiar dan Sutopo. Dari mereka bertiga, terbitlah buku Atlas Semesta Dunia pada tahun 1952. Inilah atlas pertama yang diterbitkan dalam bahasa Indonesia sejak Indonesia merdeka. Pada tahun yang sama setelah atlas itu muncul, mereka juga menerbitkan Atlas Semesta Dunia untuk Sekolah Lanjutan.

H Rosihan Anwar

Beliau pantas bila diberikan Sang Wartawan Legendaris Indonesia, beliau meninggal dunia dalam usia 89 tahun pada pukul 08.15 WIB Kamis, 14 April 2011 di Rumah Sakit MMC Jakarta. Wartawan lima zaman kelahiran Sumatera Barat, 10 Mei 1922, itu telah menulis sejak zaman penjajahan Belanda hingga akhir hayatnya. Di usia senjanya (80-an tahun), dia masih aktif menulis di berbagai media massa dan menulis buku. Bukunya yang terakhir adalah Sejarah Kecil (Petite Histoire) Indonesia Jilid IV (Penerbit Buku Kompas, November 2010). Bahkan pada detik dan hari akhir hayatnya dia sedang merampungkan memoar kehidupan cintanya dengan sang isteri tercinta dengan judul Belahan Jiwa, Memoar Rosihan Anwar dengan Siti Zuraida.

Siti Latifah Herawati Diah

Siti Latifah Herawati Diah (lahir di Tanjung Pandan, Belitung, 3 April 1917 – meninggal di Jakarta, 30 September 2016 pada umur 99 tahun) adalah seorang wartawan Indonesia. Ia adalah istri dari tokoh pers yang juga mantan Menteri Penerangan, B.M. Diah. Herawati lahir dari pasangan Raden Latip, seorang dokter yang bekerja di Billiton Maatschappij, dan Siti Alimah. Herawati berkesempatan mengecap pendidikan tinggi.

Lepas dari Europeesche Lagere School (ELS) di Salemba, Jakarta, ia bersekolah ke Jepang di American High School di Tokyo. Setelah itu, atas dorongan ibunya, Herawati berangkat ke Amerika Serikat untuk belajar sosiologi di Barnard College yang berafiliasi dengan Universitas Columbia, New York dan lulus pada tahun 1941.

Ia pulang ke Indonesia pada 1942 dan kemudian bekerja sebagai wartawan lepas kantor berita United Press International (UPI). Kemudian ia bergabung sebagai penyiar di radio Hosokyoku. Ia menikah dengan B.M. Diah, yang saat itu bekerja di koran Asia Raja. Pada 1 Oktober 1945, B.M. Diah mendirikan Harian Merdeka. Herawati juga terlibat dalam pengembangan harian tersebut.

Pada tahun 1955, Herawati dan suaminya mendirikan The Indonesian Observer, koran berbahasa Inggris pertama di Indonesia. Koran itu diterbitkan dan dibagikan pertama kali dalam Konferensi Asia Afrika di Bandung, Jawa Barat, tahun 1955. The Indonesian Observer bertahan hingga tahun 2001, sedangkan koran Merdeka berganti tangan pada akhir tahun 1999. Herawati Diah meninggal pada tanggal 30 September 2016 di Rumah Sakit Medistra, Jakarta, karena usia yang sudah sepuh dan mengalami pengentalan darah. Ia dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kalibata, di samping makam suaminya, B.M. Diah.

 

Jadi itulah beberapa tokoh yang menurut Tim UNJKita layak disebut sebagai Wartawan Legendaris Indonesia. Selamat Hari Pers Nasional, sobat!

Komentar Kamu?