Home Mahasiswa Belajar

Yuk Lincah Menulis! Cegah Generasi Nol Literasi

190
BAGIKAN

“Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah.” ― Pramoedya Ananta Toer, House of Glass

Rabu pagi 19 Juli 2017 atas kerjasama para mahasiswa dari Pendidikan Administrasi Perkantoran dan Pendidikan Ekonomi Koperasi dengan penerbit PT. Raja Grafindo Persada, terselenggaralah workshop kepenulisan bertajuk “Cegah Generasi Nol Literasi” yang sekaligus menjadi peluncuran buku karya Dekan Fakultas Ekonomi pak Dr. Dedi Purwana E. S., M.Bus dan Dosen Fakultas Ekonomi pak Agus Wibowo S.Pd, M.Pd. Diluncurkan buku tersebut menjadi salah satu karya yang patut diapresiasi oleh kalangan akademika, terkhusus mahasiswa yang memang dituntut untuk dapat menuangkan ilmu ke dalam tulisan ilmiah. Apa yang sebenarnya menarik dari buku tersebut?

Buku berjudul “Lincah Menulis Artikel Ilmiah Populer dan Jurnal” ini ditulis oleh praktisi yang telah membuktikan dirinya sebagai penggiat kepenulisan lewat belasan judul buku dan puluhan karya tulis ilmiah. Buku dengan Bahasa yang ringan dan menyenangkan ini membimbing mahasiswa untuk langsung mempraktekan sendiri dan membuktikan menulis itu mudah!

Pak Dedi mengungkapkan salah satu alasan seorang mahasiswa harus menulis adalah karena para intelektual bukan semata mata mampu bekerja tapi mampu mentransfer pengetahuan.

“Buku ini kami persembahkan untuk ulang tahun FE. Mari harumkan nama FE dengan karya tulis. Kami tunggu aktualisasi karya para mahasiswa setelah membaca buku ini di koran dan artikel ilmiah.” Tutur pak Agus dalam sambutannya.

Peluncuran buku tersebut kemudian dilanjutkan dengan workshop kepenulisan “Cegah Generasi Nol Literasi” yang dibawakan oleh ibu Heni (staff marketing Raja Grafindo Persada) dan ibu Monalisa S.E, Ms (editor Raja Grafindo). Apa yang dimaksud dengan generasi nol literasi? Ternyata berdasarkan studi “Most Littered Nation In the World/ Bangsa dengan Literasi Tinggi” yang dilakukan oleh Central Connecticut State Univesity pada Maret 2016 lalu, Indonesia menempati peringkat ke 60 dari 61 negara.

Dengan perbandingan hanya ada 1 orang yang memiliki minat baca tinggi dari 1000 orang Indonesia. Sementara di luar negeri rata-rata 1 orang dapat membaca habis 20 judul buku dalam setahun. Mengapa hal ini bisa terjadi? Tentunya Karena banyak faktor. Salah satu diantaranya anak Indonesia sedari dini tidak diajarkan mencintai buku, tapi yang terpenting bisa membaca saja sudah cukup. Padahal untuk bisa menjadi bangsa yang maju, kebiasaan rajin membaca harus ditanamkan. Khususnya di era teknologi dengan akses informasi yang cepat, malas membaca membuat masyarakat mudah termakan berita hoax.

Membaca juga merupakan pintu pertama untuk memiliki keterampilan dalam menulis. Dengan urutannya, banyak membaca-bisa menulis-pandai bertutur. Yang sering dikeluhkan oleh mahasiswa sebagai kendala membaca adalah mahalnya buku-buku teks original dan membuat oknum mahasiswa lebih senang membeli buku bajakan. Padahal hal ini illegal dalam hokum dan tidak dihalalkan, Karena terdapat hak penulis berupa royalty di setiap buku original yang diterbitkan. Royalti yang diterima oleh penulis buku pun jumlahnya hanya 10% dari harga buku. Sisanya adalah biaya cetak, biaya marketing, dan biaya distribusi. Jadi untuk menghargai jerih payah penulis dan mendapat ilmu yang halal, mulailah berhenti membeli buku bajakan dari sekarang!

Komentar Kamu?

BAGIKAN