Home Suara Anda Dari Gawai ke Gawai

Dari Gawai ke Gawai

94

Gawainya bergetar, pertanda ada pesan masuk dari rekannya, berisikan tulisan mengenai dinamika kampusnya belakangan ini, dan karena ia sedang berjalan ia memilih membacanya nanti dan hanya membaca untaian puisi dari Gie di akhir tulisan itu,

“Hari ini aku lihat kembali
wajah-wajah halus yang keras
yang berbicara tentang kemerdekaan dan berdemokrasi
dan bercita-cita menggulingkan tiran
aku mengenali mereka
yang tanpa tentara mau berperang melawan diktator
dan yang tanpa uang
mau memberantas korupsi
kawan-kawan kuberikan padamu cintaku
dan maukah kau berjabat tangan selalu dalam hidup ini?” (Soe Hok Gie, 1973)

“Apakah kamu ingin mengulurkan tanganmu pada Gie untuk berjabat tangan dengannya?,” tanya Zein pada dirinya sendiri di hadapan cermin pagi itu di toilet masjid kampusnya. “Paling tidak menentang kebijakan yang tidak dapat dibenarkan di dalam kampus baru-baru ini,” batinnya sambil menaiki anak tangga.

Di kampusnya, begitu juga dengan kampus-kampus negeri lainnya, pada tahun ke tiga Zein berkuliah berlomba-lomba menerapkan uang pangkal untuk mahasiswa baru jalur mandiri tahun 2018, dengan konsepsi yang macam-macam. Di kampusnya lebih menarik, pihak kampus mekonsepsi uang pangkal gaya baru (begitu beberapa rekannya menyebutnya) itu dengan dalih sukarela. Meski realitas yang ada membuat Zein dan rekan-rekannya pun tidak mengamini sepenuhnya sifat sukarela yang di klaim birokrat kampusnya.

“Bro!,” sapa Abimanyu (Abi) pada Zein sampil menepuknya dari belakang seraya Zein pun agak terkejut. “Eh, elo, bi,” jawab Zein sekenanya. “Nanti sore ada konsol terkait uang pangkal di kampus kita, bro,” Kata Abi mengabarkan “Wah, iya? dimana? boleh, tuh,” jawab Zein antusias. “Pukul empat sore di Tugu Reformasi,” jawab Abi setelah melewati anak tangga terakhir.

“Duduk dulu sini!,” ajak Abi yang lebih dulu duduk di selasar masjid kampusnya itu. Zein pun mengikuti permintaan karib lain fakultasnya itu.

“Kita ngobrol-ngobrol ringan terkait dinamika kampus akhir-akhir ini, Zein,” lanjut Abi membuka pembicaraan. “gue dapat kabar maba (mahasiswa baru) jalur mandiri 2018 yang ikut sanggah UKT (verifikasi UKT), yang berhasil turun, beberapa di antaranya diminta kembali untuk memberi uang pangkal dengan diajukan lembar kesepakatan, gitu, udah denger?,” tanya Abi serius. “Bener! bukan main teganya birokrat kita. Gue juga dapat kabar seperti itu dari temen di fakultas gue. Setelah mereka memilih menyumbang Rp 0 atau tidak memilih menyumbang, saat ada momen verifikasi UKT mereka yang berhasil menurunkan UKT-nya banyak dari mereka malah „diporotin‟ dengan lembar kesepakatan baru itu. Sngat ganjil, bukan? Bukannya yang melakukan verifikasi UKT itu bermaksud meminta keringanan? Bukannya katanya ini sukarela?,” jawab Zein tak kalah serius. “Diperparah dengan rekan-rekan mahasiswa yang setengah-setengah dalam ngerespon ini.” Sesal Zein.

Abi menyambar Zein yang terlihat telah menuntaskan kegelisahannya, “Dan gue dapat kabar bahwa penerimaan jalur mandiri tahun ini menyalahi aturan. Dari Permenristekdikti yang gue baca batas maksimal 30%, tapi di kampus kita gak begitu! lebih dari 40%, bro! menyalahi aturan, bukan?”. “Jelas salah!,” jawab Zein sambil sibuk dengan gawainya. “Ini, lihat bro!,” seru Zein menunjukkan sesuatu pada layar gawainya. “Jumlah mahasiswa baru Diploma dan Program Sarjana sebagimana dimaksud pada ayat (1) paling banyak 30% (tiga puluh persen) dari keseluruhan mahasiswa baru,” mereka daras hati-hati Permenristekdikti No. 39 Tahun 2017 Pasal Delapan (8) Ayat Tiga (3) Tentang Uang Kuliah Tunggal (UKT) dan Biaya Kuliah Tunggal (BKT) itu.

***

Di tengah konsolidasi, setelah mengevaluasi hasil pergerakan sebelumnya, yang dimana pada kumpul sore itu mereka sudah satu kata dalam menyikapi isu akhir-akhir ini, kata yang bahkan sebenarnya dalam kebanyakan setiap kita pun perlu ikhtiar lebih: „Lawan!‟. Melawan kebiasaan malas membaca, melawan ketakutan saat berbicara kebenaran atau bahkan melawan habituasi pergerakan di kampusnya yang sifatnya sering kali top-down sedangkan yang sifatnya bottom-up tak dapat perhatian lebih. Zein yang gelisah mengajak semua yang hadir untuk kembali merapatkan barisan.

“Apa kah pergerakan kampus kita mengajarkan kita hanya untuk patuh pada seruan bergerak? bukan untuk merumuskan pergerakan dan membuat seruan? Alangkah beruntung jiwa zaman (Zeigest) zaman revolusi dahulu. mereka diisi oleh pemuda-pemuda nekat yang berbekal intelektualitas”,

“bukan kita,” lanjut Zein dengan suara pelan dan penuh sesal. “Dengan itu kaum- kaum tua juga akhirnya merasakan kemerdekaan,” Tambah Zein khidmat dan serius. Di akhir, ia menembangkan puisi Gie yang sempat kembali menggugahnya tadi pagi saat melangkahkan kaki menuju masjid kampusnya. Tanyanya dalam-dalam, melanjutkan puisinya,

“kuberikan padamu cintaku dan maukah kau berjabat tangan selalu dalam hidup ini?”

Komentar Kamu?