Home Suara Anda Membaca Pramoedya, Menjadi Pemuda

Membaca Pramoedya, Menjadi Pemuda

297

/1/
MALAM 16 Agustus 1945, di sebuah ruangan yang penerangannya temaram. Tampak sepasang kursi dan sebuah meja kayu di sana. Ada sejumlah orang-orang yang raut wajahnya tegang dan penuh tanya. Mungkin sebuah peristiwa penting akan terjadi.

“Kami tidak ingin mengancammu, Bung.” kata pemuda ceking berkacamata itu sesumbar. “Tapi revolusi sekarang ada di tangan kami dan di bawah kekuasaan kami. Kalau Bung tidak memulai revolusi malam ini, lalu…” pemuda ceking itu tidak melanjutkan kata-katanya.

“Lalu apa?!” umpat tetua itu yang mengenakan peci, menatap tajam pemuda ceking tadi. “Jangan coba-coba mengancamku. Jangan kalian berani memerintahku. Justru kalian harus mengerjakan apa yang kuingini. Aku tak akan pernah mau dipaksa menuruti kemauan kalian,”

Pemuda ceking berkacamata itu adalah Wikana, dan tetua berpeci adalah Sukarno. Dialog di atas adalah cukilan dalam satu peristiwa sejarah yang kemudian dikenal sebagai Peristiwa Rengasdengkolk—yakni peristiwa katalis Proklamasi Revolusi 17 Agustus 1945.

Jika Rengasdengklok dibaca sebagai peristiwa sejarah yang mempertautkan peran pemuda dalam perjuangan bangsa, maka dialog itu mengantarkan pada satu situasi yang membuat kita bicara tentang Pemuda, atau lebih tepatnya menjadi Pemuda.

Oleh sebab itu, bagi saya—ihwal membicarakan Pemuda—pada mulanya adalah Pram. Sebab saban akhir April, saya selalu ingat Pram. Atau lebih tepatnya, ingat detik-detik Pram sakaratul maut. Konon sahibul-hikayat, selain syahadat dan meminta rokok, Pram mengucapkan kalimat “Pemuda Harus Melahirkan Pemimpin” di ujung nafas terakhirnya. Itu kalimat yang kini terukir di batu nisannya.

Sejak pemuda Pram percaya bahwa Pemuda-lah penggerak Revolusi Indonesia. Ia saksi sejarah, tanpa peran dan kerja Pemuda, Revolusi Indonesia mungkin tergelincir menjadi lelucon sejak semula. Bahkan dengan keikutsertaan Pemuda sekalipun, duapuluh tahun kemudian, Revolusi Indonesia yang belum selesai itu akhirnya jatuh menjadi lelucon juga. Tentu kau mafhum maksud saya.

Bukankah sebuah lelucon, bila upaya melewati jembatan emas dari bangsa terjajah menjadi bangsa yang dapat menentukan nasibnya sendiri, dan mengarungi samudera guna menuju kesejahteraan dan keadilan sosial, malah terjerembab ke comberan utang-piutang-tiada-usai dan regres produksi, karena anasir kontrev dan tentara?

Saya pikir, dalam konteks itulah kalimat Pram di ujung hayatnya berpangkal. Mungkin itulah mengapa saya selalu terngiung hal tersebut.

/2/
BAGI saya, Pramoedya Ananta Toer adalah (salah satu) upaya yang saya tempuh untuk ‘Menjadi Indonesia’. Sebuah upaya yang terus, dan terus menjangkau bagian terjauh, dari segala yang tak mampu saya capai, dari sebuah kosa kata yang bernama: Indonesia.

Pram hadir dalam kehidupan saya, kira-kira pada tahun 2008, saat itu saya masih duduk di bangku kelas 3 SMP. Tentu bukan sosok Pram dalam wujud ‘nyata’, karena saya bukan siapa-siapanya Pram, melainkan Pram dalam wujud ‘teks’.

Karya Pram yang pertama saya baca berjudul Nyanyian Sunyi Seorang Bisu. Itu catatan Pram saat ia diasingkan di Pulau Buru, tahun 1966-1979, dan buku itu terbit untuk pertama kali pada tahun 1988. Buku itu saya peroleh dari tumpukan buku perpustakaan sekolah saya yang sangat jarang sekali dikunjungi oleh warganya. Saya membaca buku itu dengan perlahan. Sebelumnya saya tak sedikit pun mengenal Pram, apalagi karya-karyanya. Dari sekian banyak buku-buku yang berderet, entah mengapa tangan saya mengambil buku yang bersampul seorang lelaki paruh baya yang mengenakan kaos singlet putih itu, yang kelak baru saya ketahui, itu adalah sosok penulisnya, Pram.

Kau tahu, saya meyakini, perjalanan literasi seseorang dari satu buku ke buku yang lain, seolah piknik tanpa jalan pulang, yang digerakkan oleh ‘kekuatan tangan tak terlihat’, invisible hand. Perjalanan intelektual dan spiritual seseorang itu berbanding lurus dengan perjalanan liteternya. Yang menyebalkan ialah orang yang merasa sudah melakukan perjalanan intelektual dan spiritual tanpa melakukan perjalanan literer sejengkal pun.

Saya beruntung bertemu (karya) Pram sedini itu. Semasa usia saya masih muda, dan mimpi-mimpi berkelebat di benak saya. Saaat itu saya asik mendalami narasi-narasi yang tertulis di buku itu. Itu awal saya semakin ingn terus mendalami sosok Pram. Walau secara perlahan-lahan, hingga judul-judul buku Pram yang lain, Tetralogi Buru (mulanya saya membaca secara tak berurutan keempat buku tersebut, baru 2 tahun yang lalu saya membaca ulang secara berurutan, Bumi Manusia, Anak Semua Bangsa, Jejak Langkah dan Rumah Kaca), Larasati, Bukan Pasar Malam, Midah Si Gigi Emas, Gadis Pantai, dan karya Pram yang lainnya.

Deretan buku Pram itu ada yang saya baca sebanyak dua kali atau lebih, dan tak sedikit yang saya baca hanya sekali saja. Karena saya terbiasa membaca sebuah buku berulang-ulang, di hari dan situasi yang lain. Entah mengapa saya selalu menemukan dan mendapati suatu suasana dan atmosfer yang kerap berbeda. Bagi saya, setiap judul memang memiliki cerita-cerita yang berbeda, namun tak jarang ‘cerita-cerita’ itu pula ikut ‘berubah’, dan tambah menarik, ketika saya membaca ulang buku tersebut, dengan waktu, tempat dan situasi yang berbeda pula. Entah mengapa. Salah satunya adalah Gadis Pantai.

Seingat saya, pertama kali saya membaca Gadis Pantai saat saya duduk di kelas 3 SMA, ketika saya mendapatkan buku tersebut dengan harga miring (bayangkan buku Pram terbitan Hasta Mitra dibandrol dengan harga dibawah 40 ribu rupiah? Sebuah keajaiban yang tak pernah lagi saya peroleh hingga hari ini) di sebuah toko buku loak yang biasa saya sambangi, di daerah Jakarta Timur.

Sesampainya di rumah, saya lekas membaca buku ‘baru’ itu. Butuh beberapa hari saya menyelesaikannya. Karena saat itu saya harus berkejaran dengan berbagai (contoh) soal yang harus saya kerjakan. Maklum, saat itu sedang masa Ujian Nasional. Kesan pertama yang saya dapat seusai membacanya adalah betapa perempuan menderita, dan lelaki sangat mendominasi. Kesan itu hadir begitu gamblang, dan tersaji begitu telanjang ke hadapan saya, hanya karena lingkungan dimana saya tumbuh dan menjadi dewasa, ‘memaklumkan’ hal tersebut. Jadi, tak begitu mengguncang, dan biasa-biasa saja. Toh, itu saya lihat dan hadapi sehari-hari. Walau harus diakui, Pram begitu memukau kemampuan berceritanya, hingga orang awam seperti saya masuk begitu dalam di setiap narasinya.

/3/

SEBELUM lebih lanjut mendedah beberapa karya Pram, mari kita bertanya: Apa itu Pemuda?

Dalam magnum opus-nya yang berjudul Revolusi Pemoeda: Pendudukan Jepang dan Perlawanan di Jawa 1944-1946 (1990), Ben Anderson memaparkan peran kelompok-kelompok dalam masa kritis bagi Indonesia sebagai sebuah nasion yang menuju state pada Perang Dunia II yang mencapai titik klimaks dan awal Revolusi Indonesia 1945 yang baru-akan mendera. Dari sekian anasir yang bergelut dalam situasi itu, Ben memposisikan peran sentral Pemuda sebagai faktor dalam proses radikalisasi tersebut. Hal tersebut dipahami Ben dengan analisanya terhadap kedudukan Pemuda dalam kebudayaan Jawa yang mengalami krisis karena Jawa sebagai panggung sejarah kehilangan status quonya dengan dua peristiwa tersebut. Pemuda menjadi satu busur kehidupan dalam situasi krisis tersebut.
Dengan pemahaman demikianlah Ben mulai melihat peristiwa-peristiwa yang terjadi di Jawa (dari masa akhir Pendudukan Jepang, dampak Perang Pasifik hingga usaha kembalinya Belanda ke tanah jajahannya yang mengakibatkan perlawanan rakyat tanah air itu) dan memposisikan Pemuda sebagai pihak yang tidak kalah penting dari apa yang dikerjakan kalangan militer atau politisi, misalnya (Kemudian apa yang dimulai oleh Ben dilanjutkan oleh Robert Cribb dengan penelitiannya yang berjudul Para Jago dan Kaum Revolusioner Jakarta 1945-1949, tentang riwayat Laskar Rakyat Jakarta Raya sejak asal-usulnya, yaitu para penjahat kecil-kecilan, juragan buruh di perkampungan kumuh Jakarta dan perkebunan-perkebunan feodal di wilayah pinggiran Jakarta, hingga kehancurannya di tangan tentara Indonesia pada akhir 1940-an. Cribb menyoroti proses pahit dimana Republik Indonesia yang masih baru harus menyingkirkan dan menekan kelompok-kelompok yang menjadi penolong ketika kebangkitannya menuju kekuasaan.)

Dari pemahaman demikianlah, kita bisa memahami bagaimana peran Pemuda dalam Revolusi Indonesia. Juga perlu memahami cerita-cerita yang menekankan perjuangan Pemuda yang ditulis Pram. Bahkan, jika merujuk karya Arus Balik, Mangir, Tetralogi Buru hingga Sekali Lagi Peristiwa di Banten Selatan (yang disusun Sejarawan Adrian Vicker dalam buku yang berjudul Sejarah Indonesia Modern secara kronologis itu), ada historisitas perjuangan Pemuda dari satu masa ke masa lain. Artinya Perjuangan Pemuda adalah satu lintasan sejarah yang memiliki historisitas. Olehnya kita tidak heran bila Pram mengatakan demikian di ujung nafas terakhirnya.

Pemuda didefinisikan tidak sekedar sebagai entitas manusia berdasarkan deret-ukur usia. Melainkan “para Pemuda-satu-satunya tenaga yang tersedia di tengah keadaan sosiologis yanh ditentukan pemimpin-pemimpin hipokrit dan kelompok-kelompok politik opurtunis serta situasi filosofis yang subur dengan agama dan ideologi ketidaksadaran, budaya dan pengetahuan pembodohan; satu-satunya tenaga yang tersedia ketika buruh dan tani belum seluruhnya menemukan kawan-adalah tenaga inti Revolusi yang mempunyai tugas menghentikan dominasi dan hegemoni kesadaran kaun penindas atas mereka yang tertindas sehingga rantai pembodogan-pemiskinan rakyat dapat segera dihancurbuyarkan.” begitu bunyi sebuah manifesto politik sebuah organisasi yang menjadikan pemuda sebagai front utama perjuangan.

Bagi saya, definisi itu muncul tidak di ruang hampa. Melainkan atas pembacaan konteks historis yang melingkupinya. Kita perlu menengok tahun 1854, ketika pemerintah kolonial Hindia Belanda mengeluarkan undang-undang untuk mengatur pemisahan rasial dalam 3 tingkatan status sosial. Kelas pertama adalah golongan Europeanen atau orang-orang kulit putih Eropa. Yang kedua disebut Vreemde Oosterlingen atau Timur Asing yang meliputi orang (peranakan) Cina, Arab, India, maupun non-Eropa lainnya.

Selain menjadi kiat Pemerintah Kolonial untuk melakukan segregasi sosial guna menghambat mobilitas sosial masyarakat koloni, hal tersebut juga menjadi beban historis yang terus dipikul oleh kaum pribumi. Dalam perspektif demikian lah kita perlu memahami proyek besar Sukarno mengenai Persatuan Indonesia. Sebab, bagi Sukarno hanya dengan hal tersebutlah Indonesia bisa menyeberangi jembatan emas dan menuju revolusi sosialisme-nya.

Meski kita perlu mengkritik Sukarno, sosok yang dipuja dan dibela Pramoedya dengan sepenuh semangat. Konsepsi Persatuan yang didorong-upayakan oleh Sukarno bukan menegasikan politik kolonial tentang segregasi sosial, malah menjadi segregasi kelompok ideologi dan menihilkan peran Pemuda sebagai satu komponen penting dalam laju Revolusi. Alih-alih menjadi kekuatan, front pemuda didompleng oleh partai politik yang terjebak oleh pertarungan ideologi pada tahun 1959-1966, masa di mana Sukarno tampil sebagai Pemimpin Besar Revolusi.

Dengan perspektif demikianlah saya memahami konsepsi Pemuda dalam palagan sejarah Indonesia. Sebab dalam karya-karyanya, Pram percaya hanya dengan konsepsi Pemuda lah perjuangan bisa diteruskan sambil terus menegasikan anasir-anasir kelompok (dekaden dan ultra-revolusioner keblinger) dalam rel Revolusi Indonesia (yang belum selesai itu).

/4/

PEMUDA adalah poros utama dalam karya-karya Pramoedya Ananta Toer. Dalam bangunan karya Pramoedya Ananta Toer, acapkali digambarkan Pemuda bergelut dengan dengan situasi yang melingkupinya untuk terus mendorong dan berhasil menciptakan sejarah. “Sejarah dunia adalah sejarah orang muda, apabila angkatan muda mati rasa, maka matilah sejarah sebuah bangsa.” Begitu tulis Pramoedya Ananta Toer.

Mari kita tengok sejumlah karya Pram. Dalam Tetralogi Buru, Minke—sebagai tokoh utama—digambarkan tengah menjalani proses untuk menciptakan sejarah. Ia digembleng oleh situasi dan perkenalan-perkenalan dengan sejumlah tokoh lainnya (Ontosoroh, Jean Marais, Mei, Annalies dll) untuk mengambil peran dalam kehidupan bangsanya. Sebagai anak muda yang terpelajar yang sadar akan posisi politik bangsanya di pusaran politik dunia. Di pundak Minke juga feodalisme dicungkil sedemikian rupa—yang menjadi salah satu akar sebab mengapa manusia nusantara sekian avad berjiwa jajahan, jongos, babu, dan hamba. Hanya pemuda-lah yang mampu memcabut akar tersebut.

Pemuda lainnya dalam karya Pram ialah Wiranggaleng—yang dapat dibaca dalam karya Arus Balik. Novel itu berlatar Nusantara abad ke-16. Wiranggaleng dikisahkan punya pacar cantik, juara tari, bernama Idayu. Kedua anak muda desa Awis Krambil ini terlempar ke tengah hiruk-pikuk kekuasaan ketika Adipati Tuban, Wilwatikta, mengangkat Galeng sebagai syahbandar muda Tuban. Galeng dan Idayu menetap di Tuban, padahal mereka cuma bercita-cita punya huma di desa.Pengangkatan sebagai syahbandar muda di pelabuhan ramai inilah yang mengembangkan sosok Galeng. Ia melihat banyak peristiwa terjadi, terutama sosok Adipati Unus—putra Raden Patah,pendiri Kerajaan Demak—yang berusaha menaklukan Malaka setelah diambil oleh Portugis. Namun hal tersebut gagal, karena koalisi yang digalang gembos oleh pengkhianat. Hal ini membuat Galeng yang menyaksikan intrik tersebut tidak percaya. Bahwa persatuan adalah kunci untuk melawan kekuasaan.

Pemuda yang melawan adalah roh dalam karya-karya Pram. Namun sosok pemuda tersebut kerap juga ditukar-gantikan dengan sosok perempuan yang melawan atas ketertindasan dirinya. Kita bisa membaca tokoh-tokoh perempuan dalam karya-karya Pramoedya—tokoh Midah dalam Midah Si Gigi Emas, tokoh Larasati dalam Larasati, tokoh Sri dalam Dia yang Menyerah, tokoh Dedes dalam Arok Dedes, hingga Ontosoroh dalam Bumi Manusia—adalah upaya Pram untuk rubuh-bangunkan sosok perempuan yang dibentuk oleh kekuasaan. Artinya, Pram menyadari betul, bahwa di setiap kekuasaan selalu ada potensi untuk menjinakkan perempuan dengan berbagai cara dan karakter yang berbeda.

Perpaduan antara pemuda dan perempuan yang melawan adalah salah satu refleksi atas pembacaan karya-karya Pramoedya Ananta Toer. Bagi Pram melawan adalah syarat sebuah perubahan.

Karena saat membaca karya Pram, bagi saya semangat perubahan yang bergolak hanya bisa ditampung oleh jiwa Pemuda, dan bukan angkatan tua. “Angkatan mudalah yang membuat revolusi,” yakin Pram. Tentu saja dengan segala pengorbanan yang dikehendakinya, sebagaimana termaktub dalam sepenggal kalimat tokoh muda, Samaan, dalam roman Keluarga Gerilya, “Revolusi menghendaki segala-galanya … menghendaki kurban yang dipilihnya sendiri. Demikian hebatnya revolusi. Kemanusiaanku kukorbankan. Dan sekarang ini … jiwa dan ragaku sendiri. Demikianlah paksaan yang kupaksakan pada diriku sendiri. Kupaksa diriku menjalani kekejaman dan pembunuhan agar orang yang ada di bumi yang kuinjak ini tak perlu berbuat seperti itu … agar mereka itu dengan langsung bisa menikmati kemanusiaan dan kemerdekaan.” (hlm. 254)

Pram tidak sedang bergurau dan berangan-angan. Sejarah membuktikan bahwa hampir palagan semua perubahan sejarah yang terjadi di negeri ini digerakkan oleh pemuda—walaupun di kemudian sejarah juga mencatat bahwa hal tersebut sering dibajak dan ditikung oleh pihak-pihak di luar pemuda, misalnya tentara.

Mari kita ziarahi masa lalu. Sejarah mencatat bahwa bila pada kurun sebelum Abad-20 perjuangan melawan penindasan kerap kali dilakukan dengan perjuangan angkat senjata, maka Abad-20 memperkenalkan perjuangan melalui organisasi modern dan tulisan. Syarekat Priyayi muncul pada tahun 1904 menjadi perintis pergerakan dengan setumpuk gagasan awal kebangkitan kesadaran nasional. Penggerak utamanya dalah Tirto Adhi Surjo—sosok tulang punggung tokoh Minke dalam Tetralogi Buru—seorang aktivis dan jurnalis muda, yang disebut Pram sebagai “Sang Pemula yang pertama-tama di garis terdepan dan sendirian menyuluhi bangsanya dan sekaligus memimpinnya”. Di situlah perubahan pertama bermula, yakni revolusi kebudayaan dengan menitikberatkan pada isu-isu pendidikan dan keinsyafan kemanusiaan di kalangan priyayi, ulama, dan intelektual. Sejak itulah berbagai upaya dilakukan dengan pembentukan organisasi-organisasi beserta motor produk jurnalisnya.

Arkian tahun 1928. Yakni penyatuan kesadaran berbangsa pemuda yang kemudian melaahirkan sebuah ikrar pemuda sebagai buah dari tersatukan kekuatan kebudayaan yang terseraj dari berbagai daeraj dan etnik.

Palagan sebelum tahun 1945 ialah masa aktivis-aktivis muda yang telah mempersiapkan sedini mungkin kemerdekaan bangsa dengan memunculkan GAPPI (Gabungan Partai Politik Indonesia). Mereka membuat kongres Indonesia Raya atau Indonesia Berparlemen yang diselenggarakan di Bandung pada tahun 1938. Kemudian sepanjang tahun 1939-1945 adalah revolusi politik yang melahirkan Revolusi Agustus 1945. Tetapi pada akhirnya revolusi pemuda dibajak. Di saat itulah pemuda yang dianggap tokoh-tokoh yang tak bernama dan tidak diperhitungkan cenderung disepelekan. Malah yang keluar dan dicatat oleh sejarah dan ingatan kolektif ialah agen-agen yang dikuasai militer, dalam hal ini Angkatan Darat.

Kondisi serupa juga tahun 1968—saat Sukarno dipaksa turun dari kekuasaannya. Walaupun sejak tahun 1966 pemuda terlihat bergerak, tapi pergerakan adalah pergerakan yang tidak jelas arahnya. Arus besar pergerakan tersebut ialah arus pesanan, untuk tidak mengatakan seluruhnya. Angkatan Darat menyetir dan menggembalakan gerakan pemuda ’66, sebagai akibat perseteruan politik antara Angkatan Darat dan PKI yang berujung peralihan kekuasaan ke tangan tentara. Meminjam jargon Mochtar Pabotinggi, yang muncul bukanlah tentara yang ksatria melainkan tentara yang berdagang—yang tidak pernah menang perang dan hanya bisa menghantam dan menembak rakyatnya sendiri. Di titik inilah gelombang besar perjuangan pemuda dibajak oleh tentara.

Pada 1998, tentara yang berdagang ini pada akhirnya juga jatuh. Karena bom ekonomi tahun 1997 dan revolusi pemuda. Perjuangan pemuda untuk sekian kalinya dibajak. Kali ini oleh tentara yang sudah berganti rupa dan politisi tua yang bermental korup—hasil didikan tentara berdagang.Dengan nada keras, kesimpulan Pram adalah angkatan tua yang menjadi biang kerok kehancuran zaman kemarin-kemarin dan hari ini. Dalam Larasati, Pram menulis “Seluruh kedudukan yang diambil orang-orang tua. Mereka hanya pandai korupsi.” Juga dalam Anak Semua Bangsa, “Semua percuma kalau toh harus diperintah angkatan tua yang bodoh dan korup demi mempertahankan kekuasaan. Percua, Tuan. Sepandai-pandai ahli yang berada dalam kekuasaan, yang bodoh ikut juga jadi bodoh, Tuan.”

Sejarah sudah dan sedang berlangsung. Tak ada satu pun kekuatan yang bisa menghentikan lajunya. Manusia-manusia terus bergerak. Terus bergegas. Revolusi datang dan pergi tanpa pernah diduga. Perubahan adalah keniscayaan. Melenyapkan tiran-tiran berkuasa. Pemuda-pemuda yang melawan terus muncul tanpa henti dari rahim-rahim sejarah ibundanya. Membaca Pramoedya adalah membaca pemuda yang membuat sejarah.

Bagi saya membaca karya-karya Pramoedya artinya memahami lintasan sejarah dan perspektif Pemuda dalam Revolusi Indonesia. Juga upaya mengkontekstualkan konsepsi tersebut dengan meraba dan membaca gerak sejarah di masa milineal ini dengan tetap menjadikan Pemuda sebagai lokomotif sejarah.

Maka, menyitir riwayat pembacaan (karya-karya) Pram di atas sambil menimbang dialog tersebut, kita perlu bertanya: sudahkah pemuda milineal menentukan arah perjuangan dan melahirkan pemimpin? Saya pikir tidak ada yang lebih berhak menjawab ketimbang pemuda itu sendiri. Apakah kita pemuda? []

Tyo Prakoso
Pembaca dan perajin tulisan. Bercuap-cuap di IG/Twitter: @cheprakoso

*Tulisan ini merupakan pengantar diskusi “Alam Sastra Pram” yang diselenggarakan oleh Tengah Baca.

Komentar Kamu?