BAGIKAN

Hi, teman-teman pendidik di seluruh Indonesia! Pada kesempatan kali ini, saya ingin berbagai tulisan serial pendidikan yang InsyaAllah akan terbit setiap hari Sabtu. Semoga bermanfaat!

Pendidik itu ibarat sebuah teko. Jika ia tak berisi, maka bagaimana mungkin ia bisa mengisi?

Salam Inspirasi Pendidikan!

Apersepsi adalah sesuatu hal yang sudah tidak asing lagi di telinga teman-teman pendidik ataupun mahasiswa pendidikan alias para calon pendidik masa depan. Apersepsi, mungkin saja juga sudah dipraktikkan di dalam kelas masing-masing. Tapi, sudah tahukah konsep secara utuh tentang apersepsi?

Berdasarkan survei International PISA (The Programme International for Student Assesment) tahun 2012, Indonesia berada di peringkat kedua terbawah. Ya, peringkat ke 64 dari 65 negara atas hasil survei kemampuan akademik siswa-siswi Indonesia pada bidang Matematika, Membaca, dan Sains.

Lalu, sebenarnya siapakah yang salah? Siswa-siswi kita atau para pendidiknya?

Baiklah, jangan saling menyalahkan untuk kasus ini. Sebaiknya, kita sebagai pendidik ataupun calon pendidik harus selalu instropeksi diri, sebenarnya apa yang terjadi di dalam kelas kita selama proses pembelajaran berlangsung? Sudahkah, teman-teman pendidik membuat kondisi kelas yang nyaman ketika proses pembelajaran berlangsung? Adakah siswa-siswi dari teman-teman pendidik yang merasa tertekan ketika sedang belajar di dalam kelas? Atau pernahkah, teman-teman pendidik tidak mendapatkan perhatian sama sekali dari kebanyakan siswa ketika sedang mengajar? Oleh karena itu, pada kesempatan kali ini, kita akan sama-sama belajar bagaimana caranya merancang apersepsi sebagai kunci agar kelas semakin diminati oleh siswa.

Ada dua kisah tentang cara mengajar dua guru fisika di kelas VIII SMP. Kisah yang pertama, guru tersebut masuk kelas, memberi salam, mengecek kebersihan kelas, dan mengecek daftar hadir siswanya. Lalu, kemudian guru tersebut memberikan instruksi, “Ayo, anak-anak silakan buka bukunya halaman 34. Hari ini, kita mau belajar tentang Gaya Gesek Udara. Tapi, kalian cobain dulu mengerjakan soal nomor 5 dan 6 ya! Yang bisa menjawab, langsung aja maju dan tulis jawabannya di papan tulis!”

Bisakah teman-teman pendidik bayangkan, bagaimana reaksi atau respon dari siswa-siswi yang sedang belajar fisika tersebut?  Biasanya guru seperti ini tidak disukai dan tidak diminati oleh para siswa.

Kisah yang kedua, seorang guru fisika masuk kelas, memberi salam, mengecek kebersihan kelas, dan mengecek daftar hadir siswanya. Lalu, guru tersebut berusaha untuk menarik perhatian semua siswanya, dengan memberikan instruksi, “Anak-anak di tangan kanan ibu sudah ada buku yang sangat tebal. Di tangan kiri ibu, ada selembar kertas. Ibu akan jatuhkan secara bersamaan pada ketinggian yang sama. Hayo, menurutmu, mana ya yang paling cepat sampai ke bawah?”

Pada kisah yang kedua, guru fisika tersebut berusaha merebut perhatian siswa terlebih dahulu dengan cara membawa teaching aids. Lalu, guru tersebut memancing rasa penasaran semua siswa-siswanya tentang materi gaya gesek udara. Guru tersebut bertanya, mengapa buku yang duluan jatuh, apa penyebabnya, dan lain-lain. Semua siswa asyik belajar bersama dengan guru fisika tersebut, karena guru tersebut berhasil mendapatkan perhatian dan berhasil memacing rasa penasaran siswa-siswanya. Unsur rasa penasaran ini baik sekali untuk memulai pembelajaran.

Guru mana yang dapat diterima oleh siswa? Tentu, jawabannya adalah guru yang kedua. Apa bedanya dengan guru yang pertama? Jawabannya adalah guru yang kedua menggunakan apersepsi untuk siswanya, sedangkan guru yang pertama sama sekali tidak menggunakan apersepsi di awal pembelajaran.

Jadi, apersepsi ternyata berpengaruh sangat besar dalam proses belajar mengajar. Apersepsi sangat dibutuhkan dalam proses pembelajaran dan juga kemampuan pedagogik seorang pendidik.

Kesan Pertama Sangat Penting Sekali

“Menit-menit pertama dalam proses belajar adalah waktu yang terpenting untu satu jam pembelajaran selanjutnya.” –Munif Chatib

Jika teman-teman pendidik mampu menghadirkan nuansa yang penuh kenyamanan saat memulai pembelajaran di kelas, maka sudah bisa dipastikan menit-menit berikutnya akan menjadi milik teman-teman pendidik semua.

Kesan pertama dalam istilah pedagogik disebut apersepsi. Apersepsi adalah momentum penting yang sangat berharga di awal pembelajaran berlangsung. Inilah tugas terberat teman-teman pendidik, karena kita harus mempersiapkan dengan sebaik-baiknya.

Perlu teman-teman pendidik ketahui, apersepsi tidak sebatas mengecek kehadiran siswa, lalu memberikan tugas saja. Tapi, lebih dari itu! Apersepsi merupakan sebuah seni menarik perhatian siswa-siswi di awal proses pembelajaran, agar siswa-siswi merasa tertarik, antusias, dan terpacu semangatnya untuk mengikuti proses pembelajaran sampai akhir.

Teori Apersepsi dan Filosofi Mendasarnya

Teori Apersepsi pertama kali dikenalkan oleh Johan Freidrich Herbart (1776-1841). Herbart berasal dari Jerman. Ia adalah seorang psikolog, filsuf, dan juga seorang pakar pendidikan. Hasil pemikirannya yang ia kembangkan dari masalah-masalah yang terjadi dalam pendidikan, dikenal dengan nama Teori Apersepsi atau Teori Herbatisme.

Filosofi mendasar pandangan Herbart tentang Teori Apersepsi mengatakan bahwa manusia adalah mahluk pembelajar. Sifat dasar manusia adalah memerintah dirinya sendiri, lalu melakukan reaksi atau berekasi terhadap instruksi yang berasal dari lingkungannya, jika dia dibekali oleh dorongan atau rangsangan (stimulus khusus).

Sejatinya, manusia adalah mahluk pembelajar. Saya pernah menemukan seorang anak berumur 10 tahun yang selalu mengintip dari balik jendela kelas. Setelah saya terlusuri, ternyata anak tersebut tidak bersekolah karena harus membantu kedua orang tuanya bekerja. Di hari-hari selanjutnya, untuk kesekian kalinya saya menemukan anak tersebut yang sedang mengintip dari balik jendela kelas. Setelah saya tanya kepada anak itu, saya mendapatkan jawaban yang begitu menggetarkan hati. “Ibu, sebenarnya saya ingin sekali bisa bersekolah seperti teman-teman yang lain.” Dari pengalaman ini membuktikan kepada saya bahwa anak tersebut adalah individu yang sesungguhnya mempunyai keinginan yang kuat untuk belajar.

Di lain kisah, saya pernah mendapatkan keluhan seorang guru tentang kesulitannya mengatur siswa-siswinya ketika proses pembelajaran di kelas. Ketika guru tersebut memberikan instruksi, tapi siswa-siswinya tidak mengerjakan instruksi itu. Apa yang terjadi? Mengapa instruksi seorang guru tidak dikerjakan oleh siswanya?

Secara alamiah, manusia punya kemampuan memerintahkan kepada dirinya sendiri untuk melakukan sesuatu ataupun tidak melakukan sesuatu. Dan keputusan itu semua, berasal dari rangsangan dan kualitas informasi yang masuk ke dalam otaknya. Lalu, otaknya memproses dan memberikan reaksi. Dari reaksi tersebut, perintanya ada dua, yaitu melakukan atau tidak melakukan. Jadi, teman-teman pendidik jangan langsung mengecap bahwa siswa yang tidak mau mengerjakan instruksi guru berarti dianggap nakal atau punya hambatan belajar. Padahal, kualitas informasi yang kita berikan itulah yang menjadikan siswa mau atau tidak mau melakukan instruksi sebagai reaksinya.

Instruksi yang teman-teman pendidik berikan, juga tidak boleh sembarang. Ada seninya juga. Instruksi yang dibekali dengan dorongan (stimulus) khusus akan jauh lebih berdampak besar dibandingkan sekadar instruksi. Semoga dengan bagusnya kualitas informasi dan instruksi yang dibekali dengan dorongan (stimulus) khusus yang teman-teman pendidik berikan kepada siswa-siswi dapat membangkitkan rasa ingin tahu yang ada dalam dirinya sendiri.

Dalam proses pembelajaran, ada dua tahap besar, yaitu apersepsi dan strategi. Pada proses apersepsi ada beberapa tahap, diantaranya Alpha Zone, Warmer, Pre-teach, Scene Setting. Tahap-tahap ini akan saya kupas tuntas di tulisan selanjutnya. Nantikan ya!

Sumber:

Chatib, Munif. 2011. Gurunya Manusia. Kaifa: Bandung

Komentar Kamu?