Home Inspirasi Di Balik Pohon Besar Rawamangun

Di Balik Pohon Besar Rawamangun

53

Terik menerpa Rawamangun muka kala pertengahan tahun 1967. Seperti tahun-tahun sebelumnya, kemarau begitu terasa di tempat kami. Kurang lebih sama seperti suasana politik tahun ini yang teramat sangat panas.

Tempat kami, tak lain adalah sebuah institusi pendidikan tinggi yang berakronimkan dua huruf. U dan I. Lengkapnya dibubuhi akhiran Rawamangun sebagai identitas lokasi dimana berdirinya kampus kami. Tentu hal tersebut tak lain berangkat dari adanya 2 lokasi kampus U & I yaitu di Rawamangun serta Salemba.

Untuk nama yang terakhir sudah terlebih dahulu berdiri, sejak zaman politik ethiek digaung-gaungkan dipergantian abad silam. Atau bahasa kerennya, “penerus Stovia”.

Berbeda dengan Salemba, kampus Rawamangun baru dibangun setelah gegap gempita kemerdekaan bergaung. Tempatnya pun cukup (atau mungkin lebih tepatnya amat) terpencil. Sampai-sampai yang tadi kubilang, disebut ” tempat jin buang anak”.

Lingkungannya gersang, terutama saat bulan-bulan ini. Kemarau. Sejenak di pelataran lapangan kampus dapat sewaktu-waktu terjadi badai pasir kalau angin kering khas kemarau bertiup menghembuskan debu-debu serta butiran tanah merah.

Benci sekali aku saat ini terjadi, alamat kelilipan ini mata. Yang tersial, ketika sedang berbincang atau kala menguap. Tak perlu kututurkan kejadian selanjutnya bukan? Kalian dapat memproyeksikan apa yang akan terjadi. Sangat (amat) mengganggu kami, istilahnya “ngebubarin tongkrongan”.

Siapa pula yang tahan bersantai dengan kondisi tersebut.

Sampai tiba lah suatu hari.

————————————————————————————————————————

Seketika waktu istirahat datang, segera kulangkahkan kaki ini menuju kantin. Mencoba menghentikan asam lambung yang kian menggila akibat absennya asupan pagi hari. Di pikiranku sudah terbayang pecel ibu kantin yang tersohor dari generasi ke generasi.

Selain makanan, tentu kunantikan canda tawa kawan-kawan. Materinya tak jauh-jauh, kalau bukan keseharian perkuliahan ya pastinya lelucon masalah selangkangan. Kalau sudah membahas yang terakhir, jiwa bar-bar kami meluap-luap tak karuan. Maklum, namanya juga anak muda.

Sepersekian menit kemungkinan, setelah merapikan alat tulis serta buku-buku pegangan perkuliahan. Segera kutinggalkan kelas, dan segera menuju kantin yang terletak di seberang lapangan. Duh, mau tak mau aku harus berhadapan dengan badai padang pasir jika sedang sial.

“Han, mau ke kantin?” tegur Sinyo padaku seraya menepuk pundak ini.

Tentu, kubalas tepukan itu dengan senyuman. Sembari menganggukkan kepala. Kami berdua meninggalkan kelas, melintasi lorong fakultas Sastra hingga sampailah dimuka lapangan.

“Hei, itu Soe bukan?” seru Sinyo menunjuk sosok kecil bermata bulan sabit yang sedang termenung di depan ruangan Senat Mahasiswa.

Belum sempat membalas pertanyaan tersebut, Sinyo tanpa memberi aba-aba segera menarik tangan ini menuju pada sosok senior tahun ke-5 itu. Setauku, dan sepengenal ku memang Soe banyak digemari mahasiswi-mahasiswi. Tapi, bukan karena ketampanannya, atau juga kegagahannya. Tapi semua wanita yang tertarik padanya karena sikap baiknya terhadap sesama serta sifat sederhananya.

Dan yang paling penting, pintarnya yang tidak ketulungan ini. Sekali waktu Sinyo pernah ditertir statistika olehnya. Diwaktu yang lain, Ani kawanku yang lain juga pernah ditertir oleh Soe ketika harus mengulang.

“Soe… hei Soe kami mau ke kantin. Mau ikut ti-” belum sempat Sinyo menyelesaikan ajakannya. Sosok senior yang satu ini sudah beranjak dari lamunannya berlari memasuki ruangan senat mahasiswa. Dilain pihak, untung tak dapat ditawar naas tak dapat ditunda.

Badai padang pasir datang saat Sinyo memanggil-manggil Soe.

Untuk kejadian selanjutnya saya kembalikan kepada pembaca untuk memproyeksikannya.

————————————————————————————————————————

Yang jelas, setelah itu keadaan hatinya temanku yang satu ini tidak karuan. Bahkan sesampainya di kantin hingga selesai makan hanya sumpah serapah yang keluar dari mulutnya. Tentu saja, selain diacuhkan senior kesayangannya. Sinyo harus berulang-ulang kali berkumur-kumur di kamar mandi. Berharap aliran air di rongga mulutnya dapat membawa pergi semua partikel-partikel asing yang masuk tanpa diundang itu.

Dan aku pun, hanya bisa menyimak makian-makian kawanku yang satu ini. Tak kurang, tak lebih. Hanya masih terpikir kemana Soe tadi melangkah. Apa yang membuat dia bergegas begitu mendadak?

“Sinyo, kok cemberut saja. Nanti hilang loh cantiknya.” sahut Lantang.

Seketika itu juga, bibirnya ditarik ke kiri (dan juga kanan) membentuk lengkungan setengah lingkaran. Lantang pun bergabung bersama kami di meja kantin untuk menyantap makan siangnya.

“Tang, Soe sedang kenapa sih?” buka Sinyo.

Lantang tak serta merta menjawab pertanyaan itu, hanya senyuman yang hadir di wajahnya. Lebih tepatnya senyum menyeringai dihadirkan pria yang digadang-gadang “terganteng” oleh mayoritas mahasiswi Sastra.

“Duh, janda nomer 5 Soe. Kenapa bertanya begitu?” jawab Lantang, masih dengan senyum menyeringainya.

Sebelum salah sangka, janda yang dimaksud disini bukanlah status pernikahan yang biasa terpampang di kartu tanda penduduk. Janda di sini ialah sebutan bagi para perempuan yang (mencoba) dekat dengan Soe, tapi gagal merebut hatinya. Mungkin, karena kelewat banyak kami-kami sering berkelakar dengan memberi nomor urut mereka sesuai waktu di”janda”kan oleh Soe.

“Tadi, kupanggil-panggil Soe di depan ruang Senat. Tapi dirinya justru kabur hilang rimba, entah kemana. Apa diriku ini sudah begitu nista kah di hadapannya?” ujar Sinyo sembari menirukan akting pemeran utama perempuan yang kami tonton saat bedah film dilaksanakan klub debat minggu lalu.

“Duh, itu manusia susah ditebak deh maunya. Engga usah dipikirin, nanti juga kalau maunya udah kesampaian balik lagi dia.” sahut Lantang.

“Paling Soe kebelet kawin dia, burungnya udah mau lepas landas ke mana-mana.” seorang menyahuti percakapan kami. Dan tentunya disertai gelak tawa dan lelucon jorok lainnya. Seketika, pojok kantin begitu riuh penuh canda antar sesama mahasiswa. Mau itu pria, wanita. Kami larut dalam obrolan-obrolan ringan menjurus vulgar.

Di saat yang sama, di tempat yang sama. Hanya berbeda tempat duduk. Bara dan kawan-kawannya melihat kami dengan sorot mata menindas. Seakan pandangannya berkata, “Kita lagi di masa sulit bung, kalian malah berhura-hura seperti ini.” tapi tak satupun dari kami meladeni tatapan sinisnya. Memang kami tau sudah wataknya ia dan kawan-kawan seperti itu. Tetap kami tenggelam dalam riuh masa muda sampai-sampai waktu istirahat berakhir.

————————————————————————————————————————

Selepas perkuliahan, segera ku bergegas pulang. Mengingat adanya setumpuk tugas yang harus diselesaikan sebelum akhir pekan ini. Tapi belum sempat kaki ini melangkah keluar dari pelataran fakultas, Soe menepuk pundak ini seraya melontarkan sebuah pertanyaan (yang kemudian beranak pinak).

“Han, kabarnya elu punya kenalan ya di Cibodas?” bukanya

“Cibodas? Engga deh, engga ada keluarga gw yang rumahnya di sono Soe.”

“Duh, bukan itu Han. Tapi Kebun Raya Cibodas, ada?”

Seketika muncullah wajah Nengah, iparku yang kini menjabat sebagai kepala Kebun Raya Cibodas. Segera kuiyakan pertanyaan, dan segera rona wajah Soe seketika cerah menyambut jawaban ini. Tanpa basa-basi ia pun menjelaskan maksud pertanyaan tersebut. Soe bertutur jika ia bermaksud meminta tolong untuk meminta bibit-bibit tanaman pada Nengah.

“Untuk apa Soe, mau bercocok tanam kah?” tanyaku yang disertai naiknya alis mataku yang sebelah kiri sekian mili.

“Bukan lah, jadi gini Han. Lu liat sendirikan lapangan kita gersang abis. Nah biar engga gersang, gw kepikiran buat nanem pohon-pohon tuh. Jadi biar engga ada lagi tuh badai pasir di mari.”

“Boleh juga, coba nanti saya bicarakan dengan Nengah. Lu juga ikutan nanti pas ngomongnya ya.”

Kami (Hana dan Soe) kemudian bertemu dan serta merta meminta Nengah untuk diberi bibit pohon cemara dan beringin buat ditanam di kampus. Nengah setuju dan dengan meminjamkan mobil pick-up seorang kawan, kamu mengangkut bibit tanaman dari Cibodas ke Rawamangun. Bibit-bibit tersebut kami simpan di sekretariat senat fakultas, sampai-sampai banyak anggota senat lainnya memprotes, “Ini ruangan senat apa kebon dah?!”

————————————————————————————————————————

Malam Minggu, seperti biasa mahasiswa-mahasiswi kampus Rawamangun berkumpul di panggung untuk bersenandung dan merayakan masa muda. Sinyo dengan sigap mengamankan posisi vokal dan menyanyikan Donna donna. Tentu bukan sembarang ambil judul ia lakukan, ia paham betul Soe begitu menyukai lagu itu.

Dan benar saja, ku lemparkan pandangan menuju sosok Soe. Jelas senyum tersaji di wajahnya, walau tentunya ia tidak ikut bernyanyi. Semua orang di fakultas ini tentu tahu jika ia begitu menyukai musik, tapi ketika musik dimainkan ia selalu menolak untuk bernyanyi. “Soe itu suaranya buruk mungkin, saking buruknya mungkin nanti ada badai pasir lagi kalau dia nyanyi.” kelakar Lantang ketika ditanya mengapa sohibnya tak pernah ikut bernyanyi.

Kembali ke sosok Sinyo, ia bernyanyi begitu luwes dan merdu. Suara rendahnya disambut dengan petikan gitar yang mengiringi begitu syahdu di malam ini. Dan lagu pun selesai dengan riuh tepuk tangan para penonton.

Belum selesai para penonton mengapresiasi penampilan Sinyo. Soe mendadak berdiri di atas panggung. Ia berdiri tepat di sebelah Sinyo yang terpaku kebingungan dengan tingkah pria bermata bulan sabit ini. Sinyo tak sendiri, seluruh mahasiswa juga dibuat kebingungan oleh sikap pemuda ini.

Apakah ini menjadi penampilan perdana Soe ‘tuk bernyanyi? Ah tak mungkin, atau mungkin kah.

“Selamat malam bung nona, selaku ketua Senat Mahasiswa Fakultas Sastra. Saya mengajak kalian untuk hadir dan berpartisipasi dalam acara penanaman pohon di lingkungan kampus.” buka Soe

“Dapat kalian lihat, dan tentunya rasakan sehari-hari jika lingkungan kampus kita tercinta begitu gersang. Seketika angin besar bertiup maka badai pasir khas jazirah Arab tiba-tiba melanda pelataran lapangan bahkan kadang sampai memasuki ruang kelas. Maka dari itu saya mengajak teman-teman untuk menanam tanaman di lingkungan kampus. Dan denga…” belum selesai pidato darinya, tak disangka datang penolakan dari beberapa mahasiswa.

“Hoi, yang benar saja Soe! Sekarang bukan saatnya kita menghambur-hamburkan waktu dan tenaga.” Bara menyela.

Mendengar protes tersebut sontak Soe langsung menuruni panggung berusaha berdiskusi dengan Bara ‘tuk mendinginkan suasana. Dirangkulnya sobat yang tak lain kepala departemennya di sebuah lembaga lain di luar kampus. Dan mereka meninggalkan kami dan segera menuju bagian samping panggung.

Sinyo menarik lengan bajuku dengan harap-harap cemas. Setauku, Bara dan Soe awalnya adalah teman baik. Mereka sependapat terkait perlunya ada pembaharuan di kampus jua negeri ini. Namun jalan yang diambil keduanya jauh menyimpang, dan kini keduanya berjalan di sisi yang berbeda.

Di tengah-tengah kebingungan, tiba-tiba terdengar teriakan Bara yang kemudian menyulut adu mulu keduanya.

“Lu itu sebenernya orang mana Soe? Kiri atau kanan.” geram Bara yang memecahkan keheningan di salah satu sudut kampus Rawamangun.

“Elu ngomongnya dijaga ya, elu yang orang mana? Orang partai berbaju mahasiswa apa mahasiswa yang kebelet mau jadi orang parta hah!” Soe nampak terpancing oleh perkataan tersebut.

“Hoi…hoi… logika audiensi Soe, pertanyaan logikanya bertemu jawaban. Bukan pertanyaan dijawab pertanyaan.” Bara membalas sengit.

Hampir-hampir saja kedua terlibat adu fisik jika sebelumnya Lantang tak memisahkan keduanya. Dengan badan yang lebih besar, ia sigap menahan laju fisik kedua pria ini. “Ayolah, tahan bung. Kalau semuanya bisa diselesaikan dengan adu fisik. Kemarin-kemarin gak usah demo kita mendingan. Mending kita ajak gulat saja kalau gitu si Bung besar beserta menteri-menterinya di lapangan Banteng.” ujarnya saat keduanya sudah mulai terdiam.

“Soe, ayolah. Jangan habiskan waktumu untuk hal yang sia-sia. Naik gunung, nonton film, nongkrong, dansa, dan apalagi ini nanem pohon.” sahut Lantang masih dengan sisa-sisa emosinya.

“Mau apa lagi lantang? Ingat, kita ini mahasiswa. Layaknya cowboy Bara, masalah di kota selesai kita pergi. Kita masih mahasiswa, masih perlu belajar dan mendewasakan diri. Jangan naif! Kalau kau dan kawan-kawan mau ambil peran di parlemen sana, silahkan. Biar mampus kalian dipermainkan badut-badut Senayan! Dan gw pastikan, ya gw serta kawan-kawan yang masih berdiri di atas kaki pemikiran kami akan terus menghantuimu bagai kutukan!” tutup Soe seraya melayangkan telunjuknya ke arah sosok lawan bicaranya.

————————————————————————————————————————

Selepas pertikaian itu, Bara meninggalkan panggung fakultas dengan wajah merah padamnya. Dan Soe didampingi Lantang kembali meneruskan ajakan tentang kegiatan penanaman pohon yang akan dilaksanakan pada akhir pekan ini. Banyak tanya keluar dari para mahasiswa, namun semua pertanyaan tersebut dapat dijawab Soe dengan baik.

“Ini kampus kita, bung nona. Tempat kita kembali di sini, rumah kita yang kedua. Demonstrasi, praktek lapangan, penelitian, atau kegiatan apapun pasti nantinya kita kan kembali di sini. Jika pun nanti kita lulus, kelak tanaman ini menjadi manfaat bagi generasi sesudahnya dan sesudahnya. Kita tak pernah menanamkan apa-apa, kita tak’kan pernah kehilangan apa-apa.” tutupnya

Dan benar, selepas penanaman pohon itu. Lingkungan kampus Rawamangun menjadi hijau, tak lagi pernah datang badai pasir seperti sebelum-sebelumnya. Hingga datanglah musim hujan di penghujung tahun bersamaan dengan kabar Bara yang menjadi diangkat menjadi dewan perwakilan rakyat menggantikan para pengikut ‘palu arit’ yang tumbang di pusaran gejolak politik. Disaat yang hampir bersamaan juga dengan tumbangnya Bung besar dalam artian ide, usaha, dan jabatannya.

Komentar Kamu?