Home Karya Literasi Panjat Diri

Literasi Panjat Diri

65

Sungguh,
Tak pernah aku membenci malam nan gulita.
Walau selalu malam yang membunuh senja.
Walau selalu malam yang membutakan rasa.

Romansa diciptakan senja.
Semakin menjadi saat malam tiba.
Bersimpuh lalu berdo’a.
Mengingat dari datang fajar sampai senja.
Detik-detik penggores dosa.

Kemunafikan diri sebagai duri.
Mengucap pembelaan, hanya janji.
Padahal mereka, tapi telah ku ucap kami.
Bahasa membunuh nurani.
Literasi hanya media panjat diri.
Agar dilabeli peduli.
Padahal sabodo teuing yang di bui.

HAHA
Tertawa terbahak,
Lalu mati tersedak.
Lupa, menulis adalah kejujuran.
Dengan mudah aku mengumbar kemunafikan.
Orang percaya? Tentu, karna aku terpercaya.
Tulis, tulis, tulis dan enyahlah data.

HAHA
Sumpah! Bukan aku yang tertawa.
Oh, Tuhan tertawa disinggahsananya.
Betapa goyah hambanya,
Hanya karna harta atau bahkan sekedar nama.
Lupa orientasi hidup bukan manusia.

Terbisik,
Berubah walau tertatih.
Jujur walau pedih.

 

Oleh : Silviana Eka Dewi Hapsari

Komentar Kamu?