Home Inspirasi Membangkitkan Karakter untuk Kebangkitan Nasional di Era Globalisasi

Membangkitkan Karakter untuk Kebangkitan Nasional di Era Globalisasi

29

Seratus sebelas tahun memperingati Hari Kebangkitan Nasional, menandakan bahwa sampai saat ini Indonesia telah mampu berdiri di atas kaki sendiri. Melewati bertahun-tahun masa penjajahan membuat rakyat Indonesia bangkit dan mengukuhkan barisan. Rasa nasionalisme, semangat perjuangan persatuan dan kesatuan rakyat untuk memperjuangkan kemerdekaan Republik Indonesia sudah sejak lama ditanam penggawa bangsa.

Hari Kebangkitan Nasional tak lepas dari organisasi Boedi Oetomo. Boedi Oetomo merupakan organisasi yang didirikan oleh Sutomo bersama rekan-rekannya atas saran dari dr. Wahidin Sudirohusodo ketika belajar di STOVIA (School tot Opleiding van Indische Artsen). Peristiwa ini dilatarbelakangi oleh pemikiran kaum terpelajar yang menyadari bahwa Indonesia perlu meningkatkan mutu kesejahteraan masyarakat, karena pada zaman tersebut masyarakat Indonesia harus berhadapan dengan kebodohan, kemiskinan dan keterbelakangan. Melihat mirisnya kondisi tersebut, maka lahirlah organisasi Boedi Oetomo dengan tujuan berdasarkan hasil kongres Budi Utomo pada 5 Oktober 1908, yaitu mewujudkan cita-cita memajukan bangsa dan negara yang harmonis melalui upaya yang diberikan dalam bidang pendidikan, pengajaran, kebudayaan, pertanian, peternakan dan dagang, teknik dan industri.

“Boedi” artinya perangai atau tabiat sedangkan “Oetomo” berarti baik atau luhur, sehingga organisasi ini diharapkan berjalan berlandaskan keluhuran budi, kebaikan perangai atau tabiat dan kemahiran. Karena dianggap sebagai organisasi yang menjadi pelopor bagi organisasi kebangsaan lainnya, maka tanggal 20 Mei 1908 ditetapkan sebagai Hari Kebangkitan Nasional.

Dalam rangka memperingati Hari Kebangkitan Nasional, tiap tahunnya pemerintah selalu membangkitkan tema-tema yang diharapkan mampu memperkokoh persatuan. Tema Hari Kebangkitan Nasional yang diusung tahun ini, tepatnya tahun ke-111 adalah “BANGKIT UNTUK BERSATU”. Dilansir dari laman kominfo.go.id, diharapkan pada tahun ke-111 seluruh elemen masyarakat dapat terus memelihara, menumbuhkan dan menguatkan jiwa nasionalisme kebangsaan sebagai landasan dasar dalam melaksanakan pembangunan, menegakkan nilai-nilai demokrasi berlandaskan moral dan etika berbangsa dan bernegara, mempererat persaudaraan untuk mempercepat terwujudnya visi dan misi bangsa kita ke depan dalam bingkai Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Mau Lolos Masuk UNJ klik disini

Melalui hal ini, maka perlu usaha yang lebih keras untuk mencapai tujuan yang sungguh mulia ini. Tujuan akan dapat tercapai apabila proses yang dilakukan sesuai. Upaya pemerintah dalam mencanangkan tema bukanlah semata-mata sebagai perayaan yang hanya sebatas mengingat perjuangan para pahlawan di masa silam, tetapi juga sebagai refleksi diri terhadap bangsa Indonesia.

Refleksi diri sebenarnya tidak harus saat kebangkitan nasional, tetapi pada hari ini dapat dijadikan sebagai titik balik kesadaran bangsa Indonesia. Kesadaran bahwa pada era ini Ibu Pertiwi sangat membutuhkan sosok pejuang dan berkarakter sekaliyang menyadarkan dan mempererat persatuan Indonesia. Apalagi dunia saat ini sedang berjalan menuju revolusi industri 5.0. Banyak perubahan, penyimpangan dan permasalahan yang akan dilalui dan hal ini seperti ini adalah tantangan yang luar biasa sulit, sehingga diperlukan karakter yang kuat dari setiap individu untuk dapat bertahan dan berjuang menghadapi kehidupan yang semakin canggih.

Banyak sekali nilai-nilai karakter yang dapat diterapkan melalui peristiwa kebangkitan nasional. Misalnya, seperti yang telah dikaji oleh Setiawan (2018) nilai karakter dari peristiwa kebangkitan Nasional yang dapat diimplementasikan adalah semangat kebangsaan, cinta tanah air, kerja keras, mandiri, komunikatif, religius dan tanggung jawab. Selain ke tujuh nilai karakter tersebut, masih terdapat sebelas karakter yang memang perlu dimiliki oleh setiap individu, yaitu jujur, toleransi, disiplin, kreatif, demokratis, rasa ingin tahu, menghargai prestasi, cinta damai, gemar membaca, peduli sosial dan peduli lingkungan. Delapan belas karakter ini telah lama dicanangkan pemerintah sebagai bekal utama yang harus disiapkan untuk generasi sekarang dan masa depan.

Bangsa Indonesia perlu menguatkan karakter, karena karakter dapat membentuk suatu bangsa. Indonesia perlu masyarakat yang berkarakter. Karakter yang baik dan kuat sudah sepatutnya menjadi bekal manusia dalam menjalankan kehidupan. Manusia yang berkarakter tidak hanya memiliki kemampuan yang cerdas, tetapi juga mampu mengolah kecerdasan.

Mari, kita wujudkan Indonesia yang berkarakter. Bangsa yang berkarakter lahir dari rakyat yang berkarakter dan rakyat yang berkarakter lahir dari individu yang berkarakter. Yuk, sama-sama kita membangkitkan karakter untuk kebangkitan nasional di era globalisasi! Semangat berjuang!

 

Sumber:

Kominfo.go.id

Hadi, Johan Setiawan Ranando Sofiyan. Nilai-nilai Pendidikan Karakter dalam Materi Sejarah Kebangkitan Nasional Indonesia. Sejarah dan Budaya: Jurnal Sejarah, Budaya dan Pengajarannya 12.1 (2018): 39-48.

Komentar Kamu?