Home Inspirasi Sebuah Malam yang Sial (?)

Sebuah Malam yang Sial (?)

38

“Sialan, nanti kubalas saat pergantian shift berikutnya.” gerutu ku sepanjang jembatan penghubung antara halte Matraman 1 menuju Matraman 2. Kejengkelanku terhadap salah satu rekan kerja rasanya memuncak hari ini, malam ini. Lewat sebuah kesalahan (yang sepenuhnya bukan kesalahku) dengan mudahnya ia menudingku sebagai biang keladi merangkap pelaku tunggal dalam kehebohan tadi siang.

“Sial sekali aku hari ini.”

Terpikir berbagai rencana jahat untuk mencelakainya. Mulai dari menumpahkan minyak pada lantai yang nanti dilewatinya, mengantarkan pesanan palsu padanya, sampai-sampai fitnah dan tudingan tak benar sempat terlintas di benak ini. Terlalu asyik dengan segala kejahatan yang berpendar pada angan, kini diri ini (dengan tanpa sadar) sudah berada pada pintu penghubung halte menuju bis.

Menyadari hal tersebut segera kuhentikan langkah, dan seketika lewatlah sebuah bis dalam kota dengan laju tinggi. “Mati aku jika tidak berhenti tadi.” bisikku dalam hati.

Setelah menenangkan diri, kulempar pandangan ke arah kiri jalan mencari dua titik cahaya sorot kembar. Petanda datangnya bis yang akan mengantarkan ku tempat beristirahatku.

Tentunya di kegelapan Jakarta Timur, di 2/3 awal malam. Dimana tiap-tiap yang bernafas sudah beranjak menuju alam mimpi, lalu lintas di bawah fly over ini terbilang lenggang. Hanya terdengar sayup-sayup pekerja kontruksi underpass Matraman berbincang dalam istirahatnya mereka sebelum kembali meneruskan tugasnya malam ini. Dalam kesepian tersebut hanya lampu kendaraan yang silih berganti singgah dan pergi di cakrawala pandangan menjadi penghibur bagi jiwa-jiwa yang masih terjaga. Seraya menunggu bus datang, mata ini mencoba menangkap objek-objek yang melintas di perlintasan jalan Pramuka.

5 menit berlalu tak jua bis yang kunanti datang, terserah mau arah TU GAS, Pulo Gadung, atau apapun. Yang penting secepatnya ingin rasanya raga ini merebahkan diri pada ranjang di ruangan persegi panjang berukuran 2×3 meter. Letih rasanya seharianini ku bekerja (tanpa adanya apresiasi dari orang lain). Aku tak meminta pujian, cukup hargai saja.

3 menit berselang baru sebuah bus datang, lama sekali kurasa datangnya bis malam ini. Memang hari ini hari sialku.

Melihat beberapa bangku kosong tak berpenghuni, tanpa fikir panjang segera ku hampiri dan duduk melepas penat setelah seharian berdiri di belakang meja kasir. Pendingin bis yang kala itu tidak berfungsi sebagaimana mestinya, mungkin freonnya habis fikirku. Hal tersebut tak pelak membuat suhu di dalam bis begitu panas dan tentunya sedikit lembab. Pengap kurasai begitu menyiksa, biasanya dihari-hari lain dapat tubuh ini dapat aku istirahatkan sepanjang perjalanan. Tapi saat ini tidak, enggan sekali mata ini terpejam barang 10-20 menit sahaja.

“Sungguh hari yang sial.”

Ku layangkan pandang menerawang pemandangan dibalik jendela kaca. Jakarta belum tidur. Bagi sebagian orang demikian mungkin, masih terlihat beberapa penjaja makanan sepanjang trotoar sepanjang jalan Pramuka. Makanan-makanan yang tersaji dari mulai nasi goreng hingga ketoprak membuat perut yang belum diisi sejak siang bergejolak. Asam lambung yang memenuhi rongga lambung serasa berguncang kala supir bis mengendarai dengan tidak begitu baik. Makin-makin lapar kurasai sepanjang perjalanan.

“Memang sial hari ini.”

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Sampailah aku di tujuan, halte Pemuda Pramuka. Segera kulangkahkan kaki menuju gang-gang sempit khas jalan Pemuda yang kian hari makin menyerupai labirin. Tujuan langkah kaki malam ini bukan hanya kosan tempatku beristirahat saja, sebelum sampai diperanduan kusempatkan singgah di warung langganan ku yang rasa-rasanya hanya disana tempat makan yang buka dikisaran waktu sekarang.

Sesampainya dimuka warung di tengah-tengah pemukiman pemuda 3. Kulayangkan pandang ke etalase tempat biasa tersusun menu-menu sajian. Keramaian yang biasa kutemui di atas piring-piring yang bersusun kini sirna. Hanya tersisa sebongkah ikan tongkol goreng. Dari sekian ratus makanan yang perna kutemui di 24 ytahun ku hidup, mengapa harus ikan ini. Aku paling benci dengan ikan tongkol, mau dimasak apapun. Namun pendirian tersebut harus ku pemdam mengingat kondisi perut yang tak bisa diajak kompromi malam ini. Pada akhirnya kupesanlah lauk tersebut lengkap dengan nasi.

“Sungguh sial aku hari ini.”

Tetapi masih patut aku bersukur dibanding tidak sama sekali.

Sesampainya di kamar kos segera kurebahkan sejenak raga yang sehari ini diterpa berbagai tugas (dan juga cacian) pada kasur lapuk yang dibungkus sprei yang jarang dicuci. Semenit berselang bangkit aku dari tidur bersiap menuju kamar mandi untuk sekedar membasuh diri. Meluruhkan minyak, debu, serta kotoran yang menerpa tubuh seharian ini. Nasi dan lauk yang sudah kubeli ku buka bungkusnya agar ketika kusantap selepas mandi tidak terlalu panas saat memasuki rongga mulut. Kutitipkan keduanya di atas meja makan di sudut ruangan.

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Nyamannya mandi, “Andai manusia-manusia gerobak yang biasa menempati trotoar jalan Ibukota dapat merasakan kenikmatan ini.” fikir ku mengingat kejadian beberapa hari lalu. Beruntungnya aku, walau dengan segala keterbatasan masih dapat merasakan hangatnya malam ditemani sebungkus makanan.

Sesampainya di ruang muka, sontak pandanganku dibuat terkejut. Pintu depan terbuka sepertiganya.

“Celaka, lupa aku kunci pintu tadi. Maling masuk jangan-jangan.” tudingku seraya melemparkan pandangan keseisi ruangan. Hal pertama yang menarik perhatianku ialah tas selempang dimana tempat kutitipkan barang-barang berhargaku seperti telepon genggam dan dompet. Sepersekian detik segera kuhela nafasku, nampak tas berukuran kecil berwarna kombinasi biru laut dan hitam tergeletak bersebelahan dengan kasur.

Helaan nafas tersebut kemudian berubah menjadi sebuah tarikan nafas yang sengit kala telinga ini menangkap sebuah suara langkah kecil. “Malingnya masih di dalam rumah, mati aku bisa dibunuhnya.” kembali aku menuding terhadap sosok yang belum sekalipun tertangkap organ mata ini. Perlahan langkahku kutarik sekian langkah menuju dapur mencari sebuah barang, sekadar untuk membela diri. Tanpa sadar tangan ini menyentuh sebilah pisau dapur berukuran sedang, tanpa ragu kuraih benda yang baru seminggu lalu kuasah di pasar Sunan Giri.

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Kembali telinga ini menangkap suara langkah kecil, persis seperti tadi. Makin lama makin kurasai suara tersebut melangkah mendekat. Kembali kulayangkan pandangan menelisik keisi ruangan, tak ada kutemui bayang manusia satu pun. Sepersekian detik kemudian telinga ini jelas mendengar langkah kecil tersebut makin nyata, namun kali ini disertai suara gesekan plastik yang khas.

“Makan malam ku!” segera ku berbalik menuju meja makan dimana ku tempatkan nasi bungkus berlauk tongkol goreng. Dan benar sahaja kutemui sosok maling kecil berbulu hitam lebat berekor buntung.

Seekor kucing kurus menggondol ikan tongkol, laukku malam ini. Aku meloncat, kuangkat tinggi pisau, biar kubacok dia, biar mampus!

Ia tak lari, tapi mendongak menatapku tajam. Mendadak lunglai tanganku.

“Aku melihat diriku sendiri.”

Lalu kami berbagi, kuberi ia kepalanya. Batal nyawa melayang, aku hidup ia hidup kami sama-sama makan.

*Catatan: Potongan terakhir merupakan adaptasi dari puisi Wiji Thukul yang berjudul “Kucing, Ikan Asin, dan Aku” yang sedikit disesuaikan dengan konten cerita.

Komentar Kamu?