Tentang Nama dan Harap yang Lekat dalam Jiwa
untuk: UNJ
Bukan sekadar nama
Ada hidup yang coba Kau rangkul
Ada harap yang terus Kau hela
Juga
Perihal lain yang kita sebut sebagai perjuangan
Almamater
Atau sebut saja kulit
dari tubuh Kau yang berasal dari kami
Hijau
Serupa daun pada pukul 09.00 pagi
Menatap mimpi di bawah
sengat matahari
Kami ada dan berharap menjadi Kau
Kau ada karena ada mimpi yang kami gantungkan
Atau mimpi Kau
Tentang Pertiwi tanpa air mata
Atau Bangsa yang tidak mengenal kebodohan
Atau kaki-kaki Negara yang terus hidup sebagai perjalanan
tanpa akhir
Kau bukan sekadar nama
Tubuh Kau beribu kota pada negara
Jiwa Kau muasal ingin dari keragaman suku kami
Kau jadikan kami satu
Tanpa perbedaan atau sesuatu yang membatasi
Kukenakan nama Kau ke mana-mana
Di jalanan, ruang baca, sekolah, jendela perpustakaan,
kantor gubernur, halaman gedung perwakilan rakyat,
atau di hadapan sesuatu yang kami anggap tidak memiliki
keadilan
Kukenakan Kau dalam jiwa kami
dan Kau
menjadi besar sekali lagi
IKRAR
Kami mahasiswa-mahasiswi negeri mimpi
Mengaku
Menunjukkan arah dengan pandangan
tanpa tipu muslihat
Menyentuhkan harap dengan suara
tanpa ketidakpastian
Kami mahasiswa-mahasiswi negeri mimpi
Menjunjung
bahasa yang tidak mengenal kebohongan,
pemikiran yang tidak berisi kehancuran
Kami mahasiswa-mahasiswi negeri angan
Menerima
keputusan dalam bentuk pengawasan
penunaian hak dalam bentuk yang sesuai
pelaksanaan kewajiban dalam sikap perjuangan
Kami mahasiswa-mahasiswi negeri harapan
Beralmamater satu
almamater berwarna kejujuran
Awahita
Dari Rawamangun atau dari tubuh Kau yang lain
Dari pandangan mata atau dari mimpi-angan untuk Indonesia
Dari sekolah dan segala ruang yang berisi pendidikan
Dari masa lalu yang berisi harap atau dari harap yang berisi keinginan
Dari tubuh yang berisi tubuh kami dan kami yang bertubuh
pada mimpi negeri tanpa kebodohan
Kami seperti kami atau kamu yang lain
Lentera yang menjaga
Pertiwi tidak mengenal gelap
Perayaan
Dua atau sepuluh
Tiga atau lima belas
Lima puluh tiga
Atau angka sebelum dan sesudahnya.
Setiap angka atau waktu
memiliki cara untuk merayakan
tubuh dan menandai hari kebesaran.
Segala masa tentang Kau,
di dadaku,
adalah perayaan bagi harapan dan mimpi
angan yang kusemogakan
dalam segala tindak
dan perjuangan.
Seusai Perayaan
Matikan lilin
Bereskan kursi
Rapatkan baris
Luruskan niat
Kobarkan semangat
Kepalkan hati
Teguhkan diri
Samakan suara
Kurangi cela
dan
perjuangan kita mulai
sekali lagi
Oleh: Nugraha Sinaga (Pendidikan Bahasa UNJ Angkatan 2016)
Tulisan ini dipersembahkan untuk Pesta Literasi 2017 yang diselenggarakan oleh UNJKita
