Home Inspirasi Selembar Kertas Ujian Matematika

Selembar Kertas Ujian Matematika

125

“Sialan…!!!” ujarku saat melihat lembar ulangan matematika. Jawabanku benar semua, tapi goresan yang terpampang di lembaran hanya bernilai A-. Sudah ku hitung ulang 4 sampai 5 kali semua jawaban atas 25 soal yang diberi guru baru itu. Guru laki-laki yang baru mengajar kurang dari sebulan ini sudah berani-beraninya mengurangi nilai sempurnaku.

Memang pada bagian akhir soal selalu ia beri paraf merah petanda benarnya sebuah jawaban. Memang A, tapi mengapa harus disertai dengan tanda kurang setelahnya?

Kulihat Budiman si rangking 2, lembarnya justru mendapat nilai A+. Kucocokkan jawaban kami berdua. Dan voala, jawaban kami sama tepat. Hanya beda cara saja, cara yang ia pakai memutar kesana-kemari sedangkan aku lurus sesuai apa yang tertuang di buku pegangan.

Jelas tak terima ku dibuatnya, segera kaki ini kulangkahkan kaki menuju ruang guru. Kutemui guru magang itu, biar kuperlihatkan bagaimana pemikiran ‘ku si langganan juara satu ini. Bisa-bisanya jawaban tepat, sempurna ku dinodai begitu saja. Oleh guru baru pula.

“Dasar tak berkompeten.”bisikku di sepanjang lorong kelas 9. Kulihat para adik kelas dalam ruangan tersebut memandang ku dengan tatapan heran. Mungkin baru pertama kali mereka melihat si bintang sekolah semarah ini.

Se-dua kali teman menyapa ku, namun kuacuhkan salam-salam mereka seraya melangkah cepat menuju ruang guru. Aku tak punya urusan dengan kalian, tujuanku hanya meja guru magang itu. Di ujung lorong kelas 9, kubelokkan kaki menuju tangga untuk menuruninya sampai ke lantai dasar.

Sesampainya di bawah segera berbelok aku menuju ruang guru yang terletak di tengah-tengah lorong lantai dasar. Ku langkahkan kaki dengan mantap lengkap dengan berbagai argumen bantahan yang telah kusiapkan sedari dalam kelas, tepatnya setelah membandingkan lembar jawabanku dengan punya Budiman.

Dan kini berdirilah aku di depan pintu ruang guru. Kulayangkan pandangku keseisi ruangan mencari sosok kurus berambut kelimis tersebut. Satu menit mata ini menelisik ruangan bercat hijau tapi tak jua kutemui si guru magang itu.

“Loh ndo, nyari siapa?” pak Supardi menegurku dari belakang. Tanpa sadar guru olahraga ini sudah berada di dekatku seraya menepuk bahu ku sebelah kanan.

Kujelaskan padanya tujuan ku menyambangi ruangan yang berpintu biru tosca ini. Tentunya tanpa ditambahi dengan masalah di lembar ujian. Cukup maksudku menemuinya.

Mendengar jawaban tersebut ia lalu mengacungkan jari telunjuknya menuju kantin yang berletak di samping belakang gedung sekolah. Beberapa saat yang lalu ia sempat bertegur sapa dengan guru magang tersebut di meja pojok kantin.

Mendengar jawaban tersebut, segera kulangkahkan kedua kaki ini menuju lokasi tersebut. Tentunya setelah berterima kasih dan izin pamit dengan pak Supardi. Tanganku masih memegang erat lembar jawaban, lembaran yang tertera huruf A yang disertai tanda minus.

Ku jaga baik-baik agar tidak terlipat karena hembusan sengit angin khas akhir tahun. Setapak demi setapak diri ini makin mendekat menuju kantin sekolah yang usianya 3 kali lipat dari usiaku.

Sampailah diriku di muka kantin, kulayangkan pandang menuju pojok kantin sesuai arahan sebelumnya. Tak ada, tak ada kutemui sosok klimis itu. Sepersekian detik kemudia baru kulihat sosoknya di wastafel kantin sedang mencuci alat makannya. Kutunggu dia di luar kantin, kembali kurangkai kembali bantahan dalam angan dan ku atur nafas ini agar tak memburu ketika berbicara nanti.

Semenit berselang sampailah sosok yang tak lebih tinggi dariku ini di muka kantin. Ku tunjukkan lembaran kertas tersebut padanya. Pertanyaan tersebut tak lupa kusertakan pula dengan 4-5 logika yang kubangun atas rumus-rumus yang tercetak pada buku pegangan.

Ia tersenyum, tak jua pembelaan ataupun elakkan hadir di bibir tipis yang bertahtakan segaris kumis. Makin kesal lah aku melihatnya. Nafasku makin memburu, nada bicaraku tanpa sadar sudah meninggi.

Seperti bukan aku yang biasa.

“Ingat perkataan saya beberapa saat sebelum ujian?” bukanya.

Tentu jelas ku ingat pernyataan guru magang ini, ia berpesan untuk membawa imaginasi dan kreativitas kami dalam isian-isian ulangan hari ini. Sungguh permintaan yang tak masuk akal. Membawa imajinasi pada jawaban pertanyaan matematika? Gila guru ini. Kembali coba kubantah perkataannya, tudingan-tudingan sampai kulempar padanya. Ia kembali tersenyum.

Bel penanda jam istirahat selesai berbunyi, kembali tanpa jawaban ia lemparkan padangannya pada lingkaran tangan sebelah kiri. Tempat berdiam sebuah jam tangan sederhana dengan tali bermotif batik. Sesaat kemudian kembali pandangannya tertuju padakum

“Kamu kelas 10 A kan?” kini segala tudinganku dibalas dengan sebuah pertanyaan. Membuat alis kiri ku mau tak mau naik sekian mili dibuatnya. Tanpa mendengar jawabanku ia meneruskan kembali kalimatnya, “Saya sekarang ada kelas di 10 B, sebelah persis kelasmu. Mari ikut saya.” kembali bukan jawaban yang kudapat, justru sebuah ajakan kuterima.

Kembali dan kembali lagi, tanpa menunggu jawaban dari ku ia balikkan badannya menuju tangga barat gedung sekolah.

“Pak, kenapa kearah sana? Kan kelas A dan B itu di dekat tangga timur.” ujarku seraya mengejar punggungnya. Ia menoleh dan kembali tersenyum. “Sudah ikuti saja, ada beberapa hal yang tak perlu diungkapkan dengan kata-kata.” jawabnya yang disertai dengan langkah kakinya menuju tangga timur.

Mau apa guru yang satu ini, jika ingin mengajak jalan-jalan baiknya sekalian saja ke Dufan atau Ancol sekalian.

Segera ku dekati sosok kecil itu dengan langkah cepat. Sebetulnya tak ada kewajibanku mengikuti perkataannya saat ini. Toh bukan dia guru yang nanti mengajar di kelasku nanti.

Kini sampailah kami di muka tangga timur. Kami tapaki satu persatu anak tangga, di pertengahan jalan ia berpesan untuk memperhatikan keadaan sekitar. Apa pula maksud guru ini, sudah tak ada jawaban yang kuterima kini ia beri pula aku tugas. Sudah konslet kepalanya mungkin.

Di lantai 2 tiba-tiba ia berbelok menyusuri lorong kelas 3. Sudah malas aku bertanya pada mahluk ini. Pasti bukan jawaban yang kutemui, hanya sebuah tengokan yang diiringi senyuman yang ada. Kulemparkan pandangan menuju sebelah kanan tempat ruang-ruang kelas berada.

Murid-murid yang bersiap menghadapi ujian nasional sedang giat-giatnya melahap pelajaran dengan disertai 2-3 buku pedoman untuk memahami materi yang akan diujiankan secara komprehensif. Bosan melihat sosok-sosok yang duduk kaku menghadap bangku sekolah, segera kulemparkan pandangan ini ke arah berlawanan. Berbeda dengan sisi yang pertama, di sisi kiri terdapat murid laki-laki sedang asik bermain sepak takraw di tengah lapangan. Sedangkan yang murid wanita tengah sibuk mempersiapkan jaring-jaring volly dengan bantuan beberapa murid laki-laki yang tidak bermain takraw.

Ditengah perjalanan ia berhenti tepat di depan ruang 12 C, seorang murid perempuan menghampirinya seraya menyodorkan beberapa halaman HVS. Ia tersenyum dan mengacungkan ibu jari pada perempuan ini. Tak lama mereka mulai berbincang tentang isi dari lembaran-lembaran tersebut. Kedua manusia yang terpaut usia 1 dasawarsa usianya terdengar sedang asik membahas sastra.

Larasati jika tak salah kudengar nama novel yang mereka bincangkan. Beberapa lembar yang tadi diberikakan tak lain ialah resensi dari novel tersebut.

Seorang murid SMA membaca Larasati? Hebat sekali untuk seukuran anak muda masa kini membaca karangan Pram. Dan terang saja, segera kukenali sosok wanita itu yang selama ini berlindung di balik sosok si guru magang, Kirlani si penyair kenamaan sekolah ini. Ahai manisku, dambaku, cinta pertamaku sedari awal masuk SMA ini berada kurang dari 5 meter jaraknya dariku.

Tapi, kenapa bidadari ku ini harus berbincang dengan guru bantet sialan ini? Di dekatnya jelas-jelas ada aku si bintang sekolah. Tanpa sempat berujar sepatah kata kini dara jelita bermata bulat, berpipi tirus, berhidung melengkung, serta kumis tipis yang bertahta di bibir tipisnya sudah pergi meninggalkan 2 perjaka di akhir tahun kabisat ini.

Sejenak si guru magang ini bersandar pada dinding pagar lantai 2 sekolah negeri bernomer 2 digit ini. Pandangnya di lempar jauh-jauh pada cakrawala Ibukota dipukul satu siang lebih 5 menit. Matanya menembus awan melewati stratosfer dan mengambang di antariksa.

“Sekolah itu bukan pabrik pencetak para penjawab soal.”

Ujarnya yang sontak membuatku kembali heran. Badannya yang bersandar membuat sosoknya makin mengekil kurasai.

“Tujuanmu masuk sekolah apa?”

“Ya untuk menjadi pintar jelas pak?”

“Apa yang membuatmu merasa sudah menjadi pintar sekarang?

“Ya bisa bapak liat sendiri nilai rapot saya.”

“Rapot mu asalnya dari mana?”

“Dari hasil ujian harian, UTS, dan ujian akhir.”

“Oh begitu, ingat tadi yang saya ucapkan?”

“Ya, tentu ingat. Baru beberapa saat yang lalu bapak bilang.”

“Sekolah lebih dari itu nak, jika yang kau lakukan hanya menghapal isi buku. Lalu kau pindahkan kedalam lembar-lembar jawaban. Maka apa bedanya dirimu dengan mesin?”

“Ya kan memang begitu sistem sekolah pak.”

“Simpelnya seperti ini, jelas-jelas 2 ditambah 3 itu 5. Betul kan? Tapi bagaimana jika saya beri anda 5 saja. Pertambahan apa yang bisa didapat dari 5 itu?

“Ya 1 ditambah 4 bisa, 2 ditambah 3 seperti bapak jelaskan tadi bisa juga. Atau jika dihitung dengan pertambahan desimal bisa lebih banyak variasi lagi.”

“Bagus, seperti itu. Belajar dengan imajinasi lebih luas dibanding dengan hanya memindahkan apa-apa yang tertulis di buku. Seperti perjalanan kita tadi, jika hanya lewat tangga barat kau tak ‘kan bisa melihat bagaimana perjuangan murid kelas 3 menuju UN. Kau jua tak ‘kan melihat bagaimana asiknya lapangan sekolah saat ini.

“Bahkan-bahkan kau tak ‘kan bertemu dengan Kirlani, wanita idaman mu yang setahun ini tak pernah sekalipun berani kau berbincang dengannya. Sebentar lagi dia lulus loh, bisa tak berbalas cintamu haha. Tak usah bertanya dari mana aku tau soal itu, wajahmu sudah bercerita jelas bagaimana perasaan mu. Mungkin dia sudah sadar lewat tatapan harap menjurus nanar mu.”

Aku tak menjawab, hanya sejenak membuang wajah tersipu ini. Mungkin lain kali harus kumintai dia untuk mengenalkan kami. Di luar hal itu, perkataan singkatnya begitu merasuki pikiranku. Rangkaian katanya berpendar dalam pikiranku dan menggumpal menjadi serangkaian ide dan gagasan.

“Kamu tidak salah, hanya kurang kreatif saja. Kalau masalah hitung-hitungan tepat atau tidaknya kan sudah ada kalkulator pintar saja. Tinggal masukkan angka dan tambahkan rumus. Abrakadabra keluarlah jawaban secara instan.

“Dirimu lebih dari itu nak, kenapa? Kau punya pikiran, hati, dan kehendak. Dan lewat dua hal itu lah mengapa kita disebut manusia dan tugas sekolah ialah memanusiakan manusia. Bukan merobotkan manusia kan. Mana kertas ulangan mu tadi?” perkataannya kini ditutup dengan sebuah pertanyaan.

Beberapa saat setelahnya, bangkitlah ia dari sandarannya. Kuberi dia kertas ulangan ku, diraihnya seraya mengeluarkan pena merah dari saku belakang celananya. Diberi lah sebuah garis vertikal menurun di atas tanda -. Kini nilai yang terpampang di kertas sudah berubah. Memang nilainya tetap A, tapi sekarang sudah berganti tanda yang menyertainya menjadi +

“Ini bonus atas jawabanmu.” ujarnya, yang juga disertai dengan senyuman.

Tak sepatah kata keluar dari mulut ini, hanya anggukan yang dapat kuberi sebagai balasan perkataan itu. Segera kami lanjutkan perjalanan menuju ruang kelas. Bibir yang seharian ini enggan menunjukkan keramahan kini tersenyum sejadi-jadinya.

Sesampainya di depan kelas A yang ternyata sudah terdapat bu Elly pengampu mata pelajaran Bahasa Indonesia. Dengan santai ia bersapa dengan guru paruh baya itu, “Maaf ya bu, murid satu saya pinjam tadi.” ujarnya seraya melempar senyum khasnya. Bu Elly berbalas senyum mempersilahkan aku untuk memasuki kelas.

Guru magang itu pun mohon undur diri dan kami segera memulai kembali pelajaran yang sempat terhenti. Dasar guru yang aneh, lain kali mungkin aku pinta bantuannya untuk berkenalan dengan Kirlani. Lain kali.

Komentar Kamu?