<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Bimbel Archives - UNJKita.com</title>
	<atom:link href="https://unjkita.com/tag/bimbel/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://unjkita.com/tag/bimbel/</link>
	<description>Saling Menginspirasi untuk Indonesia</description>
	<lastBuildDate>Thu, 12 May 2016 05:56:12 +0000</lastBuildDate>
	<language>en-US</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=6.9.4</generator>

<image>
	<url>https://unjkita.com/wp-content/uploads/2018/08/cropped-unjkita-32x32.png</url>
	<title>Bimbel Archives - UNJKita.com</title>
	<link>https://unjkita.com/tag/bimbel/</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>BIMBEL: Industrialisasi dalam Pendidikan</title>
		<link>https://unjkita.com/bimbel-industrialisasi-dalam-pendidikan/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[UNJKita.com &#124; @pemburukampus]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 04 May 2016 00:09:58 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Suara Anda]]></category>
		<category><![CDATA[Bimbel]]></category>
		<category><![CDATA[Hari Pendidikan Nasional]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://unjkita.com/?p=2814</guid>

					<description><![CDATA[<p>Maju mundur atau baik buruknya peradaban suatu masyarakat, suatu bangsa, akan ditentukan oleh pendidikan yang dijalani oleh masyarakat bangsa tersebut, itulah yang dikatakan oleh Ibnu...</p>
<p>The post <a href="https://unjkita.com/bimbel-industrialisasi-dalam-pendidikan/">BIMBEL: Industrialisasi dalam Pendidikan</a> appeared first on <a href="https://unjkita.com">UNJKita.com</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Maju mundur atau baik buruknya peradaban suatu masyarakat, suatu bangsa, akan ditentukan oleh pendidikan yang dijalani oleh masyarakat bangsa tersebut, itulah yang dikatakan oleh Ibnu Khaldun. Kemajuan suatu bangsa dapat dilihat dari kualitas sumber daya manusianya. Salah satu caranya ialah dengan meningkatkan pendidikan dari semua sumber daya manusianya. Begitu pentingnya pendidikan sehinga menjadi gerbang sebuah peradaban.</p>
<p>Beberapa hari yang lalu kita baru saja merayakan Hari Pendidikan Nasional, hari yang seharusnya menjadi bahan evaluasi kita bersama mengenai carut marut pendidikan di Indonesia. Pada awal April yang lalu siswa-siswi SMA di Indonesia baru saja melaksanakan Ujian Nasional (UN) yang katanya sebagai alat penilaian terhadap tenaga pendidik dan kependidikan, serta satuan pendidikan. Dan beberapa hari lagi siswa-siswi SMP dan SD pun akan melaksanakan UN juga, semoga pelaksanaan UN memang benar-benar sebagai alat untuk mengukur tenaga pendidikan dan kependidikan serta satuan pendidikan.</p>
<p>Jika kita berbicara UN, maka kita tidak akan terlepas dari sebuah lembaga yang identik dengan UN, yaitu lembaga Bimbingan Belajar (Bimbel). Seperti dua sisi mata uang Bimbel dan UN tidak dapat dipisahkan. Di Indonesia, Bimbel seperti sebuah kebutuhan bagi masyarakat Indonesia. Bimbel berdasarkan UU nomor 20 tahun 2003 pasal 26 ayat (4) ialah satuan pendidikan nonformal terdiri atas lembaga kursus, lembaga pelatihan, kelompok belajar, pusat kegiatan belajar masyarakat, dan majelis taklim, serta satuan pendidikan yang sejenis. Bimbingan belajar (Bimbel) merupakan salah satu contoh dari lembaga kursus. Adanya Bimbel ini sesuai dengan pasal 26 ayat (5) ialah untuk membantu peserta melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi.</p>
<p>Jika dilihat dari definisi atas mengenai Kursus dan Bimbel, kita bisa mengetahui bahwa Bimbel merupakan salah satu jenis dari Kursus. Perbedaannya ialah, Kursus sangat mengedepankan keterampilan, sedangkan Bimbel tujuannya tidak mengedepankan keterampilan melainkan mampu menjawab soal-soal guna menghadapi ujian, baik ujian masuk PTN ataupun ujian sekolah dan ujian nasional (UN). Kedua faktor tersebut yang menjadikan Bimbel semakin berkembang, dan menjadikan Bimbel merupakan fenomena sosial dimana adanya Bimbel menyesuaikan kebutuhan industri pasar dalam dunia pendidikan.</p>
<p>Bimbel dikatakan sebagai bentuk budaya karena adanya perilaku yang berkembang di masyarakat. Para peserta didik berlomba-lomba memasuki Bimbel karena faktor agar lolos memasuki PTN favorit dan lulus UN. Adanya Bimbel menciptakan perubahan tingkah laku dalam masyarakat, dimana ketika memasuki Bimbel masyarakat akan merasakan prestise. Tingkah laku masyarakat yang berkembang seperti fenomena tersebut menyebabkan Bimbel sebagai gaya hidup (<em>Lifestyle</em>) dan kebutuhan dalam pendidikan.</p>
<p>Selain kedua faktor di atas berkembangnya Bimbel juga karena kurang optimalnya peran sekolah sebagai pendidikan formal, sehingga hal tersebut dijadikan celah oleh lembaga Bimbel untuk melebarkan sayapnya. Sebagaimana diungkapkan oleh Paulston dan Le Roy.</p>
<p style="padding-left: 30px;"><em>“Pendidikan formal mengalami kegagalan logistik dan fungsi sehingga untuk memenuhi kebutuhan pendidikan yang begitu besar dan cepat maka munculah sistem pendidikan alternatif di luar pendidikan formal.( Wiratomo, Paulus 1986, Indonesian Non Formal Education Program: Problems of Access and The effect of The Programs on The Attitudes of Learners, Albany: State University of New York)”.</em></p>
<p>Dalam pembelajarannya di Bimbel tidak ada proses, yang ada hanya paradigma bagaimana caranya belajar dengan cepat dan tepat agar lulus UN dan masuk PTN favorit. Bimbel seolah-olah merupakan industri pendidikan yang berorientasi “lulus UN” dengan cepat dan tepat tanpa menekankan proses. Bimbel merupakan lembaga yang mempraktikkan teori Behavioristik yang memberikan stimulus dan respon kepada peserta didik sehingga peserta didik bisa dan biasa dengan soal-soal uji kognitif, teori ini dikemukanakan oleh Ivan Pavlov. Aliran ini menekankan pada terbentuknya prilaku yang tampak sebagai hasil belajar, hal tersebut sangat bertentangan dengan bunyi UU SISDIKNA Nomor 20 tahun 2003 yang sangat menekankan proses.</p>
<p>Meskipun Bimbel lahir sebagai alternatif untuk memenuhi kebutuhan pendidikan formal yang gagal, namun peran Bimbel tetap saja tidak akan mampu menggeser peran pendidikan formal, yaitu Sekolah. Hal tersebut dikarenakan di Bimbel hanya diajarkan aspek-aspek kognitif sedang aspek-aspek psikomotorik dan afektif tetap membutuhkan lembaga formal seperti sekolah untuk menerapkannya.</p>
<blockquote><p><strong>Baca juga: <span style="color: #993300;"><a style="color: #993300;" href="http://unjkita.com/wahai-para-guru-harusnya-kalian-cemburu/">Wahai Para Guru, Harusnya Kalian Cemburu!</a></span></strong></p></blockquote>
<p>Semoga dengan adanya tulisan ini bisa menjadikan kita sebagai pelaku pendidikan, menyadari bahwa dalam pendidikan proses sangat diperlukan dan menjadikan Hari Pendidikan Nasional bukan hanya satu hari dalam satu tahun untuk dijadikan bahan evaluasi. Namun, setiap hari adalah Hari Pendidikan Nasional untuk mengevaluasi pendidikan yang ada saat ini.</p>
<p>Oleh:<strong> Nur Hayati (FIS UNJ)</strong></p>
<p>The post <a href="https://unjkita.com/bimbel-industrialisasi-dalam-pendidikan/">BIMBEL: Industrialisasi dalam Pendidikan</a> appeared first on <a href="https://unjkita.com">UNJKita.com</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Wahai Para Guru, Harusnya Kalian Cemburu!</title>
		<link>https://unjkita.com/wahai-para-guru-harusnya-kalian-cemburu/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Gia Ghaliyah]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 03 May 2016 18:11:12 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Suara Anda]]></category>
		<category><![CDATA[Bimbel]]></category>
		<category><![CDATA[Hari Pendidikan Nasional]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://unjkita.com/?p=2807</guid>

					<description><![CDATA[<p>Wahai Para Guru, Harusnya Kalian Cemburu! Siswa telah mengandalkan Bimbel (Bimbingan Belajar) untuk keberhasilan menjawab soal-soal UN atau untuk memasuki jenjang pendidikan yang lebih tinggi....</p>
<p>The post <a href="https://unjkita.com/wahai-para-guru-harusnya-kalian-cemburu/">Wahai Para Guru, Harusnya Kalian Cemburu!</a> appeared first on <a href="https://unjkita.com">UNJKita.com</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><em>Wahai Para Guru, Harusnya Kalian Cemburu!</em></p>
<p>Siswa telah mengandalkan Bimbel (Bimbingan Belajar) untuk keberhasilan menjawab soal-soal UN atau untuk memasuki jenjang pendidikan yang lebih tinggi. Lalu apa gunanya sekolah? Apakah sekolah telah berubah fungsinya hanya sekadar produsen ijazah sebagai pemenuhan persyaratan administratif untuk masuk ke jenjang pendidikan berikutnya? Benarkah kredibilitas sekolah di negeri ini sudah merosot tajam dan tak mampu mencetak siswa berkualitas?</p>
<p>Fenomena tersebut sudah sering terjadi. Wahai para guru di sekolah, seharusnya Anda tidak tenang-tenang saja! Apa yang salah dengan sistem sekolah? Apa yang salah dengan kualitas Anda? Harusnya guru cemburu ketika para siswanya ‘berselingkuh’ dengan Bimbel, tidak tenang-tenang saja seperti ini! Kondisi ini seharusnya menjadi tamparan keras bagi sekolah terutama para guru. Maraknya lembaga Bimbel sedikit banyak adalah representasi dari ketidakpercayaan orang tua dan siswa terhadap sekolah formal. Lihat, Bimbel menjamur dan begitu populer, digandrungi bak seperti buah yang sedang musim panen!</p>
<p>Apakah Bimbel sebagai pelengkap (pengayaan) pelajaran di sekolah? Atau… Tidak hanya itu! Apakah karena Bimbel mampu mempersiapkan siswa secara sistematis, intensif dan terpadu dalam mengerjakan soal-soal ujian apapun? Apakah karena Bimbel mempunyai bank soal yang lengkap, variasi soal yang banyak, dapat memprediksi soal seperti apa yang akan keluar pada ujian nanti? Apakah karena Bimbel mempunyai tutor yang berasal dari mahasiswa atau tamatan PTN favorit?</p>
<p><em>Wahai Para Guru, Harusnya Kalian Cemburu!</em></p>
<p>Apakah para guru di sekolah sudah tidak layak dipercaya lagi sehingga siswa lebih memilih Bimbel sebagai jaminan kelulusan dengan nilai yang tinggi? Atau sistem pendidikan sekolah yang sudah tidak layak dipercaya? Atau… apakah memang kehadiran Bimbel sangat dibutuhkan untuk mengalihkan tanggungjawab pelayanan pendidikan yang berkualitas dan meringankan tugas yang seharusnya diemban sekolah dan guru?</p>
<p>Silakan dijawab.</p>
<p>Perselingkuhan ini merupakan pemborosan waktu dan biaya. Perselingkuhan ini juga terlalu membebani siswa sehingga kebebasan waktu bagi mereka untuk mengekspresikan dan mengaktulisasikan diri menjadi terbatas karena dari pagi hingga malam harus men-<em>drill</em> soal-soal dan belajar terus secara simultan. Wahai para guru, tegakah kalian melahirkan generasi mesin dan robot penjawab soal?</p>
<p>Cemburu artinya harus bergerak! Ini namanya telah terjadi pemotongan esensi pendidikan di Bimbel. Sudah seharusnya sekolah memperbaiki kinerjanya kepada siswa untuk mengembalikan kepercayaan tersebut. Jika sekolah telah berperan sesuai dengan visi dan misi sekolah, tentu kinerjanya menghasilkan kepuasan bagi siswa. Guru dan sekolah harus bisa mengoreksi cara pembelajaran agar tetap bisa menyenangkan dan memberi layanan pendidikan yang baik, sehingga hak-hak siswa tidak tertinggal. Ingat, substansi pendidikan adalah memanusiakan manusia menjadi manusia sesungguhnya.</p>
<p><em>Wahai para guru, mari kita berefleksi!</em></p>
<p>Sekolah dan guru tidak lagi akan dipercaya oleh masyarakat, khususnya siswa yang merasa tidak diberi layanan maksimal di sekolahnya. Dan selama itu pula, lembaga Bimbel tetap akan dijadikan alternatif yang jitu untuk menjembatani masa depan peserta didik untuk diterima dan mengikuti pendidikan di jenjang berikutnya.</p>
<p><strong>Ironi Bimbel Sebagai Bahan Evaluasi Sistem Pendidikan</strong></p>
<p>Baiklah, mari kita akui, Bimbel lahir karena adanya kekurangan dari pendidikan formal, yaitu sekolah. Sistem pendidikan formal seperti di sekolah memang belum baik, karena masih menitikberatkan pada nilai atau hasil saja. Penyelenggara Bimbel, ada yang tergerak mendirikan bimbel dengan alasan ingin terlibat dalam menyelesaikan persoalan peningkatan kualitas pendidikan nasional. Namun, Bimbel hadir sebagai katalis pemburuknya, yaitu komersialisasi pendidikan. Industri bimbel telah mengambil celah bisnis itu. Penyelenggara juga butuh mata pencaharian untuk mendapatkan uang dan perlu menciptakan lapangan kerja bagi yang mempunyai kemampuan mengajar.</p>
<blockquote><p><strong>Baca juga: <span style="color: #993300;"><a style="color: #993300;" href="http://unjkita.com/bimbel-industrialisasi-dalam-pendidikan/">BIMBEL: Industrialisasi Dalam Pendidikan</a></span></strong></p></blockquote>
<p><em>Wahai Para Guru, Harusnya Kalian Cemburu!</em></p>
<p>Memang apa istimewanya Bimbel? Pendidikan berbasis teknologi informasi justru telah lebih dulu dikembangkan bimbingan belajar daripada sekolah formal. Banyak Bimbel menggunakan sarana komputer, internet dan multimedia. Para pembimbingnya juga masih <em>fresh graduate</em>. Cara mengajarnya juga sangat menyenangkan, tidak membosankan, sungguh <em>up to date</em> dengan informasi dan ilmu-ilmu pengetahuan baru.</p>
<p>Dibanding melihat sisi komersialisasi pendidikan, pemotongan esensi pendidikan di Bimbel dan lain sebagainya, ironi Bimbel yang telah terjadi dapat dijadikan bahan untuk mengevaluasi kesalahan apa yang telah diperbuat oleh sekolah dan para gurunya. Ya, sekolah dan para guru harus berani melakukan koreksi dan introspeksi diri terhadap nilai minus yang disandangnya, sehingga para siswa dan orang tuanya lebih mengandalkan Bimbel untuk melakukan proses belajar.</p>
<p>Sekolah jangan hanya memikirkan bagaimana caranya naik kelas, lulus, masuk sekolah/universitas yang bagus. Sekolah harus mulai berbenah diri untuk melakukan perubahan sistem dari berbagai aspek, baik sarana-prasarana, kurikulum, sumber belajar dan sebagainya. Selain itu, kualitas guru di sekolah juga harus ditingkatkan! Jangan sampai kualitas guru di sekolah “kalah” oleh kualitas pengajar di Bimbel.</p>
<p>Guru jangan hanya terpaku pada kurikulum tanpa mau mencari inovasi-inovasi dalam meramu materi dan menciptakan metode pembelajaran yang sesuai dengan tingkat perkembangan. Guru juga harus dilatih bagaimana mempersiapkan semua model pendekatan baru dalam implementasi praktik pembelajaran. Seperti, pembuatan satuan pembelajaran, evaluasi, alat bantu, perubahan filosofi, pergeseran paradigma interaksi pembelajaran dengan siswa dan sebagainya. Tanpa ada perubahan yang baik dilihat dari aspek profesionalisme guru, sulit dibayangkan akan terjadinya keberhasilan praktik pembelajaran di sekolah.</p>
<p>Jika siswa merasa percaya diri mengikuti berbagai seleksi setelah beberapa minggu belajar di tempat Bimbel, maka mengapa ia tidak percaya diri setelah enam tahun belajar di SD atau tiga tahun belajar di SMP/SMA/MA/SMK? Jawabannya mungkin saja metode belajar yang tidak tepat. Guru harus melakukan perubahan paradigma “mengajar” dan metode atau strategi dalam proses belajar dan pembelajarannya. Jika guru-guru di sekolah tidak melakukan terobosan strategi pembelajaran yang tepat, jangan heran proses belajar yang dilakukan di sekolah selama bertahun-tahun tidak akan berkenan di hati para siswa, dan mereka merasa bangga dengan lembaga Bimbel yang diikuti.</p>
<p>Ya, guru, sekolah dan orang tua siswa pasti telah melakukan upaya yang terbaik. Namun, jika guru hanya “menggugurkan” kewajiban melaksanakan proses pembelajaran yang ala kadarnya, sekolah hanya sekadar menjalankan perannya sebagai tempat penghasil nilai dan pencetak ijazah, dan orang tua hanya mendukung dari segi doa dan dana, maka selama itu pula akan lahir lulusan-lulusan sekolah yang tidak berkualitas. Ingat, cemburu itu artinya bergerak. Ayo, mari bergerak!</p>
<p>Sekali lagi, Selamat Hari Pendidikan! Wahai para guru jangan tenang-tenang saja, harusnya kalian cemburu!</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong><em><a href="http://www.giaghaliyah.com">Gia Ghaliyah,</a> </em></strong><em>salah seorang tenaga pendidik yang sedang terbakar api cemburu.</em></p>
<p>The post <a href="https://unjkita.com/wahai-para-guru-harusnya-kalian-cemburu/">Wahai Para Guru, Harusnya Kalian Cemburu!</a> appeared first on <a href="https://unjkita.com">UNJKita.com</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>
