<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Indonesia Archives - UNJKita.com</title>
	<atom:link href="https://unjkita.com/tag/indonesia/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://unjkita.com/tag/indonesia/</link>
	<description>Saling Menginspirasi untuk Indonesia</description>
	<lastBuildDate>Fri, 29 Nov 2019 22:55:16 +0000</lastBuildDate>
	<language>en-US</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=6.9.4</generator>

<image>
	<url>https://unjkita.com/wp-content/uploads/2018/08/cropped-unjkita-32x32.png</url>
	<title>Indonesia Archives - UNJKita.com</title>
	<link>https://unjkita.com/tag/indonesia/</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>Membangkitkan Karakter untuk Kebangkitan Nasional di Era Globalisasi</title>
		<link>https://unjkita.com/membangkitkan-karakter-untuk-kebangkitan-nasional-di-era-globalisasi/</link>
					<comments>https://unjkita.com/membangkitkan-karakter-untuk-kebangkitan-nasional-di-era-globalisasi/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Dian Fitriani]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 21 May 2019 02:06:41 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Inspirasi]]></category>
		<category><![CDATA[Indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[kebangkitan Nasional]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://unjkita.com/?p=22023</guid>

					<description><![CDATA[<p>Seratus sebelas tahun memperingati Hari Kebangkitan Nasional, menandakan bahwa sampai saat ini Indonesia telah mampu berdiri di atas kaki sendiri. Melewati bertahun-tahun masa penjajahan membuat...</p>
<p>The post <a href="https://unjkita.com/membangkitkan-karakter-untuk-kebangkitan-nasional-di-era-globalisasi/">Membangkitkan Karakter untuk Kebangkitan Nasional di Era Globalisasi</a> appeared first on <a href="https://unjkita.com">UNJKita.com</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Seratus sebelas tahun memperingati Hari Kebangkitan Nasional, menandakan bahwa sampai saat ini Indonesia telah mampu berdiri di atas kaki sendiri. Melewati bertahun-tahun masa penjajahan membuat rakyat Indonesia bangkit dan mengukuhkan barisan. Rasa nasionalisme, semangat perjuangan persatuan dan kesatuan rakyat untuk memperjuangkan kemerdekaan Republik Indonesia sudah sejak lama ditanam penggawa bangsa.</p>
<p>Hari Kebangkitan Nasional tak lepas dari organisasi Boedi Oetomo. Boedi Oetomo merupakan organisasi yang didirikan oleh Sutomo bersama rekan-rekannya atas saran dari dr. Wahidin Sudirohusodo ketika belajar di STOVIA (<em>School tot Opleiding van Indische Artsen</em>). Peristiwa ini dilatarbelakangi oleh pemikiran kaum terpelajar yang menyadari bahwa Indonesia perlu meningkatkan mutu kesejahteraan masyarakat, karena pada zaman tersebut masyarakat Indonesia harus berhadapan dengan kebodohan, kemiskinan dan keterbelakangan. Melihat mirisnya kondisi tersebut, maka lahirlah organisasi Boedi Oetomo dengan tujuan berdasarkan hasil kongres Budi Utomo pada 5 Oktober 1908, yaitu mewujudkan cita-cita memajukan bangsa dan negara yang harmonis melalui upaya yang diberikan dalam bidang pendidikan, pengajaran, kebudayaan, pertanian, peternakan dan dagang, teknik dan industri.</p>
<p>Boedi artinya perangai atau tabiat sedangkan Oetomo berarti baik atau luhur, sehingga organisasi ini diharapkan berjalan berlandaskan keluhuran budi, kebaikan perangai atau tabiat dan kemahiran. Karena dianggap sebagai organisasi yang menjadi pelopor bagi organisasi kebangsaan lainnya, maka tanggal 20 Mei 1908 ditetapkan sebagai Hari Kebangkitan Nasional.</p>
<p>Dalam rangka memperingati Hari Kebangkitan Nasional, tiap tahunnya pemerintah selalu membangkitkan tema-tema yang diharapkan mampu memperkokoh persatuan. Tema Hari Kebangkitan Nasional yang diusung tahun ini, tepatnya tahun ke-111 adalah BANGKIT UNTUK BERSATU&#8221;. Dilansir dari laman kominfo.go.id, diharapkan pada tahun ke-111 seluruh elemen masyarakat dapat terus memelihara, menumbuhkan dan menguatkan jiwa nasionalisme kebangsaan sebagai landasan dasar dalam melaksanakan pembangunan, menegakkan nilai-nilai demokrasi berlandaskan moral dan etika berbangsa dan bernegara, mempererat persaudaraan untuk mempercepat terwujudnya visi dan misi bangsa kita ke depan dalam bingkai Negara Kesatuan Republik Indonesia.</p>
<p>Melalui hal ini, maka perlu usaha yang lebih keras untuk mencapai tujuan yang sungguh mulia ini. Tujuan akan dapat tercapai apabila proses yang dilakukan sesuai. Upaya pemerintah dalam mencanangkan tema bukanlah semata-mata sebagai perayaan yang hanya sebatas mengingat perjuangan para pahlawan di masa silam, tetapi juga sebagai refleksi diri terhadap bangsa Indonesia.</p>
<p>Refleksi diri sebenarnya tidak harus saat kebangkitan nasional, tetapi pada hari ini dapat dijadikan sebagai titik balik kesadaran bangsa Indonesia. Kesadaran bahwa pada era ini Ibu Pertiwi sangat membutuhkan sosok pejuang dan berkarakter sekaliyang menyadarkan dan mempererat persatuan Indonesia. Apalagi dunia saat ini sedang berjalan menuju revolusi industri 5.0. Banyak perubahan, penyimpangan dan permasalahan yang akan dilalui dan hal ini seperti ini adalah tantangan yang luar biasa sulit, sehingga diperlukan karakter yang kuat dari setiap individu untuk dapat bertahan dan berjuang menghadapi kehidupan yang semakin canggih.</p>
<p>Banyak sekali nilai-nilai karakter yang dapat diterapkan melalui peristiwa kebangkitan nasional. Misalnya, seperti yang telah dikaji oleh Setiawan (2018) nilai karakter dari peristiwa kebangkitan Nasional yang dapat diimplementasikan adalah semangat kebangsaan, cinta tanah air, kerja keras, mandiri, komunikatif, religius dan tanggung jawab. Selain ke tujuh nilai karakter tersebut, masih terdapat sebelas karakter yang memang perlu dimiliki oleh setiap individu, yaitu jujur, toleransi, disiplin, kreatif, demokratis, rasa ingin tahu, menghargai prestasi, cinta damai, gemar membaca, peduli sosial dan peduli lingkungan. Delapan belas karakter ini telah lama dicanangkan pemerintah sebagai bekal utama yang harus disiapkan untuk generasi sekarang dan masa depan.</p>
<p>Bangsa Indonesia perlu menguatkan karakter, karena karakter dapat membentuk suatu bangsa. Indonesia perlu masyarakat yang berkarakter. Karakter yang baik dan kuat sudah sepatutnya menjadi bekal manusia dalam menjalankan kehidupan. Manusia yang berkarakter tidak hanya memiliki kemampuan yang cerdas, tetapi juga mampu mengolah kecerdasan.</p>
<p>Mari, kita wujudkan Indonesia yang berkarakter. Bangsa yang berkarakter lahir dari rakyat yang berkarakter dan rakyat yang berkarakter lahir dari individu yang berkarakter. Yuk, sama-sama kita membangkitkan karakter untuk kebangkitan nasional di era globalisasi! Semangat berjuang!</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Sumber:</p>
<p>Kominfo.go.id</p>
<p>Hadi, Johan Setiawan Ranando Sofiyan. <em>Nilai-nilai Pendidikan Karakter dalam Materi Sejarah Kebangkitan Nasional Indonesia.</em> Sejarah dan Budaya: Jurnal Sejarah, Budaya dan Pengajarannya 12.1 (2018): 39-48.</p>
<p>The post <a href="https://unjkita.com/membangkitkan-karakter-untuk-kebangkitan-nasional-di-era-globalisasi/">Membangkitkan Karakter untuk Kebangkitan Nasional di Era Globalisasi</a> appeared first on <a href="https://unjkita.com">UNJKita.com</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://unjkita.com/membangkitkan-karakter-untuk-kebangkitan-nasional-di-era-globalisasi/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Pulang dan Menikmati Masalah di Indonesia</title>
		<link>https://unjkita.com/pulang-dan-menikmati-masalah-di-indonesia/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Muhammad Ihsan]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 07 Mar 2016 01:25:12 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Konten Pilihan]]></category>
		<category><![CDATA[Ilmuwan Indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[Indonesia]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://unjkita.com/?p=2022</guid>

					<description><![CDATA[<p>Saya teringat memori November lalu dalam sebuah kompetisi start-up bisnis sosial di Seattle : SVP Fast Pitch. Ada 1 finalis yang punya konsep menarik, yaitu...</p>
<p>The post <a href="https://unjkita.com/pulang-dan-menikmati-masalah-di-indonesia/">Pulang dan Menikmati Masalah di Indonesia</a> appeared first on <a href="https://unjkita.com">UNJKita.com</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Saya teringat memori November lalu dalam sebuah kompetisi start-up bisnis sosial di Seattle : SVP Fast Pitch. Ada 1 finalis yang punya konsep menarik, yaitu membuat alat konversi listrik dari uap sisa panci masak.</p>
<p>Apa problem yang ingin diatasi? Mereka menceritakan bahwa di Kenya, untuk charge HP, perlu jalan berkilo-kilo ke tempat semacam toko jasa charge HP, berbayar pula!</p>
<p>Eh, tunggu. Kenya? Yes, Kenya! Ga ada kerjaan apa ya, mikirin negara jauh-jauh di sana&#8230; Sampai, setelah pitch dari start-up berikut-berikutnya, saya sadar bahwa ternyata Afrika, Asia, atau third world countries are the new trend of social entrepreneurship di Amerika. Ada yang sedang bangun plant biomass di Thailand (atau Myanmar), ada juga yang sedang melirik negara Afrika lainnya dalam masalah sanitasi, dan lain sebagainya.</p>
<p>Sekelebat, hmm&#8230;. agak mind-blown juga sih. Bayangan saya selama bertahun-tahun tentang anak muda Amerika yang hedon, doyan party hingga pagi sirna seketika. Apa mungkin masalah sosial di Amerika sudah terlalu sedikit? Atau menjadi kaya sudah tidak menarik lagi?</p>
<p>Dari hasil diskusi dengan beberapa founders-nya, saya akhirnya menyadari fenomena bahwa sociopreneur, philanthrophy, terutama yang bersifat &#8220;menyelamatkan dunia&#8221; menjadi sesuatu yang into, nge-tren, keren, the new standard of &#8220;coolness&#8221; buat anak muda Amerika. Waini.</p>
<p>Dugaan saya, tren belakangan artis-artis dan orang kaya yang mengarah ke filantrofis lah salah satu yang paling membentuk gaya hidup baru ini. Bill dengan inisiatifnya memusnahkan malaria, Mark dengan internet.org, atau kisah Elon yang &#8216;membuang&#8217; sekian trilyun dari exit pay pal nya untuk membangun dunia yang lebih baik dengan Tesla dan pesawat antariksa-nya.</p>
<p>Belum lagi kalau menyebut Leonardo Di Caprio yang begitu mendarah daging menggerakkan isu lingkungan, atau Malala yang jadi new icon hingga mendapat nobel. Ini sejalan dengan tesis bung Muhammad Yorga Permana bahwa artis/tokoh lebih mudah untuk menjadi agen peubah di kalangan anak-anak muda, hehe.</p>
<p>Ini menarik, karena cita-cita konvergen selama beberapa abad berupa kekayaan absolut (baca: punya uang sebanyak-banyaknya) rasa-rasanya mulai diimbangi dengan keinginan untuk menjadikan dunia ini lebih baik lagi. What problems you want to solve in society? In the end, what kind of future you are trying to shape?</p>
<p>Sejalan dengan pemikiran di atas, di setiap kesempatan seminar, saya selalu bilang begini. &#8220;Kita itu bersyukur jadi orang Indonesia. Ketika dunia luar sedang berlomba-lomba mencari masalah, kita di sini ngesot 100 meter ke kiri dan ke kanan aja udah ketemu 100 masalah!&#8221; Air, keluarga, kriminalitas, makanan, udara, listrik, energi, sampah&#8230; Semua deh lengkap.</p>
<p>Benar lah yang disampaikan oleh Ustadz Salim Fillah : &#8220;Jika seputaranmu terasa gelap; curigalah bahwa dirimu yang dikirim Allah sebagai cahaya bagi mereka!&#8221; Teman-teman, berbahagialah karena kita diberikan kesempatan untuk menyelesaikan masalah di Indonesia, yang persis ada di depan kita hari ini!</p>
<p>Kadang saya suka berpikir, rasanya juga bukan tanpa alasan, Allah mengizinkan saya untuk melangkahkan kaki ke 20 negara di seluruh dunia hingga usia 27 ini. Semakin lama di negara orang yang maju, semakin terasa kontrasnya. Dan semakin mendidih darah ini untuk melakukan sesuatu setelah pulang.</p>
<p>Makanya, nggak kaget kalau pelajar atau pekerja Indonesia yang di luar negeri itu nasionalisme-nya makin meningkat loh, justru. Yang sedang sekolah, nggak sabar untuk menerapkan ilmunya untuk menyelesaikan masalah di kampungnya. Yang kerja, nggak sabar untuk segera investasi kebaikan dengan modal milyaran yang terkumpul dari hasil kerja belasan-puluhan tahun di negara orang.</p>
<p>Untuk menutup tulisan ini, izinkan saya menyampaikan kekaguman kepada alumnus-alumnus luar negeri yang telah/akan pulang, yang menjadi inspirasi saya hingga hari ini. Saya kutipkan juga sebagian quote supernya :</p>
<h3>Pulang untuk Indonesia</h3>
<p><strong>Bang Romi Satria Wahono</strong>: &#8220;balik sini, tidur di aspal republik &#8230; rasain penatnya berdjoeang, nikmati panasnya jakarta &#8230;. baru terserah mau ngomong apa&#8221; (izin kutip ya bang hehe diskusi di WA)</p>
<p><strong>Mas Chairul Hudaya</strong> : &#8220;Sejak lulus Master 2009, saya lebih memilih pulang kampung membangun negeri daripada menerima tawaran bekerja di salah satu perusahaan konglomerat di Korea. Membangun perlu kehadiran fisik kita ditengah tengah lapangan.&#8221;</p>
<p><strong>Dr. Nurul Taufiqu R</strong>: &#8220;Banyak yang ga berani pulang karena merasa tidak dihargai secara finansial. Saya buktikan bahwa justru lebih enak dan lebih mudah cari duit dan berkarya di Indonesia&#8221;</p>
<p><strong>Dr. Warsito Purwo Taruno</strong> : &#8220;&#8230; Selama 12 tahun di Jepang, saya merasa itu sudah sangat bosan. Segala sesuatu sudah teratur&#8230;<br />
&#8230;Saya ingin mencari sesuatu yang baru dan tantangan baru.<br />
&#8230;Itu juga yang menjadi alasan saya kembali ke Indonesia, meskipun saya tahu Indonesia itu berat. Tapi kalau saya tidak putuskan, saya tidak akan bisa memulai&#8230;&#8221; (dikutip dari interview di media)</p>
<p><strong>Prof. BJ Habibie</strong> : &#8220;Lihat itu Marzan Aziz Iskandar Ketua BPPT sekarang. Dia belajar di Jepang, lalu pulang menepati janji dan tidak berharap apa pun saat pulang ke Indonesia. Kini dia jadi Kepala BPPT di Indonesia. Buktikan dulu di Indonesia kalau kita memang bisa bekerja dengan baik, walaupun lulusan dari luar negeri, bukan dengan jabatan atau uang maka pulang ke Indonesia. Emangnya kamu siapa?&#8221;</p>
<p>Sejenak saya teringat nasihat kanjeng Nabi Muhammad : &#8220;Barangsiapa yang bangun dari tidur pagi dan tidak memikirkan nasib ummat, maka ia bukan golongan dari mereka&#8221;. Masa sih orang Amerika yang seumur-umur mungkin belum pernah dengar itu hadits bisa lebih peduli?</p>
<p>Yuk belum terlambat untuk bergerak. Kita buat dunia jadi lebih baik; dimulai dari menyelesaikan masalah-masalah di negara kecil kita dulu. Mau yang mana dulu nih? Sampah, sanitasi, makanan, keluarga, transportasi, pendidikan, teknologi&#8230; Apa aja boleh, yang penting kita bareng-bareng ya</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Oleh: <strong>Radyum Ikono</strong> COO Nano Center Indonesia</p>
<p><em>Tulisan ini diterbitkan ulang dari status facebook penulis atas seizinnya</em></p>
<p>The post <a href="https://unjkita.com/pulang-dan-menikmati-masalah-di-indonesia/">Pulang dan Menikmati Masalah di Indonesia</a> appeared first on <a href="https://unjkita.com">UNJKita.com</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Lorong Indonesia Dalam Pusaran Ekonomi China</title>
		<link>https://unjkita.com/lorong-indonesia-dalam-pusaran-ekonomi-china/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[UNJKita.com &#124; @pemburukampus]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 02 Mar 2016 10:21:00 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Suara Anda]]></category>
		<category><![CDATA[China]]></category>
		<category><![CDATA[Ekonomi]]></category>
		<category><![CDATA[Indonesia]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://unjkita.com/?p=1952</guid>

					<description><![CDATA[<p>Menelusuri niat baik dari sosok pengambil keputusan dan kebijakan untuk kesejahteraan bumi pertiwi, yaitu Indonesia. Kerja sama bilateral yang dilakukan Indonesia dengan negara Tirai Bambu...</p>
<p>The post <a href="https://unjkita.com/lorong-indonesia-dalam-pusaran-ekonomi-china/">Lorong Indonesia Dalam Pusaran Ekonomi China</a> appeared first on <a href="https://unjkita.com">UNJKita.com</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<div style="text-align: justify;">Menelusuri niat baik dari sosok pengambil keputusan dan kebijakan untuk kesejahteraan bumi pertiwi, yaitu Indonesia. Kerja sama bilateral yang dilakukan Indonesia dengan negara Tirai Bambu merupakan suatu kebaikan yang perlu di dukung agar bisa mensejahterakan negara kita. Harapan itu masih ada, namun fakta di lapangan yang terjadi apakah dibalik kerja sama itu terselip kepentingan dari beberapa pihak terkait ? Menolak lupa adalah sikap yang mesti di ambil dalam hal ini. Jika tidak, kemungkinan akan banyak kesepakatan yang di ambil bukan karena kebutuhan tapi kepentingan.</div>
<h3 style="text-align: justify;">Bunga Rampai</h3>
<div style="text-align: justify;">Melihat bunga rampai Indonesia dalam 2014 tentang kesepakatan bilateral yaitu Pemerintah Indonesia dipastikan bakal menguatkan hubungan bilateralnya dengan pemerintah Tiongkok menyusul hasil kunjungan Presiden Joko Widodo ke Beijing, Kamis 26 Maret 2014. Pembahasan dalam kunjungan kenegaraan Jokowi yang diterima langsung Presiden Republik Rakyat Tiongkok (RRT) Xi Jinping dikala itu, pembicaraan yang masif mengenai penguatan kerjasama di bidang ekonomi khususnya sektor perdagangan, keuangan, infrastruktur, perindustrian, pariwisata, maritim, hingga hubungan antar masyarakat. Suatu hal pasti ternyata negara kita merupakan negara sosial, dengan banyaknya bentuk kerja sama dengan beberapa negara terkhusus negara Cina. Hal ini menguat ketika Presiden Joko Widodo hari, Senin 27 Juli 2015 di Jakarta menerima delegasi Parlemen Cina yang dipimpin ketuanya, Yu Zhengseng. Yang sebelumnya juga sudah bertemu dengan ketua DPR RI. Dalam pertemuan tersebut, pemerintah Indonesia berharap Cina meningkatkan nilai investasinya. Kesepakatan kali ini khususnya di bidang pembangunan infrastruktur, energi dan pariwisata. Pada 2015, nilai investasi RRT di Indonesia mencapai 160,2 juta dolar AS.</div>
<div>
<div id="iklan1454520271565476175" style="text-align: justify;">
<h3>Dongkrak Investasi</h3>
<div style="text-align: justify;">Ternyata berbicara tentang peluang, negara kita Indonesia sangat terfokus pada kerja sama dan investasi. Bukan hanya Cina, negara yang terkenal dengan matahari terbit yaitu Jepang pun menjadi target dan sasaran Indonesia dalam menjalin kolaborasi bilateralnya. Dalam kunjungan ke Jepang, Presiden Jokowi menegaskan, ia ingin menarik investasi dari Jepang, terutama dalam bidang pembangkit listrik, pembangunan pelabuhan, konstruksi jalan dan pembangunan kawasan industri. Jepang menawarkan pinjaman lunak senilai 140 miliar Yen, atau sekitar 1,17 miliar Dolar AS, untuk pembangunan sistem transportasi massal di Jakarta. Sebelum<ins class="adsbygoogle" data-adsbygoogle-status="done" data-ad-client="ca-pub-6782918074277036" data-ad-slot="2973652015"><ins id="aswift_1_expand"><ins id="aswift_1_anchor"> </ins></ins></ins>bertolak menuju Jepang dan Cina, Jokowi menerangkan bahwa kedua negara tersebut termasuk investor terbesar di Indonesia, yang masih punya potensi meningkatkan lagi jumlah investasinya. Sedangkan Jepang adalah pasar ekspor terbesar Indonesia.</div>
<div style="text-align: justify;"></div>
<div style="text-align: justify;">Hal paling di sorot pada tahun 2016 tentang kerja sama Indonesia dan Cina saat ini adalah proyek kerja sama antara Pemerintah melalui Badan Usaha Milik Negara (BUMN) dengan Cina yaitu pembangunan high speed train (HST) atau kereta super cepa<a href="http://bisnis.liputan6.com/read/2303495/wika-minta-suntikan-modal-buat-bangun-kereta-cepat">t </a>Jakarta-Bandung dengan jarak 140 Km. Janji manis yang tertuang dalam nawa cita Jokowi-JK ketika kampanye yang ingin menjadikan negara Indonesia fokus dalam maritim, ternyata tidak selaras dengan Proyek kereta cepat Jakarta-Bandung. Rencana pembangunan high speed train (HST) ini dinilai bisa menimbulkan kecemburuan dari wilayah lain di luar pulau Jawa. Karena yang harus kita pahami adalah Indonesia bukan hanya Jakarta. Indonesia dari Sabang sampai Merauke. Kalau hal ini diabaikan, rasa persatuan diingkari dengan menganak emaskan Jawa apalagi Jakarta Akibatnya akan menimbulkan kecemburuan dari wilayah lain terutama yang memiliki sumber daya alam yang berlimpah.</div>
<div style="text-align: justify;"></div>
<div style="text-align: justify;">Menariknya tawaran proyek kereta cepat Cina lebih di prioritaskan di bandingkan proyek kereta cepat Jepang. Ketika di lihat dari nilai investasi kereta api cepat untuk Jakarta-Bandung berdasarkan kalkulator Jepang nilainya 6,2 milyar dollar Amerika sedangkan nilai investasi kereta api cepat berdasarkan hitungan China mencapai 5,5 milyar dollar Amerika. Berdasarkan nilai investasi, kereta api cepat China memang lebih murah dibandingkan dengan Jepang. Namun besaran nilai investasi bukan lah patokan mana yang lebih menguntungkan bagi Indonesia. Kalau dilihat dari pinjaman untuk biaya pembangunan kereta api cepat, bunga pinjaman China lebih tinggi 20 kali lipat dari pada bunga pinjaman dari Jepang. Jepang memberikan pinjaman sebesar 75% dari 6,2 milyar dollar dengan tenor 40 tahun dengan bungan 0,1% pertahun. Sedangkan China memberikan pinjaman 75% dari 5,5 milyar dollar dengan tenor 40 tahun dan bunga 2% pertahun. Jika kereta api cepat dibangun China, hitung-hitungan kasarnya kita harus membayar total bunga ke China selama 40 tahun sebesar 82,5 juta dollar atau 2,062,500 dollar pertahun. Sedangkan Jepang, kita membayar bunga selama 40 tahun 4,6 juta dollar atau 116,250 pertahun.</div>
</div>
<div>
<div style="text-align: justify;"></div>
<div style="text-align: justify;">Kualitas menjadi hal penting dalam suatu barang. Ketika di bandingkan, secara kualitas kereta buatan Jepang lebih baik di bandingkan dengan kereta buatan Cina. Terbukti Jepang terkenal dengan kereta peluru yang legendaris shinkansen yang selama puluhan tahun telah melesat antara kota tanpa kecelakaan fatal tunggal. Sementara standar keselamatan kereta cepat buatan China perlu jadi pertimbangan. Sebuah kecelakaan kereta cepat pada 2011 telah menewaskan sedikitnya 40 orang dan melukai sekitar 200 orang. Apakah pemerintah tidak belajar dari proyek pengadaan bus TransJakarta yang bus-nya mengambil dari China? Bahkan belum genap 5 tahun, banyak bus yang sudah tidak laik jalan. Kini Pemerintah seperti menafikkan fakta kualitas produk buatan China. Terakhir adalah urgensi dari rute Jakarta-Bandung, kenapa hanya sampai Bandung yang notabenenya jalur darat menuju kota Bandung sudah banyak yang mudah di akses.</div>
<div style="text-align: justify;"></div>
<div style="text-align: justify;">Pemerintah seharusnya fokus pada rencana pemerataan pembangunan infastruktur di Indonesia. Keputusan untuk membangun kereta super cepat Jakarta-Bandung disebut proyek yang menurut saya tidak terlalu penting. Bukan hanya membangun kereta api dan pelabuhan-pelabuhan besar tetapi juga dermaga untuk berlabuh serta menyediakan perahu-perahu besar dan kecil agar mereka tinggal di pulau-pulau kecil atau perairan dapat melakukan mobilitas geografis dengan lancar. Masih banyak hal yang mesti di prioritaskan dari uang negara di bandingkan harus membangun kereta cepat Jakarta-Bandung. Jangan sampai hanya karena kepentingan sepihak, rakyat Indonesia di rugikan atas penggunaan anggaran dana yang tidak tepat sasaran.</div>
<div style="text-align: justify;"></div>
<div style="text-align: justify;"><strong>Oleh :</strong></div>
<div style="text-align: justify;"><strong>Rizky Fajrianto</strong></div>
<div style="text-align: justify;">Kepala Departemen Sosial Politik BEM UNJ 2016</div>
</div>
</div>
<p>The post <a href="https://unjkita.com/lorong-indonesia-dalam-pusaran-ekonomi-china/">Lorong Indonesia Dalam Pusaran Ekonomi China</a> appeared first on <a href="https://unjkita.com">UNJKita.com</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>
